Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 135


__ADS_3

Benar apa kata Johan, meyakinkan seorang ayah adalah hal yang paling sulit. Bukan seperti pemikiran seorang ibu, pemikiran seorang ayah ada banyak hal terutama akan harga diri dan nama baik keluarganya. Tapi apakah ada yang salah dengan keputusan yang Johan ambil?


"Dia sudah melakukan apa yang kamu mau, seharusnya kamu juga menuruti satu permintaannya sekarang. Kenapa kamu malah terus memperpanjang masalah?"


Mungkin memang agak sulit harus meyakinkan seorang pria keras kepala sepertinya, dia hanya memikirkan diri sendiri. Itu lah yang dia lakukan sekarang, sampai di mana ia menoleh ke arah sang istri yang terus membela putranya.


"Membiarkan anak kita bersama wanita sembarangan? Apa kau sudah gila?"


"Wanita sembarangan? Apa maksudmu? Dia wanita baik-baik, dan Johan sudah mengenalnya sejak masih sekolah-"


"Dan aku tidak memperdulikan hal itu, dia adalah janda yang tengah hamil tua. Bagaimana dengan reputasi?"


"Kau lebih mementingkan reputasi dari pada kebahagiaan putramu sendiri? Tega sekali dirimu, mau atau tidak itu adalah keputusan Johan. Mungkin dia juga akan tetap melakukan apa yang dia mau, dia tidak brengsek seperti dirimu yang hanya memikirkan reputasi."


Kemudian Sinta pun pergi meninggalkan rumah itu, dia akan menghampiri putranya yang kembali ke indonesia. Meyakinkannya memang tidak semudah itu, tapi kenyataan seorang pria yang terlalu menjalani prinsip tidak akan sadar sebelum akibat menimpa.


Dia bahkan menyuruh putranya melakukan apa yang dia mau, dengan alasan sebagai tradisi keluarga mereka sejak turun temurun. Ketika hal itu sudah dilakukan demi perjanjian, perjanjian yang sudah dikatakan akan kebebasan. Dia justru melanggar perjanjian dan mementingkan reputasi.


Entah setan apa yang sudah membuatnya egois seperti ini, kebahagiaan orang lain di korbankan hanya untuk reputasi. Tidak masuk akal, hidup di jaman seperti ini itu adalah sebuah hal yang tidak masuk akal sama sekali.


"Kenapa dia tidak mau mendengarkan aku?"


Johan hanya berpikir sebuah yang mustahil dirinya lakukan, antara ia harus tetap berjuang atau menyerah karena keluarganya menentang akan keputusannya. Tapi tidak, jika saja ia menyerah sama saja Johan seperti pecundang.


Ia tidak akan percaya dengan semua dan berusaha berpikir yang terbaik, ia yakin keputusannya sudah benar sekarang. Berhenti di tengah jalan sebelum ada hasil, bukanlah prinsipnya.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Melihat Johan yang terus berjalan ke sana kemari dengan tujuan tidak jelas.


Hana bahkan tidak menduga jika apa yang Johan lakukan sekarang adalah tanpa alasan, dia hanya khawatir. Khawatir akan banyak hal yang akan terjadi nanti, ketika semua sudah terlanjur terjadi ia harus melakukan apa?


Perempuan itu, dia berdiri di depan pintu dengan membawakan segelas kopi di tangannya. Perut besarnya membuatnya bertambah khawatir, lantas pria itu menghampiri dan mengambil alih segelas kopi itu ke tempat lain.


Memeluknya seolah tidak ada hari esok, kenapa mendadak menjadi menyakitkan seperti ini? Sungguh, Johan tidak mau apa yang ia bayangkan terjadi. Sangat, ia tidak berharap semuanya akan terjadi kepadanya.


"Ada apa?"


"Tidak apa, aku hanya mau memelukmu sebentar saja." Hana tidak tahu apa yang tengah Johan pikirkan sekarang, tapi sepertinya masalahnya cukup besar untuk seorang Johan.

__ADS_1


Perlahan, Hana mulai membalas pelukan dari calon suaminya itu dengan lembut. Membiarkannya seperti itu sampai semua tenang, mungkin hari ini adalah hari yang berat untuknya, ia harus siap dengan keputusan yang ada dan yakin jika semua ini yang terbaik untuk masa depannya.


Johan tidak akan pernah ragu selagi itu adalah Hana, perempuan itu pantas bahagia dan termasuk dirinya yang juga punya hak atas kebahagiaannya sendiri. Ia berharap demikian.


...•••...


Tidak ada kata mudah di dalam kehidupan ini, ingat. Apa yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tidak pasti akan terjadi begitu saja, karena pasti akan ada penghalangnya.


Seperti sekarang ini, di mana Johan harus benar-benar berani menghadapi sang ayah yang menentang akan keputusannya sekarang. Kenapa dia begitu egois? Mungkin itu yang Johan pikirkan sekarang.


Di mana Hana? Perempuan itu tengah bersama bundanya, di ajak ke sebuah tempat agar dia tidak tahu di mana Johan. Semoga saja perempuan itu tidak mencari keberadaannya sekarang ini.


"Kau tetap keras kepala dengan keputusanmu itu, Johanathan?" Pria itu hanya mengangguk, ketika ia bisa melihat berapa frustasinya ayahnya sekarang.


"Aku akan tetap melakukan apa yang harus aku lakukan."


"Apa kau tidak memikirkan martabat keluarga mu sendiri? Dan memikirkan wanita itu-"


"Hana tidak seburuk itu! Ayah hanya tidak mengenalnya itu alasan mengapa ayah menentang keputusan ku sekarang, aku sudah melakukan apa yang ayah katakan selama ini. Apakah sekali ini aku masih tidak berhak memilih kehidupan ku sendiri? Ayah sudah berjanji." Pria paruh baya itu menatap ke arah anak satu-satunya itu.


Seharusnya dia tahu sifat anaknya itu, keras kepala seorang anak pertama adalah turunan dari sang ayah, mau tidak mau harus menerima kenyataan itu.


"Ayah memang sudah berjanji, tapi bukan berarti-"


"Mengorbankan anak demi reputasi? Benar bukan? Ayah sudah menghancurkan ku sejak kecil, bahkan ketika aku hanya ingin keluar bermain ayah melarang dan mengurungku di kamar hanya untuk belajar. Bahkan masa kecilku saja sudah seperti itu, dan sekarang ayah masih menentang keputusan ku? Aku ini anak mu atau boneka mu?"


"Jaga ucapanmu itu-"


"Katakan, aku anak mu atau boneka mu?" Dia hanya diam ketika putranya itu menyuruhnya memilih satu jawaban dari pertanyaannya itu.


"Ayah sudah memutuskan, lebih baik kamu menerima perjodohan yang sudah ayah siapkan."


"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu! Mau sampai kapan aku seperti ini!? Omong kosong kau mau anak mu bahagia kau justru menyiksa ku sialan!" Satu pukulan seketika melayang ke arah wajahnya, tepat membuatnya harus melangkah mundur karena pukulan keras itu.


Johan hanya diam, melihat jika tetesan darah itu mengalir dari hidungnya. Dia bukannya merasa sakit atau sesuatu semacamnya, dia justru malah tersenyum dengan senyuman aneh. Dia menatap ke arah ayahnya lagi tanpa rasa takut sama sekali, ketika pria itu menatapnya tidak percaya. Apa tadi yang dia lakukan? Memukul anaknya sendiri? Darah itu jelas mengalir di sana.


Pria itu bahkan tidak percaya akan apa yang sudah ia lakukan, padahal ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak melakukan semua tindakan kekerasan itu, tapi sekarang.

__ADS_1



"Hanya itu yang kau lakukan?" Johan mengusap darah itu dengan tangannya, senyumannya itu seolah tidak ada rasa bersalah sama sekali.


"Kau tidak menangis..."


"Untuk apa? Hatiku sudah membatu karena dirimu." Masa lalu yang kembali muncul di dalam kepalanya membuat Johan ingin rasanya membenturkan kepadanya ke dinding. Agar semua ingatan itu hilang.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Tiba-tiba saja Sinta ada di depan pintu, dia bisa melihat jika putranya berdiri dengan darah yang menetes melalui hidungnya itu.


Wanita itu langsung berlari ke arah putra kesayangannya dan memeriksa keadaannya, mimisan. Sinta lantas menatap ke arah suaminya yang berdiri di depan sana.


"Kau memukulnya? Kau memukul putramu sendiri? Aku pikir kamu bisa membuat keputusan yang baik setelah mendapatkan penjelasan darinya, tapi kenapa kamu..."


"Kamu tega banget, aku tidak menyangka ego mu bisa menyerang anakmu sendiri." Sinta menatap ke arah suaminya tidak percaya, padahal dia sudah berjanji tidak akan melakukan semua itu lagi. Tapi kenyataannya, kepercayaan tidak menjanjikan apa pun.


"Aku tidak bermaksud-"


"Cukup, tidak perlu mendapatkan jawaban dari ayahmu itu. Jika itu membuatmu bahagia, lakukan apa yang mau kamu lakukan. Bunda akan selalu mendukungmu sayang..." Sinta percaya dengan apa yang putranya putuskan, dia sudah dewasa sekarang bukan anak-anak lagi.


"Bunda..."


"Pergilah, calon istrimu sudah menunggu di luar. Jangan buat dia menunggu dirimu terlalu lama." Johan tersenyum, dia mengangguk dengan penuh semangat dan bahkan tidak sadar jika matanya sudah membendung air matanya sendiri.


Johan langsung berjalan keluar dari rumah, membersihkan sisa darah yang menjadi jejak di sana dengan kemeja putihnya dan ia tidak mau jika Hana melihat apa yang sudah ia alami, dia menggulung kemeja lengan panjangnya itu agar darah itu tidak terlihat.


Di sana ia melihat Hana berdiri di sana, menunggu kedatangannya. Johan langsung berlari dan secara tiba-tiba memeluk Hana, membuat perempuan hamil itu terkejut.


"Johan?"


"Ayo kita pulang, kita akan merayakan pernikahan kita di Australia."


"Apa? Tapi kenapa?" Johan melepaskan pelukannya itu, dia mengusap pipi berisi itu dengan pelan. Tatapan itu membuat Hana seketika menurut, pria itu langsung membuka pintu mobil dan menuntun Hana masuk ke dalam.


Mereka akan pulang ke rumah, tidak sesuai janjinya memang tapi semua ini demi kebaikan. Ia tidak mau jika Hana terluka atau semacamnya, di Australia akan aman. Karena di sana adalah daerah kekuasaan Johan, bukan ayahnya.


'Aku tidak tahu mau sampai kapan, tapi setidaknya di sana kamu akan aman sampai anak kita lahir nanti. Sisanya aku bisa mengurus sendirian.'

__ADS_1


__ADS_2