Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 49


__ADS_3

Di tempat lain, di sebuah negara lain tentu saja. Lebih tepatnya di Australia, pemuda itu sibuk bekerja mengurus beberapa perusahaan yang benar-benar membuatnya lelah. Tapi mau bagaimana lagi? Itu adalah tanggung jawabnya sebagai anak, yang memang sewajarnya meringankan beban kedua orang tuanya.


Tidak ia permasalahkan sama sekali karena pria itu sendiri yang meminta agar hampir sebagian besar perusahaan ia yang mengurus, dari perusahaan mana saja ia akan lakukan dan rela saja dia harus berulang kali bolak-balik ke beberapa negara hanya untuk bekerja.


Pria itu masih membaca beberapa dokumen penting, dan juga beberapa file yang harus dia periksa. Jangan lupakan beberapa grafik perkembangan keuangan perusahaan yang ternyata masih stabil. Pria itu membuang nafas panjang, lelah itu bisa ia rasakan tapi perasaannya yang ingin segera menyelesaikan semua ini dan pulang adalah tujuan utamanya sekaligus sebuah semangat untuk dirinya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


Ia mengambil ponselnya dan menatap foto yang berada di ponselnya, ia jadikan wallpaper agar tidak begitu sulit mencari di penyimpanan galeri ponselnya. Pria itu terus memandangi foto itu, wajah itu yang begitu ia rindukan apakah dia sudah tersenyum sekarang?


"Aku merindukan mu."


Ia tersenyum ketika menatap wajah lugu itu, begitu yakinnya jika gadis itu masih begitu polos. Sampai sebuah ketukan pintu membuatnya sadar seketika, pria itu segera meletakkan ponselnya di atas meja.


"Masuk!" Arah pria itu tengah menatap pemandangan kota lewat jendela besar yang berada di belakangnya, salah satu pegawai masuk ke dalam kantor pribadinya.


Dia membungkuk hormat dan kemudian meletakkan sebuah dokumen di atas meja atasannya itu, memberikan beberapa penjelasan yang singkat agar atasannya paham.


"Itu dokumen yang kau kerjakan? Sudah di revisi?"



"Sudah tuan, sudah saya revisi. Anda hanya perlu memeriksa grafik perkembangan saja." Pria itu pun mengambil dokumen tersebut dan membacanya, tidak tertinggi satu huruf pun dan ia harus teliti dalam bekerja.


"Lumayan, tapi ada kesalahan sedikit di bagian halaman ke 8. Revisi lagi sampai benar-benar sempurna, jika sudah berikan ke saya jika belum jangan kemari."

__ADS_1


"Baik, tuan." Wanita itu pun keluar dari ruangannya dan ia hanya menatap saja, dan kemudian ia memalingkan pandangannya ke arah jendela lagi.


"Aku jadi ingin bertemu dengan mu, bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu baik-baik saja bukan? Aku harap begitu."


...•••...


Hana tengah bekerja seperti biasanya, sepertinya ia tidak bisa berbicara dengan Satya dengan cara baik-baik. Pria itu selalu. menolak berbicara dengannya apa pun topiknya.


Ia merasa jika semua memang tidak ada harapan apa pun, pada dasarnya saja Hana memang sudah berharap lebih dengan kehidupan pernikahan ini. Seharusnya dia tidak perlu melakukan semua itu jika pada akhirnya sama saja, kehidupannya sekarang dengan yang dahulu tetap sama. Tidak ada perubahan apa pun, apakah setidak pantaskah itu ia untuk bahagia? Hanya itu sebuah pertanyaan yang sampai sekarang tidak ada jawaban.


Gadis itu menata barang-barang yang akan di jual dan ia masih fokus dengan pekerjaannya sampai notif di ponselnya membuat gadis itu mengalihkan fokusnya, tertera nama suaminya di sana dan, bagaimana bisa ia mengabaikan itu?


Hana masih membuka ruang chat tersebut dan membaca pesan dari suaminya itu, dia bilang akan menjemput Hana untuk panggilan sesuatu. Tapi Satya tidak mengatakan sesuatu yang lain.



Sampai waktu di mana menunjukan waktunya pulang, semua karyawan pun mulai membereskan toko begitu juga dengan Hana. Tapi secara tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan toko, membuat beberapa pegawai bertanya-tanya. Satya keluar dari sana dan Hana berhenti melakukan acara beres-beresnya.


"Kau masih sibuk?" Hana tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Satya tadi.


"Lanjutkan, aku akan menunggu."


"Baiklah." Tapi entah ada apa dengan Satya yang mendadak seperti itu, mungkin saja karena sekarang berada di luar rumah. Mana mungkin Satya berbuat kasar di depan banyak orang? Bisa-bisa Bian memukul Satya di saat itu juga.

__ADS_1


Tidak berselang beberapa lama, Hana mengetuk pintu kaca mobil itu membuat Satya menoleh dan membuka kunci pintu itu. Hana masuk ke dalam, ia seketika mencium sebuah aroma parfum yang sangat dirinya kenal tapi Hana mengabaikan semua itu, karena menurutnya tidak begitu penting.


Gadis itu mulai duduk di salah satu kursi dan menutup pintu mobilnya, Satya juga tidak mengatakan apa pun dan langsung menyalakan mesin mobilnya, melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Suasana hening di dalam mobil, tidak ada percakapan antara keduanya karena keduanya juga sama-sama enggan mengeluarkan suara. Sampai Hana yang memulai percakapan terlebih dahulu.


"Ada apa?" Satya tidak menjawab, hanya suara nafas yang Hana dengar dan ia bisa melihat wajah gusar itu. Ada apa?


"Ayah dan bunda menyuruh ke sana. Sebenarnya kemarin, tapi ada hambatan jadi aku putuskan hari ini baru bisa ke sana." Hana hanya mengangguk paham, kemarin ya.


Kemarin jika saja wajah Hana tidak babak belur mungkin bisa, tapi mungkin karena Satya tidak mau banyak di tanya oleh kedua orang tuanya akan keadaan Hana, jadi dia menunda pertemuan itu. Hana juga tidak begitu mempermasalahkan itu, ia juga berusaha memaklumi dan mulai membiasakan diri lagi setelah sekian lama ia tidak hidup dalam keadaan seperti ini.


Gadis itu hanya diam, membuat Satya sesekali menoleh untuk melihat gadis itu yang merupakan istri sahnya sendiri. Sepertinya pria itu masih tidak perduli, luka di batang hidung itu juga belum hilang, memang butuh waktu lama.


"Apa aku berbuat keterlaluan malam itu?" Hana tidak menjawab, sebenarnya Hana tidak mau mengingat kejadian malam itu tapi. Satya justru mempertanyakan itu.


"Tidak." Jawaban Hana yang terkesan singkat, ia tidak mau mengingat apa pun akan tragedi itu. Ia cukup lelah harus menahan sakit di mana fisik dan batinnya sama-sama terkena rasa sakit.


Hana diam, ia menatap ke arah jendela dan melihat keadaan luar yang tengah gerimis. Satya juga tidak bertanya lebih, sepertinya jawaban Hana adalah kebohongan belaka. Bagaimana tidak keterlaluan? Di dalam kamarnya saat itu, pecahan kaca di mana-mana bahkan potongan rambut yang berantakan dan Satya juga melihat rambut Hana juga pendek dalam waktu semalam.


Tapi pria itu tidak begitu berpikir panjang, lagi pula Hana tidak mempermasalahkan kejadian di malam itu. Gadis itu bahkan tidak banyak bertanya pagi harinya, dia hanya diam dan langsung berangkat kuliah. Dengan pekerjaan rumah yang tidak di tinggal, semua di kerjakan.


Bahkan ketika Satya pulang, keadaan rumah sudah bersih lagi padahal ia tahu jika Hana bekerja. Tapi apa perdulinya akan itu? Yang terpenting adalah, hubungannya dengan Anna tidak ketahuan.

__ADS_1


'Anggap saja aku egois, tapi aku lebih mencintai Anna dari pada Hana istri ku.'


__ADS_2