Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 46


__ADS_3

Satya terbangun karena suara jam alarmnya sendiri, pria itu terbangun dengan pusing di kepala yang membuatnya seperti mati rasa. Matanya terbuka secara perlahan, semua nampak buram tidak begitu jelas.


Pria itu berusaha duduk, sampai tidak sengaja ia merasakan ada sesuatu yang menusuk telapak kakinya. Ia terkejut, dan ia mencoba membuat penglihatannya jelas, sampai di mana ia bisa melihat bagaimana kacaunya kamar miliknya sekarang.


Ia menatap sekeliling, bahkan kakinya sudah terluka dan mengeluarkan darah. Sakit, jujur saja tapi tidak sesakit itu. Satya mencoba melepaskan serpihan kaca itu, kacau kamarnya sekarang ia tidak begitu ingat mengapa.


Tapi dia melihat rambut yang berserakan di lantai, bahkan darah yang menyeret sudah kering di atas lantai juga masih ada. Mencoba mengingat kejadian semalam, terakhir ia ingat adalah dirinya tengah bersama Anna dan minum di sebuah club malam untuk menghabiskan waktu berdua.


Dan setelah itu ia tidak ingat, ia hanya ingat jika ia bersama Anna. Bagaimana bisa dirinya pulang ke rumah dalam keadaan kacau seperti ini? Tidak terlalu ingat, samar-samar Satya mendengar suara jeritan bahkan tangisan seseorang dan bahkan ingatannya memburam saat ia melihat seorang gadis berlari darinya.


Satya memegang kepalanya sendiri karena rasa sakit yang tidak bisa ia tahan, ini adalah mabuk paling parah yang Satya alami. Sampai tidak ingat apa pun, karena biasanya ia masih ingat akan apa yang dirinya lakukan dan sekarang ia bahkan hanya ingat beberapa saja.


"Apa yang sudah aku lakukan semalam?"


Karena tidak ingin membuat kepalanya semakin sakit, ia memilih untuk segera membersihkan diri saja. Karena ia juga masih ingat hari ini ada kelas siang sekaligus ia harus menemui kedua orang tuanya, entah apa yang akan mereka katakan kepadanya nanti.


Tidak berselang lama pria itu selesai mandi, bersiap akan kuliah dan ia segera menuruni anak tangga. Masalah luka di kakinya itu sudah di atasi, tapi ada yang membuat pria itu berhenti berjalan adalah darah yang menjadi jejak. Pria itu penasaran dan mengikuti ke mana arah darah itu, asalnya adalah dari kamarnya dan berakhir di kamar.


"Hana?" Pria itu tidak tahu apa yang terjadi, ia menoleh ke arah meja makan dan sudah ada di sana semua. Makanan yang masih hangat di sana bahkan ada segelas susu hangat di atas meja juga.


Ia menatap pintu yang tertutup itu entah sampai kapan, tapi ketika ia masih berada di sana pintu terbuka secara tiba-tiba membuat pria itu seketika langsung mendongak.


Hana berada di depannya dengan penampilan yang berbeda sekarang, rambut pendek? Sejak kapan? Gadis itu hanya tersenyum dan kemudian berjalan berlalu begitu saja. Satya tidak bisa fokus, ia melihat gadis itu berjalan keluar rumah dengan wajah yang di tutupi.


"Ada apa dengannya? Kenapa pakai masker?" Satya bertanya-tanya akan itu, tapi ia segera menepis pikirannya dan segera berangkat ke kampus karena jam sudah begitu mepet. Sarapan? Tentu saja tidak, ia masa bodoh dengan Hana yang sudah rela bangun subuh hanya untuk memasak sarapan untuknya.


Hana berangkat sendirian, ia berjalan ke halte dan ia melihat mobil Satya yang pergi meninggalkannya begitu saja. Sedangkan pria itu menatap Hana dari spion mobil, melihat gadis itu menutupi wajahnya dengan topi juga. Ia agak kepikiran dengan itu, tapi ia mencoba menepis pikirannya itu sesegera mungkin.

__ADS_1


Sedangkan Hana, ia sudah terbiasa di acuhkan jadi ia tidak begitu terkejut dengan semua itu. Ia mencoba menutupi wajahnya dengan topi, luka di wajahnya masih ada tidak mungkin ia menutupi dengan make up karena cepat atau lambat akan semakin terlihat.


Lagi pula Hana sudah mencoba menutupi lukanya dengan make up biasa, ia tidak mau terlihat apa pun bahkan masalah rambutnya. Mungkin sebelum kelas ia harus pergi ke salon untuk merapihkan rambutnya.


...•••...


Satya sampai di kampus, sebelum itu ia sempat menghubungi Anna tapi gadis itu tidak membalas pesannya. Mungkin masih tertidur dan lagi pula efek minuman semalam memang sekuat itu.


Pria itu masuk ke halaman kampus dan sudah di sambut oleh teman-temannya di sana. Mungkin kemenangannya di pertandingan basket kemarin membuat mereka begitu senang, sedangkan Theo hanya berdiam diri di atas motornya seraya memainkan ponselnya.


Sedangkan diam-diam Theo mencoba menghubungi seseorang karena sudah dua hari tidak terlihat di kampus. Pikirannya terus melayang ke mana-mana bahkan sampai ia terkadang merasa salah sangka dengan temannya sendiri.


"Theo, bagaimana kabarmu? Cedera mu-"


"Hanya luka kecil, jangan khawatirkan aku." Ucapnya dengan singkat dan juga senyuman tipis, ia menghargai akan ke khawatiran temannya itu.


'Itu Hana bukan?'


Theo beranjak dari sana dan meninggalkan teman-temannya bahkan termasuk Satya yang juga kebingungan dengan sikap Theo yang sekarang. Ada apa dengan pria itu? Sikapnya sering berubah-rubah.


Sedangkan Hana berjalan, ia mencoba menyembunyikan wajahnya sendiri dan ia sedikit berlari untuk pergi ke toilet. Ia ingin membenarkan make up nya lagi, tidak mungkin ia masuk ke kelas dengan keadaan seperti ini.


Ia juga tidak mau menambah masalahnya, karena Hana sudah cukup lelah dengan segalanya tapi bodohnya Hana masih saja bertahan di sana tanpa ada niatan berhenti.


Gadis itu membuka topinya dan maskernya, menatap wajahnya dari pantulan cermin di dekat wastafel toilet. Memar di mana-mana, bahkan bibirnya terluka karena pukulan saat itu, batang hidungnya bahkan memerah menunjukan bekas luka yang jelas.


Hana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia mencoba memberikan make up sedikit untuk menutupi memar yang kesannya bisa di tutupi, walaupun jujur saja Hana kesakitan dengan itu tapi ia harus melakukannya.

__ADS_1


Tapi luka di hidung tidak bisa di tutupi, dengan terpaksa Hana harus menutupi itu dengan hansaplast yang dia punya. Sempat membeli untuk berjaga-jaga saja, ia kembali melihat wajahnya.


"Setidaknya bisa di tutupi." Ucapnya sendiri, wajahnya sudah mendingan dan tidak sepucat sebelumnya. Ia memasukan lagi alat make up kemudian ia melangkah keluar dari toilet dengan memakai topinya lagi, tapi keberadaan seseorang membuatnya terkejut.


Theo tiba-tiba saja muncul di depan pintu toilet perempuan dengan bersandar di dinding, ia menatap ke depan dan ketika Hana keluar dari toilet ia melihat ke arah Hana. Dan berdiri dengan tegak, di depan Hana.


"Ke mana saja kau?" Hana hanya diam, ia bingung harus menjawab apa lagi. Apakah ia harus jujur? Lagi pula Theo datang ke acara pernikahannya kenapa dia malah bertanya.


"Bukannya kau datang-"


"Aku bertanya sekali lagi. Ke mana saja kau? Dan ada apa dengan wajah mu itu?" Hana menunduk, tidak mungkin Theo bisa melihat wajahnya karena ia sudah menutupinya dengan make up.


"Tidak ada, maaf. Aku ada urusan." Hana melewati Theo begitu saja, tapi tiba-tiba saja tangan Theo menahan tangannya juga seolah menahan Hana agar tidak pergi.


"Kau tidak mau jujur? Atau kau takut jika aku melaporkan keadaanmu kepada Dimas?" Hana terdiam, ia langsung menoleh ke arah Theo dan pria itu melirik ke belakang.


Ia tahu jika Hana paling tidak mau jika Dimas mengetahui keadaannya apa pun yang terjadi, tapi di sisi lain semua sudah terlanjur parah. Kenapa Hana tidak jujur saja? Jika ada ancaman apa pun itu Theo akan melindungi gadis itu bagaimana pun caranya, tapi kenapa?


"Jangan ikut campur urusanku, kamu bukan siapa-siapa di sini, lebih baik kamu diam saja, permisi." Hana melepaskan genggaman itu dan benar-benar meninggalkan pria itu berdiri di sana.



Dengan segala perasaan yang ingin ia sadarkan sekarang juga, kenapa Theo tidak kunjung sadar? Gadis itu sudah menjadi milik Satya, sahabatnya sendiri tapi kenapa dirinya terkesan tidak mau melepaskan? Theo tersenyum tipis walaupun menyakitkan.


Pria itu menunduk, tertawa pelan. Menertawakan nasibnya yang tidak pernah bagus dan rencana yang ia berusaha mungkin memperbaiki segalanya tapi gagal total hanya karena satu hal.


"Hahaha, benar. Aku bukan siapa-siapa, untuk apa aku ikut campur? Sepertinya aku sudah gila."

__ADS_1


__ADS_2