
Jeano berada tepat di depan kelas, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak ada yang mengganggunya sekarang, karena mereka tahu jika saja Jeano tengah melakukan sesuatu jangan sampai terganggu. Dia akan marah, tidak akan pernah ragu untuk melukai siapa saja.
Entah bagaimana bisa dia punya tempramen yang seperti itu? Tapi selama tidak ada yang mengganggunya semua itu tidak akan terjadi, semuanya akan dalam keadaan aman saja nanti.
Tapi berbeda dengan orang lain yang begitu takut dengan Jeano, Jack justru sebaliknya. Dia berusaha menganggu saudaranya itu sampai dia mau bermain dengan dirinya, bagaimana pun caranya akan dia lakukan. Lumayan miris, dia punya saudara seperti Jeano yang kelewatan dinginnya.
Di tempat lain, Linda memperhatikan Jeano dari jarak jauh. Ia tidak berani mendekat langsung atau bahkan dengan jarak dekat, ia tidak bisa melakukan semua itu. Linda berpikir jika nantinya Jeano akan risih kepadanya dan akan mempersulitnya lagi.
Jack menghampiri saudaranya itu dan duduk tepat di samping Jeano, dan ternyata saudaranya itu sama sekali tidak menghiraukan akan keberadaannya. Dia tetap diam melanjutkan kegiatannya tanpa harus menoleh ke segala arah, sama saja membuang waktu jika menurutnya.
"Kau baca terus, bermain ke taman yuk. Kamu belum pernah mencoba perosotan baru itu, kamu harus mencoba perosotan itu. Sangat seru sekali, percayalah kepadaku." Kalimat yang terhitung panjang tapi dengan pembicaraan yang cepat itu mampu membuat saudaranya itu membuang nafas panjang.
Pandangannya tidak terlepas dari buku yang dia pegang itu, bahkan otaknya masih fokus berpikir akan isi buku yang dia bawa. Tapi tidak akan bisa berbohong, dia mendengar semuanya yang Jack katakan. Dia ingin, hanya saja belajar lebih penting dari apa pun atau bahkan tidak akan bisa berbanding dengan belajarnya atau bahkan perosotan baru itu.
Jack tidak akan mengerti, mereka memang tinggal berdua tapi bukan berarti akan tahu semua yang Jeano alami selama ini. Jack bahkan tidak tahu betapa kerasnya Jeano melatih segala isi kepalanya agar terus bekerja.
"Membuang waktu, kau saja yang bermain. Ajak teman-temanmu, jangan ganggu aku."
"Tapi aku maunya bermain bersama mu, sudah lama kita menghabiskan waktu bermain seperti ini. Kamu sibuk dengan dunia mu sendiri dan melupakan diriku, setidaknya hanya sekali ini saja- " Jeano beranjak dari tempat duduknya dan menutup bukunya.
Sungguh, ia hanya mau ketenangan saja dan , kenapa tidak pernah Jeano dapatkan? Ia butuh sebuah ketenangan agar semua materi yang dia baca bisa masuk ke dalam kepalanya. Tapi Jack tidak akan mengerti, dia hanya mau apa yang dia inginkan segera di turuti. Terkesan menuntut, tapi itulah Jack.
"Kau berisik, temanmu banyak kenapa harus aku? Atau kau mau memamerkan semua teman mu di depan ku, dan menunjukkan jika kau banyak teman sedangkan aku tidak? Lupakan saja soal bermain, kelakuan mu terlalu kekanakan."
Jeano melangkah pergi begitu saja meninggalkan Jack yang masih berdiri di sana dengan segala ucapan yang saudaranya katakan berputar di dalam kepalanya. Semua orang melihat kejadian itu, mendengar apa yang Jeano katakan. Memang menyakitkan, tapi Jack memang selalu menganggu akan apa yang Jeano lakukan.
__ADS_1
Katakan saja jika Jeano bersikap wajar, hanya saja dia memang kesal dengan semua itu. Jack menunduk, ia berusaha agar tidak menangis di depan umum karena dirinya sudah berjanji tidak akan menangis.
Tapi perkataan yang Jeano katakan menyakiti hatinya, tidak ada maksud apa pun akan ajakan yang Jack berikan. Itu hanya pemikiran saudaranya yang terlalu buruk terhadap Jack sendiri. Sekarang bagaimana? Jeano sering bersikap tidak perduli kepadanya, sudah biasa. memang tapi tetap saja menyakitkan.
Linda terkejut dengan semua kejadian itu, tapi ia tidak bisa membantu apa pun karena di sisi lain ia juga takut akan kemarahan Jeano tadi. Gadis kecil itu berlari ke arah Jack, dia menemui Jack dan memasang wajah ceria seolah tidak melihat apa pun.
"Hai! Mau bermain bersama ku? Tymi tidak berangkat, jadi aku sendirian, boleh kan?" Linda menawarkan diri akan bermain di taman, sepertinya Jack tengah menginginkan semua itu. Apa salahnya jika membuatnya senang? Jack juga pernah membantunya.
"Tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak, tunggu apa lagi? Ayo!"
Linda menarik Jack ke taman belakang sekolah itu, yang memang di sana ada banyak permainan yang biasa di mainkan anak-anak seperti mereka. Memang, keadaan atau bahkan lingkungan kita tumbuh bisa me. pengaruhi segalanya. Tapi Linda sudah berusaha, dia sangat berhutang budi kepada Jack akan segalanya.
Dia sering membantu Linda walaupun pada akhirnya Jack tetap kalah dan berakhir Jeano yang datang membantu lagi. Itu adalah siklus anak kembar yang tidak bisa dijelaskan lagi.
Di sisi lain, Jeano melihat semuanya. Dia hanya mengawasi dari jauh seperti biasanya, mengawasi dua anak itu agar tidak terjadi sesuatu. Seraya membaca buku, duduk dengan tenang di salah satu bangku di dekat taman. Dinding menjadi pembatas, keberadaan Jeano tidak akan di ketahui sama sekali.
Jeano menyesali perbuatannya tadi, tapi kemungkinan Jack terlalu heboh membuatnya terganggu dan berakhir harus marah meluapkan segala emosinya tadi. Tapi ia tidak bisa mengatakan apa pun karena perasaan gengsi yang terlalu besar. Ia juga melihat ke arah Linda yang menghibur Jack di sana.
Jeano hanya tersenyum, bersyukur kenyataanya ada orang lain yang memperdulikan mereka berdua. Kemungkinan tidak ada niat buruk, Linda juga butuh teman bermain begitu juga dengan Jack. Mereka berdua sibuk dengan acara bermain mereka tanpa menyadari seseorang di sekitar mereka.
......•••......
Sedangkan di lain tempat, berbeda situasi di mana gadis itu tengah di diami satu kelas. Bagaimana rasanya itu? Tentu saja tidak menyenangkan, bahkan sampai jam pelajaran berlangsung selama 2 jam tidak ada yang mengajaknya bicara sama sekali.
__ADS_1
Tidak bisa dibayangkan lagi betapa kesepiannya dia sekarang. Mina hanya seorang diri, tidak memiliki teman adalah ciri-cirinya. Selama hampir 1 tahun tidak memiliki teman, hidup terasa sangat amat hampa. Mina tidak akan sanggup, tapi di sisi lain ia prihatin dengan keadaan keluarganya saat ini.
Ia tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya meskipun apa yang dia katakan akan tetap di kabulkan. Mina tidak seperti itu, gadis itu tidak meminta apa pun selama ini. Kebutuhannya memang sudah terpenuhi sejak ia masih kecil, bahkan sejak lahir.
Tapi sekarang, sepertinya Mina bisa merasakan betapa hampanya hidup tanpa seorang teman bahkan satu pun tidak ada yang mau bersamanya.
Sampai tepat di saat ini, guru masuk membuat kelas yang awalnya ramai beralih menjadi sepi dan hening. Mina tidak memperhatikan ke arah depan, dia sibuk memainkan jarinya sendiri. Membuat dirinya sibuk walaupun sebenarnya tidak sama sekali.
"Selamat siang anak-anak!"
"Siang bu guru!!"
"Semangat sekali ya, hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Dia dari luar kota, mohon sopan santunnya ya anak-anak."
Satu kelas seketika heboh, karena murid baru di depan mereka nampak berbeda. Bukan seperti anak-anak yang lain penampilannya, dia memang nampak mungil tapi wajahnya yang sangat judes itu mengalihkan segalanya.
"Hey, my name it's Kyla."
"Hanya itu saja?"
"Maybe?" Guru bahkan bingung dengan sikap acuh itu, berakhir murid baru itu di suruh untuk duduk di bangku kosong yang ternyata tepat di sebelah Mina.
Semua murid di kelas mendadak membicarakan Mina. Sedangkan Kayla yang baru masuk ke sekolah itu tahu apa? Tentu saja tidak tahu, dan tidak perduli sama sekali. Dia duduk di bangku kosong itu membuat Mina terkejut bukan main. Tapi ia berusaha bersikap normal saja, dan semua itu terlihat aneh di mata Kayla.
"Are you okey? Kau nampak tidak baik."
__ADS_1
"Apa? Aku baik-baik saja, selamat datang di kelas." Kayla hanya tersenyum tipis dan mengabaikan segalanya.
Mungkin sikap acuh itu membuat Mina berasa jika Kayla pada akhirnya akan sama saja dengan yang lain, sama-sama akan menjauhi dirinya nantinya.