Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 13


__ADS_3

Membereskan semua tempat, sekarang Hana bekerja sebagai buruh pabrik. Sebagai klinis servis saja, setidaknya ia sudah berusaha untuk mendapatkan uang untuk kehidupan sehari-hari. Tapi Hana cukup bahagia melakukan semua itu, ia tidak akan mengeluh dengan semua ini. Dengan apa yang dirinya ali, karena Hana yakin kalau tuhan akan menepati janjinya kepada Hana jika di masa depan akan ada sebuah kebahagiaan untuk Hana nanti.


Di sisi lain, Dimas yang bekerja di cafe sebagai barista. Keahliannya dalam meracik kopi berguna di sana, setidaknya Dimas juga menyalurkan hobinya ke pekerjaannya untuk kesenangan. Ia bekerja tidak terlalu berat, tapi ketika malam ia akan bekerja sebagai kasir di supermarket.


Mereka berdua sama-sama bekerja untuk menyambung hidup mereka berdua, tidak ada keluh kesah justru mereka sangat bersyukur dengan segalanya. Mereka bisa diterima di tempat kerja dengan cepat karena keahlian ketelatenan mereka berdua juga.


Kedua bersaudara itu bekerja keras untuk hidup, tidak seperti yang satunya lagi. Dia hanya tiduran di atas kasur dengan santai tanpa memikirkan orang lain, ia pikir bisa mendapatkan segalanya tanpa harus berusaha. Lagi pula tidak ada Dimas di rumah yang biasanya menyuruhnya belajar atau yang lainnya.


Anna merasakan bebas setelah Dimas keluar dari rumah. Tapi kenyataannya kepala keluarga yang masih berpikir bagaimana cara agar anak sulungnya kembali, tanpa Dimas siapa yang akan memimpin perusahaan nanti? Mempercayakan Anna, gadis itu belum cukup umur untuk memimpin terlebih lagi Anna meragukan.


Sedangkan Dimas, dia anak yang pintar sekaligus tegas. Dia bisa memimpin perusahaan, tapi bukan sebuah keberuntungan anak sulungnya malah pergi meninggalkan rumah karena anak yang ia anggap hilang itu. Padahal potensi Hana dan Dimas sama, mereka sama-sama bisa bekerja keras dan juga disiplin.


"Ayah memikirkan apa?" Stella duduk di samping suaminya dan memijat tangan kekar itu yang seharian kerja tanpa henti. Karena melihat pria itu terus melamun membuatnya khawatir.


"Aku tidak tahu siapa yang harus aku pilih, Anna tidak bisa memimpin perusahaan sebesar itu di usianya sekarang dan dia meragukan diriku."


"Kamu tidak percaya dengan anak kamu sendiri? Atau kamu sekarang mulai percaya dengan Hana yang jauh lebih pintar dan mandiri dari pada Anna?" Ryon menoleh ke arah Stella, ia menggelengkan kepalanya. Menolak pendapat Stella akan Hana.


Memang dari potensi Hana selama ini memang bagus, bahkan sangat bagus menurutnya. Tapi bagaimana lagi, baginya Hana bukan bagian dari rumah dan keluarga. Jika bukan karena ibunya yang begitu sayang dengan Hana, Ryon tidak akan sudi mempertahankan Hana di rumah itu.

__ADS_1


Tapi kemarin Dimas ikut keluar dari rumah karena merasa tidak pernah diadilkan. Semua anak di sana seperti di beda-bedakan. Tanpa alasan yang jelas padahal potensi mereka tidak semuanya bagus.


"Tunggu Anna dewasa sebentar lagi, dia pasti bisa memimpin perusahaan dengan baik." Ryon mengangguk percaya, meskipun di dalam pikiran dan hatinya ragu akan kemampuan Anna yang tidak sebanding dengan kedua anaknya yang keluar dari rumah.


Selama ini jujur saja jika Ryon memperhatikan potensi Hana dan juga Dimas, bersembunyi dari niatan agar tidak diketahui eh Stella. Wanita itu kelewat sayang dengan Anna sampai tidak melihat ke arah lain, membuatnya merasa ragu harus melangkah kemana lagi.


'Entah kemana kedua anak itu sekarang? Apa mereka baik-baik saja atau malah sebaliknya?'


...•••...


Dimas pulang dari supermarket hampir pagi, untung saja tidak ada jadwal kuliah. Jadi Dimas bisa istirahat sejenak nanti, baru saja membuka gagang pintu apartemen sederhananya itu ia sudah di sambut sepatu berwarna putih milik Hana.


Mengusap rambut panjang itu dengan perlahan, tidak mau menyakiti. Dimas tahu bagaimana hidup sebagai Hana walaupun tanpa harus bertukar jiwa, sangat berat jika dibayangkan.


Ia pun melangkah ke arah dapur dan sudah tersiapkan makanan di sana. Dimas lagi-lagi menoleh ke arah adik perempuan yang masih tertidur pulas, dia tersenyum lagi dan duduk di sana. Memakan masakan buatan Hana, ia tahu Hana pintar masak sejak dahulu. Karena di rumah Hana tidak pernah diizinkan makan bersama, dia akan masak sendiri dengan bahan masakan seadanya untuk makan.


Dimas makan seraya berpikir, bagaimana jika targetnya tidak sesuai nanti. Ia akan semakin hancur apa lagi Dimas berharap lebih, lelaki itu berharap kehidupan akan menjadi lebih baik dari pada sekarang. Ia hanya mau Hana bahagia saja, tidak lebih dari itu. Dimas hanya ingin Hana bahagia bukan menangis setiap hari.


"Kakak sudah berjanji, maka aku akan berusaha agar kamu bahagia. Bahagia sampai kamu enggan meninggalkan dunia ini, maafkan kakak mu yang bodoh ini." Dimas tidak merasa kehidupan sekarang mudah, semua ini berat. Memulai semuanya dari awal tidak semudah apa yang dibayangkan selama ini.

__ADS_1


Tapi Dimas berusaha yang terbaik, sebaik mungkin ia lakukan segalanya demi Hana. Setelah makan, Dimas kembali ke ruang tengah. Menggendong tubuh mungil itu untuk ke kamar, membaringkan adik kesayangannya yang pasti kelelahan setelah seharian berkegiatan.


Sekolah sekaligus bekerja, Dimas tidak tega harus seperti ini terus. Tapi Hana memaksa untuk membantu dirinya untuk bekerja dan mencari uang, tidak ia sangka jika Hana akan sekeras kepala ini. Tapi ia tidak bermasalah akan itu, ia bangga mempunyai seorang adik yang sangat pengertian.


Entah kesalahan apa yang Hana buat sampai semua orang membenci gadis baik itu, padahal Hana sudah sebaik mungkin untuk bertingkah dan tata bicara yang lembut. Bekerja berpikir mencari uang sendiri tanpa merepotkan keluarganya, apakah itu hal yang salah?


Harusnya ayahnya bangga dengan apa yang Hana lakukan, bukan malah membenci Hana seperti itu. Karena mengingat masa lalu membuat Dimas hanyut dalam pikirannya, sampai tidak sadar jika adiknya terbangun karena air matanya.


"Kakak? Kak Dimas nangis?"


"Apa? Tidak, kakak tidak menangis. Hanya kelilipan debu saja tidak yang lain." Ucapnya mengalihkan pandangannya, mengusap air matanya yang begitu jelas agar tidak terlihat.


Hana hanya melihat Dimas, ia memegang tangan Dimas membuat lelaki itu tertegun. Bagaimana tidak? Senyuman itu begitu mirip dengan.


"Kakak jangan menangis, nanti Hana sedih." Dimas tersenyum, tanpa sadar meneteskan air matanya kembali. Ia lantas memeluk gadis itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di bahu mungil itu.


"Makasih udah hadir buat kakak, makasih." Hana mengangguk dan menepuk punggung Dimas dengan pelan, menenangkan Dimas.


"Hana juga bilang makasih, makasih buat kakak yang sudah jadi kakak Hana."

__ADS_1


__ADS_2