
Di dalam perjalanan sekarang, cuaca benar-benar tidak mendukung sama sekali hari ini. Hujan yang lumayan deras turun begitu saja, tapi tentu saja tidak akan menghilangkan niat awal.
Di mana Hana harus periksa ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan kandungannya, sebenarnya jika bukan karena Johan yang mengingatkan mungkin Hana akan melupakan jadwal periksanya.
"Jangan terlalu di pikirkan, jika kamu tidak mau datang ke acara itu mungkin bukan sebuah masalah besar." Hana menoleh ke arah pria itu sekarang, dia fokus menyetir dan menatap dengan tatapan datar ke depan.
Hana tidak menjawab perkataan Johan tadi. Entah bagaimana bisa dia tahu apa yang Hana pikirkan sekarang ini? Sepertinya dia punya kelebihan membaca pikiran seseorang. Tapi tentu saja tidak, itu hanya pemikiran Hana yang terlalu random.
Johan hanya menebak apa yang Hana pikirkan sekarang, apa lagi sepulang dari persidangan tadi memang banyak tragedi yang tidak dapat di duga. Bahkan termasuk kedatangan Satya yang tiba-tiba, dia menawarkan untuk datang ke acara pernikahan keduanya.
Tentu saja itu bukan sebuah hal yang mudah, mungkin dia akan mudah menikah begitu saja. Tapi bagaimana dengan kondisi Hana sekarang? Apakah dia tidak punya otak setidaknya berpikir keadaan perempuan itu?
Johan memang terkesan diam dan memilih cuek, tapi sebenarnya dia perduli akan banyak hal. Tapi memang dia tidak akan memperlihatkan semua itu begitu saja. Perjalanan sekarang menuju ke rumah sakit, di temani hujan yang membuat suhu di dalam mobil turun mendadak, pendingin juga sudah Johan matikan karena memang dingin.
Pria itu sebenarnya betah dingin, tapi ia tidak tahu apakah Hana betah atau tidak. Maka dari itu ia memilih mematikan pendingin di mobil, ia juga tidak mau membuat Hana sakit. Johan memang memikirkan semua itu, entah itu dari bagian yang kecil atau pun besar sekali pun dia akan berpikir.
Tidak beberapa lama, mereka berdua pun sampai di rumah sakit. Tentu saja pria itu akan memilih parkir di lantai paling darah, karena menghindari hujan juga.
Keluar dari mobil, dia berjalan memutar dan membantu Hana keluar dari mobil. Penampakan sudah seperti pengantin baru, padahal bukan sama sekali. Tapi Johan berharap apa yang di duga semua orang benar dan terjadi. Anggap saja sekarang Johan tengah berharap.
"Apa bisa berjalan? Sepertinya berat." Kehamilan Hana memang belum terlalu terlihat, tapi tenaga juga sudah terkuras habis. Mungkin efek tadi siang membuat ibu hamil itu menguras banyak emosi sekaligus tenaganya.
__ADS_1
"Aku bisa, tenang saja." Johan tetap akan membantu meskipun keadaannya baik-baik saja. Menuntun Hana berjalan, karena kondisi jalanan memang licin.
Mereka berjalan masuk ke dalam pintu di mana di sana akan langsung ke rumah sakitnya. Tempat tujuannya adalah ruang kandungan, di mana Hana akan di periksa di sana dan memeriksa kondisi bayi juga di sana.
Johan juga benar-benar menjaga Hana, padahal perempuan itu sudah mengatakan jika dia bisa melakukan semuanya sendiri. Tapi siapa yang akan percaya dengan kondisinya sekarang? Sampai mereka pun tiba di ruangan tersebut, Johan juga sudah menghubungi dokter yang bersangkutan jadi menunggu tidak begitu lama.
Di saat namanya di sebutnya membuat keduanya langsung masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada dokter yang berjaga sekaligus satu perawat di sana.
"Selamat sore, tuan Johan."
"Sore juga, saya ingin menemaninya periksa dan USG juga." Dokter itu mengangguk paham, Johan juga sudah menjelaskan semuanya jadi tidak perlu terlalu basa-basi di sini.
Hana di persilahkan untuk berbaring di bangsal, untuk di USG tentu saja. Melihat bagaimana perkembangan bayi yang baru jalan hampir 3 bulan itu, mungkin waktu terlalu cepat sampai tidak terasa sudah selama itu.
Tangannya menggenggam tangan Johan dengan erat, sedangkan pria itu juga ikut melihat ke arah layar. Entah kenapa ia ikut senang dengan semua ini, bagaimana Hana tersenyum sekarang karena melihat bayi di dalam perutnya.
"Keadaan bayinya sehat, detak jantungnya juga sudah normal. Saya sarankan agar anda tidak terlalu banyak kegiatan yang membuat lelah, makan yang teratur, hindari beberapa makanan dan minuman yang membuat pertumbuhan bayi terhambat. Saya berharap tuan mengerti apa yang saya katakan."
Johan mengangguk, ia paham dengan penjelasan itu dan lagi pula ia sudah mencari tahu beberapa hal tentang kehamilan. Tentu saja dia melakukan itu demi Hana, ia ingin menjaga Hana dan dia memang harus melakukan itu semua bukan.
"Akan saya berikan beberapa vitamin, di minum secara rutin ya dan jangan lupa susunya di minum, itu baik untuk kesehatan keduanya." Hana melirik ke arah Johan yang serius mendengarkan perkataan dokter itu, ia hanya tersenyum melihat bagaimana reaksi Johan saat ini.
__ADS_1
'Mungkin kakak benar, tidak ada salahnya aku harus melupakan masa lalu dan fokus di masa depan.'
......•••......
"Kamu dengar apa yang dokter tadi katakan? Kamu harus menjaga dirimu juga." Hana tertawa pelan, sekarang malah Johan yang mengomel.
"Aku tahu, dan aku juga mendengarnya. Kamu ini kenapa?" Johan mendadak terdiam, ia memikirkan sesuatu yang membuat Hana juga mungkin diam karena Johan yang mendadak hanya diam sekarang.
Keduanya yang saling menatap sekarang, sebenarnya Johan ingin mengatakan sesuatu tapi ia merasa jika waktunya kurang tepat. Ia memutuskan untuk diam, masih menyimpan niat awalnya, lebih tepatnya niat yang sudah lama dia rencanakan.
"Ada apa?" Hana menepuk bahu lebar itu, membuat pria itu seketika sadar dari lamunannya.
Dia menjawab dengan menggelengkan kepalanya, dia memberhentikan mobilnya tepat di depan supermarket di pinggir jalan. Hana hanya diam tidak bertanya apa pun, sampai pria itu yang mengatakannya semuanya sendiri.
"Kamu di sini saja, biarkan aku yang membeli susunya." Hana mengangguk menurut, sampai pria itu keluar dari mobil dengan payung yang dia bawa di belakang sana.
Hana melihat Johan, walaupun Johan tidak secuek dahulu dan dia jauh lebih perhatian kepadanya. Sepertinya karena kejadian ini atau memang sudah sejak sebelumnya tapi Hana yang tidak sadar. Apakah kalian juga merasakan itu? Perubahan Johan yang drastis sekarang, mungkin akan membuat beberapa orang marasa bingung.
Tidak beberapa lama kemudian, Johan datang dan masuk ke dalam mobil. Dia meletakkan kantung belanjanya di kursi belakang, dan juga payungnya.
"Bajumu basah-"
__ADS_1
"Tidak apa, aku ada gantinya di belakang. Mau pulang sekarang atau jalan-jalan dulu? Apa kamu ingin sesuatu?" Hana menggelengkan kepalanya, sedangkan Johan mengangguk paham. Mungkin Hana belum menginginkan sesuatu sekarang, jadi ia memutuskan untuk mengantar Hana pulang ke apartemen.