Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 26


__ADS_3

Hana hanya diam, ia menatap kaleng soda yang ia pegang dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Ingatan di masa lalu membuatnya tidak bisa menahan dirinya untuk menangis.


Theo menoleh ke arah samping, melihat Hana menangis memang membuatnya kurang suka. Tapi ada di sisi lain ia ingin membuat air mata itu berubah menjadi air mata bahagia. Ia menarik kepala Hana secara perlahan dan membuat Hana bersandar di bahunya.


"Menangis sepuas mu, aku akan menemani." Theo akan siap melakukan apa saja, pada dasarnya ia juga tidak tega dengan Hana. Ia pikir semua akan baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sama sekali.


Ia mendapatkan notifikasi dari seseorang yang membuat Theo merasa jika dirinya harus segera sadar dari perasaannya yang mulai tumbuh, matanya menatap ke arah ruang chat itu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan sama sekali.



'Aku sadar perasaanku ini tidak benar.'


Theo menoleh lagi ke arah Hana dengan tatapan lain, ia ingin melindungi Hana lebih dari sekarang atau kalau bisa Theo bisa berada di sisi Hana selama 24 jam non stop. Ia akan melakukan apa pun agar Hana merasa nyaman, tapi sepertinya berlebihan.


Ia tidak boleh melakukan itu, Theo hanya bertujuan melindungi bukan untuk mencintai. Walaupun mencintai seseorang memang tidak ada salahnya, tapi di sisi lain ia di percaya untuk menjaga.


Di sisi lain. Jeffran berdiri di pintu rooftop, melihat kedekatan keduanya membuatnya merasa sekarang keberadaannya tidak dibutuhkan lagi. Kemana saja Jeffran selama ini? Kenapa baru sekarang ia mulai sadar? Kemana saja?


Jeffran 100℅ sadar, hanya saja ancaman membuatnya menjadi sosok pengecut karena ia tidak mau sesuatu terjadi kepada Hana. Tapi tanpa ia sadari, kenyataannya berbanding balik. Justru Jeffran yang membuat luka itu sendiri dari masa orang lain. Dan sekarang ia hanya bisa melihat Hana dari jauh saja, ia tidak bisa melakukan apa pun.


Melihat Theo seperti itu cukup membuatnya merasa sesak, lelaki itu tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun dan mendadak dia memperlakukan Hana dengan cara berbeda. Tentu saja ada maksud lainnya, tapi Jeffran tidak tahu yang sebenarnya.


'Apakah aku terlambat? Apakah aku masih bisa singgah di hatimu lagi atau sudah tidak ada tempat untuk diriku singgah?'


Jeffran memilih pergi dari sana dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan secara detail. Rasa sakit itu pasti ada, tapi Jeffran sadar diri jika sebenarnya yang paling ia sakiti adalah Hana.


•••

__ADS_1


Sepulang dari kelas, Hana memilih untuk langsung pulang dan ia juga akan kerja di malam harinya. Dan sore ini sepertinya Hana akan memilih istirahat sejenak setelah melakukan aktifitas yang begitu padat.


Di tengah gadis itu berjalan pulang, seseorang memanggil namanya. Dengan suara familiar membuat Hana berhenti melangkah, tapi ia tidak mau menoleh ke belakang sekalipun. Antara ia sakit hati dan yang lainnya, ia masih merasakan semua itu.


"Hana, aku mau bicara sama kamu sebentar saja-"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Jeff. Aku sibuk, lain kali saja." Hana kembali melangkah, tapi siapa sangka jika Jeffran akan tetap mengejar Hana dan menahan gadis itu untuk tidak pergi.


"Jeff-"


"Aku mohon, hanya sekali saja. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya-"


"Menjelaskan katamu? Sikapmu sudah menjelaskan semuanya, tidak perlu kau perjelas lagi. Aku lelah, tidak aku sangka jika kamu sama saja dengan mereka." Jeffran menggelengkan kepalanya, itu tidak benar. Apa yang Hana katakan tidak benar, Jeffran hanya mau melindungi Hana tapi ia tidak pernah menduga akan seperti ini.


"Maafkan aku, Hana..." Hana melepaskan tangannya dari genggaman Jeffran, memilih untuk segera pergi dari sana.


Sedangkan Hana, jangan berpikir jika akan menjadi sekuat itu. Ia tidak seperti itu, jujur saja jika Hana masih menyimpan perasaan kepada Jeffran. Hanya saja, semenjak sebuah kejadian membuat Hana begitu sangat kecewa dengan cinta pertamanya membuatnya ragu untuk membuka hati lagi. Gadis itu menangis sepanjang langkahnya dan berusaha menutupi kesedihannya sendiri.


Ia mengabaikan Jeffran bukan semata-mata ia tidak perduli dengan Jeffran. Melainkan, Hana tidak mau jika Jeffran melihat air matanya yang jatuh untuk sekian kali hanya menangisi lelaki itu.


Hana duduk di kursi halte, menutupi wajahnya sendiri dengan tangan dan menahan tangisannya sendiri. Suasana yang mendukungnya semakin larut dalam kesedihannya, suara sepi dan juga angin dingin yang menerpa membuat Hana tidak dapat berhenti menangis.


"Kamu membuat aku kecewa, Jeff. Aku kira kamu tidak akan seperti ini..."


Di sisi lain, Jeffran yang tidak bisa mengendalikan tangisannya sendiri. Ia tidak akan menyangka akan sejatuh ini, dan dirinya sendiri yang menghancurkan hubungan tersebut.


Tidak bisa berkata-kata lagi, Jeffran sudah terlalu tidak bisa mengendalikan emosionalnya sendiri. Ia hanya bisa merenung di dalam mobil, dengan tangisan yang tersisa.

__ADS_1


...•••...


Di tengah kesedihannya, semua itu tidak akan membuat Hana berputus asa karena menurutnya kehidupannya masih panjang dan Hana juga harus menjalani semua masalah apa pun yang terjadi, gadis itu tengah berada di supermarket.


Menata barang sampai malam sekitar jam 11 tutupnya nanti, di tengah ia tengah sibuk membereskan botol minuman di kulkas seseorang berdiri di belakangnya, Hana tidak menyadari akan hal itu.


Ia hanya mendengarkan musik yang berada di telinganya, tidak dengan volume keras. Ia mendengar dengan volume lumayan kecil. Antara ia bisa mendengar dan juga tidak terlalu jelas.


"Hana." Hana tidak terlalu bisa mendengar, sampai suara seseorang yang menyebut namanya dua kali. Membuat gadis itu berhenti dan berdiri.


"Ada yang bisa saya ban-" Melihat siapa yang berada di belakangnya membuat gadis itu terdiam sekejap, ia berusaha menetralkan raut wajahnya sendiri. Ia tidak boleh terlalu banyak berharap, Hana mengikuti saran dari Dimas.


"Bisa ikut ayah sebentar?"


"Untuk apa? Saya sibuk, bisa lain kali saja." Hana melewati pria itu begitu saja, sebenarnya Hana tidak bisa melakukan semua itu. Hanya saja ia tidak mau jika terus dimanfaatkan terus, Hana juga manusia yang mempunyai perasaan dan juga rasa lelah.


"Ini masalah Anna, kamu yakin tidak mau mendengarkan apa kata ayah?"


"Jangan bawa-bawa, Anna. Dia tidak sakit." Pria itu mengeluarkan kertas yang tidak pernah Hana mengerti, gadis itu menoleh dan melihat ayahnya itu memberikannya sebuah kertas hasil laboratorium. Hana tidak yakin, tapi ia bisa melihat apa isi dari kertas itu dengan begitu jelas.


"Ini adalah buktinya, ayah harap kamu menerima perjodohan ini setidaknya demi kesehatan saudaramu."


Hana hanya diam, tidak bisa berkata-kata. Antara ia tidak bisa menolak dan ia harus menolak karena permintaan Dimas kepadanya, Dimas akan kecewa dengan Hana jika ia terus bersih keras membantu keluarganya itu.


"Kamu mau kan, nak? Masalah kakak, nanti biarkan ayah bicara dengannya agar dia mengerti."


"Aku harap kau tidak menipuku lagi."

__ADS_1


"Kali ini ayah jujur kepadamu, Hana. Maafkan ayah."


__ADS_2