Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 12


__ADS_3

"Kamu tidak masalah kalau kita berada di sini sementara? Kakak berusaha buat mencari rumah yang lebih layak lagi." Hana mengangguk, ia juga sudah bersyukur dengan tempat tinggalnya sekarang. Setidaknya hidupnya akan sedikit berubah setelah keluar dari rumah itu.


Dimas menata semua barang, Hana juga membantu. Tidak banyak barang di dalam apartemen sederhana, Dimas membeli apartemen itu sudah cukup lama dan untungnya tidak ada yang tahu akan kelakuannya itu.


Rencananya sudah ia susun sebaik mungkin, hidup bersama adiknya hanya berdua saja tidak akan seburuk itu. Dimas akan berjuang untuk kebahagiaan Hana, ia akan melakukan apa pun demi Hana. Agar adik perempuannya bahagia, merasakan betapa dunia itu indah.


"Sudah lumayan malam, kamu bisa tidur di kamar. Sudah kakak bereskan." Hana awalnya masih membersihkan ruang tamu yang lumayan berantakan.


"Kakak?" Dimas tersenyum dan kemudian mendorong Hana ke kamar untuk tidur, tidak perlu memikirkan dirinya sekarang. Keadaan sekarang berbeda dengan yang biasanya di mana mereka saling diam dan tidak bertindak lebih selain memberontak untuk sementara.


"Kakak tidur di sofa saja tidak apa, kamu tidur di kamar saja-"


"Tidak, kakak harus tidur di sama aku. Kakak ingat, sudah lama kita tidak tidur bersama setelah-" Dimas memeluk Hana, memeluk dengar erat. Dengan bebas tentu saja, seakan keluarganya sendiri tidak ada yang membiarkan mereka berdua seperti ini.


"Tidak perlu di bahas, lupakan saja mereka. Cepatlah lulus sekolah dan kita akan keluar kota, menghilang dan lenyap dari muka bumi."


"Kakak jangan berlebihan."


"Tidak, kakak mau kamu bahagia. Mereka tidak pernah membiarkan kamu tersenyum meksipun sebentar. Sekarang, kakak akan buat kamu bahagia." Dimas mengusap rambut halus itu, memeluk erat.


Ia yakin dirinya bisa membuat Hana bahagia seperti apa yang diharapkan selama ini. Dimas akan berusaha semaksimal mungkin demi Hana, adik perempuannya pantas untuk bahagia.


•••


"Apa ini Anna? Kamu kena laporan seperti ini? Bagaimana kalau kamu dikeluarkan dari sekolah?" Pria itu berpikir keras, melakukan Anna memang di luar jangkauannya.


Ia tidak tahu jika Anna akan melakukan ini, sampai ia tidak mengetahui apa pun. Ayah tiga anak itu memijat pelipisnya, setelah Dimas keluar dari rumah bersama anak yang tidak ia anggap itu. Keadaan rumah mendadak sunyi dan tidak ada suasana apa pun lagi, sedangkan Stella memeluk Anna. Ia yakin itu bukan perbuatan anaknya, melainkan salah Hana.


"Apa ini benar dirimu?"

__ADS_1


"Tidak ayah, percaya sama Anna. Hana jebak Anna biar bisa masuk polisi, mana mungkin Anna melakukan itu? Ayah percaya sama kertas itu? Dari pada Anna anak ayah?" Pria itu berpikir keras, ia juga tidak percaya akan kertas dan formulir yang Dimas berikan kepadanya.


Tapi di sisi lain apa yang dikatakan Dimas selalu benar, semua ada buktinya dan tidak ada yang salah ataupun sebuah kebohongan. Dimas tidak pernah berbohong kepadanya, tapi di sisi lain dirinya begitu amat sangat sayang dengan Anna. Anak kesayangannya yang tidak pernah mengecewakan, lalu bagaimana kehadiran Hana? Yang selalu salah di mata mereka semua padahal gadis itu hanya diam saja.


Rasanya keluarga itu tidak pernah menganggap Hana ada sampai kapan pun. Mereka menganggap jika Hana hadir hanyalah sebuah kebetulan, atau bahkan kesialan. Itu sangat bertolak belakang dengan Hana, di mana banyak sekali orang tua yang menginginkan keberadaan anak yang begitu baik seperti Hana.


Tapi sepertinya mereka tertutupi oleh rasa sayang yang berlebihan. Tidak dapat di ukur lagi, mereka tidak pernah menganggap Hana sama sekali. Apa pun usaha Hana untuk membuat mereka menganggap Hana ada tidak pernah berhasil.


"Ayah percaya sama kamu, Anna. Ayah tidak akan percaya dengan semua ini, akan ayah tutup kasus ini demi kamu." Anna tersenyum dan memeluk pria itu, dengan begitu amat senang.


Anna merasa semua akan beres, tidak akan ada yang mengusiknya karena ia mempunyai keluarga yang akan melindungi dirinya. Gadis itu tersenyum, ia berpikir mungkin Hana yang akan hancur. Itu sangat menyenangkan, lihat bagaimana reaksi gadis itu nanti.


•••


"Hana!" Seseorang memanggil namanya, membuat gadis itu menoleh dan ternyata itu adalah Jeffran. Lelaki itu rapih dengan seragam yang dia kenakan, dengan rambut yang tertata yang tidak terlalu rapih. Ketertarikan dari pakaian yang dia kenakan sekarang.


"Nanti ikut aku sebentar ya, aku sudah minta ijin sama bang Dimas katanya boleh. Tapi jangan pulang terlalu sore." Hana hanya mengangguk, lagi pula kegiatan yang Jeffran lakukan masih sama dengan yang dahulu.


Mereka berdua memang dekat sejak kecil, jadi tidak heran jika mereka berdua memang dekat walaupun di awal Hana tidak terlalu mengenali Jeffran karena wajahnya atau bahkan semuanya nampak berubah. Jadi wajar saja jika Hana tidak mengenalinya.


Di sisi lain, Hana dan Jeffran mengobrol sambil jalan menuju kelas. Ada seseorang yang tengah mengawasi mereka berdua, satu orang yang memang sejak awal hadir sebelum Jeffran datang ke sekolah.


Pemuda itu hanya menatap dengan tatapan datar, dan kemudian berjalan. Mengikuti dari jarak lumayan jauh agar tidak ada yang menyadari jika tujuannya adalah mengawasi Hana. Ia sudah berjanji kepada Dimas untuk menjaga gadis itu sebaik mungkin.


Sesuai perjanjian yang ada ia akan melakukan apa yang Dimas katakan, asalkan Dimas mau dan mendengarkan permintaannya nanti. Sengaja jika ia harus berkata di akhir karena ia ingin memanfaatkan kesempatan emas ini sendirian.


Di tengah perjalanan sepanjang koridor sekolah, mereka berdua terlalu asik dengan obrolan. Sampai tiba-tiba saja Anna datang dan langsung memeluk Jeffran dari belakang membuat lelaki itu risih.


"Selamat pagi Jeffran! Kamu tahu? Aku membuatkan bekal khusus untuk mu. Ini di makan ya." Entah bagaimana tanggapan Jeffran. Lelaki itu memang ramah tidak seperti Johan yang bersikap terkesan terlalu tertutup.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Bekal, aku masak dari subuh loh. Di makan ya, eh? Hana gak buatin kamu makan kan? Jadi cuma aku kan Jeffran?" Jeffran menaikan alisnya sekilas, memang Hana tidak membuatkan dirinya bekal.


Karena keadaan sekarang tidak memungkinkan sama sekali. Bagaimana pun Jeffran tahu keadaan Hana sekarang, ia juga tidak meminta apa pun kepada sahabatnya itu. Cukup saja Hana di sampingnya saja ia cukup senang.


"Hm." Jeffran membuka kotak bekal itu, tidak terlalu buruk. Jeffran masih ragu dengan bekal itu, ia mencicipi sedikit dari makanan itu. Tidak sehebat penampilan, lelaki itu menutup kotak bekal itu.


"Buat kamu saja, aku tidak butuh bekal. Lagi pula aku punya uang saku. Ayo Hana." Jeffran menarik Hana untuk tetap ikut dengannya.


Sedangkan Anna yang hanya berdiri seraya memegang kotak bekal merasakan kesal karena dia tidak menerima makanan yang dia buat. Gadis itu lantas melempar kotak bekal itu dengan penuh amarah ke tong sampah dan lalu pergi. Di ikuti teman-temannya pastinya.


Dan pemuda itu masih mengikuti, bukan mengikuti Hana lagi melainkan mengikuti Anna. Jangan salah paham dahulu, bukan berarti ia mengikuti Anna karena suka atau menaruh hati. Ia tidak terlalu yakin setelah kejadian beberapa detik lalu membuatnya tidak menaruh dendam.


Apa pun yang menyangkut Hana dia benci, maka dari itu lelaki itu hanya sekedar mengawasi mencari tahu apa rencananya untuk mencelakakan Hana selanjutnya. Mencegah lebih baik dari pada mengobati bukan? Pemuda itu juga sudah lelah melihat Hana terluka nyaris setiap hari.


"Aku sangat kesal! Kenapa Jeffran tidak mau menerima bekal buatan ku?!"


"Sabar, mungkin dia memang sedang tidak mood makan-"


"Diam! Ini semua salah Hana! Kenapa dia harus lahir di dunia ini!!!!" Tidak tahu apa alasannya, tapi Anna begitu marah dengan Hana bukan malah Jeffran yang selaku tersangka menolak bekal buatannya.


"Kenapa tidak kau lakukan sesuatu saja? Kenapa kau malah marah-marah seperti ini?"


"Sesuatu apa maksudmu?"


"Kau pasti tahu apa yang aku bicarakan bukan?" Ia mendengar semuanya tapi soalnya ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan nada pelan.


'Sial! Aku malah tidak mendengar apa pun, tapi tidak apa. Setidaknya aku tahu apa yang akan mereka lakukan dan siapa targetnya.'

__ADS_1


__ADS_2