
Satya membuka pintu rooftop, dia melihat Johan berdiri di sana dengan tatapan ke depan. Ia memandangi pemandangan kota dari ketinggian, benar apa banyak orang jika suasana sepi seperti ini bersamaan dengan angin yang sangat menenangkan.
"Apa yang mau kau bicarakan?" Johan yang awalnya menatap ke depan beralih ke arah samping, ia hanya tersenyum ke arah Satya. Tentu saja pria itu akan merasa aneh dengan itu, ia berharap bukan sebuah hal yang buruk.
"Kau mengecewakan banyak orang, kau tahu itu? Seharusnya kau juga tahu itu. Kau menghancurkan kepercayaan semua orang begitu saja."
"Kau tidak tahu apa pun, berhenti ikut campur."
"Berhenti? Apa kau lupa? Jika aku akan melakukan apa pun itu juga untuk melindunginya, termasuk membawanya pergi jauh dari mu adalah tujuan utama ku sekarang." Satya terdiam, dia mendadak kaku di sana. Di saat tatapan Johan semakin tajam ke arahnya, ia paham yang dimaksud orang di depannya sekarang.
Dia akan membawa pergi Hana dari kehidupannya sejauh mungkin karena kesalahannya sendiri, tentu saja itu akan terjadi. Apa yang mustahil di lakukan oleh Johan? Tidak ada, dia akan melakukan apa yang seharusnya terjadi.
Satya berusaha bukan? Tapi di sisi lain ia masih mencintai istrinya. Bagaimana bisa Johan melakukan itu? Memisahkan pasangan suami istri?
"Kau tidak punya hak-"
"Tentu saja aku punya hak, karena kau sudah jelas tanggung jawab tanpa kau sadari sendiri." Ucapan Johan, jelas semua itu benar. Semua orang bahkan mendukung akan semua keputusannya tanpa memanfaatkan apa yang dia miliki, semua orang juga akan tetap mendukung dirinya.
"Jangan terlalu di pikirkan, aku akan mengurus surat cerainya. Kau tinggal duduk dengan santai saja." Johan melangkah mendekat ke arah Satya dengan tatapan datar, tanpa ekspresi sama sekali. Dia tidak menunjukkan apa pun, kecuali mata itu yang menunjukkan betapa bencinya seorang Johan kepada Satya.
Dia berdiri tepat di samping Satya, berlawan arah membuat Satya terdiam. Apa yang akan dia katakan lagi sekarang? Ia menoleh ke arah Johan yang hanya diam saja, ia hanya ingin melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Johan tidak salah di sini, justru sebaliknya. Satya yang benar-benar salah di sini.
"Tanda tangani surat itu, aku akan membawa gadis itu pergi jauh dari mu." Ucapnya dan kemudian dia melangkah pergi begitu saja, sedangkan Satya membalik badannya.
"Tidak akan bisa! Kau tidak hak menjauhkan diri ku dengannya! Johan! Dengarkan ucapan ku ini sialan! Aahkk!!" Satya mengacak-acak rambutnya sendiri, ia di buat kesal hanya karena perkataan itu.
__ADS_1
Lantas Satya memeriksa ponselnya yang ternyata banyak sekali notifikasi darinya, pria itu hanya bisa terdiam sampai di mana ia menoleh ke arah depan. Ia nampak tidak bisa melakukan apa pun, tapi bukan berarti juga dia tidak melakukan apa pun. Satya bisa saja melakukan sesuatu sekarang, tapi dia bingung harus bagaimana lagi.
"Aku tidak bisa jauh darinya, aku mencintainya. Jangan bawa dia pergi dari ku, maka aku akan hancur selamanya."
...•••...
Aca menunggu di ruangan seperti yang Satya katakan kepadanya, ketika suara pintu terbuka sudah membuatnya sangat antusias sekali. Tapi bukan Satya di sana, melainkan pria yang sebelumnya menatapnya dengan tatapan benci.
"Aku pikir kau sudah puas dengan apa yang kau miliki, seharusnya kau sadar apa yang kau lakukan itu salah." Aca seketika terdiam, ia memasang wajah kebingungan.
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak mengenalimu. Katakan saja dimana Satya sekarang?"
"Kau yang sengaja membuat kecelakaan itu menjadi kesalahan Hana. Apa aku benar? Selamat, apa yang kau inginkan berhasil terjadi. Kau memang persis seperti landak hutan."
Aca memegangi tangan pria itu untuk lepas dari lehernya tapi tidak berhasil, tentu saja tenaga mereka berdua berbeda jauh dari yang sebenarnya. Johan benar-benar tidak akan bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Hana, tidak akan.
"Aku akan membuatmu masuk ke dalam penjara secepatnya, dalam kasus mencemari nama baik dan pembunuhan berencana kepada Anna juga. Kau juga mengancamnya bukan? Memang kau definisi iblis utusan iblis neraka."
"Kau tidak akan bisa melakukan itu, tidak ada bukti yang menang melawan mu."
"Aku yang akan membuat apa yang tidak terjadi menjadi terjadi, ingat! Kau akan mengingat wajahku sampai kau gila nanti." Ucapnya dengan senyuman anehnya, tentu saja Aca merasa sedikit ketakutan akan ancaman Johan.
Tapi tidak membuatnya membubarkan rencananya begitu saja, sampai di mana Johan pergi begitu saja menyisakan sedikit trauma untuk Aca sendiri. Gadis itu memegang lehernya sendiri, bahkan cekikan yang itu masih terasa meskipun sang pelaku sudah tidak ada di sana.
Sampai di saat di mana Satya sudah kembali, dia melihat Aca yang hanya diam saja membuatnya melangkah mendekat. Aca menoleh ke arah Satya, dia menangis dan memeluk Satya dengan erat. Dia takut, jujur saja kejadian tadi sebuah ancaman besar untuk Aca. Tapi dia masih ingin bersama seseorang yang dia cintai, apakah ia tidak boleh mencintai seseorang walaupun caranya salah sekali pun?
__ADS_1
Tapi tetap saja itu salah di mata banyak orang, perbuatan Aca bisa dikatakan keji. Jika saja dia mau mengalah akan takdir, itu semua bukan salah sahabatnya. Tapi kenapa Aca tanpa berpikir panjang menyalahkan gadis itu yang bahkan di dalam hidupnya hanya rasa siksaan saja.
"Kamu kenapa? Apakah aku terlalu lama membuatmu menunggu?" Aca mengangguk ribut, itu membuat Satya menyesal apa yang dia lakukan.
Tapi di sisi lain ia masih kepikiran dengan ancaman yang pria itu katakan kepadanya, Satya tidak mau kehilangan siapa pun walaupun itu hanya satu. Ia bersimpati kepada Aca bukan kerana dia mencintai gadis itu, ia hanya menyesal akan perbuatannya yang dulu. Ia melihat semuanya tapi tidak menolong Aca.
Tapi dia masih mencintai seseorang, tapi di sisi lain hatinya bukan hanya satu saja. Ada orang lain yang ber singgah di dalam hatinya selain istrinya, Satya tidak mau kehilangan satu pun. Anggap saja dia egois sekarang, tapi memang jelas Satya menyadari akan itu. Dia egois, itu pasti.
"Jangan ke mana-mana, aku takut sendirian."
...•••...
Periksa setelah sebulan lewat, tentu saja ditemani oleh orang yang sama. Siapa lagi kalau bukan Wildan, pria itu dengan senang hati melakukan apa saja yang Anna katakan. Bukan sebuah hal yang berat, hanya menuruti kemana yang Anna mau pergi, atau sebuah makanan yang Anna mau. Itu mungkin di sebut dengan ngidam.
Sekarang baru saja mereka berdua keluar dari ruang pemeriksaan kandungan, Wildan sangat senang jika ibu dan janinnya sehat semua. Ia tidak akan menyerah begitu saja, ia melihat Anna terus mengelus perutnya membuat Wildan merasa berbeda.
"Karena kamu sudah menjaga janin itu dengan baik, aku akan menuruti semua permintaan mu." Ucapnya membuat perempuan itu menoleh ke arah Wildan, dia hanya tersenyum.
"Aku sedang tidak mau apa pun."
"Aku akan menunggu, tidak apa. Jika bayinya meminta sesuatu katakan saja, aku akan melakukannya dengan senang hati." Anna tersenyum, entah kenapa ia merasa beruntung dipertemukan dengan Wildan.
"Kenapa kau berbuat seperti ini?" Wildan menoleh ke arah Anna, dia hanya tersenyum dan menggandeng tangan mungil itu. Menuntunnya keluar dari rumah sakit tanpa mengatakan apa pun, atau bahkan menjawab atas pertanyaan yang Anna layangkan kepadanya.
'Aku mencintai mu, karena itu aku sampai seperti ini. Maafkan aku...'
__ADS_1