
Seperti biasa tepat di jam 10 pagi, Hana ada jam di mana ia harus mengikuti kelas khusus. Karena jurusan Hana adalah jurusan psikolog tentu saja di dalam sana terdapat banyak orang-orang baik.
Ketika Hana berjalan menuju kelas, tanpa ia sengaja melihat keberadaan saudaranya bersama kedua orang tuanya. Hana berusaha mengabaikan dan berpura-pura tidak melihat, menutupi sebagian wajahnya dengan topi, dan kudung jaket yang Hana pakai.
Berjalan melewati mereka begitu saja, jangan mengira jika Hana tidak merasakan apa pun atau bahkan sudah terbiasa. Maka kalian salah besar, jelas Hana masih merasa dan berharap jika dirinya akan di anggap nanti tapi entah kapan.
Hana menoleh ke arah belakang, melihat keluarganya sendiri seperti sudah hidup dengan baik tanpa dirinya. Jelas saja, memang siapa yang mengharapkan kehadiran Hana? Tidak ada sama sekali.
Gadis itu berspekulasi jika Anna pasti akan satu sekolah dengannya lagi, dan sekian kali. Semoga saja Hana bisa bertahan sampai ia wisuda dan lulus dengan baik. Meskipun ia harus di uji dengan berbagai cobaan yang tidak pernah Hana tahu apa.
Sampai karena terlalu banyak berpikir, Hana tidak tahu siapa yang berada di depannya. Membuat Hana menabrak punggung seseorang tepat di depannya, Hana lantas mendongak.
"Astaga, maafkan aku. Aku tidak sengaja-" Ucapannya yang bertubi-tubi itu berhenti sejenak dan menatap orang di depannya nampak tidak asing.
Lelaki itu menoleh dengan tatapan sinis sekaligus tajam ke arah Hana, ia menutup bukunya dan membalikan badan ke arah Hana. Tatapan sinis itu seketika berubah menjadi tatapan datar, persis seperti pertama kali Hana bertemu dengannya.
"Apa kau tidak punya mata?"
Hana menunduk, ia terus meminta maaf dan kemudian gadis itu merogoh tas yang ia bawa. Menyerahkan sapu tangan yang kemarin lelaki itu berikan kepadanya. Sedangkan dia yang hanya diam menatap sapu tangannya sendiri di pegang orang lain hanya membuang nafas panjang.
"Ambil saja, aku tidak butuh itu." Ucapnya dan kemudian ia segera pergi dari sana, meninggalkan Hana di sana dengan perasaan yang entah bagaimana menjelaskannya.
"Hana!" Hana menoleh ke arah suara dan ternyata adalah temannya, Hana punya teman dan dia adalah teman pertama Hana selama ia sekolah.
"Ternyata kau di sini, aku mencari mu ke mana-mana dan ternyata di sini. Eh? Itu bukannya Theo? Kau kenal dengannya? Wow! Perfect! Kamu orang pertama yang berani mengajaknya berbicara, aku yakin sekali pasti banyak yang iri." Ucapnya panjang lebar dengan nada suara keras sekaligus cepat.
__ADS_1
Hana tidak terlalu paham, maka dari itu gadis itu hanya melihat kelakuan temannya itu dengan tatapan bingung tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa atau dengan kata apa.
"Apa maksudmu?"
"Apa? Kau tidak paham?" Hana menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, itu membuat gadis yang berada di depannya seperti kegirangan dan memeluk Hana dengan erat.
"Aw! Kamu ini menggemaskan sekali, pantas saja Theo mau berbicara dengan mu."
"Theo siapa sih, Aca?" Aca melepaskan pelukannya dan menatap Hana dengan tatapan bingung.
Padahal Hana sendiri yang tadi bicara dengan lelaki super menyeramkan sekaligus dingin itu, tapi tidak tahu siapa namanya? Sungguh, gadis seperti Hana ini memang harus dilestasikan.
"Kau tidak tahu siapa Theo? Sedangkan kamu sendiri berbicara langsung dengannya, wow! Kamu ini manusia jenis apa Hana?"
"Aku hanya bertanya, siapa Theo?" Aca seketika menepuk keningnya sendiri dan merangkul Hana dengan gemas.
"Sini aku beritahukan sesuatu ya Hana ku sayang. Yang kamu ajak bicara tadi adalah Theo, atau Albrecht Theo Dirga. Nama panggilannya adalah Theo. Dia anak kelas bisnis dan kedokteran, otaknya sama seperti dirimu ini. Belajar, belajar, dan belajar. Anda paham?"
Hana mengangguk dan mencoba mencerna ucapan Aca yang kelewat cepat. Agak membingungkan tapi Hana mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Aca.
Sedangkan Aca sendiri sibuk dengan dunia sosial medianya, Hana akui jika kehidupan Aca sepertinya menyenangkan. Aca begitu ceria bahkan kelewat ceria, tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih atau semacamnya, mungkin itu saja hanya di buat-buat saja olehnya.
Hana bertemu dengan Aca ketika masih MABA, tentu tahu apa kepanjangan MABA itu. Pertama kali bertemu itu, Aca bahkan tanpa basa basi langsung mendekati Hana dan memuji lukisan yang Hana buat. Begitu terang-terangan sekali.
"Hana."
"Ya?"
__ADS_1
"Aaaaa!! Menggemaskan sekali kamu ini!!" Aca memeluk Hana lagi, bahkan suaranya itu memenuhi kantin.
Ya, mereka berada di kantin untuk sarapan. Karena walaupun tidak lama kenal, Aca sudah tahu bagaimana Hana. Tipe orang yang terlalu mematuhi jam sampai mengabaikan jam sarapannya sendiri, itu tentu saja tidak bagus untuk kesehatan.
"Aca, jangan teriak-teriak. Kasihan yang lain terganggu-"
"Masa bodoh juga, kalau terganggu bilang saja jangan bicara di belakang." Ucap Aca dengan keras sampai seluruh kantin pasti mendengar suara Aca yang mendominasi kecil dan melengking.
"Kamu mau sarapan dulu? Kelas akan dimulai 20 menit lagi."
"Oh ya, kamu juga kan? Aku pesankan makanan dulu ya, seperti biasakan. Aku pesan dulu, babay sayang kuh~"
Hana hanya mengangguk dan mencari tempat duduk yang kesannya nyaman untuk sarapan dengan tenang. Hana tidak begitu tahu harus duduk di mana, beberapa kali ia akan duduk tapi selalu di dahului murid yang lainnya. Karena memang hanya satu-satunya meja yang tersisa, Hana memilih lumayan pojok dan dekat dengan lapangan basket.
Dan di sana ada seseorang yang sempat mencuri perhatian Hana, seseorang yang tengah melemparkan bola ke sana kemari seraya tertawa lepas bersama anak laki-laki yang lainnya. Hana terlalu fokus, sampai tidak tahu jika Aca sudah berada di dekatnya dengan nampan makanan di tangannya.
Gadis itu tidak tahu siapa yang temannya itu lihat. Namun, yang Aca berusaha mencari tahu jika yang Hana lihat pasti anak basket yang tentu saja famous kampus.
"Hana? Lihat apa sih? Sampek aku aja gak di anggap loh." Hana seketika gelagapan, ia bisa melihat kelakuan Hana berubah menjadi gugup seolah menyembunyikan sesuatu.
"Ouh? Kamu liatin Satya ya? Iya kan?"
"Tidak kok, aku hanya-"
"Tidak apa kok, santai saja. Lagi pula ya wajar kamu suka sama dia, udah ganteng, pinter, jago main basket sama es keting. Tapi satu kekurangan dia, adalah suka sekali bersikap kasar. Jadi aku agak waspada jika kamu dekat dengannya, tapi jika kamu suka. Tidak apa, silahkan."
Tanpa mereka sadari jika percakapan mereka di dengar oleh seseorang yang duduk tidak jauh dari mereka. Ya, karena nada suara Aca yang memang lumayan keras mendominasi suara bising tim sporter di lapangan basket itu, tetap saja jarak membuatnya mendengar apa yang Hana dan Aca bicarakan.
__ADS_1
Dia hanya menatap ke atan Hana, wajah itu bersemu ketika Aca terus menggodanya. Tentu saja itu sebuah arti lain, menandakan jika gadis itu tengah menyimpan perasaan lebih. Dan orang itu tidak terlalu suka dengan pemandangan itu.