
Mungkin sudah akan datang, di mana Hana harus bersama Satya karena mereka akan mendatangi sebuah butik untuk memesan gaun pernikahan sekaligus setelan untuk Satya kenakan saat resepsi nantinya.
Mau tidak mau memang, Hana harus melakukan itu dan ia tahu sebenarnya Satya juga menolak karena sebenarnya tadi Satya sempat menolak ajakan bundanya sendiri, tapi karena suara ayahnya itu membuatnya seketika kalah debat.
Satya memasang wajah datar seperti biasanya, sedangkan Hana yang tidak tahu harus apa ketika dalam perjalanan ke butik. Antara ia ingin mencairkan suasana atau tidak.
"Kamu punya hubungan sama Anna?" Seketika itu tidak ada lagi suara apa pun, Hana hanya bisa diam seraya menunggu jawaban yang akan Satya katakan.
Pria itu membuang nafas panjang, ia masih saja bersikap acuh dan kemudian ia mengiyakan apa yang Hana tanyakan. Mau tidak mau, tapi lagi pula semua mahasiswa juga tahu kalau Satya memiliki seorang kekasih yang tidak lain adalah Anna, saudaranya Hana sendiri.
"Kenapa? Kau keberatan? Tapi aku tidak perduli dengan tanggapan mu dan jangan urusi hidupku, dan jangan pernah berharap aku akan mencintaimu nanti. Pernikahan nanti hanyalah lembaran kertas saja, jangan berharap lebih." Anggap saja ucapan Satya adalah sebuah kenyataan yang sebentar lagi akan terjadi.
Hana juga hanya diam tidak menanggapi apa pun, antara ia merasa bersalah kepada Aca karena ia tidak mengatakan jika dirinya dijodohkan dengan orang yang dia cintai, dan juga merasa sakit hati ketika Satya sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.
Tapi Hana rasa ini baru saja permulaan saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pada akhirnya juga akan seperti ini. Hana menerima? Antara menerima dan tidak, jika saja ada pilihan lain maka Hana akan lebih memilih lainnya.
Gadis itu tidak habis pikir, apakah Anna merasa jika dirinya hidup tidaklah berguna? Anna terlalu membencinya sampai saat ini tidak punya ruang untung Hana bahagia walaupun beberapa saat saja.
Di mana saja ada orang yang membuat Hana melupakan masalahnya, di situ Anna akan mengendalikan semuanya dan apa yang Hana harapkan akan menghancurkan Hana sendiri.
......•••......
Selesai fitting baju, mereka berdua keluar dari gedung tersebut dan kemudian berjalan itu pun tidak saling berdampingan seperti pasangan yang lain. Hana juga sadar diri, ia tidak ada tempat untuk bersinggah.
__ADS_1
"Kau pulang sendiri, aku ada urusan." Ucap Satya dan kemudian meninggalkan Hana yang masih berada di depan butik dengan menatap ke arah Satya.
"Sepenting itu kah dia sampai kau mengabaikan diriku seperti ini."
"Benar, dia lebih penting darimu. Walaupun kau mati sekalipun aku tidak akan pernah perduli." Ucap Satya dan tentu saja itu begitu menyakitkan, tapi Hana tidak akan menunjukan apa pun.
Gadis itu hanya diam dan melihat Satya pergi meninggalkannya. Seharusnya Hana tidak perlu terkejut karena pada akhirnya ia juga tahu, jika Satya akan meninggalkannya cepat atau lambat. Entah bagaimana kehidupannya nanti tapi ia berusaha untuk menerima segalanya dan mencoba untuk bersabar.
"Tapi harus sampai kapan aku harus menerima semua ini..."
Di sisi lain, pria itu mengendarai mobilnya menjauh dari area butik. Ia bisa melihat jika gadis itu masih berdiri di sana dan menatap ke arah mobilnya dengan tatapan yang tidak bisa Satya jelaskan.
Bagaimana? Tapi di dalam hati Satya hanya ada gadis lain bukan Hana, walaupun ia sudah berusaha tetap saja. Ia sudah berjanji akan tetap bersama Anna sampai kapan pun, apa pun resikonya nanti. Benarkah? Nampaknya pria itu juga ragu dengan pemikirannya sendiri.
Tidak dapat di ulang lagi, Dimas merasa ia sudah gagal dalam hal menjaga padahal ia sudah berjanji akan selalu menjaga adik perempuannya sampai kapan pun. Tapi, kenyataannya ia gagal dan bahkan ia tidak tahu apa pun tentang Hana.
Pernikahan sekarang, tepat di depannya jika adiknya sudah menjadi milik orang lain. Dimas merasa dirinya sudah tidak punya hak apa-apa lagi kecuali seorang kakak laki-laki yang melindungi dari jarak jauh, apakah ia bisa?
Ia tahu siapa Satya, bahkan sekarang semua anggota Elang dan Vesselsoft datang meramaikan acara pernikahan itu. Entah bagaimana perasaan Johan setelah dia tahu akan berita ini.
Dimas tidak sengaja melihat ke arah Theo yang hanya duduk memperhatikan dari jauh, tidak ada minat melakukan apa pun dan pada dasarnya Theo memang seperti itu. Dia benci keramaian dan sekarang ia juga benci akan pernikahan.
Tidak tahu sekarang apa yang dirasakan oleh Theo sekarang, antara ia harus menerima dan hancur di saya itu juga, bagaimana menjelaskannya? Ia bahkan tidak paham dengan hatinya sendiri yang seperti apa.
__ADS_1
Pria itu bahkan seolah tidak sanggup menyaksikan acara pernikahan itu, bahkan ketika Hana sudah resmi menjadi istri dari seorang Satya. Dia tidak menerima semua itu tapi ia harus ihklas.
"Sekarang Satya tidak sendirian ya."
Tapi di balik semua perkataan itu, ada Bian yang hanya menatap ke arah Satya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Apakah kalian tahu siapa yang menangkap basah kejadian saat di mall beberapa hari lalu? Bian pelakunya.
Dia masih mempunyai semua foto bahkan video yang dia rekam dengan sengaja, itu hanya untuk barang bukti jika misalnya ada sesuatu yang terjadi. Maka ia akan maju paling depan di antara yang lain karena ia mempunyai barang bukti yang ada.
Tapi bagaimana bisa Brian seperti itu? Tentu saja ia bisa melakukan itu karena sepanjang ia melihat jika Satya terus melirik ke arah Anna yang tengah mencoba mencari perhatian Jeffran, Jeffran salah satu anggota Vesselsoft.
"Jeff, kamu mau makan apa? Aku ambilkan ya." Tidak ada tanggapan dari Jeffran sendiri karena pria itu sibuk dengan urusan hatinya sendiri, tidak ada bedanya dengan Theo. Pria itu menahan rasa sakit secara batin.
"Pergi, lagi pula bukannya kau punya hubungan dengan Satya? Kenapa kau suka rela menyerahkan pacarmu ke Hana?" Ucapan Jeffran sukses membuat Stella menoleh, tentu saja siapa yang tidak terkejut akan semua itu.
"Apa maksudmu?"
"Tidak, jangan dengarkan dia ma! Jeffran hanya bercanda, dia memang seperti itu." Jeffran merotasi bola matanya malas dan langsung pergi dari sana tanpa mendengarkan Anna yang berteriak namanya.
Sedangkan Hana yang berada di depan, ia melihat Jeffran meninggalkan Anna yang mencoba mengejarnya, tapi di satu momen di mana Hana tidak sengaja saling tukar pandangan dengan Theo yang duduk di kursi lumayan jauh.
Pria itu menatapnya dengan tatapan aneh, tapi tidak lama kemudian dia tersenyum dan mengangguk. Ia membiarkan Hana bahagia, seharusnya memang seperti itu bukan? Tugas Theo sudah selesai bukan? Ia tidak perlu lagi repot-repot menjaga gadis itu lagi karena akan ada Satya yang tentu saja akan melindunginya.
__ADS_1
'Sepertinya tugas ku selesai sampai di sini.'