
Tangan Anna mendadak keringat dingin karena pandangannya ke arah pria itu, dia hanya diam dan tidak lama dia pun tersenyum ke arah Anna seolah tidak ada yang terjadi apa pun. Perempuan itu tidak bisa berkata apa-apa sekarang, seolah ia benar-benar membisu sekarang.
Sedangkan Satya sendiri, dia hanya menerima kenyataan sekarang. Ia harus menerima hasil dari perbuatannya dahulu, walaupun ia masih tidak rela melepaskan perempuan itu. Lihat, dia melihat mantan istrinya berpelukan dia pria lain. Tentu saja yang sudah dia duga pria itu yang masih mengejar mantan istrinya itu.
Memang masuk akal sekali jika perempuan itu akan memilih pria itu ketimbang dirinya jika ada pilihan lain, perbedaan yang tentu saja sangat amat berbeda. Antara Satya adalah pria egois dengan cara mengungkapkan perasaan yang salah, dengan pria seperti Johan yang memang dia terkesan diam saja tapi dia bertindak di belakang sana, dia juga berjuang sampai sekarang meskipun dia tahu akan sesuatu yang tidak seharusnya dia tahu.
Perjuangan Johan memang pantas di acungi jempol, dia bahkan masih berdiri tegak sampai sekarang tanpa ada rapuh sama sekali. Satya akui itu, ia tidak sebanding dengan Johan, apa lagi bersama Theo dan Jeffran. Mereka bertiga, tentu saja lebih tinggi dari Satya.
'Apakah aku terlalu egois mengungkapkan ini? Tapi aku masih mencintainya, aku tidak mau dia bersama yang lain.'
Pemikiran yang cukup bodoh, dia melanggar semua kesalahan bahkan sampai detik kesempatan terakhir. Apakah dia masih mau egois?
Satya tidak bisa melakukan apa-apa, ia memang harus menjalani semua ini dengan perasaannya yang penuh rasa bersalah. Di sisi lain, Johan menatap ke arah Satya. Ia menangkap basah pria itu menatap ke arah perempuan yang berada di pelukannya. Apakah dia sudah merasa bersalah? Merasakan apa yang pernah Hana rasakan dahulu? Tapi sepertinya semua ini belum cukup untuk membayar semua kesalahannya.
Johan melepaskan pelukannya, dia memilih fokus kepada Hana sekarang. Perempuan itu menahan segala perasaannya, ia mengerti itu. Perasaan memang tidak bisa di paksakan, menghilangkan perasaan itu meskipun memang mau melupakan, tetap saja akan terasa sulit.
"Sudah? Katakan jika kamu mau pulang saja." Hana mengusap air matanya sendiri, dan kemudian tersenyum, menggelengkan kepalanya.
"Tidak, masih ada lagi tujuan ku di sini."
"Kau yakin?" Hana mengangguk akan menjawab pertanyaan yang Johan tanyakan kepada dirinya. Hana mulai membalikkan badannya sekarang, ia sudah merasa jika ia sekarang sudah cukup siap menghadapi semua ini.
Perempuan itu mulai maju, seperti yang lain mengucapkan selamat kepada kedua pengantin itu. Hana berjalan dengan tegas, ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan keluarganya, ia harus tegar kapan saja. Itu lah Hana yang sekarang. Di ikuti oleh Johan dan Dimas di belakang, mengawasi Hana dari jarak tertentu.
__ADS_1
Sampai di atas panggung, ia berpapasan dengan kedua orang tuanya saja. Dia mengabaikan kedua orang tuanya sendiri, tepat di depan saudaranya berada. Hana tersenyum, membuat Anna merasa sudah terlalu jahat.
"Hana..."
"Aku harap kamu bahagia, jangan pikirkan apa pun karena itu tidak baik untuk anak mu. Selamat atas pernikahan dan kehamilan mu." Kalimat yang membuat Anna tidak dapat berkata apa pun.
Keduanya saling menatap, sampai Anna memeluk Hana dengan erat membuat Hana terkejut akan semua itu. Ketika Dimas hendak maju, tapi Johan menghalanginya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, seharusnya Dimas bisa melihat mata penuh penyesalan itu.
Anna memeluk Hana, menangis di pelukan saudaranya untuk pertama kali. Seharusnya ia melakukan ini sejak dahulu, Anna memang terlalu bodoh lebih percaya dengan orang yang jelas salah.
"Maafkan aku..." Kalimat yang pernah Hana harapkan akhirnya terucap, perempuan itu membalas pelukan kembarannya itu dan mengutarakan semuanya dari sana.
"Tidak apa, asalkan kamu bahagia. Aku akan menyerahkan semuanya." Anna menggelengkan kepalanya, dia masih menangis sampai di mana Hana melepaskan pelukan itu.
Dia menatap ke arah perut saudaranya itu yang membesar itu, seharusnya ia menyadari dari dulu akan itu. Kenapa ia baru tahu sekarang? Lebih baik seperti itu, seharusnya ia tahu sejak dahulu maka rasa sakit itu tidak akan separah sekarang.
"Jaga saudaraku." Ucapnya sampai ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan acara itu, Anna hendak mengejar saudaranya tapi di tahan oleh Stella.
"Apa yang kau lakukan? Tetap di sini, acaranya belum selesai." Dimas yang masih berada di sana menoleh ke arah Stella, ia bengi mengakui jika dirinya memang pernah berada di kandungan wanita itu.
"Kau sudah puas? Seharusnya sudah bukan, kau menghancurkan kehidupan kedua putrimu secara bersamaan. Selamat, kau sudah menjadi seorang ibu yang akan di benci semua anak mu nanti." Dimas pergi meninggalkan acara itu, dia berlari mengejar Hana.
Hana berlari, dia keluar dari gedung itu. Benar apa kata Dimas, ia tidak sekuat itu sampai dia nekat datang seperti ini. Perempuan itu menangis, sampai di mana Dimas datang dan memeluk adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Tidak, jangan menangis lagi." Tapi mungkin Hana sudah terlalu sakit hati, lukanya belum sembuh sama sekali bahkan sampai sekarang. Lalu ia harus apa?
"Ayo kita pulang, kamu pasti lelah menghadapi semua ini."
...•••...
Pria itu menarik selimutnya, entah kenapa ia merasa sudah gagal menjaga adiknya sekarang. Seharusnya dulu ia lebih tegas kepada kedua orang tuanya itu, tidak mendengarkan apa yang mereka katakan itu, dan membawa Hana pergi sejauh mungkin. Memang benar menyesalan akan datang di akhir dari segalanya.
Dimas keluar dari kamar, menutup pintu secara perlahan. Di ruang tamu sudah ada beberapa orang, tentu saja orang-orang yang selalu mengawasi Hana di setiap saat. Ayu melangkah menghampiri Dimas.
"Apa dia tidak apa-apa?" Dimas tidak menjawab apa pun, mau mengatakan semua baik-baik saja juga tidak, mengatakan jika semua ini buruk juga tidak terlalu buruk.
"Seharusnya dia tidak nekat datang ke acara itu, otak orang tua kalian memang dangkal."
"Hey, jangan seperti itu-"
"Kenapa? Toh, memang benar bukan. Jika mereka punya otak, mereka tidak akan memaksa Hana datang ke acara itu. Mereka memang iblis." Perkataan yang keluar dari mulut Bima, dia terlalu terang-terangan jika masalah mengungkapkan isi hatinya.
"Lagi pula sudah terjadi, untuk apa di sesali." Dimas duduk di sofa, berdekatan dengan Jeffry. Pria itu nampak sudah lelah dengan keadaan, tapi dia tahu ada yang jauh lebih merasa lelah ketimbang dirinya sekarang.
"Aku punya rumah di Australia, jika Hana mau. Dia bisa tinggal di sana, menempuh hidup baru." Ucap Jihan, dia adalah saudara dari Johan. Dia memang tidak pernah muncul, tapi dia beberapa kali ikut kumpul di markas.
Apa yang Jihan katakan sepertinya baru saja Dimas sadari, memang seharusnya Dimas membawa Hana pergi jauh dari tempat ini. Tempat kelahiran yang memang sudah dari awal tidak bagus untuk bertahan hidup. Johan hanya melirik ke arah saudaranya itu, sepertinya ide bagus.
__ADS_1
"Johan juga pasti dengan senang hati menjaganya, kurang apa lagi? Kau harus membicarakan itu kepada adikmu."
"Sepertinya begitu..."