Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 103


__ADS_3

Entah bagaimana pendapatnya nanti, Dimas tidak memikirkan itu. Ia hanya mau yang terbaik saja, jika saja hidup adiknya sudah membaik barulah ia mulai merasa lega dengan semua itu. Ia tidak menginginkan apa pun kecuali kebahagiaan adiknya.


Dengan langkah ragu ia mendekat ke arah pintu kamar adik perempuannya, apakah ia harus mengatakan semua ini? Sepertinya memang harus, cepat atau lambat ia harus membawa Hana pergi dari tempat ini.


Tangannya membuka pintu kamar dengan perlahan, melihat Hana yang duduk dengan senderan di kasur dan duduk di atas lantai yang dingin. Memandang ke arah balkon dengan tatapan kosong, seolah tidak ada tujuan hidup sama sekali. Hidupnya seolah sudah berhenti di saat itu juga.


Dimas menghampiri Hana, dia melihat jelas keadaan perempuan itu tidak seperti dahulu. Memasang senyuman palsu sudah tidak dia lakukan, percuma saja jika hidup masih terus seperti ini. Tersenyum dengan kebalikan kenyataan bukanlah ide yang baik.


"Hana, kakak ingin bicara dengan mu sebentar boleh kan?" Kehadiran Dimas mungkin sudah dia sadari sejak tadi.


Lantas dia menoleh ke arah di mana Dimas berdiri sekarang, dia hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Membuat Dimas duduk di sampingnya, entah apa yang Hana pikirkan sekarang tapi dengan keadaan yang seperti ini.


"Apa kamu mau pergi ke Australia? Menetap di sana. Kehidupan di sana jauh lebih baik, kamu bisa tinggal di sana dan melupakan semuanya yang terjadi di sini. Kakak harap kamu menerima itu, bagaimana? Apa kamu mau?"


Hana tidak menjawab, pertanyaan yang Dimas layangkan kepadanya membuatnya dirinya bimbang. Jika dirinya pergi nanti, sepertinya ia tidak perlu memikirkan apa pun ketika berada di negara orang. Mungkin niat Dimas baik membuat Hana melupakan semua masalah yang begitu berat di sini.


Tapi ia sepertinya sedikit keberatan dengan itu, apakah ia harus pergi secepat itu? Bagaimana dengan yang lain? Tidak ada yang menduga jika Hana kenyataannya masih memikirkan keadaan Anna, jujur saja ia khawatir jika Satya memperlakukan saudara kembarnya sama seperti dirinya. Ia tidak mau itu terjadi, Hana mau melindungi Anna.


Walaupun memang dia tidak pernah melakukan apa pun untuk Hana, tapi Hana hanya tidak mau ada korban lain dan apa lagi Anna adalah saudara kembarnya.


"Hana?"

__ADS_1


"Aku akan pikirkan keputusannya nanti, beri aku waktu." Seperti yang sudah Dimas duga, pria itu mengangguk mengiyakan apa yang Hana katakan dan kemudian dia pergi keluar dari kamar itu.


Sedangkan Hana masih sibuk dengan pikirannya sendiri sekarang, ia harus pergi dan di sisi lain ia masih mengkhawatirkan keadaan Anna yang tengah mengandung tua sekarang. Apa yang harus Hana lakukan? Jika ia meminta keadaan Dimas, mana mau pria itu mengabulkan permintaannya yang satu itu yang memang cukup gila.


Dimas akan mengingatkan betapa kejamnya saudaranya dahulu dan mengungkit semua masalah yang sudah berlalu, memang Dimas belum menerima semua itu dan dia tidak akan menerima permintaan maaf apa pun.


'Apa aku harus pergi dari sini? Tapi jika aku tetap di sini aku takut jika anak ku nanti...'


...•••...


Sepertinya di luar dugaan semua orang. Anna masuk ke dalam rumah itu, di mana ia memang pernah datang ke sana di saat pemilik rumah sudah dalam status menikah. Dan sekarang ia adalah istri yang selanjutnya, jika saja dia tidak berpisah dengan pria itu. Mungkin dirinya menjadi istri kedua. Lelucon aneh, jika semua istrinya adalah saudara kembar.


Anna masuk ke dalam rumah, ia berpikir jika tidak ada masalah dengan rumah yang lumayan besar itu tapi dengan desain dalam rumah yang cukup sederhana itu. Ia menoleh ke arah dinding ruang tamu, foto pernikahan itu masih ada di dinding.


"Kau bisa tidur kamar yang itu, jika butuh sesuatu kau tinggal memanggilku saja." Ucapnya dengan nada biasa, dia mengambil alih tas yang Anna pegang dan membawanya ke kamar itu.


Kamar yang pernah ia tempat bersama Satya dahulu, dan di sisi kamar sepertinya kosong. Anna hendak melihat ke arah kamar samping, tapi secara tiba-tiba saja Satya datang.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya mau melihat kamar itu saja, memangnya kenapa?" Sebenarnya tidak ada masalah apa pun di dalam kamar itu, penampilan kamar itu juga sama saja dengan kamar yang Anna tempati. Hanya saja.

__ADS_1


"Tidak, tapi jangan pernah masuk ke dalam kamar itu. Cepat tidur, besok kita harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan mu." Anna memilih menurut saja, dia masuk ke dalam kamar dan sedangkan Satya pergi keluar kamar.


Pria itu masuk ke kamar yang tadi, itu membuat Anna lumayan berpikir keras sekaligus bertanya-tanya. Memang apa yang ada di dalam sana sampai Anna tidak diperbolehkan masuk ke dalam sana? Ia hanya diam di sana, masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian sekaligus juga membersihkan diri setelah seharian berada di acara itu. Melelahkan, di tambah ia juga hamil tua seperti ini.


Satya di dalam kamar itu, dia menatap ke segala arah dan lebih tepatnya ke arah balkon yang terbuka. Kursi itu, biasanya ada perempuan yang selalu menemaninya dahulu. Dia akan duduk di sana sambil menatap ke arah langit, dan dia juga akan menyiapkan teh hangat untuk dirinya.


Entah ingatan itu seolah tidak bisa menghilang begitu saja dari kepalanya. Satya melihat ke arah ranjang, ia seolah melihat perempuan itu tengah tiduran di atas ranjang. Menatapnya dengan senyuman manis yang sering Satya lihat setiap hari.


"Hana?"


Pria itu tersenyum dan melangkah menghampiri perempuan itu, tapi belum ia dekat dengannya bayangan itu seketika menghilang. Membuat langkahnya seketika berhenti juga, angin dari luar masuk ke dalam kamar membuat suasananya mendadak dingin.


Satya menatap ke arah ranjang itu dengan tatapan nanar, ia tidak bisa menahan perasaannya sendiri. Tapi di sisi lain ia tidak boleh egois.


Sampai di mana ia mulai menyerah untuk menguatkan dirinya sendiri, Satya ambruk di atas lantai. Menangis dalam diam, berharap semua ini tidak terjadi tapi kenyataannya tidak seperti itu. Semua sudah hancur, hancur sehancur-hancurnya.


"Maafkan aku, Hana. Seharusnya aku tidak seegois ini, aku sudah berjanji kepada mu. Tapi hatiku tidak bisa melakukan janji itu..." Ucapnya dengan nada lirik dan menyedihkan.


Tanpa ia sadari seseorang melihat dari celah pintu, melihat betapa menyedihkannya pria itu sekarang. Bahkan dalam sepanjang hidupnya mengenal pria itu, dia tidak pernah melihatnya menangis sampai seperti ini. Air matanya menetes, menyadari akan semua kesalahannya sekarang.


Memang pada awalnya ia tidak diperlukan di sini, seharusnya Anna tidak datang ke dalam kehidupan Satya. Pria itu yang pernah mencintainya dalam sekejap, dan kenyataannya ia justru menemukan orang lain yang berjuang di depannya ketimbang Anna, dia adalah Hana. Dia mengubah segala perasaan Satya saat itu, membuat pria itu tidak bisa hidup tanpa perempuan itu.

__ADS_1


'Memang seharusnya kehadiranku tidak di perlukan, seharusnya aku tidak di sini. Aku menghancurkan kehidupan semua orang yang baik...'


__ADS_2