
Kemungkinan besar memang tidak terjadi untuk sekarang, Anna memang menerima kenyataan dengan lapang dada karena ia juga mendapatkan dukungan dari Satya. Tapi tidak dengan sang bunda yang menyalahkan orang yang bahkan tidak melakukan apa pun di sini.
Tebak siapa yang disalahkan? Hana, mereka memperdebatkan semua itu. Menyalahkan semuanya kepada Hana padahal perempuan itu tidak ada di sana, dia tidak hadir di sana.
Sesuai perjanjian, Dimas juga datang ketika lahiran Anna kemarin. Mau bagaimana pun dia adalah adik perempuannya juga, agar tidak ada perselisihan. Tapi kenyataannya tidak, orang tuanya sendiri yang membuat perpecahan atas hubungan yang mereka buat. Dimas memperbaiki hubungan, Anna juga sadar jika hubungan itu bisa di bangun lagi, dan Hana juga akan selalu menerima Anna kapan saja.
"Anak itu pasti ada di sekitar ini, bukannya dia juga hamil bukan? Dia pasti menukarkan bayinya juga-"
"Bunda! Cukup! Kenapa terus menyalahkan Hana sih? Dia saja tidak ada di sini, lagi pula umur kehamilannya lebih muda dia. Tidak masuk akal."
Anna sebenarnya tidak mau melakukan semua ini, tapi mau bagaimana lagi? Ketika ibunya sendiri menuduh anaknya yang bahkan tidak ada di satu tempat dengannya, sesuka hati menuduh tanpa bukti apa pun.
Dimas hanya diam menatap ke arah semua orang, ia bahkan melirik ke arah Anna yang berusaha mengelak akan segala tuduhan yang ibu kandungnya layangkan kepada Hana. Berakhir pria itu yang melangkah ke sebuah arah mengambil sesuatu, dan kemudian melempar gelas ke tengah-tengah mereka semua.
Tentu saja membuat semua orang terkejut dengan apa yang Dimas lakukan. Pria itu membuang nafas panjang, ia tidak suka diam saja seperti itu, jika semua ini terus di biarkan tidak akan pernah berakhir mau sampai kiamat datang juga tidak ada selesainya.
"Jaga ucapanmu, atau ku hancurkan mulutmu itu." Dimas mengecam akan itu, ia tidak akan pernah main-main dengan apa yang ia katakan sendiri.
Ia sudah berusaha sabar, bahkan sekarang ia sudah cukup terlalu sabar menghadapi semua ini. Mungkin saja jika orang lain menghina akan dirinya itu tidak akan masalah, tapi adiknya. Bagaimana bisa Dimas akan diam saja jika Hana di sangkut pautkan akan kejadian yang bahkan ia sendiri belum bertemu dengan Hana? Perkataan konyol yang Stella ucapkan cukup membuat Dimas sudah terlalu marah.
__ADS_1
Lemparan gelas yang Dimas lakukan, cukup membuat ibu kandungnya terdiam. Orang tua? Lupakan akan kata itu, karena bagi Dimas semua itu sudah tidak berlaku di dalam kehidupannya. Orang tua mana yang akan menyiksa anaknya selama bertahun-tahun lamanya dan membiarkan terluka begitu saja?
Menjadikan anaknya tumbal hanya untuk kesenangan anak kesayangannya? Menjadikannya sebuah kesalahan yang bahkan anaknya tidak pernah melakukan apa yang dia tuduhkan? Orang tua mana yang melakukan semua itu? Ada? Iya, tentu saja mereka ada dan ada di dunia nyata.
Stella contohnya, jangan terlalu mengambil terlalu jauh jika ada orang tua yang berkata dia berusaha keras membesarkan anak sudah payah, maka dia tidak pernah ikhlas untuk memberikan anaknya itu makan dan membesarkannya.
Jujur saja Dimas sudah mulai muak dengan keadaan sekarang. Seharusnya dia bersyukur ketika Anna melahirkan anak kesayangannya itu masih dalam keadaan baik-baik saja, dia bahkan hidup bahagia seperti apa yang mereka harapkan.
Tapi justru secuil sebuah kesalahan yang tidak tahu datang dari mana, dia menyalahkan orang lain yang bahkan tidak tahu jika semua ini terjadi. Entah ke mana otaknya sekarang?
"Apa katamu, Dimas? Aku ini ibumu!"
"KAU BUKAN SEORANG IBU! KAU HANYA IBLIS YANG TERPAKSA MELAHIRKAN SEORANG ANAK!! TIDAK ADA IBU SEPERTI DIRIMU!" Dimas sudah kehilangan banyak sisa kesabarannya.
"Kau-"
"Kau orang tua yang sudah gagal, bahkan sejak awal kau sudah gagal. Kau bukan orang tua ku, jika bukan karena permintaan Hana menyuruhku menjaga anak kesayangan mu ini. Aku tidak akan sudi datang kemari." Ucapan Dimas benar-benar menusuk. Bagaimana tidak? Dia bahkan sadar jika orang yang dia maksud ada di sekitarnya.
Anna hanya diam ketika mendapati perkataan Dimas yang seperti itu, Dimas tidak menganggapnya seorang adik. Dia datang bukan karena dia perduli, melainkan akan permintaan seseorang. Dimas tentu saja akan menurut karena Hana yang mengatakan sebuah kalimat itu. Perempuan itu hanya diam, bahkan tanpa sadar air matanya menetes.
__ADS_1
Untuk apa dirinya menangis? Lagi pula seharusnya dirinya sadar dengan kesalahan yang dirinya perbuat dahulu. Anna menunduk menyembunyikan tangisannya sendiri, sampai di mana dia memutuskan pergi dari sana karena tidak tahan dengan suasananya.
Anna benar-benar pergi meninggalkan kawasan tersebut, ia terlalu sakit hati mendengar apa yang Dimas katakan. Kepergian Anna dapat mereka sadari sekarang, pria itu menghampiri ke arah putranya dan menampar putranya tanpa berpikir panjang.
Dimas hanya diam, mendapatkan tamparan yang bukan hanya sekali dia terima sendiri, dia melirik dengan tatapan datar seolah tidak memperdulikan semua ini.
"Kau sudah kelewatan, Dimas. Kenapa kau begitu tega melakukan semua ini? Kenapa? Kami keluarga mu-"
"Sudah tidak semenjak kau mengusir Hana dari rumah, aku bukan keluarga mu lagi." Dimas mengatakan semua itu dengan keadaan kepala dingin, dia masih tenang ketika mengatakan semua itu di depan ayahnya sendiri.
"Kau-"
"Ketika kalian menutup hatiku, aku akan menutupnya dan sekarang semua rasa perduli ku sudah hilang, salah siapa? Salah mu dan istrimu itu. Jangan temui aku lagi, atau kau temui Hana. Karena aku tidak akan tinggal diam jika adik ku terluka lagi karena dirimu, orang tua tidak becus."
Dimas beranjak pergi dari sana tanpa memperdulikan apa pun. Perasaannya seketika hilang begitu saja, atau lebih tepatnya memang sudah hilang sejak dulu. Sejak di mana mereka semua mengusir Hana dari rumah, dan menganggap jika Hana adalah anak sialan.
Jangan berharap lebih, Dimas sudah bersumpah akan segala hal. Dia memang membiarkan keluarga itu hidup semaunya sendiri, tapi jangan berharap Dimas akan berdoa sesuatu yang baik. Dimas hanyalah manusia biasa dengan segala hatinya yang gelap, maka dia akan melakukan apa yang ia rasakan.
Dia buat keluarga itu hancur karena doanya, meskipun Hana mendoakan yang terbaik, tapi Dimas tidak akan seperti itu, dia akan mendoakan yang terburuk. Itu adalah doa untuk seorang anak yang sama sekali tidak di anggap, dan di asingkan oleh keluarganya sendiri tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Anna hanya duduk di kursi dengan segala kepedihan yang ia rasakan. Dimas tidak sepenuhnya datang karena perduli kepada dirinya, melainkan karena permintaan saudaranya.
Anna sudah senang ketika Dimas datang kepadanya, ia pikir kakaknya akan berubah pikiran meskipun terlambat. Tapi kenyataannya semua itu hanyalah sebuah harapan belaka. Mau menangis rasanya percuma, mau Anna bersujud pun Dimas tidak akan pernah menganggap dirinya lagi.