Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 11


__ADS_3

Baru saja Hana pulang dari rumah, dan ia langsung di guyur dengan air. Tentu saja, kalau bukan Anna siapa lagi? Mungkin itu adalah kesempatannya melakukan itu karena Dimas belum pulang rumah.


Karena kejadian tadi sore, di mana Jeffran menolak ajakan Anna untuk pulang bersama sekaligus penghinaan yang Jeffran katakan membuatnya malu setengah mati. Kenapa lelaki itu bisa sebenci itu dengan Anna?


"Kau yang menghasut Jeffran untuk menjelek-jelekan diri ku kan? Kau tidak terima jika aku adalah satu-satunya yang di anggap di sini. Benar bukan? Maksud mu apa seperti itu hah?! Kau ini hanya anak pembawa sial tau tidak?! Kau tidak pantas lahir di dunia ini!"


Anna mendorong Hana, entah sampai kapan. Dorongan yang dilakukan oleh Anna yang terbilang kasar membuat Hana melangkah mundur dan berakhir terjatuh di atas lantai. Tidak sampai di sana saja, perempuan itu bahkan dengan teganya menginjak kaki Hana dengan keras. Hana berteriak mencoba menyingkirkan Anna, gadis itu terjatuh karena tidak seimbang.


Membuat amarahnya semakin membludak. Tapi tanpa di duga kedua orang tuanya pulang dan melihat ke salah pahaman itu terjadi, Anna tetap duduk di atas lantai seraya merintih kesakitan padahal tidak sakit sama sekali. Sebaliknya Hana yang tidak bisa berdiri atau bahkan berjalan karena ulah Anna tadi.


"Kalian ini kenapa? Anna? Kamu tidak apa sayang?" Wanita itu membantu Anna berdiri dan mengabaikan Hana yang jelas-jelas di sana korbannya adalah Hana.


Bahkan semua asisten rumah tangga juga melihat kejadian awal sampai akhirnya, mereka menganggap Anna terlalu kejam kepada Hana. Terlihat sekali jika Hana jauh lebih parah, tapi kenapa Anna yang di tolong? Itu yang berada dipikiran mereka.


Sedangkan kepala keluarga mulai marah karena melihat anak kesayangannya di sakiti oleh seseorang yang ia benci. Ia menyeret Hana tanpa ampun, sedangkan gadis itu sudah meronta. Berusaha melarikan diri, tidak bisa lagi ia menerima kekerasan. Tubuhnya lelah menerima luka lagi.


"Apa yang kamu lakukan kepada anak saya?! Siapa kau sampai menyakitinya?! Jawab!" Rambut Hana di tarik secara paksa membuat gadis itu tidak bisa melakukan apa pun kecuali menangis di sana.


"Aku tidak melakukan apa pun, dia yang-"


"MENGAKU ATAU AKAN KU ROBEK MULUTMU!" Hana semakin ketakutan, ia tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Ia takut ketika ayahnya marah sekaligus mengancam berbagai hal. Padahal di sisi lain Hana tidak melakukan kesalahan apa pun.


Stella memeluk anak perempuannya yang menangis itu, tapi dia tidak sadar jika dia tersenyum ketika melihat Hana di siksa oleh ayahnya sendiri. Begitu bahagianya Anna sekarang ketika melihat Hana menangis meminta ampunan.


Sampai suara seseorang datang yang tidak lain adalah Dimas. Dia langsung berlari dan mendorong pria itu mentah dari Hana. Ia menarik Hana dan membuat gadis itu berdiri di belakangnya.


"Apa lagi ini?! Kenapa ayah selalu saja melakukan ini kepada Hana? Apa salah Hana sekarang?"

__ADS_1


"Dia mendorong Anna sampai terjatuh." Dimas menatap tajam ke arah Anna dan menatap seluruh badan adiknya itu, tidak ada yang terluka justru Hana yang terluka. Kenapa malah Anna yang dibela sedangkan Hana yang diperlakukan kasar?


"Dia tidak terluka, anakmu saja yang terlalu lebay."


"Kakak, tadi Hana yang-"


"DIAM! KAU INI SEHARI SAJA TIDAK MEMBUAT HANA DI PUKULI APA TIDAK PUAS?! DAN KEJADIAN KEMARIN, KAU PASTI DALANGNYA KAN? NGAKU KAU!!"


"DIMAS!"


"APA?! KAU MAU MEMUKULKU JUGA KARENA MEMBENTAK ANAK KESAYANGANMU ITU?! SILAHKAN! PUKUL AKU!"


Dimas cukup bersabar akan semua ini, tapi tidak lagi. Ia sudah lelah dengan keadaan keluarganya yang hancur lebur sejak dulu. Tidak ada yang baik-baik saja, di mata masyarakat anak mereka hanyalah Anna. Dirinya dan Hana seolah hanya lah alat pemuas hasrat kesuksesan saja.


Tidak lebih dari itu semua, itu yang Dimas rasakan selama ini. Dan parahnya, memang sejak dahulu hanya Hana yang dipaksa untuk terus berada di depan tanpa dukungan dan kasih sayang.


Permintaan kecil bagaikan mereka ingin mati saja dari pada mengabulkan permintaan sederhana. Sedangkan Anna apa? Dia bahkan hanya pengacau dan pembuat masalah di sekolah. Dia tidak diberikan pelajaran apa pun, masih di ampuni.


"Kenapa hanya diam? Kenapa kau tidak memukul-" Suara pukulan keras membuat Dimas agak melangkah ke belakang, Stella terkejut akan apa yang suaminya lakukan tadi.


"Ayah!"


"Dia sendiri yang meminta aku memukulnya, dan dia pantas menerima pukulan itu karena sudah bertingkah tidak sopan hanya karena membela anak sialan itu."


Hana seketika menahan nafasnya akan kalimat yang Ryon keluarkan. Tidak dapat berpikir jernih bahkan termasuk Dimas yang tidak habis pikir dengan isi kepala ayahnya itu. Apa yang pria tua itu pikirkan?


Sedangkan Anna tersenyum, ia semakin yakin jika Hana akan hancur setelah ini. Melihat ekspresi Hana yang terdiam dan menahan tangisannya sendiri, cukup membuat Anna bahagia dalam hati.

__ADS_1


"A-anak sialan?" Hana menggumang, kalimat yang ayahnya katakan terus berputar di kepalanya dan terus ia ucapkan dengan nada pelan.


Dimas menoleh ke arah Hana, melihat keadaan Hana sekarang membuatnya membenci dirinya sendiri dan juga keluarganya.


"Hana..." Hana berdiri dan berjalan dengan kaki pincang ke arah kamarnya. Meninggalkan Dimas yang terus memanggil namanya berulang kali.


"Puas kau? Puas kau?!! Mau berapa kali kau menyakitinya?!" Dimas tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Tidak sopan-"


"UNTUK APA SOPAN KEPADAMU YANG BEGITU SENANG MENYIKSA ANAK SENDIRI DAN LEBIH MEMBELA ANAK TIDAK BERGUNA SEPERTI DIA!!" Dimas menunjuk ke arah Anna yang masih berada dipelukan mamanya.


Dimas menatap penuh kebencian ke arah Anna, sangat benci. Karena Anna, Hana harus menahan semua rasa sakit dan perlakuan yang tidak pantas, yang seharusnya tidak Hana terima.


"Jangan menunjuk anak ku!"


Dimas terdiam, masih dengan tatapan benci yang begitu terlihat jelas. Pertama kalinya Ryon melihat tatapan itu dari Dimas secara langsung, tatapan yang sama seperti adiknya dahulu. Dimas juga melirik ke arah Stella yang menatapnya penuh keterkejutan.


"Dan kau, jika kau tidak mau menganggapnya. Kenapa kau melahirkannya? Hanya untuk memenuhi nafsu bejat mu itu? Iya?


"Jaga ucapanmu Dimas!"


"Untuk apa? Untuk apa aku menjaga etika kepada iblis seperti kalian?!!! Aku keluar dari rumah ini, dan aku akan membawa Hana bersama ku sekarang juga." Dimas langsung berjalan ke arah kamarnya dan membereskan semua barangnya.


Meninggalkan ketiga orang itu begitu saja tanpa berpikir dua kali. Dimas juga menyuruh Hana agar pergi, ikut bersamanya tentu saja. Seperti yang Dimas janjikan dahulu, membawa Hana pergi adalah tujuan utamanya hidup di dunia ini.


Setelah semuanya selesai, ia menggandeng Hana untuk keluar dari rumah itu dan melempar amplop coklat. Tepat ke arah Stella atau lebih tepatnya ke arah Anna. Gadis itu tidak tau apa itu, tapi itu sebuah ancaman untuknya.

__ADS_1


"Dan urusi persidangan anakmu itu dari kasus pembunuhan berencana dan pemerkosaan yang dia lakukan. Ayo Hana." Hana menunduk dan pergi bersama Dimas. Benar-benar meninggalkan rumah itu seperti apa yang Dimas katakan sebelumnya.


Dan Anna hanya diam dengan menatap amplop itu dengan tatapan kosong. Apakah sekarang adalah waktunya hancur? Sekarang siapa yang akan hancur? Hana atau Anna sendiri?


__ADS_2