Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 146


__ADS_3

Melakukan kegiatan seperti biasanya yang dilakukan setiap pagi, sarapan bersama di meja makan. Semua maid sibuk menyiapkan, membantu Hana untuk menyiapkan sarapan hari ini. Jihan? Dia terlalu terburu-buru pagi ini membuatnya tidak sempat sarapan tapi Hana memberikan bekal untuk makan di kampus, karena lapar saat jam pelajaran otak tidak akan fokus.


Yang turun terlebih dahulu adalah Johan, pria itu menyiapkan banyak hal. Sebenarnya sudah Hana siapkan semuanya tapi pria itu sendiri yang merumitkan diri sendiri, di susul si kembar dari lantai dua.


Jeano masih dengan sifat cueknya itu, dia mengabaikan semua perkataan Jack yang terus mengoceh di sampingnya. Jeano benar-benar mengabaikannya, Jack yang jengkel pun hanya bisa menarik tas gendong saudaranya itu.


"Bisa bicara tidak? Jawab dong." Jeano menoleh dengan tatapan datarnya, dia malas bicara hari ini karena ia benar-benar mengantuk.


"Malas." Jeano melewati Jack begitu saja, membiarkan saudaranya itu menggerutu sepanjang jalannya.


Jeano menarik kursi di sana dan duduk dengan tenang, sedangkan Jack menarik kursi di dekat kursi sang bunda yang tengah sibuk memasak di sana. Mereka berdua menunggu kedua orang tua mereka datang, tepat di saat Johan menarik kursi dan duduk di sana.


Ia melihat kedua putranya nampak aneh, Jack yang terus memandangi Jeano dengan tatapan marah, sedangkan di sisi lain Jeano selalu tidak memperdulikan keadaan. Dia bahkan tidak perduli dengan tatapan tajam dari saudaranya itu, sama sekali tidak perduli.


Johan tidak tahu ada masalah apa lagi, tapi jika di simpulkan. Jack marah karena Jeano terlalu banyak diam dan cuek dengan keadaan. Tepat di mana Hana datang dan duduk di samping Jack, dia melihat nampak baik-baik saja.


"Kenapa hanya diam saja? Sarapan cepat, nanti terlambat." Ucap wanita itu, membuat semua orang makan dengan menu sarapan hari ini yang sudah di siapkan.


Johan melirik ke arah Hana, sepertinya dia masih belum menyadari akan keadaan sekarang. Perang Dingin masih berlangsung ternyata, padahal baru semalam sudah selesai tapi ternyata masih berlanjut.


Hana merasa memang ada yang melihat ke arahnya, berakhir pandangan suami istri itu bertemu. Hana tidak tahu apa kode yang Johan berikan kepadanya, tapi tatapannya mengarah ke kedua anak mereka. Hana langsung menyadari apa yang tengah terjadi sekarang.


"Makan yang banyak ya, bekalnya sudah bunda siapkan di meja sana. Ambil satu-satu." Tidak ada jawaban dari kedua anaknya, itu membuat Hana merasa heran.


"Anak-anak?"


"Aku duluan." Jeano sudah menyelesaikan sarapannya dengan cepat, karena itu membuat bundanya semakin merasa ada yang aneh.


"Kamu berangkat sama ayah saja, sekalian ayah ke kantor."

__ADS_1


"Tidak, aku mau sama supir saja." Jeano langsung pergi begitu saja, dia berjalan seolah tidak ada siapa pun di sekitarnya. Menerima bekal yang maid berikan kepadanya dan berlalu begitu saja.


Sedangkan Jack yang tahu jika saudaranya itu terlalu cepat berangkat ke sekolah membuatnya mempercepat acara makannya itu, Hana sedikit terkejut ketika Jack melompat dari kursi dan mencium pipinya dengan cepat.


"Jack juga berangkat ya bunda!"


"Jack-" Hana melihat punggung kedua anaknya sudah mulai menjauh sekarang, ia tidak tahu mengapa dan apa yang terjadi sekarang ini?


Sampai seseorang menggenggam tangannya sekarang, Hana menoleh ke arah belakang dan mendapati Johan tersenyum ke arahnya. Kedua anaknya memang jarang bertengkar hebat, mungkin hanya sama-sama diam saja atau bahkan tidak saling menyapa itu sudah biasa terjadi. Tapi sebenarnya mereka berdua saling menyayangi satu sama lain seperti saudara kandung pada umumnya.


Hana khawatir akan semua ini, ia tidak mau kedua anaknya tidak akur seperti ini. Ini sangat membuatnya teringat akan masa lalu, di mana Hana memang tidak dekat dengan saudaranya sendiri sepanjang hidupnya.


"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan sekarang, jangan terlalu di pikirkan terlalu jauh. Aku tidak mau kamu sakit."


"Tapi-"


"Biarkan urusan anak-anak menjadi urusan ku, aku ayahnya." Tatapan itu, membuat Hana yakin harus menyerahkan semua itu kepada suaminya.


Apakah semua ini hanyalah sebuah mimpi? Mereka berdua sudah menjalani hubungan pernikahan selama 10 tahun ini, tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua. Ada pun masalah yang datang, mereka sama-sama bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, tidak ada yang egois, tidak ada juga yang keras kepala.


Johan memegangi pipi Hana, membuat perempuan itu mendongak menatap ke arahnya. Mata yang sangat cantik, di mana tatapan itu pertama kali ia lihat dulu membuatnya jatuh cinta dalam waktu singkat.


"Jaga dirimu, jika ada sesuatu hubungi saja aku." Ucapnya sebagai pesan singkat sebelum berangkat ke kantor.


"Iya, hati-hati di jalan." Johan mengusap rambut panjang itu, dan mencium kening istrinya. Dan kemudian dia pergi dari rumah untuk berangkat ke kantor.


Hana mengikuti sampai Johan keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya keluar pekarangan rumah mereka. Hana hanya menatap, di titik di mana ia sangat bersyukur dengan semua ini.


Apakah ini adalah kebahagiaan yang sangat Hana inginkan? Sepertinya memang iya, ia sangat beruntung bisa bersama Johan. Pria yang sangat baik dan selalu mencintainya. Ia berharap jika semua ini terus terjadi sepanjang hidupnya tanpa harus ada kata berhenti.

__ADS_1


...•••...


Jeano menatap ke arah luar jendela dengan tatapan datar, sejak kapan dia tersenyum lebar? Sepertinya dia jarang melakukan atau bahkan menunjukkan ekspresi tersebut. Dia hanya diam, membaca buku selama perjalanan ke sekolah.


Sedangkan di sampingnya, Jack terus melipat kedua tangannya dan melirik ke arah Jeano yang seolah tidak melihat akan keberadaannya. Mengapa dia bisa punya saudara yang terlalu kaku seperti ini? Sepanjang perjalanan hanya keheningan, sampai di mana Jack benar-benar sudah bosan dan memilih menyalakan radio dengan volume keras.


Tahu apa yang akan terjadi, harusnya Jack tahu. Di dalam mobil bukan hanya dirinya seorang melainkan ada dua orang lain di sana, supir dan juga saudaranya yang fokus membaca buku.


Sepertinya suara radio adalah gangguan untuknya, Jeano berakhir menutup bukunya karena suara bising di sekitarnya membuat kepalanya pusing. Ia melirik kesal ke arah Jack yang menari tanpa dosa di sampingnya.


"Bisa kecilkan suara radionya tolong."


"Baik tuan muda-"


"Tidak! Jangan kecilkan suara radio, terlalu membosankan jika terlalu sunyi. Aku bukunya raksasa di goa gelap." Jeano yang sudah terlalu jengkel, dia hendak mengecilkan radionya tapi di cegah oleh Jack.


"Berisik bodoh."


"Keluar saja dari sini, kenapa rumit sekali?" Tatapan Jeano seketika sangat tidak bersahabat sama sekali. Pemuda itu langsung duduk, menyuruh supir untuk berhenti. Itu membuat Jack terkejut bukan main, apa maksudnya ini.


"Berhenti di sini."


"Tapi tuan, anda-"


"Heh! Bodoh! Kau di sini saja, aku hanya bercanda saja. Pak, tetap jalan, aku akan menahan gorila ini di sini." Jack menarik tangan Jeano yang hendak membuka pintu mobil, dia bahkan mengunci pergerakan saudaranya itu dengan kakinya. Sudah seperti menyekap maling.


Jeano? Jangan di tanya sekarang akan keadaannya sekarang, badannya terkunci karena badan Jack itu. Dia hanya bisa bernafas panjang, mencoba bersabar menghadapi saudaranya yang lumayan tidak waras itu.


"Lepaskan."

__ADS_1


"Tidak akan!"


"Dasar idiot."


__ADS_2