Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 39


__ADS_3

Hana baru saja kembali ke apartemen, dengan keadaan masih begitu lemas. Sebenarnya ada Theo yang mengantarnya pulang kembali ke rumah, dan rahasianya di ketahui oleh pria itu dengan cepat. Membuatnya tidak dapat berpikir panjang, tidak sesuai dugaan karena Hana menginap di rumah sakit selama 2 hari saja.


Baru saja sampai ke dalam rumah, ia melihat Dimas duduk di sofa menatap ke depan dengan tatapan kosong dengan botol minuman di atas meja.


Jelas aroma menyengat itu menunjukan jenis minuman apa itu, Hana mencoba melangkah masuk dan mungkin Dimas mengetahui akan kehadiran orang lain di sana selain dirinya sendiri. Pria itu melihat keberadaan adiknya dan beranjak dari sofa.


Hana tidak tahu apa yang akan Dimas lakukan, tapi ia tidak menyangka ketika. Pria itu memukul kepalanya dengan keras, membuat tubuhnya menabrak pintu keluar. Tidak sampai di sana saja, Dimas juga menjambak rambut Hana dengan kasar dan menatap tajam ke arah gadis itu.


"Dari mana saja kau?"


"Aku-"


"Apa yang dikatakan Anna selama ini benar? Kau menjual dirimu?" Seketika tubuh Hana mendadak lemas. Dimas mengatakan semua itu tepat di depan Hana sendiri, apakah ini mimpi? Tidak, ini tidak mimpi karena pukulan Dimas masih terasa menyakitkan.


"Aku tidak melakukan itu-"


"LALU APA?! APA KARENA AKU SELALU MENOLONGMU BUKAN BERARTI KAU BISA SEENAKNYA KEPADAKU! HANA!" Dimas mencengkram rambut panjang itu, membuat Hana merasa sakit. Tapi rasa sakit yang membuatnya tidak bisa menahan adalah rasa sakit yang berada di dalam dadanya.


Jujur saja, ia tidak pernah melakukan apa pun atau bahkan termasuk tuduhan yang Dimas katakan itu. Hana tidak akan pernah seperti itu, seharusnya Dimas tahu karena pria itu juga mengenal Hana. Bukan hanya sebentar mainkan selama ini, selama 20 tahun ini. Kenapa Dimas tidak pernah mengerti?


"Aku tidak akan melakukan itu."


"Lalu? Kemana saja kau selama 2 hari ini."


"Dia bersama ku." Tiba-tiba saja seseorang berdiri tepat di depan pintu apartemen mereka, pria itu membuka pintu semakin lebar memperlihatkan dirinya sekarang.

__ADS_1


Dimas tidak menyangka jika ternyata yang membawa adiknya adalah wakil pemimpin dari geng Vesselsoft. Pria itu melangkah maju dan menarik Hana untuk menjauh dari Dimas, apakah pantas seorang kakak laki-laki memperlakukan adiknya dengan kasar seperti itu? Dan menuduh hal yang bahkan seharusnya dia tahu jika semua itu tidak akan pernah dilakukan oleh adik perempuannya?


"Tidak percaya?" Theo menatap ke arah Hana yang hanya diam, ia juga mulai menatap Theo yang berdiri di sampingnya. Apa yang akan Theo lakukan? Bahkan pria itu secara tiba-tiba datang ke apartemennya?


"Ini, baca sendiri." Surat hasil lab rumah sakit tepat di hari di mana Hana hilang di hadapannya.


Sedangkan Theo menatap Dimas dengan tatapan tajam, ia tidak suka jika seorang perempuan diperlakukan kasar. Seumur hidup Theo tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti itu, walaupun ia akui dahulu ia membenci seorang wanita karena ia menganggap perempuan terlalu haus harta dan juga suka merebut hak orang lain.


Mungkin jika sekarang, tidak terlalu lagi. Tentu saja berkat seorang gadis yang membuatnya melupakan semua perasaan bencinya itu.


"Rumah sakit?"


"Itu juga karena ulahmu sendiri, mementingkan kekasihmu ketimbang adik perempuannya sendiri padahal jelas siapa yang lebih butuh. Ini bukan seberapa, belum masalah yang akan datang lagi. Untung aku berada di sana, jika tidak entah apa yang terjadi. Dan seharusnya kau sadar diri, sadar apa kesalahanmu bukan malah menuduh." Theo tidak pernah berbicara sepanjang ini, mungkin jika bukan karena membela Hana ia tidak akan sudi menghabiskan tenaga hanya untuk berbicara banyak.


"Aku mau sama kakak, kamu bisa pulang." Theo menatap ke arah Dimas yang masih terdiam, berakhir pria itu memilih pergi dan sebelum itu ia membisikan sesuatu kepada Hana.


"Jika ada sesuatu langsung hubungi aku." Ucapnya dan kemudian pergi begitu saja. Ia sebenarnya enggan meninggalkan Hana, ingin rasanya membawa Hana pergi dari sana saja jika ia mau tapi Theo tidak akan seegois itu.


Di tempat itu, Hana menarik tangan Dimas dan ia memeriksa tangan kakaknya itu yang terluka. Lantas gadis itu langsung mengajak Dimas untuk kembali duduk di sofa ruang tengah, menyingkirkan botol-botol minuman itu dan mengambil kotak obat yang berada di atas kulkas.


Tidak beberapa lama dia pun kembali dengan barang di tangannya, duduk di depan kakaknya itu dan menarik tangan Dimas. Sedangkan pria itu hanya diam saja, Hana menarik kertas yang Dimas pegang dan meletakkannya di atas meja. Membuat Dimas seketika itu menatap adik perempuannya itu dengan tatapan bersalah, ia masih tidak sadar dan pikirannya kacau.


Hana dengan telaten membersihkan serpihan kaca di tangan Dimas. Mengobati tangan yang penuh dengan luka walaupun kecil, ia yakin luka itu sudah lumayan lama karena darahnya sudah mengering.


"Hana-"

__ADS_1


"Kenapa kakak terluka? Kakak seharusnya tidak memukul sesuatu nanti luka." Ucap Hana tanpa menatap ke arah Dimas, walaupun ia sakit tetap saja Hana tidak mau membalas.


"Maaf." Satu kata yang membuat Hana berani mendongak dan melihat Dimas yang menunduk, ia tidak tahu kenapa keadaan Dimas mendadak kacau seperti ini. Atau karena sesuatu yang mungkin Hana tidak tahu.


"Tidak apa-apa, Hana buatkan susu hangat dulu. Kakak masih mabuk." Hana berdiri dari sofa dan berjalan ke arah dapur, sedangkan Dimas hanya diam saja menatap ke arah meja dengan tatapan kosong, lebih tepatnya ia melihat ke arah kertas hasil lab yang Theo berikan kepadanya.


Lebih dari 1 menit, Hana kembali dan membawakan minuman itu kepada Dimas. Ia juga melihat Dimas meminum susu hangat buatannya, setelah satu gelas minuman habis. Dimas masih terdiam, sampai pria itu mendadak berlari ke arah wastafel dan muntah-muntah.


Tentu saja Hana berlari menyusul, ia melihat kakaknya itu muntah-muntah dan membantu memijat leher kakaknya itu. Sampai Dimas merasa pusingnya sudah lumayan hilang tapi rasa kantuk justru menyerangnya.


"Kakak tidak apa-apa? Masih ingin muntah lagi?" Dimas menggelengkan kepalanya, ia juga menerima bantuan Hana yang menuntunnya berjalan sampai kamarnya.


Bahkan sampai di kamar, keadaannya juga sama kacaunya. Hana tidak memperdulikan sekitarnya, ia membaringkan Dimas di atas ranjang dan membantu menarik selimut juga.


"Kakak tidur dulu, besok kamarnya Hana bersihkan." Dimas tidak menjawab, ketika Hana hendak pergi keluar kamar tapi Dimas menahan tangan mungil adiknya itu.


"Kenapa? Kakak masih sakit?"


"Tidur sama kakak ya, kakak takut." Hana tidak tahu apa yang harus ia jawab, tapi kakaknya sudah terlebih dahulu menarik dirinya dan memeluk Hana begitu saja.


Gadis itu terkejut, meskipun begitu ia tetap diam dan membalas pelukan Dimas itu. Dimas tertidur dengan cepat, tidak butuh 5 menit pria itu sudah terlelap masuk ke dalam alam mimpinya sendiri. Hana menatap wajah kakaknya itu yang sudah tertidur, ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini emosional Dimas suka naik turun.


Ia hanya berpikir dan tetap diam, sampai di mana ia mengingat jika Dimas sudah tahu apa yang sebenarnya. Hana hanya tersenyum miris, jika saja bukan karena hasil lab itu mungkin Dimas akan membunuhnya.


"Kakak sakit ya? Jangan sakit ya, Hana tidak suka. Kakak harus selalu sehat." Gadis itu memeluk kakaknya itu dengan erat, walaupun tanpa ia sadari jika air matanya menerobos kelopak matanya.

__ADS_1


__ADS_2