Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 15


__ADS_3

Berbulan-bulan Hana mulai terbiasa hidup dalam keadaan di mana ia benar-benar sendirian, hanya bersama Dimas saja di rumah itu pun tidak setiap hari bertemu karena lelaki itu juga sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya.


Tidak tahu lagi apa yang harus Hana lakukan, ia terlalu kesepian untuk sendirian meskipun ia juga suka sendiri dari ada di tempat ramai. Tapi Dimas memperbolehkan Jeffran untuk datang dan menemani adiknya, asalkan tidak melewati batas.


Dimas akan tetap mengawasi meskipun tidak secara langsung, ia percaya dengan Jeffran dan lagi pula dia juga kenal dengan lelaki berdarah Australia tersebut sejak lama. Berteman dengan Hana sejak masih kecil, siapa yang tidak akan percaya?


Hampir melewati satu tahun berlalu pertemanan bahkan kali ini melewati waktu ujian berlangsung, Hana tidak mengerti. Tapi sepertinya ia mulai menyukai Jeffran, hanya karena lelaki itu ada setiap Hana butuh dan selalu datang kapan saja. Sesederhana itu membuat Hana suka.


"Sebentar lagi kita akan lulus sekolah bersama, kamu mau lanjut ke universitas atau-"


"Mungkin aku akan bekerja saja. Membantu kak Dimas mencari uang, aku tidak mau selalu merepotkannya." Jeffran paham dengan keputusan yang Hana ambil, gadis itu hidup dengan mandiri tanpa kehadiran kedua orang tua.


Pasti terlalu berat baginya, tapi tampak semuanya bisa Hana tangani. Jeffran sangat bangga memiliki sahabat seperti Hana, gadis kuat dan juga cantik sepertinya memang begitu sangat pantas untuk bahagia. Gadis itu selalu menerima keadaan tanpa harus mengeluh sama sekali, meskipun begitu banyak yang membencinya. Hana tampak tidak memperdulikan akan siapa yang membencinya, ia hanya fokus dengan kehidupan untuk ke depannya.


Perempuan seperti ini memang banyak yang mencari, tapi anehnya juga banyak dikecewakan dan juga di tinggal pergi begitu saja. Ingin heran tapi dunia ini memang seperti ini, adil? Sepertinya sudah lenyap dari muka bumi.


"Memang mau bekerja di mana nanti?" Hana menggelengkan kepalanya, ia bingung harus kemana? Tidak tahu mau kemana lagi, selain pekerjaannya sekarang yang sudah menjadi pekerjaan tetapnya.


"Kayaknya aku akan lanjutkan pekerjaan yang sekarang saja."


"Kamu yakin? Itu terlalu berat untuk kamu, lebih baik kamu bekerja di kantor ayah ku saja. Dia pasti tidak keberatan dan juga senang dengan kamu."


"Aku tidak yakin dengan itu-" Jeffran menggenggam tangan mungil itu dan menatap, mata bulat itu entah kenapa selalu membuatnya terpanah setiap menatapnya. Apa Jeffran memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat?


"Aku hanya ingin membantumu, hanya sekali ini saja oke. Mau ya? Lagi pula ayahku juga butuh sekertaris, pekerjaannya terlalu banyak jadi dia butuh dua. Kamu mau kan?" Hana tidak berkata-kata, lelaki ini begitu memohon kepadanya.


"Kamu sudah cukup membantuku, Jeff."


"Aku hanya mau kamu bahagia, aku mohon." Hana tidak bisa menjawab, ia bingung dengan jawaban yang akan dirinya berikan kepada Jeffran nanti.

__ADS_1


"Biarkan aku berpikir sebentar."


...•••...


"Selamat ya atas kelulusan mu."


"Terima kasih, Nisa. Kamu juga ya." Semua tampak bahagia dengan acara kelulusan sekaligus perpisahan yang memang diadakan ketika siswa lulus dari sekolah.


Termasuk Hana yang juga hadir, tidak terlalu istimewa menurutnya. Jeffran juga ada selalu di sampingnya untuk menemani Hana di saat gadis itu sendirian, lelaki itu bahkan enggan meninggalkan Hana sebentar saja.


Sedangkan Johan yang berkumpul dengan teman-temannya hanya bisa menatap Hana dari kejauhan. Ia bisa apa sekarang? Tidak lebih dari mengawasi dari kejauhan dan melihat wajah manis itu tersenyum cukup membuatnya lega selama sehari.


"Bro, kenapa kau selalu melihat ke arah lain? Lihat di sana banyak gadis cantik."


"Aku tidak perduli." Johan memalingkan pandangannya ke arah lain, ia tidak mau di ejek terus.


"Hana? Aku ambil minuman sebentar ya, kamu di sini saja jangan kemana-mana." Hana mengangguk menurut, dan kemudian melihat Jeffran pergi mengambil minuman yang tersedia di sana.


Sedangkan Anna yang melihat kesempatan ia pun menghampiri Hana, tentu saja membuat Hana tidak bisa bekutit. Bagaimana bisa? Seharusnya Hana pergi saja dari sana, tanpa di duga jika Johan melihat akan itu.


Johan tidak akan melepaskan pandangannya dan akan terus mengawasi sampai kapan pun, membuatnya tahu akan apa yang terjadi membuatnya maju paling depan.


"Hei, lama gak ketemu setelah liburan ya. Bisa bicara sebentar?" Hana bingung dengan kelakuan Anna sekarang, apakah saudaranya itu sudah benar-benar berubah atau ini hanya bagian dari rencananya selama ini?


"Iya? Kenapa?"


"Tapi tidak di sini." Tangannya di tarik oleh Anna ke sebuah tempat di mana Hana tidak tahu itu kemana. Tapi gadis itu hanya diam dan menurut saja.


Ketika Johan hendak pergi menghampiri, mendadak Mahen menahannya dan menarik Johan untuk bergabung lagi, karena pemuda itu terus saja berusaha pergi entah kemana. Acara yang berlangsung sehari, bagi Mahen harus di manfaatkan sebaik mungkin. Jangan sampai terbuang waktu yang sia-sia saja.

__ADS_1


Di sisi lain Anna menarik Hana ke sebuah tempat di mana hanya ada mereka berdua saja. Entah kenapa perasaan Hana mendadak tidak enak dirasakan.


"Setelah sekian lama kamu pergi dari rumah, aku ada permintaan. Hanya satu saja, dan aku rasa kamu tidak akan keberatan bukan? Sebagai permintaan terakhir sebagai saudara kembar?" Hana hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab atau bahkan harus menlanjutkan kata-kata apa lagi.


"Apa?"


"To the point. Jauhi Jeffran, aku suka sama Jeffran dari dulu dan karena kamu aku selalu terhambat mengungkapkan perasaan ku kepadanya."


"Tapi-"


"Demi aku Hana, kamu bisa sama Jeffran setelah aku gak ada. Hidup ku tinggal sebentar lagi, dokter bilang aku punya kanker dan sudah stadium 3. Hanya kali ini saja, dan setelah itu kamu bebas tanpa diriku." Anna menggenggam tangan Hana untuk pertama kalinya.


Hana hanya diam, tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Gadis itu membeku ketika Anna mengatakan semuanya termasuk mengungkapkan perasaannya, di sisi lain Hana juga menyukai Jeffran, bahkan mereka berdua sudah 1 bulan menjalani hubungan selain persahabatan yang berlangsung bertahun-tahun.


"Bisakan Hana? Mengalah demi aku."


"Baiklah, untuk kali ini aku akan mengalah lagi." Anna tersenyum dan reflek memeluk Hana, dengan erat.


"Makasih Hana, maafin aku selama ini selalu membuat kamu menderita."


'Dan aku akan terus membuatmu menderita sampai kamu ingin mati.'


Hana hanya diam, sampai pelukan itu selesai dan Anna meninggalkan Hana di sana dengan perasaan penuh dengan guncangan. Gadis itu tidak bisa menahan tangisnya sendiri, tidak bisa lagi sampai bendungan yang ia pertahankan mulai runtuh.


"Mengalah lagi? Harus sampai kapan?" Hana tidak bisa menahan badannya sendiri sampai gadis itu terjatuh ke lantai, dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.


Perasaan di antara ia tidak mau Anna menderita hanya karena keegoisannya, tapi di sisi lain Hana mau bahagia dengan keegoisannya. Tapi tidak bisa, Hana tidak akan mampu melakukan itu.


"Harus berapa kali aku mengalah terus?"

__ADS_1


__ADS_2