
Anna berada di taman, sebenarnya ia bertemu dengan seseorang nanti. Karena mereka berdua sudah menjanjikan akan pertemuan tersebut, sebenarnya Anna malas harus berbicara sesuatu tapi ia sangat penasaran dengan semua pertanyaan itu, dia harus mendapatkan jawabannya.
Sampai di mana yang Anna tunggu datang juga, Anna memang sebenarnya tidak mau menunggu terlalu lama karena perempuan itu juga punya urusan dengan orang lain.
"Kau sudah menunggu terlalu lama?" Anna tidak menjawab sama sekali, seharusnya dia tahu di mana letak kesalahannya dan malah bertingkah seolah tidak ada apa-apa. Konyol sekali.
"Langsung ke intinya saja, apa yang mau kau bicarakan?" Anna hanya bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya. Tapi gadis di depannya malah tersenyum ke arahnya dengan senyuman aneh, itu membuat Anna merasa memang harus waspada dengannya.
Walaupun Anna tidak terlalu kenal, ia hanya tahu nama saja. Tidak pernah saling bertegur sapa memang, tapi tingkah gadis itu yang secara tiba-tiba mengajaknya bertemu membuatnya lumayan harus berpikir dua kali. Tentu saja, masih kategori orang asing.
"Aku tahu kau benci dengan, Hana. Bagaimana jika kita melakukan kerja sama mulai sekarang? Ini penawaran eksklusif." Ucapnya menatap ke arah Anna penuh dengan antusias.
Ia tahu bagaimana Anna, meskipun tidak mengenal Anna jauh lebih dekat atau bahkan mengenal perempuan itu lama. Tapi ia tahu betul, seberapa bencinya perempuan itu kepada saudaranya sendiri.
Mengenaskan memang, satu rahim waktu masih berada di dalam kandungan dan saat sudah dewasa saling memusuhi, seperti lelucon dunia yang sangat konyol bukan main. Gadis itu terus menunggu jawaban dari Anna, dia nampak berpikir keras untuk itu.
"Membuang waktu, aku menolak." Ucapnya dengan tegas dan kemudian beranjak dari tempat duduknya begitu saja. Anna berdiri, dia bahkan meninggalkan gadis itu dengan akuhnya.
"Aku akan menyebarkan berita jika kau hamil, dan yang berada di perutmu adalah darah daging Satya. Suami saudara kembar mu." Berawal dengan langkahnya yang seolah tidak berhenti.
Tapi kalimat itu seolah mengintimidasi, Anna seketika berhenti. Ia menoleh ke arah gadis itu yang masih berada di tempatnya, menatap ke arahnya dengan penuh tatapan meremehkan bahkan seolah merendahkan dirinya. Anna tidak bisa berkata apa pun, karena apa yang dia katakan memang benar.
Akan kebenaran, Anna tidak bisa harus bicara terus terang karena dia takut akan sesuatu yang terjadi. Tapi ancaman gadis itu membuat Anna membeku kaku, ia tidak bisa menentang apa pun. Sampai di mana gadis itu berdiri, berjalan menghampiri Anna, dia melihat ke arah perut Anna yang belum terlalu besar lebih ke tidak terlihat sama sekali. Dia tersenyum aneh sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Bagaimana? Tetap menolak?" Anna tidak bisa menjawab sama sekali, ia bimbang dengan semua ini. Harus apa ia sekarang? Di sisi lain ia hampir lupa dengan kebenciannya kepada Hana karena Wildan, tapi gadis itu mengingatkan akan itu.
"Kau tidak mau bukan melihat kedua orang tua mu kecewa dan berbanding balik ke Hana?"
"Jangan bicara omong kosong."
"Aku tidak bicara omong kosong, aku hanya bicara fakta yang akan terjadi nanti. Bagaimana? Masih menolak tawaran menyenangkan ini?" Anna tidak bisa menjawab, tangannya memegang perutnya seolah melindungi janin yang berada di dalam sana.
Pria itu berjalan mencari, ia sudah membuat janji setelah kelas perempuan itu selesai maka ia akan mengantarkannya ke suatu tempat. Tapi sekarang, kemana dia? Sampai di mana Wildan akan pergi ke gedung sebelah.
Keberadaan Anna sudah muncul terlebih dahulu, berjalan dengan tatapan kosong seolah ia tidak memikirkan apa pun. Kenyataannya kepalanya penuh dengan pikiran yang seharusnya tidak dia pikirkan. Wildan tersenyum, pria itu berlari ke arah Anna.
"Dari mana saja? Aku mencari dirimu." Ucapnya dengan khawatir, pria itu memegang kedua sisi bahu perempuan itu. Ia merasa jika ada yang aneh dengan Anna hari ini, apa ada masalah lain?
"Tidak ada masalah, hari ini jadi menemani ku bukan?"
Wildan hanya mengangguk, sampai di mana pria itu menggenggam tangannya dan membawanya pergi dari sana. Walaupun berawal ia menunjukan ekspresi wajah yang baik-baik saja, saat di mana Wildan tidak lagi fokus kepadanya. Anna kembali merasa dirinya tidak akan pernah berguna.
Di sisi lain gadis itu melihat momen di antara Anna dan Wildan, ia tersenyum puas ketika melihat bagaimana reaksi Anna sekarang. Walaupun urusannya memang bukan dengan Anna, tapi musuhnya mempunyai satu kelemahan yang tetap akan sana saja dengan dahulu, yaitu Anna.
...•••...
__ADS_1
Di tempat lain, pasangan romantis itu masih saja menempel tanpa ada jeda. Sebenarnya si pria yang terus menempel, bukan gadisnya yang menempel.
"Jangan ke mana-mana, di sini saja. Aku lelah bekerja seharian jadi kamu di rumah saja." Ucapnya dengan memasang wajah memelas, tentu saja dengan tujuan agar istrinya luluh dengannya dan tidak jadi keluar rumah.
Tidak apa bukan? Satya merasa semua itu wajar saja, tidak berlebihan sekali. Permintaannya cukup mudah, Hana di rumah saja dan membiarkan Satya memeluk seharian tanpa hentinya.
Entah kenapa mereka lengket sekarang, tentu saja karena Satua sadar. Hana itu sempurna, ia baru menyadari akan semua itu dan ia merasa jika semua ini belum terlambat. Satya akan memperbaiki semuanya, tentu saja dengan tujuan membuat Hana bahagia setelah sekian lamanya. Apa yang Satya lakukan dahulu harus dia bayar dengan kebahagiaan, kebahagiaan istrinya selamanya.
Hana tidak keberatan jika Satya memeluk seperti ini, justru gadis itu senang karena Satya bisa mulai mencoba mencintainya layaknya suami mencintai istri begitu juga sebaliknya. Tapi ada urusan rumah tangga yang membuatnya harus keluar, tapi suaminya keras kepala.
"Aku harus belanja keluar, bahan makanan hampir habis."
"Lakukan besok saja, aku janji akan ikut menemani dan membantu mu berbelanja bulanan. Aku janji, tapi tetap di sini dulu." Satya mempererat pelukannya, bahkan dia mulai tanpa berpikir panjang mencium leher istrinya itu. Tidak ada yang salah bukan? Mereka sudah sah, jadi tidak ada masalah.
"Kamu bohong."
"Aku serius, aku sudah berjanji kepada mu."
"Baiklah, jangan bohong." Satya mengangguk dan memeluk Hana erat-erat seolah dia tidak mau jika Hana pergi ke mana-mana, apa lagi meninggalkan dirinya seperti waktu itu.
Satya menutup matanya, menghirup aroma istrinya yang begitu membuatnya candu. Seharusnya seperti ini sejak awal bukan? Satya akui jika dirinya memang pria brengsek, tapi dia berusaha memperbaiki. Hana juga memberikan satu kesempatan kepadanya, Satya akan pastikan kesempatan itu akan dia gunakan sebaik mungkin.
"Aku sangat menyayangimu, istri ku."
__ADS_1
"Aku juga, suami ku."