
Bagaimana caranya menjelaskan situasi sekarang? Tidak tahu, Hana sendiri tidak bisa berkata-kata untuk mengatakan apa yang terjadi sekarang.
Seperti apa yang dikatakan oleh Dimas. Mereka berdua kembali ke rumah itu, tidak membawa banyak pakaian karena Dimas juga malas untuk berada di sana dan juga berjaga-jaga jika Hana di sakiti lagi oleh meraka. Dimas akan dengan mudah membawa Hana pergi tanpa sepengetahuan mereka.
"Aku sudah di sini, sekarang apa?" Ucapan Dimas terdengar sangat datar bahkan terkesan sangat menantang.
Hana yang berdiri di sebelah Dimas sedikit menoleh dan mendongak untuk melihat kakaknya sekarang, tidak ada senyuman di sana dan hanya ada sebuah tatapan benci yang di luncurkan langsung oleh pria yang baru saja menginjak umur 24 tahun itu.
"Bagus, kalian hanya perlu tinggal di sini dan untuk Hana. Bisa kita berbicara sebentar, antara saya dan kamu saja."
"Apa maksudmu-"
"Ayah tidak bicara dengan kamu, Dimas." Ucapan Dimas yang di putus oleh pria itu sendiri. Dimas masih menatap dengan tatapan menantang, ia menggenggam tangan Hana dengan erat seolah ia tidak mau sama sekali jika Hana harus ikut dengan pria tua itu. Tidak mau, Dimas tidak akan rela jika Hana di perlakukan secara tidak pantas lagi.
"Ayo Hana." Hana hendak melangkah tapi di tahan oleh Dimas, dia tidak mau jika Hana terluka untuk sekian kalinya.
"Kakak-"
"Tidak Hana, jangan-"
"Tidak akan ada yang terjadi, tidak apa-apa." Hana melepaskan genggaman Dimas secara perlahan membuat Dimas tidak bisa memaksa lagi. Ia melepaskan tangannya dari Hana, dan melihat Hana pergi begitu saja dengan pria itu.
Dimas tidak bisa, ia harus ikut juga tapi tidak akan ada pernah di ijinkan. Yang bisa Dimas lakukan adalah tetap menunggu di sana, menunggu Hana kembali dan memastikan jika adiknya baik-baik saja.
Sedangkan di tempat lain, gadis itu berjalan mengikuti kemana ayahnya itu berjalan sampai di mana langkah itu berhenti membuat Hana juga ikut berhenti.
"Kamu sayang sama ayah kan? Hana." Hana hanya diam enggan untuk menjawab, gadis itu hanya diam ketika ayahnya terus menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Iya."
"Jadi apa yang ayah minta kamu mau kabulkan kan?" Hana hanya mengangguk singkat ketika di tanya akan hal itu, apakah dugaan Hana benar sekarang. Mereka mau Hana kembali hanya karena sebuah permintaan atau sebuah pengorbanan untuk sekian kali.
"Jadi kamu mau kalau ayah menjodohkan kamu dengan anak pembisnis." Hana mendadak terdiam, ia menatap ayahnya itu dengan tatapan terkejut.
"Apa maksudnya-"
"Demi ayah, Hana. Perusahaan ayah hampir bangkrut, jika kamu mau. Kamu menyelamatkan perusahaan kita, nak-"
"JANGAN HANA!" Dimas sudah berdiri di belakang sana dan langsung berjalan ke arah Hana, menarik tangan gadis itu untuk berdiri di belakangnya.
Tatapan Dimas semakin tidak bisa dijelaskan lagi sudah seperti apa, tapi yang jelas menunjukan jika ia sudah emosi dan kebenciannya semakin besar dengan keluarganya sendiri.
Itu adalah alasan mengapa mereka berdua di suruh pulang, Dimas pikir mereka sadar akan kesalahan dan mau mengulangi dari awal. Ternyata memang lebih bagus jika Dimas menuruti apa yang otaknya pikirkan dari pada hati yang bilang. Mereka hanya mau Hana untuk di manfaatkan, ia sudah cukup dengan semua ini. Dimas tidak akan membiarkan Hana berkorban lagi.
"Jadi ini yang membuat kalian mau kami kembali? Meminta Hana untuk menerima perjodohan? Menjadikannya tumbal perusahaan kalian?" Dimas tidak habis pikir, ia tidak menyangka bisa lahir di keluarga seegois ini.
Dimas menarik Hana untuk pergi dari sana, melangkah pergi membuat Hana merasa bimbang. Ia menoleh ke arah belakang di mana ayahnya tengah merasa sedih, ia tidak mau itu.
"Kakak-"
"Tidak Hana, jangan terlalu banyak berkorban dengan seseorang yang bahkan tidak rela jika kau tersenyum selama 1 detik. Jangan pernah."
"Tapi itu demi pengobatan, Anna." Seketika langkah Dimas terhenti, ia tidak paham dengan apa yang Hana katakan sekarang. Apa maksudnya dengan pengobatan Anna? Justru yang butuh adalah Hana, bukan Anna.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Anna sakit, kalau perusahaan tidak jalan. Bagaimana dengan Anna?"
"Iya kak, kakak mau kalau Anna mati?" Tiba-tiba saja Anna datang bersama Stella dengan wajah yang tidak pernah Dimas lihat sama sekali.
Anna sakit? Mana mungkin, dari kelakuannya saja masih seperti biasanya atau bahkan jauh lebih brutal. Dia bahkan masih sempat membuat Hana menangis dan merebut apa yang Hana punya, sekarang siapa yang sakit?
"Kau memang penyakitan, terima saja kenyataan. Anggap saja itu karma karena kau selalu saja membuat Hana menangis dan satu lagi."
Hana tidak bisa berpikir jernih, Dimas yang sekarang bukan seperti Dimas yang ia kenal. Bahkan cara bicaranya jauh lebih tajam dari dahulu, karena terpancing oleh emosi membuatnya seperti itu. Berubah menjadi orang lain yang tidak pernah Hana kenal.
"Kau bahkan merebut kekasih adik ku, sekarang siapa yang sakit? Kau pura-pura sakit agar di kasihani bukan? Jauhkan wajah bajinganmu itu-"
"DIMAS! JAGA UCAPANMU ITU!" Suara keras itu berasal dari ayahnya sendiri yang tidak terima jika Dimas mengatakan kenyataannya. Memang dari mana yang salah dari perkataan Dimas? Semua itu kebenaran, jika tidak mau menerima kenyataan tidak perlu hidup. Benar bukan?
"Jaga? Ayolah jangan bercanda, kalian saja tidak punya attitude untuk apa?" Dimas menarik tangan Hana tanpa mendengarkan apa yang Hana katakan.
Mungkin Hana akan percaya dengan apa yang mereka katakan, tapi jangan berharap jika Dimas akan berputar balik untuk percaya dengan mereka. Tentu saja tidak, jangan pernah bermimpi akan semua itu terjadi.
"Kakak-"
"Diam Hana." Hanya beberapa kata saja yang Dimas ucapkan tapi itu sudah cukup membuat Hana bungkam seketika dan tidak berani membuka suara lagi.
Setelah Dimas membukakan pintu mobil dan Hana masuk ke dalam, gadis itu sempat menoleh ke arah rumah itu lagi dan memikirkan apa yang ayahnya katakan. Anggap saja dia bodoh karena terlalu berharap dan terlalu cepat percaya, tapi Hana juga memikirkan itu.
Perasaan rasa bersalah semakin besar, bagaimana dengan keadaan Anna jika perusahaan bangkrut nanti? Tidak ada biaya di tambah pengobatan butuh biaya yang besar.
Dimas tidak akan perduli akan ancaman yang ayahnya berikan. Ia sudah melewati semua kesulitan sendirian, bersama Hana. Tapi mereka dengan seenaknya mempermainkan mereka berdua, tentu saja tidak akan pernah karena Dimas tidak sebodoh itu.
__ADS_1
"Jika ayah mengajakmu bertemu arah berbicara, jangan pernah di dengarkan. Mereka hanya memanfaatkan kamu saja, Hana. Buka lah mata mu sedikit saja, jangan terlalu bodoh."
Hana tidak menjawab apa yang Dimas katakan. Gadis itu tidak bisa berkata-kata apa pun, ia tahu jika keadaan Dimas tentang kacau di tambah kejadian tadi membuatnya tidak bisa mengendalikan emosionalnya.