Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 52


__ADS_3

Setelah mereka berdua meninggalkan kediaman keluarga Satya, mereka berdua berdiam diri di mobil tanpa ada percakapan apa pun. Satya melirik ke arah gadis itu yang hanya diam.


"Kau sengaja membuat acara begitu agar semua orang membelamu nanti bukan?" Ucapan Satya yang begitu tiba-tiba membuat Hana terdiam, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Satya tadi.


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu kau tidak sebodoh itu, anak yang mendapatkan beasiswa tidak sebodoh itu." Satya mengatakan itu dengan nada datar, dan tatapan benci itu muncul lagi. Hana kembali terdiam, ia tidak mengerti apa yang Satya maksud tadi. Tapi ia tidak ada niatan apa pun, itu benar-benar ia buat hanya untuk membuat Viola senang saja dan selebihnya Hana tidak ada niatan lain.


"Aku tidak melakukan apa pun."


"Halah, bohong. Kau sengaja melakukan itu, ketika semua terbongkar kau punya banyak pembelaan. Aku tahu niat busukmu, jangan berpura-pura bodoh Hana."


Hana hanya diam, tidak menanggapi apa pun selain diam. Tidak bisa menjawab apa pun, menjelaskan sesuatu rasanya percuma saja karena Satya tidak akan pernah percaya dengan dirinya. Satya tidak akan pernah memberikan kepercayaan seperti itu.


"Terserah apa pendapatmu."


...•••...


Ketika mereka berdua sampai di rumah, mereka juga menjalankan kegiatan masing-masing. Satya yang belajar untuk mengurus perusahaan lewat online, karena dia masih pemula dan minggu depan baru dia langsung terjun ke lapangan langsung dengan pengawasan ayahnya.


Sedangkan Hana belajar untuk kripsi yang akan datang nanti, menjalani semester berikutnya. Hana sudah memasuki semester 3 tahun ini, terbilang cepat karena Hana mampu mempelajari sebuah materi dengan waktu singkat.

__ADS_1


Apa lagi Hana juga lebih menghabiskan waktunya di perpus ketika masih di kampus, dia sibuk belajar. Masalah pekerjaan ia sudah ijin untuk tidak berangkat selama satu hari untuk istirahat sejenak, sebenarnya Hana lelah tapi apa boleh buat.


Ia melirik ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 2 siang. Waktunya makan siang bukan? Gadis itu dengan bergegas menuju dapur dan memasak dua menu makanan saja, jika saja Satya tidak mau makan maka masakannya akan dia bagikan ke satpam penjaga perumahan saja.


Gadis itu sibuk dengan dunianya selama 1 jam lebih, sampai makanan siap dan ia menunggu Satya untuk turun. Tapi pria itu tidak kunjung turun, biasa pria itu akan turun setidaknya untuk menonton televisi sebentar setelah itu pergi.


Merasa jika terlalu lama, Hana memilih memeriksa keadaan saja. Ia hanya takut jika terjadi sesuatu kepada pria itu, menaiki anak tangga dan kemudian ia membuka pintunya secara perlahan.


Ia bisa melihat punggung lebar itu tengah lemas di sana, Hana tidak mau berbuat lancang untuk masuk ke dalam tanpa ijin kecuali dalam keadaan terdesak sekalipun.


"Satya? Ayo makan siang, belajarnya nanti lagi." Tidak ada jawaban apa pun dari pria tersebut, Hana mencoba memeriksa keadaan di sekitar dan benar-benar sepi.


Hana masuk ke dalam berniat memeriksa keadaan Satya, ketika ia masuk dan melihat keadaan pria itu tengah tertidur di atas meja dengan tumpukan kertas bersamaan dengan laptopnya yang masih menyala, menunjukan banyak pekerjaan di sana. Hana jadi merasa kasihan dengannya, gadis itu pun menyimpan data dari laptop dan kemudian mematikan laptop tersebut.


"Satya, jangan tidur di sini nanti punggung kamu sakit, ayo bangun sebentar." Entah kenapa Hana merasa jika suara nafas Satya sedikit tidak stabil. Ia melihat jika wajah Satya lumayan pucat, apa dia sakit?


Telapak tangannya yang menyentuh kening itu dan ternyata suhunya tinggi, tentu saja ia akan panik di saat itu juga. Hana tidak bisa berpikir saat ini, ia panik. Di antara ia harus membangunkan Satya untuk pindah ke tempat tidur tapi takut dia marah dan antara dia tidak mau Satya semakin sakit hanya karena posisi tidur tidak benar seperti itu.


Terpaksa Hana harus membangunkan Satya, tidak apa jika dirinya harus di sumpahi dengan segala kata-kata kasar. Tapi jangan sampai pria itu sakit hanya karena ketakutannya.


"Satya, ayo bangun dulu." Hana mengusap rambut pria itu membuatnya membuka mata, tatapannya yang lemas tidak bertenaga membuat Hana tidak tega.

__ADS_1


Ia harus berbuat apa, perasaan baru kemarin dia marah-marah dan sekarang sakit. Kenapa pria itu begitu membuat Hana kualahan? Tapi ia tidak mempermasalahkan itu, ia juga masih bekerja di rumah bukan?


"Kenapa kau masuk kamar ku?"


"Kamu sakit-"


"Jangan perdulikan aku, pergi sana." Satya mulai terbangun, bangkit dari tempat duduknya dan mengabaikan Hana yang berdiri mengkhawatirkan dirinya.


Satya berbaring di ranjang, ia masih melihat Hana masih berdiri di sana membuatnya muak sendiri. Kenapa gadis itu begitu kepadanya? Ia tidak perduli akan status apa sekarang, tapi sikap Hana membuat Satya risih. Seolah Hana terus mengejar hal yang tidak pasti, padahal gadis itu juga tahu sendiri jika Satya tidak akan berbaik hati kepada gadis itu sampai kapan pun.


Kenapa dia masih nekat? Seharusnya Hana senang karena Satya sakit sekarang, pria itu tidak akan menyakiti Hana selama beberapa hari karena tenaganya tidak memungkinkan. Tapi kenapa Hana khawatir dan justru perduli?


"Kenapa kau masih di sana? Sana keluar!" Hana dengan penuh rasa terpaksa keluar dari kamar suaminya dan ia masih khawatir. Tapi karena tidak mau membuat Satya semakin marah, ia pun pergi dan menutup pintunya seperti semula.


Sedangkan Satya yang berada di dalam kamar, membuang nafas panjang. Apakah ia terlalu kasar dengan Hana? Kenapa baru sadar sekarang? Tapi apa perdulinya dengan itu, tidak ada yang permasalahkan.


Pria itu memegang keningnya yang ternyata demam tinggi, bahkan hidungnya sulit di buat bernafas sepertinya juga flu. Wajahnya juga pucat sekali, bahkan Satya baru pertama kali melihat dirinya sendiri yang begitu mengenaskan seperti ini.


Ia meraih ponselnya yang berada di meja di sisi ranjang, menghubungi seseorang. Satya memang tidak mau jika Hana merawatnya, tapi Satya hanya mau jika Anna yang merawatnya. Egois? Tentu saja, dan biarkan saja dia bertingkah seperti itu.


Menghubungi gadis itu dan membuatnya datang ke rumah itu tanpa memperdulikan keberadaan Hana yang juga ada di rumah itu, sampai sebuah jawaban membuat Satya lumayan jengkel.

__ADS_1


"Sibuk? Sibuk apanya? Dia sepertinya tidak melakukan apa pun." Satya melempar ponselnya begitu saja karena kesal, kenapa Anna tidak mau datang?


"Sial, terpaksa aku harus melakukan semuanya sendiri."


__ADS_2