
"Siapa yang membuatmu menjadi seperti itu? Katakan siapa yang melakukan semua itu kepadamu? Siapa setan itu?" Dimas terus bertanya kepada Hana, ia hanya ingin tau dan akan membuat perhitungan kepada siapa pun yang melakukan itu kepada Hana.
Hana hanya diam, ia ingin mengatakan siapa pelakunya. Hanya saja, mana tega ia membuat saudaranya sendiri terjun ke dalam masalah hanya karena dirinya.
Karena Hana? Siapa saja jika mendengar semua dari awal akan tau siapa yang bersalah? Siapa yang bersalah dan siapa yang korban? Dia harus bersujud meminta maaf, maaf saja tidak akan cukup. Jika saja Dimas telat sedetik saja, benar-benar akan mengutuk dirinya sendiri. Ia akan benar melakukan semua itu tanpa harus berpikir panjang, atau bahkan berpikir dua kali.
"Kenapa hanya diam saja? Kakak bertanya Hana, katakan saja. Kau aman bersama kakak-"
"Aku kekunci di gudang." Dimas terdiam, tidak mungkin. Ia tau jika Hana tidak sebodoh itu sampai terkunci di dalam gudang yang letaknya di belakang sekolah, kurang kerjaan sekali.
"Konyol, alasan mu tidak masuk akal. Jika kamu tidak mengatakan siapa pelakunya kepada kakak sekarang juga, jangan salahkan kakak jika kakak tau sendiri. Menghukumnya sampai dia bersujud, kamu tau kan kalau kakak tidak pernah membual. Kakak akan melakukan apa yang sudah kakak katakan. Ingat itu."
Dimas terlalu tersulut emosinya sampai tidak dapat mengendalikan perkataannya yang terkesan kasar kepada Hana. Ia hanya mau tau siapa pelakunya, memangnya salah? Salah Dimas di mana sekarang?
Hana hanya diam, tidak menjawab apa yang Dimas katakan. Di rumah sakit sekarang mereka berdua berada, karena luka yang Hana alami lumayan parah. Dengan luka lebam di sekujur tubuhnya, dan bocor di bagian kepalanya karena paku di kayu.
Tidak dapat dijelaskan bagaimana keadaan Hana sekarang, ia sangat kacau karena kejadian itu. Hana semakin takut akan kesendirian sedangkan di sisi lain ia selalu sendirian. Apakah semua ini sebuah kesalahan?
"Kakak keluar sebentar." Hana melihat ke arah Dimas yang keluar dari kamar inapnya dan menyisakan Hana seorang di dalam sana. Gadis itu tidak tau harus berkata apa ketika Dimas bertanya, ia takut.
Sampai suara pintu terbuka memperlihatkan Johan di sana. Lelaki itu melangkah masuk, meletakkan barang yang ia bawa di atas meja dan duduk di kursi begitu saja tanpa mengatakan apa pun, sekedar menyapa saja tidak dia lakukan.
"Aku tau siapa pelakunya, jadi jangan mencoba menyembunyikannya. Apa itu yang kau lakukan sekarang?"
__ADS_1
Hana langsung saja menatap ke arah Johan dengan tatapan terkejut, bagaimana bisa? Tidak ada yang tau kejadian itu karena tempat itu sangat sepi di jam pelajaran.
Jangan sangka jika Johan tidak tau apa pun, meskipun lelaki itu terkesan hanya diam saja tapi bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa. Ia mengawasi meskipun tidak secara langsung, ia tau tanpa harus diberi tau.
"Bagaiman-"
"Anna? Jangan anggap semua orang bodoh Hana, kau sendiri yang bodoh." Johan beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi dari sana. Tetapi, ada satu kata yang mau ia sampaikan kepada Hana agar gadis itu tidak terus-terusan tersesat.
"Jangan disembunyikan, karena suatu saat nanti. Dia bisa saja membunuhmu atau orang yang kau sayangi, aku hanya mengingatkan jika kau tidak percaya. Itu keputusanmu, aku tidak perduli apa keputusanmu nanti."
Setelah itu berganti dengan suara pintu yang tertutup rapat, bersamaan dengan suara jantung Hana yang berdetak kencang. Ia tau maksud Johan apa, jika Hana terus melindungi Anna sama saja ia bunuh diri.
Hana tau bagaimana Anna membencinya, tidak tau apa alasannya mengapa Anna sebenci itu kepada dirinya. Tapi yang pasti adalah, Hana tidak akan hidup damai selama Anna tidak menerimanya sebagai saudara atau sekedar menganggap Hana ada di dunia ini.
"Aku harus apa?" Hana menutup wajahnya sendiri, bingung apa yang akan ia lakukan ke depannya. Baginya semua yang Hana lakukan adalah sebuah kesalahan, semua adalah kesalahan.
...•••...
"Bagaimana?"
"Kakak mu datang bersama teman-temannya dan Johan, dia bahkan menghabisi Nandi dan membabi buta Nandi. Bagaimana? Kau harus menanggung semua sendiri, dan sebagai gantinya. Kau harus membayar biaya pengobatan kami karena ulah kakak mu itu."
Seketika raut wajah Anna berubah menjadi cemas. Apa katanya? Dimas datang bersama teman-temannya dan Johan juga berada di sana? Ini bukan kabar baik untuk Anna, apakah ia akan habis dalam waktu dekat?
"Aku bakal menepati ucapanku, tunggu saja." Anna memutuskan sambungan telepon itu dan kemudian duduk dengan perasaan gusar.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Johan berada di sana? Sialan, Hana pasti menggodanya. Saudara brengsek! Aaaaa!! Mati saja kau sialan!!!" Anna melempar ponselnya ke segala arah, membuat benda itu terlempar jauh dan pecah begitu saja.
"Akan aku balas apa yang kau lakukan kepadaku, anak haram."
...•••...
Hana menutup matanya, perasaan sakit yang begitu dalam seolah tidak akan ada obatnya untuk menutup lukanya. Ia baru saja pulang dari rumah sakit, bersama Dimas tentu saja karena lelaki itu merasakan ada sesuatu yang akan terjadi nanti.
Melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih, dengan Dimas membantunya berjalan masuk ke dalam rumah itu. Tidak ada siapa pun, itu sangat bagus. Tidak akan ada adu mulut atau bahkan adu fisik lagi, Dimas tidak mau jika Hana semakin sakit nantinya.
"Biar kakak gendong saja, kakimu masih sakit." Awalnya Hana menolak tapi Dimas memang terlalu memaksanya, menggendong Hana tanpa permisi dan membawa adiknya itu masuk ke dalam kamar.
Mungkin selama dua hari Dimas akan berada di kamar Hana, menjaga adiknya itu sampai sembuh dan memastikan tidak akan ada yang mencoba menyentuh adik perempuannya.
Baru saja hendak sampai di kamar Hana. Anna sudah bersandar di pintu kamar, menatap ke arah Dimas dengan tatapan iri kepada Hana yang di gendong oleh Dimas.
"Kakak dari mana saja? Mama mencari kakak semalaman." Tidak di jawab oleh Dimas, ia melewati Anna begitu saja bagaikan angin lalu dan sepertinya memang begitu demikian.
Anna yang merasa di abaikan tidak terima dengan kelakuan Dimas yang terkesan dingin hanya kepada Anna, jika bersama Hana dia akan berubah menjadi sangat lembut. Mereka berdua sama-sama adiknya bukan? Kenapa Dimas begitu pilih kasih?
"Kakak!"
"Diam atau ku robek mulutmu." Ucap Dimas dan masuk ke kamar Hana, mengabaikan Anna yang terkejut akan perkataan Dimas yang seperti itu.
Air matanya menetes, ia menatap ke arah kamar Hana dengan tatapan benci. Ia tidak suka jika orang yang ia sayangi di rebut, dan sepertinya Anna akan melakukan sesuatu lagi. Baginya tidak menganggu Hana sehari sebuah kehampaan.
__ADS_1
"Aku akan membuat Hana hilang dari dunia ini, dan semua orang akan hanya fokus kepadaku. Bukan kepada Hana lagi."