
Di tempat lain, resiko kehamilan Anna ternyata cukup berbahaya. Ia tidak boleh terlalu lelah, kandungannya melemah sekarang dan tidak bisa di toleransi.
Tapi setidaknya masih bisa diselamatkan ketika persalinan nanti, tapi itu pun tidak tahu apakah masih bisa bertahan atau tidak. Kemungkinan besar ketika lahiran Anna akan mengalami pendarahan hebat nantinya, tentu saja beresiko untuknya dan juga bayinya nanti.
Tidak bisa dipastikan apa yang akan terjadi nanti, tapi benar-benar kondisi Anna tidak bisa ditebak. Perempuan itu sekarang berbaring lemas di atas ranjangnya, dengan segala perawat yang Satya sewakan demi kesehatan kandungan dan juga ibunya juga. Kenapa semua terasa berat untuknya sekarang?
Pria itu memperhatikan dari depan pintu, di mana ia tidak pernah mendapati keadaan Anna yang separah ini. Wajahnya pucat, bahkan sudah seperti mayat hidup dia sekarang. Perempuan itu masih sempat tersenyum ke arahnya, meyakinkan dirinya agar tetap tenang dan berpikir jika dirinya baik-baik saja.
Kebohongan yang bagus, Anna sudah sering berbohong atas kesehatannya sendiri. Dia sering berkata jika dirinya baik-baik saja, tapi lihatlah sekarang dia bagaimana? Satya menghela nafas panjang, ia tidak bisa melihat bagaimana keadaan istrinya sekarang.
Sedangkan Anna menatap ke arah Satya yang memalingkan pandangannya dari dirinya. Anna yang awalnya tersenyum, senyuman itu luntur dari bibir pucatnya itu. Ia jadi teringat, di mana ia selalu memaksa pria itu untuk menemaninya padahal dulu istrinya tengah sakit juga. Apakah ini adalah karmanya sekarang?
Anna bisa menerima semua karma yang ada, tapi ia tidak akan menduga jika anaknya juga akan terkena imbas. Andai saja ia tahu anaknya akan seperti ini, maka dari situ Anna tidak akan melakukan apa pun. Perasaan rasa bersalah masih ada.
Perawat yang memasang infus itu menghampiri Satya dan membicarakan banyak hal kepada pria itu, perihal bagaimana perkembangan keadaan Anna sekarang. Tentu saja, membuat Satya ingin rasanya menangis kencang. Tapi ia tidak boleh terlihat lemah di depan istrinya yang tengah berjuang sekarang.
"Sepertinya keadaan pasien masih tidak ada perkembangannya, saya sudah berusaha tuan. Saya juga sudah memeriksa kesehatan pasien, semua dalam keadaan baik tapi demamnya yang tidak kunjung turun membuat saya khawatir. Saya akan melaporkan ini kepada dokter, kemungkinan besok beliau akan datang kemari."
Satya menoleh ke arah Anna yang menatap ke arah balkon kamar yang tertutup dengan korden putih, keadaannya memang jauh dari kata baik-baik saja sekarang. Tidak tahu apa penyebabnya, padahal Anna menjaga pola makannya dan Satya juga selalu mengawasi perempuan itu setiap saat. Tapi kenapa? Bagaimana bisa keadaan seperti ini menimpa?
"Baiklah, terimakasih." Perawat itu pergi setelah itu, dan Satya masuk ke dalam kamar menghampiri Anna yang berada di dalam sana.
Perempuan itu mulai merasa jika ada seseorang yang menghampiri dirinya. Satya datang dengan raut wajah, antara khawatir dan gelisah tapi tertutupi dengan senyumannya yang teduh itu.
Pria itu duduk di kursi, dia menggenggam tangan istrinya yang terpasang infus di sana. Ia merasa gagal menjaga istrinya sendiri, apakah ini sudah kedua kalinya ia gagal menjaga seseorang yang seharusnya dirinya jaga?
"Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja..." Satya tidak mau mendengar semua kata-kata itu lagi. Dia sudah mengatakan semua kalimat itu berulang kali, tapi lihat keadaanya bukan membaik justru memburuk.
"Jangan katakan itu, jangan menutupi apa yang sudah terjadi. Apakah kamu sudah lupa jika kau adalah istri ku?"
Anna hanya diam, memang benar jika statusnya sekarang adalah istri dari seorang Satya. Dan itu pun bukan hasil perjuangannya murni, melainkan hasil merebut dari saudaranya sendiri. Ia hanya menyadari semua itu ia lakukan sendiri.
__ADS_1
"Aku tahu, mungkin ini adalah balasan tuhan kepada ku-"
"Jaga ucapan mu, tidak mungkin tuhan memberikan cobaan sampai di amban maut seperti ini."
"Itu mungkin! Aku sudah membuat kehidupan saudaraku sengsara dan semua itu karena ulah ku. Jika kau melupakan semua itu." Satya tidak bisa berkata apa pun, Anna terus mengatakan semua itu dan dia terlalu sakit sendiri jika mengingat kejadian di masa lalu.
"Istirahatlah, tubuhmu masih lemas." Anna tidak menjawab, ketika ia melihat Satya beranjak dari tempat duduknya. Perempuan itu mencegah Satya untuk pergi, pria itu hanya diam dan menoleh ke arah istrinya itu.
"Aku ingin bertemu Hana, apakah boleh?"
"Dimas tidak akan mengijinkan Hana datang kemari. Aku jamin itu-"
"Tapi aku mau bertemu dengannya, Satya. Aku mohon, aku ingin bertemu dengan saudaraku." Tatapan sendu itu membuat Satya tidak sanggup harus menatap terlalu lama.
Satya melepaskan genggaman Anna dan kemudian pergi begitu saja, sedangkan perempuan itu menangis dalam diam. Ia tahu permintaannya cukup tidak masuk akal, dan benar apa yang Satya katakan.
Semenjak kejadian itu, Dimas benar-benar menutup dirinya sendiri dan menyibukkan dirinya sendiri. Yakin saja, jika dia tidak akan memperbolehkan Hana datang menemui Anna ataupun Satya sekali pun. Dimas mungkin merasa takut jika luka lama yang sudah Hana berusaha sembuhkan kembali terbuka lagi. Seorang kakak tidak akan mau jika melihat adiknya kembali terluka, terlebih lagi luka lama yang kembali lagi.
Satya berlari ke lorong itu, dia menuju ke apartemen lama di mana Dimas dan Hana tinggali. Di sana lah ia berhenti, berusaha mengumpulkan segala keberaniannya untuk bertemu dengannya. Jujur saja, Satya masih belum bisa melupakannya.
Pria itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia juga menekan bel rumah tapi tidak kunjung ada yang menjawab. Satya sudah mulai khawatir, Anna pasti sudah menunggu terlalu lama sekarang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara seseorang yang tidak asing di telinganya, membuat pandangannya teralihkan.
Dimas berdiri di sana menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, mungkin dia masih marah dengan kejadian beberapa waktu lalu. Tentu saja, siapa yang tidak marah ketika adiknya di sakiti sampai seperti itu? Sekarang dia datang tanpa di duga dan berada di depannya sekarang. Jujur saja, Dimas malas harus bertemu dengan Satya.
"Aku ingin bertemu dengan Hana-"
"Dia tidak ada di sini, pergi saja kau. Jangan pernah kau menampakkan wajahmu di depan ku atau Hana." Dimas langsung melewati Satya begitu saja, ia hendak masuk ke dalam apartemennya.
Namun, Satya menahannya. Siapa yang tidak terpancing emosi karena ulah Satya memang sudah di luar batas, di mana dia saat adiknya butuh? Dimanakah dia saat itu? Tidak ada bukan? Dia sibuk dengan perempuan lain dengan alasan yang bermacam-macam, dan sekarang ketika Hana sudah pergi dia mencari bak orang gila.
__ADS_1
"Aku mohon, pertemukan aku dengan Hana." Dimas menepis tangan Satya ketika dia menahan Dimas terus-terusan. Dimas menghela nafas, mencoba tetap bersabar meskipun ia tidak bisa terus bersabar seperti ini.
"Dengarkan aku, bajingan. Hana sudah pergi, seharusnya kau menyesali itu semua sialan. Jangan temui adik ku, dan biarkan dia bahagia bersama pria lain. Seperti dirimu, bersama wanita lain." Dimas langsung membuka pintu dan membanting pintu itu dengan kertas.
Tepat di depan wajah Satya yang sudah tidak lagi bertenaga sama sekali. Hana pergi? Di saat seperti ini? Dia bahkan tidak mengatakan apa pun sebelum dia pergi sejauh ini, apakah ia terlalu buruk? Tapi Anna ingin bertemu dengannya tapi, kenapa dia malah pergi dalam keadaan seperti ini? Satya memegang kepalanya sendiri.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, tentu saja dengan penuh keegoisannya sekaligus di mana ia ingin jika dia segera kembali untuk menemui istrinya. Hana dalam keadaan baik-baik saja bukan? Seharusnya dia prihatin dengan keadaan saudaranya sekarang.
Hana gemetaran memegang ponselnya sendiri, tanpa sengaja ia menjatuhkan benda itu dan perempuan itu tanpa terkendali terjatuh ke lantai, dia memukul kepalanya sendiri. Bagaimana matanya tidak bisa lagi menahan air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Mungkin suara gaduh terdengar oleh seseorang yang berada di kamar sebelah, seseorang itu berlari ke arah kamar Hana memastikan jika dia aman. Tapi kenyataan yang berbanding balik, Hana duduk di atas lantai dengan keadaan kacau.
"Hana? Apa yang kau lakukan? Berhenti menyakiti dirimu sendiri Hana-"
"Aku jahat, aku bahkan tidak perduli dengan keadaannya! Aaahhkk!!" Johan memeluk Hana, memegangi kedua tangan Hana agar tidak terus memukul kepalanya sendiri seperti itu. Dia hanya bisa memeluk dengan erat.
Sedangkan Jihan datang dalam keadaan panik, dia melangkah menghampiri Hana yang sudah menangis histeris. Badannya gemetaran, bahkan suhu tubuhnya mendadak dingin. Johan semakin khawatir, dan juga Jihan yang ikut merasa panik. Tidak sengaja gadis itu menginjak sesuatu, ternyata itu ponsel Hana yang masih dalam keadaan menyala.
Jihan mengambil ponsel itu dan melihat apa yang ada di sana, ternyata dugaannya benar. Hana akan panik, perasaan bersalah yang sebesar itu padahal dia tidak melakukan apa pun. Paniknya yang berlebihan membuat keadaannya memburuk.
"Apa yang terjadi? Jihan?" Jihan hanya diam, dia tidak mau melihat chat itu. Ia yang membaca sudah merasa sakit hati, apa lagi dirinya di posisi Hana sekarang. Apakah tidak mati rasa seperti ini?
"Dia menghubungi Hana..." Johan hanya terdiam, bagaimana raut wajahnya sekarang sudah menunjukkan jika dia sudah tidak bisa menahan amarahnya sekarang.
"Aku akan ke sana-"
"Tidak, kau harus tetap di sini menjaga Hana. Biarkan aku yang menuntaskan semua ini." Jihan tidak tahu apa yang akan Johan lakukan nanti, tapi ia yakin apa yang dia lakukan pasti yang terbaik.
Hana masih menangis tapi dia sudah tidak menyakiti dirinya sendiri. Seburuk itukah mental Hana sekarang? Mentalnya sudah benar-benar hancur, di hancurkan oleh keluarganya sendiri.
__ADS_1
'Seandainya Tuhan adil kepada mu, Hana. Kamu pantas bahagia sekarang, kamu tidak pantas di perlakukan seperti ini. Takdir menuntunmu kemari untuk bahagia, Hana.'