
Raya melangkah dengan santai seperti orang yang tidak melakukan apa pun, padahal baru saja dia di panggil dosen. Biasanya kebanyakan akan berubah menjadi lesu, tapi itu tidak akan pernah berlaku kepada Raya. Gadis itu memang berbeda.
"Raya!" Suara Ayu yang melengking itu membuatnya berhenti dan melihat temannya itu berusaha bernafas dengan benar.
"Kenapa?"
"Kenapa katamu? Aku ini khawatir denganmu tahu, gimana? Kamu di hukum sama Pak Sandy gak?"
"Kau sepertinya sangat suka melihatku di hukum sama pria tua anjing itu." Ayu melotot, menggelengkan kepalanya menolak akan opini yang Raya katakan tadi.
Justru itu, Ayu khawatir dengan Raya bukan berarti ia senang jika temannya itu di hukum oleh dosen itu. Tapi, apa kata Raya tadi? Pria tua? Yang benar saja, sepertinya memang pesona pria tampan tidak akan pernah menembus prisai Raya.
Untuk siapa pun itu, padahal Pak Sandy itu termasuk dosen tampan yang banyak fansnya. Bahkan setiap kelasnya menunggu akan kehadirannya terutama mahasiswi. Tidak termasuk Ayu, karena gadis itu sudah mengincar orang lain lagi.
"Dari pada kamu marah-marah, lebih baik kamu ke kantin aja. Makan gitu buat ngisi energi sebentar buat kelas berikutnya." Raya mengangguk menyetujui tawaran Ayu dan mereka pun segera pergi ke kantin.
•••
Theo tengah berjalan ke suatu tempat, tapi ia tidak sengaja melihat keberadaan Hana yang ternyata dia tengah bersama seseorang. Ia kenal jika dia adalah Jeffran, anak fakultas bisnis sama dengan dirinya.
Tapi mereka tengah melakukan apa? Sebenarnya Theo tidak terlalu perduli, tapi bagaimana lagi kalau ia harus pergi dari sana dan tidak ikut campur dalam urusan orang lain. Itu adalah masalah antara Hana dan lelaki itu, Theo tidak akan ikut campur dalam masalah itu.
Baru saja Theo hendak membalikan badan dan akan pergi dari sana, suara tamparan membuatnya berhenti dan langsung menoleh ke arah belakang lagi. Di mana di sana ada Anna yang menampar Hana di sana, bahkan kotak bekal yang itu terlempar ke atas tanah.
"Kamu tega ya sama aku, Hana? Aku itu saudara kamu, apa kamu setega itu sampai tidak mau melihat aku bahagia?! Kamu bahkan menolak di jodohkan sama ayah, bahkan demi aku sekalipun!"
__ADS_1
Theo berjalan dengan langkah cepat ke arah sana, tidak memperdulikan orang-orang yang nampak menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Mungkin mereka baru mengetahui jika Theo akan sepenuhnya melakukan semua itu, yang padahal Theo tidak pernah melakukan.
"Aku menolak, karena aku punya hak."
"Hak kata mu? Hak apanya, kamu itu harusnya bersyukur karena sudah di besarkan oleh kami-"
"Dan menyiksa ku sesuka hati kalian, membuang ku dan setelahnya menyuruhku kembali hanya untuk tumbal kekayaan kalian?" Ucapan Hana, membuat semua orang seketika terdiam bahkan membicarakan Anna dengan pemikiran yang semakin buruk.
Termasuk Jeffran yang tidak tahu akan mengenai perjodohan itu, Anna tidak memberi tahunya terutama bahkan Hana tidak pernah bilang kepadanya. Untuk apa bilang, jika Jeffran saja tidak pernah hadir di saat gadis itu butuh. Rasanya tidak akan penting sama sekali, Jeffran pasti akan mengabaikannya lagi.
"Dasar tidak tahu di untung! Akan aku beri tahu ayah dan membuat mu menyesal!"
"Lakukan sesuka mu, Anna. Aku sudah muak." Ucap Hana dengan tatapan datar, ia bahkan melirik ke arah Jeffran dengan tatapan kecewa yang teramat.
Hana tidak tahu harus berkata apa lagi, karena ia sudah terlanjur sakit hati saat ini. Ketika ia membalikan badannya, dan tepat di sana Theo berdiri. Hana mendongak dan tanpa di duga jika Theo menarik tangan Hana, menggenggam tangan gadis itu tepat di depan semua orang.
"Ikut dengan ku." Theo menarik Hana dengan pelan dan membawa gadis itu ke sebuah tempat.
Di sisi lain Raya dan Ayu tengah memakan somay yang mereka beli barusan, dan melihat kerumunan mahasiswa membuat mereka berdua kebingungan. Tapi, Raya tidak sengaja melihat ke arah di mana Theo berada tengah menggandeng tangan Hana membuatnya tersenyum.
"Aku tidak menyangka jika kembaran ku akan seromantis ini."
Di sisi lain. Jeffran masih terdiam, ia masih terkejut dengan semua ini dan bahkan ia tidak bisa berpikir dengan jelas bagaimana. Anggap saja Jeffran masih tidak bisa menerima kenyataan apa pun.
"Apa maksudnya perjodohan? Hana di jodohkan? Kau sadar dengan apa yang kau katakan itu?"
__ADS_1
"Jeff-"
"Kau sudah membuatnya menderita cukup lama dan sekarang kau dengan tega menumbalkannya seperti itu, justru aku tanya. Siapa yang paling tidak punya hati di sini?" Anna hanya diam, ia masih menatap ke arah Jeffran. Tatapan Jeffran yang penuh kekecewaan, mungkin ia masih bisa menuruti permintaan Anna. Tapi apakah seperti ini kesepakatannya? Dia bilang tidak akan melakukan apa pun kepada Hana dan, sekarang apa?
"Ucapanmu memang tidak bisa aku pegang, sudahi rencana mu itu." Ya, kalimat itu tidak di sengaja bisa terdengar oleh Raya yang berdiri tidak jauh dari sana. Meskipun beberapa mahasiswa akan mengabaikan karena menurut mereka bukan lah urusan mereka. Tapi sekarang bagaimana? Hana di sangkut kan di sini, jika saja Hana kenapa-napa. Kembarannya juga akan merasakan hal yang sama.
"Rencana apa maksudnya?"
Jeffran pergi meninggalkan Anna yang masih berdiri di sana, gadis itu berteriak nama Jeffran tapi tidak didengarkan oleh lelaki itu. Ia bahkan tidak menoleh sama sekali, ia hanya mau pergi ke Hana saja dan meminta maaf akan kesalahan yang pergi dirinya lakukan.
"JEFFRAN!"
•••
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, duduk lah dulu dan minum ini." Theo memberikan sekaleng soda kepada Hana, sedangkan gadis itu yang sepertinya tidak mau berpikir banyak sekaligus antara ia tidak mau melakukan apa pun.
Hana menerima minuman kaleng tersebut dan duduk dengan tenang, walaupun isi kepalanya begitu berisik. Tanpa di sangka Theo memasangkan headset ke telinga Hana, membuat gadis itu menoleh dengan tatapan terkejut. Reaksi Theo, hanya tersenyum dan menyalakan lagu dengan volume sedang.
Tidak ada reaksi sama sekali, Hana terkejut tapi ia juga berterima kasih atas solusi yang Theo berikan secara langsung tanpa harus bicara lagi. Lelaki itu menatap ke depan, sama seperti Hana. Dengan tangan masing-masing memegang sekaleng minuman, anggap saja mereka sama-sama tengah menenangkan pikiran sekaligus membuang beban pikiran sejenak.
"Anggap saja angin lalu, jika kau ingin membuat keputusan. Pikirkan dengan baik, apakah keputusanmu akan baik di masa depan atau justru sebaliknya. Tolak jika memang membuatmu tidak nyaman, jangan terlalu memaksakan diri. Aku tahu yang asli tidak seperti ini."
Hana hanya diam, ia menatap kaleng soda yang ia pegang dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Ingatan di masa lalu membuatnya tidak bisa menahan dirinya untuk menangis.
Theo menoleh ke arah samping, melihat Hana menangis memang membuatnya kurang suka. Tapi ada di sisi lain ia ingin membuat air mata itu berubah menjadi air mata bahagia. Ia menarik kepala Hana secara perlahan dan membuat Hana bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Menangis sepuasmu, aku akan menemani."