
Kedua keluarga sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja hanya tersisa dua pasangan pengantin baru yang bahkan setelah keluarga mereka kembali ke rumah mereka, mendadak suasana yang begitu ramai seketika menjadi sepi.
Hana hanya duduk di sofa dan sedangkan pria itu tengah menutup pintu depan kemudian berjalan ke arah istrinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, Hana melihat ke arah Satya yang tengah menatapnya.
"Beruntung jika bunda menyukaimu. Tapi jangan berharap jika aku akan memperlakukan dengan sama." Ucap pria itu dan kemudian berlalu begitu saja, Hana hanya diam sejak tadi dan mendengar apa yang suaminya katakan. Walaupun sejujurnya ia merasa sakit hati.
Satya menaiki anak tangga dan ia yakin di satu kamar utama pasti juga ada barang-barang Hana di sana, ia menoleh ke arah Hana yang masih diam saja dan ia tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan sekarang.
"Pindahan setengah barang-barang mu ke kamar kosong lain, aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu." Ucapnya lagi dan kemudian dia masuk ke dalam kamar tersebut, menutup pintu dengan kencang membuat gadis itu menutup matanya.
Ia bahkan tidak sadar jika air matanya mulai menetes begitu saja, tanpa ijin dan tanpa diharapkan sama sekali. Gadis itu berusaha menahan semua kesedihannya walaupun sebenarnya Hana ingin menangis keras sekarang.
Tapi apakah semua itu akan membuat masalahnya hilang dalam sekejap hanya karena menangis? Tentu saja tidak, ia tidak mau menambah masalah dan gadis itu lebih memilih beranjak dari tempat duduknya, ia akan membereskan barang-barangnya dan kemudian dia akan pindah ke kamar kosong lainnya.
Lagi pula, Hana juga sudah pham bagaimana Satya walaupun hanya mengenal sebentar saja. Pria itu tidak suka di ganggu terlebih lagi jika sedang sibuk, dia akan marah dan tidak akan segan melakukan apa pun.
Maka dari itu Hana akan memilih untuk menyingkir dari pada dirinya mendapatkan imbasnya nanti. Hana berusaha mempertahankan dirinya sendiri, semoga saja ia bisa bertahan sampai akhir.
...•••...
Malamnya tidak begitu terasa, Hana selesai membereskan barang-barangnya ke dalam kamar kosong yang ia pilih. Karena kamar berjumlah tiga di rumah tersebut, sisa kamar di paling bawah adalah kamar art yang sengaja dijadikan gudang penyimpanan saja agar ada tempat untuk barang yang tidak terpakai.
Seperti kebiasaannya, Hana membersihkan rumah walaupun tidak terlalu kotor dan setelah itu dia memasak makanan makan malam untuk nanti, tapi entah lah Satya akan makan masakannya atau tidak ia tidak akan mempermasalahkan itu. Karena tugasnya sebagai seorang istri masih berlaku.
Gadis itu memasak, mulai melakukan kegiatannya sampai jam menunjukan angka 7 malam. Ia pun selesai memasak, menata semua piring di atas meja dan menunggu Satya turun. Hana enggan menghampiri ke kamar pria itu, takut menganggu pria itu tengah melakukan kegiatan.
Dan benar saja, tidak lama itu Satya menuruni anak tangga tapi dengan pakaian rapi. Tentu saja membuat Hana bertanya-tanya, Satya mau kemana?
“Mas, mau kemana? Aku udah masak buat kamu loh." Satya berhenti melangkah dan ia menoleh sekilas, ia menatap meja makan yang sudah tersedia lumayan banyak makanan di sana dan semuanya memiliki aroma yang enak. Tapi sayangnya pria itu akan menolak semua itu.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan makan masakanmu? Tentu saja tidak, jangan banyak bermimpi. Aku tidak akan sudi makan masakan mu, makan saja sendiri. Aku bisa membeli makanan di luar bersama saudaramu." Ucapnya dan kemudian pergi begitu saja.
Meninggalkan gadis itu dalam keadaan terdiam, ia menatap ke arah makanan yang sudah dia siapkan sendiri dan tidak tahu harus melakukan apa. Hana pun memilih untuk makan sendirian di sana tanpa seorang pun yang menemaninya.
"Mubazir kalau dibuang. Aku akan bungkus satu-satu." Berniat akan memberikan masakannya kepada penjaga perumahan, mereka pasti belum makan malam.
Gadis itu makan terlebih dahulu dan kemudian setelah ia membereskan bekas makanannya, ia juga membungkus beberapanya dan kemudian dia keluar untuk menyapa para penjaga yang biasanya di depan gerbang masuk perumahan.
Di tempat lain, Satya tengah mengendarai kendaraannya dan ia sudah mendapatkan panggilan telpon dari Anna. Kekasihnya sudah menelpon menandakan jika gadis itu sudah siap untuk berangkat, dan Satya pun menghampiri Anna yang berada di cafe dekat dengan rumahnya. Tidak mungkin Satya menghampiri ke rumah langsung. Bisa-bisa satu keluar bertanya-tanya nanti itu akan merepotkan sekali.
"Menunggu lama?" Tanya Satya membuka kaca mobilnya dan membuka pintu untuk Anna. Gadis itu tersenyum, masuk ke dalam mobil karena cuaca tengah tidak bagus malam ini.
"Tidak lama, baru saja sampai. Bagaimana? Apakah ada yang tahu jika kamu mau keluar bersamaku?"
"Tidak ada, Hana yang tahu." Anna mengangguk, tidak begitu perduli dengan saudara kembarnya itu karena ia juga tahu bagaimana pola pikir Hana.
Gadis itu mana mungkin melaporkan ini kepada keluarganya, dia tidak akan berani karena tidak akan ada yang percaya dengan gadis itu. Memiliki banyak resiko besar untuk Hana jika bicara akan hubungannya dengan Satya nanti.
Ia tidak begitu berpikir panjang, karena ia menduga akan sesuatu. Apa yang Hana lakukan di rumah? Pasti dia tengah makan sendirian, dengan masakan yang dia masak sendiri itu. Sejujurnya saja jika Satya suka dengan Hana, mungkin dia akan merasa bangga memiliki Hana karena gadis itu mandiri. Bisa melakukan apa saja ketimbang Anna yang selalu memanfaatkan uang untuk melakukan apa pun.
Logika, tentu saja semua pria akan memilih Hana. Gadis cantik itu memiliki banyak kemampuan yang sempurna, layaknya istri idaman kaum adam di Indonesia.
"Dengan pertanyaan ku kemarin, apa kau melakukan hal itu dengan Hana?"
"Dengarkan aku, aku tidak akan melakukan itu kepada orang yang jelas tidak aku suka. Untuk apa? Pertanyaanmu konyol sekali." Tentu saja Satya akan merasa jengkel karena Anna terus saja bertanya dengan apa yang tidak Satya lakukan.
Mana mungkin Satya akan melakukan itu dengan Hana di sisi lain ia tidak menyukai gadis itu sama sekali, atau mungkin belum? Tidak ada yang tahu perasaan akan datang kapan, tapi yang pasti perasaan akan datang ketika sudah terbiasa akan kehadirannya dan juga semua akan mulai di akui ketika orang itu sudah pergi. Sudah biasa terjadi bukan? Tidak perlu terkejut.
Di dalam mobil, keduanya hanya saling diam sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tapi secara mendadak suara ponsel berdering membuat suasana mendadak menjadi lumayan berisik, ponsel Satya.
__ADS_1
Tertera nama bundanya di sana, Satya membuang nafas panjang. Ia menoleh ke arah Anna, memberikan kode untuk diam dan jangan bicara. Karena jika mereka ketahuan semua akan hancur, Satya tidak akan mendapatkan apa pun.
"Ada apa bund?"
"Kenapa suara mobil? Kau sedang pergi ya? Apa ada Hana di sana?"
Mendadak Satya membisu, ia menoleh ke arah Anna yang menatapnya dengan tatapan yang lain. Gadis itu cemburu, tapi logikanya itu wajar saja jika seorang ibu mencari anak perempuannya.
"Dia sedang tidur, baru saja kami keluar rumah."
"**Begitu ya, yaudah. Besok kamu sama Hana ke rumah ya, bunda kau ngomong sesuatu sekalian ayah kamu juga katanya mau ngomong juga. Iya kan yah?"
"Iya, besok ya ayah tunggu**."
"Baiklah, besok aku akan ke sana dengan Hana. Setelah kelas selesai." Setelah beberapa percakapan singkat sambungan pun terputus.
Membuat Satya membuang nafas panjang dan meletakkan ponselnya lagi, ia kembali fokus menyetir. Sedangkan Anna terus menatap ke arah Satya, entah sepertinya pria itu menyadari itu.
"Ada apa lagi?"
"Segitu sayangnya bunda kamu sama Hana..." Satya membuang nafas panjang, ia mengusap rambut Anna dengan pelan dan mencoba memeluk gadis itu tapi tidak bisa karena ia masih menyetir.
"Karena bunda ku ingin anak perempuan, wajar jika dia sayang dengan Hana."
"Seharusnya itu aku."
"Seharusnya juga kamu menerima perjodohan itu saja, bukan menolak dan mendorong Hana." Ucapan Satya seketika membuat Anna terdiam, bagaimana Satya tahu itu? Sedangkan pria itu hanya diam saja setelah mengatakan kalimat mengejutkan itu.
Logika saja, siapa yang tidak tahu? Lagi pula mereka kembar, posisi yang berada di rumah utama hanyalah Anna tentu saja Anna adalah tawaran pertama dan jika saja Anna menolak tentu saja akan digantikan dengan Hana. Mau tidak mau, entah lah sepertinya Hana juga terpaksa.
__ADS_1
'Benar bukan? Ucapanku tidak salah, seharusnya Anna menerima saja perjodohannya jika dia mau. Tapi kenapa di tolak?'