Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 91


__ADS_3

Bagaimana rasanya? Jangan terlalu banyak memikirkan ini, banyak kejadian yang terjadi bahkan mungkin kalian pernah merasakan semua ini. Maksudnya, setiap orang memang hidup bersosialisasi, tapi banyak juga orang-orang yang masih enggan melakukan itu.


Bukan karena mereka tidak bisa berkomunikasi, melainkan di mana mereka tahu betapa jahatnya dunia luar yang mungkin mereka memang sudah bisa menebak tanpa harus bermain terlebih dahulu. Manusia, di percaya? Sepertinya akan mustahil jika itu memang ada, tidak ada yang namanya manusia yang saling perduli secara ikhlas. Di sisi waktu mereka akan memamerkannya dan membicarakan, entah itu baik buruknya seseorang.


Siapa yang akan tahu? Bahkan termasuk keluarga sendiri saja bisa melakukan semua itu, menyakiti secara langsung atau tidak. Itu akan terjadi, merasakan semua itu di hadapi dengan sikap tenang. Walaupun biasanya memang sulit mengendalikan emosional, setiap orang memiliki setiap emosinya masing-masing.


Ada yang bisa ada juga yang tidak bisa sama sekali, meluapkan segala emosinya tanpa berpikir panjang. Memikirkan orang lain? Ayolah, bahkan orang lain yang kalian pikirkan sampai gila pun mereka tidak akan memikirkan mereka.


Semakin banyak musuh, semakin sulit. Itu akan terjadi, tapi bagaimana cara mengatasinya? Tetap bersikap tenang, bersikap se normal mungkin. Buat mereka menyesal secara bertahap tanpa jeda, itu akan menyenangkan. Percaya lah.


Seperti sekarang di mana Dimas tidak bisa mengendalikan emosionalnya sendiri, walaupun dirinya tidak pernah merasakan apa yang Hana rasakan. Tapi cukup melihat saja ia sudah langsung paham, menyakitkan? Jangan di tanya jika soal itu.


"Lalu kau mau bagaimana? Semua sudah terjadi begitu saja. Kita tidak bisa melakukan apa pun lagi, selain membuatnya di penjara karena perbuatannya yang bejat kepada kedua adik mu." Mungkin hanya itu yang bisa Arga katakan.


Walaupun ia tidak bisa menjelaskan segalanya, ia hanya cukup tahu dengan situasi sekarang yang jelas saja membuatnya merasa, aneh.


"Walaupun semua itu tidak lah mudah, kau tahu nyaris tidak ada bukti apa pun."


Tidak ada rekaman atau saksi mata, mereka hanya mengakui jika mereka melihat Hana bersama Aca di rooftop. Masalah pertengkaran, mereka juga tidak yakin karena Hana selalu membela Aca secara terang-terangan, tapi memang pada dasarnya mereka kurang paham dan lebih percaya dengan penglihatan dan apa kata orang lain.


Kasus seperti ini memang sulit untuk di selidiki, tidak bisa di jelaskan secara kata-kata karena semua akan rumit. Tidak bisa, walaupun kasus ini memang sering terjadi tapi justru korban yang sebenarnya yang justru mendapatkan hukuman bukan malah si pelakunya.


Adil atau tidaknya itu hanyalah orang lain yang menentukan, katakan saja semua ini tidak lah adil. Tapi memang mana ada keadilan di jaman sekarang? Masih percaya keadilan?


"Kejaksaan juga tidak akan menerima pencabutan kasus ini jika tidak ada bukti, bagaimana?"

__ADS_1


"Lalu kita harus bagaimana? Aku tidak bisa melihat adik ku di penjara tanpa kesalahan." Bagaimana cara mengatasi semua ini? Sulit, itu yang akan dikatakan setiap orang ketika menangani kasus ini.


Sampai di mana ponsel Arga berdering, tertera nama seseorang di sana yang membuatnya harus mengangkat telpon tersebut dan kemudian ia mendapatkan kabar mengejutkan.


Ekspresinya tentu saja akan mengundang yang lain untuk ikut merasakan penasaran, ada apa memang? Tidak ada tebakan apa pun selain, ada apa?


Sampai di mana Arga menurunkan telponnya yang sudah terputus secara sepihak, dia menatap ke arah Dimas. Entah apa yang harus dirinya katakan sekarang, tapi jujur saja itu sulit.


"Kita harus ke kampus sekarang."


"Kampus mana yang kau sebut?" Arga hanya menatap, sampai di mana entah pikiran dari mana yang membuat mereka semua berpikiran yang sama.


Di akhirnya mereka pun segera berangkat ke tempat tujuan mereka, intinya sekarang adalah menyelesaikan kasus ini sampai selesai. Menyelamatkan seseorang yang seharusnya selamat, bukan menjadi pelaku yang padahal dia korban. Harus ada sebuah keadilan setelah ini, harus ada.


Satya berada di rumah, dia berlari masuk ke dalam rumah di mana ia tidak melihat siapa pun di sana. Ia berjalan ke arah kamar, mendorong pintu itu dan di ia tidak melihat siapa pun. Suasana sepi ini, sunyi membuatnya tidak tahan dengan segalanya.


Pria itu pun segera untuk pergi, dia kembali pergi mencari keberadaan istrinya yang mendadak seharian hilang. Entah apa yang sudah dia lakukan pada intinya dia sudah mengaku akan kesalahannya, seharusnya di dalam rumah tangga tidak ada kekerasan.


"Hana, ayolah jangan menghilang begini. Aku tahu aku salah, tapi jangan seperti ini aku mohon." Satya mengusap wajahnya kasar, dia seharusnya tidak melakukan semua itu. Benar-benar tidak sadar saat itu, ia terlalu marah karena Hana terus dekat dengan yang lain.


Terutama dengan Theo dan juga Jeffrey, karena Satya tahu jika kedua pria itu menyukai istrinya. Berusaha mendapatkan istrinya dengan cara apa pun itu, ia takut jika Hana terlalu terbawa suasana dan hanyut begitu saja. Kemudian meninggalkannya, ia tidak bisa membayangkan semua itu jika terjadi.


Theo, dari semua sikap yang tidak pernah di tunjukkan sudah menyebut jika pria itu menyukai perempuan itu, sedangkan Jeffery. Satya tahu jika pria itu adalah bagian dari masa lalu Hana yang sudah hilang, meskipun begitu ia tahu jika Hana tidak pernah menjauh. Karena mereka pada dasarnya sudah mengenal sejak kecil sudah jauh-jauh hari.


Sadar diri jika dia adalah termasuk orang baru, Satya takut kalah dengan masalah lalu Hana yang dahulu yang kenyataannya semuanya justru lebih baik. Satya cukup sadar diri dengan itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Hana. Aku mohon jangan begini kepada ku..."


Di sisi lain, Hana hanya diam ketika mendapati Bima sudah berada di depannya. Sebenarnya bukan hanya Bima saja yang berada di sana, melainkan juga Tino dan juga Febry. Dua pria itu berada di luar sekedar menjaga saja, karena memang Bima yang paling dekat di antara yang lainnya.


Pria itu juga hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain ia juga merasa kecewa dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya dia menyakiti perempuan sebaik Hana? Tapi ia juga tahu bagaimana sifat Satya, dia kenal pria itu bukan hanya 1 atau 2 tahun. Sudah cukup lama sekali.


"Aku tahu ini akan sulit untuk mu, tapi jika aku menjadi kakak mu mungkin aku melakukan hal yang sama seperti apa yang Dimas lakukan." Ucapnya dengan suara pelan, ia tidak mau menyakiti Hana walaupun ia tidak begitu sering dan atau dekat.


"Kau tidak akan paham..."


"Ya, karena aku belum ada di posisi mu. Tapi aku tahu, seorang pria yang sudah bermain tangan tidak ada perasaan sama sekali. Itu hanyalah nafsu saja, percaya lah Hana. Walaupun aku adalah sahabatnya, aku nyaris tidak percaya tapi karena semua bukti, sekaligus keadaan mu yang seperti ini-" Hana menoleh ke arah Bima, pria itu nampak sedih sekaligus kecewa yang bercampur secara bersamaan.


"Aku percaya, aku juga hanya mau jika kau bahagia bukan seperti ini. Aku yakin ini bukan pertama kalinya." Hana hanya menunduk, memalingkan wajahnya ke arah lain agar raut wajahnya tidak bisa di baca.


Namun, rasanya percuma saja karena Bima sudah tahu semuanya. Ia hanya cukup tahu, ia pikir tidak akan terjadi lagi padahal ia juga seorang pria yang di mana dia juga paham bagaimana perasaan sesama pria. Perasaan yang benar-benar tulus, artinya adalah sebuah sikap perduli dan sangat perlahan. Tidak ada kata kekerasan atau sebuah tekanan. Tidak ada, hubungan seperti itu harus di akhiri.


"Aku tidak bisa-"


"Aku tahu kau pasti bisa, memangnya kau mau jika anak mu diperlakukan sama seperti dirimu?"



Hana hanya diam, ia berpikir kembali dengan apa yang Bima katakan kepadanya. Tidak ada yang salah dengan perkataan Bima tadi, tebakannya juga semuanya benar. Bagaimana harus mengelak? Tentu saja mustahil.


"Hana, aku yakin masih ada seseorang yang mau menerima mu apa adanya, lebih dari Satya."

__ADS_1


__ADS_2