
Johan berlari menelusuri ruangan, setiap ruangan di sekolah ia jelajahi untuk mencari seseorang. Ia benar-benar khawatir, bercampur dengan cemas yang entah sebesar apa membuatnya seperti ini.
Bagaimana sekarang? Johan berpencar, bersama Putra. Mereka berpencar untuk mempercepat proses pencariannya. Tidak mungkin mereka membuang banyak waktu, bagaimana jika Hana kenapa-napa? Tidak ada yang tau bagaimana kelanjutannya tapi mereka berusaha untuk cepat.
Johan menelusuri bagian belakang sekolah, ia berusaha tidak meninggalkan satu pun ruangan entah itu gudang, toilet atau ruangan tidak terpakai. Ia akan melihat semua kondisinya, tidak ada yang tau di mana Hana sekarang.
Gadis itu hilang seperti firasat buruknya tadi pagi, tidak ada Hana membuatnya gelisah. Entah Johan harus menyalahkan pikiran yang terlalu negatif itu.
"Kenapa kau? Ayolah kenapa seperti ini?" Johan membuka setiap pintu, ia juga sudah meminta bantuan satpam yang berjaga. Ada satu satpam yang ia tidak tau, katanya dia tengah keliling.
Ingat jika pikiran Johan tidak. pernah positif, ia akan selalu berpikir buruk ketika tidak mendapatkan apa pun ataupun tanpa melihat. Ia harus melihat secara langsung dan ada bukti yang mematahkan pikiran buruknya itu.
Bagaimana sekarang? Tidak tau, Johan bahkan sudah mulai frustasi akan apa yang ia lakukan sekarang. Seolah tidak ada apa pun membuatnya frustasi seharian.
Johan berlari ke arah taman, ia tidak melihat apa pun di sana kecuali kegelapan dan sedikit cahaya lampu di sana dari lampu hias di taman. Lelaki itu sudah frustasi, mengacak-acak rambutnya sendiri melampiaskan apa yang ia rasakan.
"KEMANA KAU HANA?!!!"
......•••......
Hana bersandar di dinding, suhu seolah mendadak mencekik dirinya. Memeluk dirinya sendiri adalah cara satu-satunya mengurangi rasa takut sekaligus hawa dingin itu masuk mulai mengganggunya.
"Tolong aku..." Sampai suara pintu mengalihkan pandangan Hana, entah siapa itu membuat Hana bersemangat. Apa ada seseorang yang akan menyelamatkannya dirinya? Seperti itu yang dia pikirkan.
Ketika melihat langsung siapa yang datang membuat senyuman itu berubah menjadi raut wajah penuh ketakutan. Hampir 5 lelaki yang ia ketahui adalah siswa di sekolah itu, tapi ada satu lagi. Satpam, penjaga sekolah.
"Kalian bisa masuk, aku akan menjaga di luar." Ucap Satpam tersebut dan di angguki oleh salah satu siswa itu.
Hana berdiri dengan tegak dan melangkah mundur, ia akan melarikan diri. Namun, pintu gudang di tutup kembali Hana seolah hilang harapan ketika itu juga.
"Oh, ini? Lumayan juga, tidak salah aku menerima tawaran dari perempuan itu."
Hana melangkah mundur, mencari sesuatu untuk di jadikan senjata dan ancaman. Melindungi diri sendiri? Hana tidak terlalu bisa, tapi ia akan berjuang semampunya atau bahkan ia rela mati demi menyelamatkan harga dirinya.
"Kalian?"
__ADS_1
"Kau mengenal kami? Bagus lah, tidak perlu perkenalan bukan? Jadi mari kita mulai permainan ini, mau dari mana dulu manis?" Hana melangkah mundur, tapi tidak jalan untuk ia melarikan diri lagi. Ia terpojok.
"Sepertinya dia takut."
"Lihat ekspresinya. Kenapa aku sadar jika dia imut?"
"Apakah suara mu bagus untuk mendesah, cantik?" Hana menodongkan kayu ke arah mereka untuk membela dirinya, jangan sampai ada yang menyentuhnya. Tidak akan Hana maafkan mereka, atau bahkan memaafkan dirinya sendiri yang begitu lemah.
"Jangan mendekat!"
"Wow! Tenang saja, aku akan bermain pelan saja. Tidak ada kekerasan jika kau menurut." Entah lelaki itu bisa semenakutkan itu. Hana mundur, ia masih menodongkan kayu besar ke arah mereka.
Salah satu dari mereka pun melangkah maju dan menepis kayu yang hendak Hana pukul kan ke arahnya, tidak akan ada yang kalah di sini. Hanya kemenangan, Hana kalah jumlah atau bahkan di sana begitu banyak seorang gadis pun tidak akan ada yang menolongnya. Hana seolah tidak di hargai atau bahkan di anggap di sekolah tersebut.
Hana berusaha melawan, memukul tapi tangannya di tahan dan perutnya di tendang dengan cukup keras membuat Hana sedikit kuwalahan. Bagaimana sekarang? Hana harus apa lagi? Tidak bisa menyerah, Hana harus melawan bagaimana pun akhirnya.
"Jangan banyak melawan, atau aku akan memukulmu."
"Aku lebih baik mati tadi pada tunduk dengan bajingan seperti kalian!" Mereka tertawa, salah satunya bernama Nandi. Menjambak rambut panjang Hana cukup kasar membuat gadis itu mendongak secara paksa.
"Terserah jika itu mau mu, mari kita lihat siapa yang akan hidup dan siapa akan mati." Ucapnya dan menghajar Hana di sana, hanya satu orang.
"Berani kau menampar ku?"
"LEPASKAN TANGANMU ITU!!"
"DIAM KAU PELACURAN!" Ucapnya dengan keras membuat Hana terdiam, apa katanya? Pelacur?
Ketika itu juga mereka benar-benar melakukannya. Hana berusaha melawan tapi tidak bisa, membuat gadis itu semakin menangis karena terlalu lemah menghadapi mereka semua. Air mata menetes dan di dalam hatinya, berharap ada yang menolongnya.
Ketika itu juga dobrakan pintu membuat mereka menoleh dan menemukan 7 orang di sana, dan mereka tau siapa orang yang berdiri paling depan. Sekaligus seseorang yang berdiri samping yang paling depan itu.
"Berani kalian menyentuhnya, akan aku pastikan tangan kalian tidak akan berfungsi lagi." Mereka lantas mereka berdiri, tidak semua karena salah satunya melanjutkan aksinya.
Dimas datang karena panggilan dari Putra, sedangkan Johan yang berdiri dengan tatapan penuh dengan dendam dan amarah. Mereka semua, Johan mengenal mereka semua dan ia akan memastikan mereka semua menyesali perbuatan mereka.
__ADS_1
"Johan? Wow, si pecundang ini ternyata bergabung dengan kalian? Hebat sekali, kenapa aku tidak pernah di terima?"
"Karena kau iblis." Ucap Dimas tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan langsung memukul orang yang berada di depannya dengan segala tenaga yang ada. Mereka saling memukul, sedangkan Johan melihat ke belakang.
Ia berlari dan memukul Nandi hingga lelaki itu terkapar di lantai. Ia langsung memeluk Hana, membuat Hana tenang berada di sekitarnya. Johan merasa semua ini adalah salahnya, ini semua adalah salahnya.
"Maafkan aku, terlambat." Melihat raut wajah Hana yang kosong sekaligus luka lebam yang berada di sekitar wajah itu membuat Johan tidak dapat menahan emosinya. Ia melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Hana dengan jaketnya. Berdiri kemudian melangkah ke arah Nandi.
Ia tidak akan mengampuni siapa saja yang sudah membuat Hana seperti ini, tidak akan dan selamanya akan tetap berlaku. Johan menendang kepala Nandi, menginjak bagian dadanya dengan keras dan tanpa berpikir panjang. Menarik kerah seragam itu membuat Nandi hanya pasrah tapi dia masih tersenyum dengan senyuman sombongnya.
"Siapa yang menyuruhmu? Katakan atau-"
"Atau apa? Kau mau membunuhku?" Johan tertawa, mencekik leher Johan tanpa kendali dan membanting Nandi tanpa ampun.
Tapi ketika ia kembali melangkah dengan tangan menggenggam kayu besar yang sempat di pegang oleh Hana tadi, sebuah tangan memeluknya dari belakang membuat langkahnya terhenti. Johan menunduk, melihat tangan mungil penuh dengan luka itu memeluknya. Kaos putihnya ternodai akan cairan merah.
"Jangan lanjutkan itu..." Tangannya reflek melemparkan kayu itu dan membalik tubuhnya, membalas pelukan Hana.
"Maafkan aku." Dimas sudah selesai dengan urusannya, dan suara teriakan Dimas membuat pandangan Hana teralihkan.
Lantas gadis itu berlari dengan langkah tertatih dan memeluk kakaknya itu, ketakutan dan rasa kecewa bersatu menjadi satu. Tidak dapat dijelaskan bagaimana ia menjelaskan perasaannya sekarang.
"Kakak terlambat, maafkan kakak Hana-"
"Tidak, kakak tidak terlambat..."
Dimas menangis tanpa sadar, ia tidak bisa melihat keadaan Hana yang seperti ini. Sebagai seorang kakak, mana bisa ia harus menerima semua ini? Tidak bisa seperti ini terus.
Sampai tidak lama kemudian polisi datang dan menangkap orang-orang yang bersangkutan untuk di introgasi. Arga datang bersama polisi, ia hanya bisa membantu dengan itu sisanya ia tidak terlalu bisa.
"Kalian jangan khawatir, aku akan pastikan mereka mengaku akan siapa dalang dari semua ini. Hana bisa di bawa ke rumah sakit buat di rawat sementara, masalah biaya biar-"
"Aku saja yang menanggungnya, kau sudah terlalu banyak membantu. Terima kasih." Arga mengangguk paham, ia mengerti apa yang Dimas rasakan meskipun Arga tidak mempunyai seorang adik.
__ADS_1
Dimas menggendong Hana dan membawa adiknya untuk segera di rawat. Johan hanya berdiam diri di sana tanpa tau arah, ia menatap Hana yang tengah berada di gendongan Dimas.
'Entah kenapa, semuanya tampak berat.'