Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 82


__ADS_3

Sepertinya malam cepat sekali berlalu, matahari juga sudah muncul sejak tadi tapi tidak membuat orang itu bangun dari tidurnya. Sampai suara pintu terbuka membuatnya terbangun perlahan, ia tahu siapa yang membuka pintunya sekarang walaupun penglihatannya tidak begitu jelas karena masih dalam pengaruh alkohol.


"Kamu sudah bangun? Kamu mau makan apa hari ini?"


"Pergi lah, jangan temui aku." Ucapnya, tentu saja itu akan membuat Hana merasa dirinya tidak akan pernah berguna lagi. Entah kemana Satya yang dulu dia kenal? Begitu menyayanginya dan pernah mengatakan janji tidak akan pernah meninggalkannya.


"Tapi kamu harus-"


"SUDAH AKU BILANG PERGI! PEMBUNUH SEPERTI MU TIDAK PANTAS DI SINI! PERGI SEJAUH MUNGKIN! AKU MUAK DENGAN MU!"


Hana hanya diam, walaupun ia menerima bentakan seperti itu ia tetap diam tidak protes sama sekali. Gadis itu memilih menurut, dia menutup pintu membuat Satya kembali berada di kamar sendirian seperti sebelumnya. Apakah ia terlalu kasar? Tapi dia tidak akan perduli, karena menurutnya Hana pantas mendapatkan semua itu karena kesalahan yang Hana lakukan sebelumnya.


Sedangkan di luar sana, Hana berdiri tepat di depan pintu kamar suaminya, memegangi pintu di sana dan menutup pintu rapat-rapat. Hana pikir semua akan baik-baik saja setelah ini, ia tidak melakukan kesalahan apa pun yang tentu saja membuat suaminya bertingkah seperti itu.


Lalu apa yang harus Hana lakukan untuk membuktikan jika beberapa hari lalu bukanlah kesalahannya? Tidak bisa, mereka tidak akan pernah percaya dengan apa yang Hana katakan.


...•••...


Theo berada di taman belakang rumah, ia hanya mau berada di luar untuk menjernihkan pikirannya sendiri. Keadaan semakin kacau di tengah di mana ia tengah berusaha sekarang, apakah yang dia lakukan benar atau tidak itu adalah urusan belakangan.


Pria itu memeriksa segalanya, tentu saja dia juga mendapatkan bantuan dari Johan yang sebelumnya sudah maju terlebih dahulu. Ia merasa salut dengan Johan, pria itu tidak menyerah akan segalanya dan justru dia semakin melangkah maju, sepertinya bukan melangkah lagi, dia sudah berlari mengejar. Tapi tidak seperti temannya itu, Theo memilih diam saja walaupun ia masih ada rasa. Ia hanya sadar diri, ia tidak akan bisa mengimbangi Johan.

__ADS_1


Terlalu banyak pikiran membuat Theo tidak memikirkan sekitarnya, pria itu bahkan tidak menyadari akan keberadaan kembarannya sendiri yang berdiri di depan pintu, lebih tepatnya di belakang Theo sekarang.


Raya menatap punggung pria itu, apakah Theo terlalu banyak memikirkan situasi yang sudah seperti ini? Kenapa Theo masih saja membela seseorang yang jelas salah? Itu hanya menurut Raya saja, meskipun Raya juga masih kurang yakin dengan keadaan yang sebenarnya terjadi.


"Kau masih memikirkannya." Theo tidak menoleh sama sekali, tapi dia tahu jika Raya berada di sampingnya dan menatap ke arah yang sama dengan dirinya.


Raya menoleh ke arah Theo, keadaannya kacau sekarang karena dia terlalu banyak mengurus masalah yang akhir-akhir ini terjadi. Mungkin dia terlalu berjuang sampai seperti ini, secinta itu kah?


"Aku pikir kau sudah menyerah ketika kau sudah tahu sendiri jika Hana mempunyai hubungan dengan Satya. Ternyata kau tidak kunjung sadar." Raya tidak akan memikirkan apa yang dia katakan akan menyakiti seseorang atau tidak, ia akan berkata apa adanya sesuatu fakta yang dia tahu.


Theo tidak menjawab apa yang Raya katakan, ia hanya diam memikirkan banyak hal, tapi terlalu membebani kepalanya. Theo memang seharusnya sadar jika perasaannya itu sudah salah sejak awal, tugasnya hanya melindungi selama Johan tidak ada di jakarta, dan hanya sekedar itu.


...•••...


Johan datang ke rumah sakit, tentu saja sendirian karena dia mau memeriksa sesuatu di sana. Ia bertanya dengan resepsionis yang berjaga di depan, mengatakan sebuah nama seseorang dan dia pun menunjukan jalannya. Johan hanya mengangguk paham dengan penjelasan wanita berpakaian perawat tersebut.


"Baiklah, terimakasih."


"Sama-sama tuan." Johan kemudian berjalan menuju ruangan yang sudah di tunjukkan kepadanya. Semoga saja usahanya tidak sia-sia kali ini, bukan karena dia lelah melainkan ia tidak suka dengan namanya kegagalan.


Pria itu terus melangkah sampai di mana ia menemukan tempat yang dia cari, ia memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi, ketika Johan akan sampai di ruangan itu, tepat di mana dia kurang sedikit lagi akan sampai.

__ADS_1


Dia melihat seseorang yang duduk di kursi menunggu di luar, tentu saja ia merasa tidak asing dengan pria yang berada di sana. Apa yang dia lakukan di sana? Johan memutuskan tidak mendekat sekarang, karena memang bukan waktu yang tepat.


Sampai di mana dia melihat dokter keluar dari ruangan tersebut, dia nampak gelisah sepertinya dan bertanya kepada dokter tersebut. Johan tidak begitu mendengar apa yang mereka berdua bicarakan di sana, tapi ia sekilas mendengar.


"Keadaan menang sudah lumayan membaik, tapi dia belum sadar. Kami tidak tahu apa penyebabnya, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin."


"Terimakasih atas bantuan anda."


"Tidak masalah tuan, anda bisa memanggil saya jika ada keadaan darurat dari pasien. Saya permisi, selamat siang."


Dokter itu pun pergi, Johan langsung bersembunyi di belakang dinding agar dokter itu tidak menyadari keberadaannya. Setelah dokter itu berlalu begitu saja, ia kembali melihat ke arah sebelumnya dan pria itu masuk ke dalam ruangan itu.


Karena memang pada dasarnya tujuannya memang di sana, sekaligus ia juga penasaran apa yang pria itu lakukan sekarang. Ia berjalan ke arah ruangan tersebut, tentu saja dengan hati-hati, karena Johan juga tidak mau semua rencananya bubar hanya karena kecerobohannya saja.


Berdiri tepat di depan pintu, di pintu juga terdapat kaca tembus pandang yang bisa orang dari luar melihat yang berada di dalam begitu juga sebaliknya. Dan Johan tentu saja bisa melihat apa yang pria itu lakukan sekarang, tapi kelakuannya itu membuat Johan tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya erat.


Bahkan tatapan tajamnya menyorot seolah akan membunuh pria itu sekarang juga, rahangnya bahkan sudah sangat mengeras menandakan dia menahan segala emosionalnya sekarang ini. Bagaimana tidak marah? Kepercayaannya di patahkan begitu saja.


Padahal Johan juga sudah mulai ikhlas dan menerima jika orang yang dia cintai kenyataannya sudah punya pendamping hidup, dan jujur saja Johan tidak akan bisa diam saja sekarang. Ia akan melakukan apa saja, dan sekarang niatnya melupakan perasaan berganti menjadi merebut.


'Apa dia tidak ingat sumpah ku kemarin? Dia sudah melanggar janjinya.'

__ADS_1


__ADS_2