Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 75


__ADS_3

Hari demi hari, memang kehidupan tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kita rencananya jauh-jauh hari. Ada kalanya kita harus menghadapi sebuah cobaan di mana cobaan itu yang akan menentukan, apakah kamu pantas berada di tujuan utamamu? Atau tidak? Itu hanya sebuah penentuan saja, jika memang ada niat pasti akan ada sebuah hasil yang memuaskan.


Tapi jika memang sudah berkata lain, tulisan takdir sudah tidak sesuai dengan harapan jangan pernah bermimpi, tidak ada manusia yang bisa mengubah takdirnya kecuali manusia itu mengubah waktu dan mengembalikan masa waktu semula, kenyataannya itu juga mustahil di lakukan.


Anna berada di dalam kamarnya, dia hanya berdiam diri seraya mengusap perut ratanya yang belum membesar sama sekali. Usianya juga baru saja 1 bulan lebih 2 minggu, tentu saja belum menunjukkan tanda-tanda akan adanya ciri-ciri kehamilan. Tapi ia berharap jika semua akan berjalan dengan baik-baik saja.


Perempuan itu berpikir sesuatu yang membuatnya berdiri, ia mulai keluar dari kamarnya dan berjalan ke sebuah tempat. Di mana tempatnya ruangan yang dekat dengan kamar kedua orang tuanya, di sisi lain juga adalah kamar milik kakak laki-lakinya.


Dua kamar itu sudah kosong, lebih tepatnya tiga kamar yang kosong. Anna berdiri di depan pintu kamar tersebut, ia ragu apakah dirinya harus masuk ke dalam atau tidak. Tapi ia ingin masuk ke dalam setelah ia mengingat sebuah bayangan menyenangkan di dalam kepalanya.


Sampai di mana ia membuka pintu itu, melihat cahaya redup dari matahari yang mencoba masuk ke dalam ruangan tersebut. Di sana, ada dua kasur khusus. Dua box bayi dengan warna yang berbeda, satu berwarna merah muda dan yang satu adalah warna biru. Tentu saja Anna tahu itu box bayi siapa.


Ia terus melangkah mendekat, memegang setiap barang yang berada di sana. Masih utuh tidak ada yang hilang, beberapa barang-barang di bungkus plastik atau kain agar tidak rusak termakan umur.


Sampai di mana Anna melihat bayangan dua bayi kembar lahir di dunia ini, hanya saja dua pasangan itu hanya menghampiri satu bayi itu saja dan yang satunya tidak ada siapa pun, lebih tepatnya hanya pengasuh yang mengurusnya bukan orang tuanya sendiri.


Anna merasa ada yang aneh, bayangan orang-orang itu. Seperti membuatnya kembali ke masa lalu, ia juga melihat bayangan sosok anak kecil berumur 8 tahun dan dia laki-laki. Dia nampak senang, tapi dia merasa heran dengan kedua orang tuanya. Kenapa hanya satu yang mereka gendong? Kenapa yang satunya tidak mereka gendong?


Anak laki-laki itu mendengar suara bayi menangis yang tidak lain adalah bayi yang di gendong oleh pengasuh, dia menghampiri dan menghibur balita berusia 1 bulan tersebut. Di sisi lain dia juga menatap ke arah kedua orang tuanya.


"Kenapa mereka hanya menggendong bayi itu saja? Bukannya adik ku ada dua? Kenapa yang di gendong hanya satu?"


Tentu saja itu terbayang di dalam kepalanya. Bagaimana dirinya dari lahir selalu di berikan kasih sayang yang begitu cukup, bahkan lebih dari cukup. Sedangkan saudaranya, di gendong saja tidak pernah.


Anna tersenyum kecut, seharusnya ia tidak pernah melakukan semua itu. Tapi sejujurnya Anna iri dengan kehidupan lain dari saudaranya itu, dia di sayang oleh kakak laki-lakinya, dia juga sekarang mempunyai keluarga lain yang sangat menyayanginya di mana dia tidak pernah mendapatkan semua itu dari keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak melakukan itu. Dia bahkan tidak melakukan apa pun ketika aku menyakitinya." Entah pikiran mana yang membuatnya sadar, mungkin karena efek dia tengah mengandung membuat pikirannya berbeda.


"Semoga kamu gak kayak mama ya nak, kamu harus meniru saudara mama. Jangan ikuti perbuatan buruk mama..." Anna menunduk, ia memegang perutnya sendiri memastikan anaknya baik-baik saja. Ia hanya berharap jika sikap buruknya tidak menurun kepada anaknya, itu akan sangat menyakitkan.


"Hana, maafkan aku..."


...•••...


"Bagaimana keadaan mu?" Hana hanya mengangguk, untuk menjawab semua pertanyaan yang Dimas layangkan kepadanya.


"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kakak? Aku dengar kakak putus ya sama pacar kakak. Apa itu benar?" Dimas hanya diam ketika adiknya mengatakan pertanyaan yang tidak ia harapkan.


Tapi Dimas juga tidak bisa selamanya menyembunyikan semua itu, cepat atau lambat adiknya akan tahu segalanya dan Dimas tidak bisa menghalangi semua itu. Lantas pria itu tersenyum, walaupun senyuman itu tidak sepenuhnya mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Cinta bukan segalanya, Hana. Walaupun uang tidak bisa membeli cinta. Kakak punya alasan untuk itu."



Hana tidak yakin dengan senyuman yang Dimas tunjukan kepadanya, tapi dia mencoba untuk mengerti keadaan Dimas yang sekarang. Walaupun dalam kata lain Dimas sudah memutuskan hubungan, bukan berarti dia melupakan segalanya yang sudah terjadi sebelumnya. Dia pasti mengingat banyak hal sampai dia sendiri tidak bisa melupakan semua kenangan itu.


"Semoga kakak bertemu dengan seseorang yang baik buat kakak."


"Kakak harap begitu, tapi kakak sadar diri jika kakak tidak sebaik itu sampai mendapatkan seseorang yang terlalu baik." Hana menggelengkan kepalanya, ia tidak menyetujui pendapat itu.


"Kakak baik, dan kakak pantas mendapatkan yang lebih baik. Yang bisa menuntun kakak ke jalan yang baik." Dimas tersenyum ketika mendengarkan apa yang Hana katakan. Seberuntung apa Dimas sekarang mendapatkan sosok adik seperti Hana.

__ADS_1


Gadis yang baik dan penurut, bahkan dia tidak ada niatan untuk membalas dendam sama sekali dan justru sebaliknya. Dia ingin seseorang yang dulu pernah menyakitinya, berubah menjadi lebih baik. Hana tidak butuh kata maaf, dia hanya mau melihat perkembangan baiknya seseorang dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik.


Dimas beruntung sekali bukan? Dia adalah seorang kakak yang paling beruntung di dunia ini, ia berharap akan terus seperti ini. Terus, entah sampai di mana ia harus lahir kembali dan Hana harus menjadi sosok adiknya lagi di kehidupan yang selanjutnya. Dimas tidak mau yang lain.


"Kakak beruntung punya kamu, Hana. Bagaimana kakak harus berterima kasih kepada tuhan?"


"Kakak harus menjadi diri kakak dengan baik, mungkin itu yang tuhan mau."


"Iya, kamu benar." Hana tersenyum senang, setelah sekian lama ia bisa bertemu Dimas lagi. Kakak yang dia rindukan selama ini, mungkin kegiatannya terlalu padat sampai tidak ada waktu.


Dimas memberikan Hana kue manis yang dia pesan, dan Hana menerima kue manis tersebut. Memakan makanan tersebut dengan senang hati, membuat Dimas senang juga. Melihat Hana makan dengan lahap seperti ini, membuatnya yakin jika Hana sudah hidup dengan baik-baik saja. Apakah doanya sudah terkabul? Dia rasa sudah, apa yang Dimas mau sudah dikabulkan oleh yang kuasa.


"Jika ada masalah hubungi kakak, apa pun itu. Mengerti?" Hana mengangguk paham, itu membuat Dimas lega.


"Kakak tahu keberadaan, Anna? Aku sudah lama tidak melihatnya." Seketika senyumannya luntur, mendengar nama itu membuatnya teringat akan segala masa lalu yang buruk.


"Kakak tidak tahu, lebih baik jangan membahasnya."


"Kenapa?"


"Kakak bilang cukup, Hana." Hana hanya menunduk, ia tidak berani bertanya lagi setelah Dimas sudah mulai meninggikan nada bicaranya.


Pria itu menyadari kesalahannya, seharusnya Dimas tidak seperti itu. Hana berhak bertanya karena Anna juga saudaranya, apa lagi mereka berdua kembar. Wajar saja jika Hana akan bertanya keadaan kembarannya karena beberapa hari ini tidak terlihat. Tapi Dimas tidak bisa munafik, ia masih membenci adik perempuannya itu karena masa lalu yang belum bisa dia lupakan.


'Maafkan kakak, Hana. Kakak tidak bisa memaafkan seseorang yang sudah menyakitimu dengan mudah. Tapi kakak berjanji, berusaha agar tidak menyakitinya.'

__ADS_1


__ADS_2