Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 28


__ADS_3

Hana tengah membersihkan apartemennya, karena sudah hampir seminggu apartemen tidak dibersihkan dan juga agak lumayan berantakan.


Setelah itu ia akan berangkat bekerja nanti, tapi sebelum itu harus menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Bukan permintaan Dimas, Hana hanya mau lebih membantu untuk pria itu saja karena sudah bekerja terlalu keras.


Di tengah kegiatannya membersihkan rumah, tiba-tiba saja suara pintu terbuka membuat Hana mengalihkan pandangannya dan ternyata kedatangan Dimas.


"Kakak sudah pulang? Kakak istirahat saja dulu, Hana mau bersih-bersih sebentar." Ucap Hana dengan senyuman seperti biasanya, Dimas tidak menjawab dengan kata-kata apa pun dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan Hana di sana.


Gadis itu juga hanya diam dan memaklumi, mungkin Dimas tengah lelah melakukan kegiatannya. Terlalu sibuk sampai lupa waktu istirahatnya sendiri, Hana memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan lanjut masak untuk makan malam nanti walaupun masih sore. Tapi Hana akan berangkat bekerja sekitar jam 6 sore nanti, masih sempat untuk memasak.


Gadis itu sibuk dengan dunianya sendiri, setelah acara memasaknya selesai. Hana membersihkan diri, dan kemudian berangkat bekerja. Sebelum itu, ia menoleh ke arah kamar Dimas yang masih tertutup. Dimas tidur? Mungkin saja, Hana mengambil kertas dan menuliskan kata-kata di sana dan meletakkannya di atas meja. Dan setelah itu dia pun berangkat bekerja.


Berselang beberapa menit, Dimas keluar dari kamarnya dengan pakaian berbeda, jauh lebih santai dan juga segar. Pria itu akan pergi lagi, tapi baru saja ia akan berjalan ke arah pintu keluar ia melirik ke arah meja makan yang terdapat tutup makanan.


Dimas membuka tutup saji itu dan melihat ada tiga menu makanan, dan semua adalah makanan kesukaannya. Dimas memang lama tidak makan makanan rumahan karena dia terlalu sibuk walaupun sekedar untuk tidur sebentar saja. Pria itu juga melihat kertas di meja juga.


Ia mengambilnya dan membaca kertas tersebut, ia tahu siapa yang menulis kertas itu. Pria itu tidak menanggapi apa pun, ia menutup tutup saji dan kemudian langsung pergi begitu saja. Tanpa menyentuh masakan adiknya, yang sudah di buat susah payah.


Di tempat lain, Hana tengah berjalan ke arah tempat kerjanya yang memang tidak jauh dari gedung apartemennya. Ia berjalan, seraya berpikir.


'Aku merasa ada yang berbeda.'


Tidak tahu apa yang dia maksud sekarang, berbeda dalam hal suasana apartemen yang semakin lama semakin sepi. Tidak tahu apa akibatnya, gadis itu hanya merasa kesepian dengan dirinya sendiri. Sendirian dan melakukan apa pun sendiri, memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus merepotkan kakaknya.

__ADS_1


Bertujuan baik memang, dan lagi pula Hana juga berusaha menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan lainnya atau untuk berkumpul dengan Dimas.


Tapi sekarang, sudah satu minggu Dimas tidak pernah menanggapi dirinya. Dengan alasan sibuk bekerja dan juga sibuk dengan kekasihnya. Tidak apa, lagi pula itu adalah dunia Dimas dan Hana tidak bisa ikut campur sekarang.


Langkahnya semakin dekat dengan tempat kerjanya, Hana akan masuk ke dalam dan melakukan pekerjaannya seperti biasanya. Ia akan sangat sibuk dan lebih mementingkan pekerjaan seraya belajar jika ada waktu longgar setidaknya hanya 5 menit saja.


•••


Theo berada di markas gengnya Vesselsoft. Di saja juga ia tidak melakukan apa pun selama ia belum mendapatkan gilirannya untuk maju menghadapi musuh yang memberikan tantangan yang tidak masuk akal.


Tidak masuk akal karena mereka menantang kelompok mereka yang jelas-jelas sudah ahli dalam hal balapan, otak mereka sepertinya memang tinggal setengah.


"Theo, kau yakin? Keadaanmu sedang tidak baik untuk melakukan-"


Begitu banyak yang menunggunya, Theo memakai penutup mulut dan hidung karena akan banyak asap nantinya yang akan menanggung konsentrasinya nanti. Lelaki itu masuk ke dalam mobil yang sudah di jaga oleh salah satu temannya, semoga saja tidak ada penghianat. Ia hanya benci dengan manusia jenis itu.


Memposisikan mobilnya berada di jalanan sircuit dan menatap ke depan dengan tatapan datarnya, walaupun musuhnya seolah meremehkannya. Mungkin karena Theo memang jarang terlihat karena dia banyak kegiatan yang jauh lebih penting dari semua ini.


Kenapa dia datang? Karena permintaan Juan tentu saja, Juan ia anggap seperti adiknya sendiri dan mana mungkin Theo menolak ajakan pemuda yang memiliki umur 2 tahun lebih muda darinya itu. Ia juga benci kekalahan, sedikit menguntungkan.


Di luar sircuit juga ada Surya yang melihat, ia akan menunggu gilirannya juga setelah Theo. Ia merasa sepertinya Theo tengah tidak dalam keadaan baik-baik saja, ya kalau memang benar begitu. Bagaimana emosional Theo tidak bisa di tebak, entah dari ekspresi maupun singkat beda tipis.


Wajah datarnya tidak menggambarkan apa pun kenyataannya mewakili semua perasaannya, bahkan sejak dia datang masuk ke area wajahnya sudah tidak bersahabat walaupun hanya terlihat mata tajamnya itu.

__ADS_1


"Ready? Countdown from now." Theo menarik pedal gasnya tidak terlalu mentok, ia hanya mau mesin mobilnya sementara beradaptasi sebentar setidaknya sampai hitungan mundur itu selesai.


Ia tidak menoleh ke mana-mana, fokus ke depan dengan segala rencana yang sudah berada di dalam kepalanya sepanjang hari. Ia pun mulai menarik kakinya dari rem yang dia injak, itu juga berguna untuk mempercepat kecepatan mobilnya ketika melaju nanti.


Theo mulai menarik pedal gas dan juga menjauhkan kakinya dari tarikan rem di bawah kakinya. Sampai hitungan mundur selesai.


"Start!" Bendera berkibar bersamaan dengan suara tembakan yang terdengar dari seluruh tempat, sekaligus suara mesin dan gesekan ban mobil dengan jalanan terdengar juga.


Theo benar-benar melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan hal yang lain, lelaki itu terus mengendalikan setirnya dengan baik. Tanpa aba-aba sama sekali, sebelumnya ia diberikan alat untuk berkomunikasi tapi kenyataannya dia malah melepaskan alat itu begitu saja.


Dan kepalanya mendadak memikirkan seseorang. Gadis itu kembali masuk ke dalam pikirannya, bahkan di mana ia mengingat bagaimana gadis itu tertawa, terdiam, yang paling membuatnya kesal adalah ketika mengingat gadis itu menangis hanya karena seorang laki-laki.


Dan dia tahu siapa laki-laki itu, maka dari itu ia juga tidak tahan memendam semuanya. Ia juga tidak akan sesabar itu untuk mengendalikan amarahnya yang sebenarnya ia akan keluarkan.


Tangannya menarik pedal gas, memutar setir dengan kasar dan membelokkan arah ke lain yang merupakan jalurnya. Tidak bisa dikendalikan emosinya sekarang, bahkan mobil musuh sudah ketinggalan jauh dengannya.


Sedangkan teman-temannya yang melihat pergerakan mobil yang Theo tumpangi merasa khawatir sekaligus tidak akan menyangka, Theo akan semarah ini? Kenapa?


'Dia itu kenapa?'


"Dia tidak mendengarkan intruksi ku, bagaimana ini?" Semuanya panik, antara khawatir dan takut jika apa yang mereka bayangkan akan terjadi.


"Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini." Juan juga tidak tahu apa yang terjadi kepada Theo, hanya saja sikap Theo yang seperti ini membuat anggota yang lain merasa khawatir yang teramat. Sedangkan Surya? Dia hanya menduga akan sesuatu walaupun ia tidak tahu apakah dugaannya itu benar atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2