Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 47


__ADS_3

Theo benar-benar menjauh seperti apa yang Hana katakan, tidak lagi menolong atau bahkan sekedar menatap saja tidak mereka berdua lakukan. Berawal dari sebuah tragedi menolong itu membuat mereka lumayan dekat, tapi satu sama lain sadar jika apa yang mereka berdua lakukan adalah kesalahan. Di sisi lain Hana tidak mau menghianati Satya walaupun Satya selalu bermain di belakangnya, sedangkan di sisi lain Theo sadar diri jika Hana adalah milik orang lain.


Bagaimana hubungan mereka? Tidak ada kepastian apa pun karena sama-sama menjaga dan hanya sekedar itu untuk sekarang, tidak dapat dijelaskan mengapa bisa terjadi.


Di tempat di mana Hana belajar justru ia selalu memikirkan banyak hal, tidak bisa dilupakan begitu saja. Hana bahkan enggan menunjukan wajahnya kepada seseorang, ia bahkan masih menggunakan topinya tanpa melepaskan benda itu dari kepalanya.


Aca sendiri jadi kebingungan, kenapa Hana mendadak memakai topi? Bahkan penampilannya juga berbeda dari yang sebelumnya, setelah menghilang salam dua hari lamanya Hana berubah.


Tidak ada yang salah, berubah mau kapan pun saja juga tidak akan ada yang melarang apa lagi masalah penampilan, selera orang berbeda-beda bukan? Aca tidak bisa menyalahkan Hana hanya karena penampilannya berubah.


Di tengah pelajaran diam-diam Raya memperhatikan Hana, ia bahkan mengabaikan dosen yang berada di depan sana. Gadis itu terus mengawasi, sampai ia menemukan bekas merah di pergelangan tangan Hana dan ketika gadis itu bergerak membuat lengan jaket panjangnya tersingkat ke atas.


'Apa itu? Seperti memar.'


Raya tidak mau salah paham dan membuat masalah yang semakin besar, ia harus menyelidiki semua ini. Lagi piala Hana semakin aneh, menghilang dan kemudian kembali dengan orang yang berbeda. Siapa yang tidak terkejut?


"Baiklah, sekian pertemuan hari ini. Ada yang mau di tanyakan soal tugasnya?"


"Tidak ada pak!"


"Baiklah, saya akhiri. Sampai jumpa besok dan have fun guys." Semua menjawab dengan serentak, Hana masih sibuk melamun sedangkan mahasiswa lain sudah membereskan barang-barang mereka hendak kembali ke rumah setelah 3 jam menjalani pelajaran rumit.


Aca berdiri, menghampiri sahabatnya itu dan menepuk bahu itu membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Aca dikejutkan dengan luka di tulang hidung Hana, gadis itu lantas memegang wajah Hana dengan ekspresi khawatir.


"Ada apa dengan hidungmu? Dan rambutmu-"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Aca." Ucap Hana seraya menurunkan tangan Aca dari wajahnya. Jujur saja masih sakit, tapi ia tahan karena berada di tempat umum seperti ini.


Sampai Raya dan Ayu datang menghampiri juga, tentu saja karena mereka mengkhawatirkan Hana juga. Bagaimana tidak? Keadaan Hana seperti jauh dari kata baik-baik saja sekarang.


"Kau serius? Biar aku lihat-"


"Tidak, tidak apa-apa, aku serius." Raya tidak jadi memeriksa keadaan Hana padahal dia penasaran dengan memar di pergelangan tangan Hana tadi.


Tapi melihat Hana seperti menutupi tangannya membuatnya yakin pasti ada sesuatu, sedangkan Aca sibuk bertanya-tanya akan keadaan Hana. Khawatirnya gadis itu sudah melebihi batasnya.


"Yasudah, bagaimana kalau kita makan? Hana datang terlambat pasti tidak sarapan."


"Iya benar, ayo ke kantin." Aca mengajak Hana, berakhir Hana tidak bisa. menolak ajakan teman-temannya itu.


Di tengah perjalanan mereka ke kantin, mendadak seseorang menyandung kaki Hana. Membuat gadis itu nyaris terjatuh, karena di sampingnya ada Raya dan gadis tomboy itu menahan badan Hana agar tidak semakin jatuh ke lantai. Rintihan sakit itu terdengar ketika Raya tidak sengaja memegang pergelangan tangan Hana.


"Ups, maaf ya aku tidak sengaja." Mereka meminta maaf memang tapi masih dengan senyuman tanpa dosanya, Raya menerima itu? Jangan pernah bermimpi, dan seketika tangan Raya melayang menampar Anna di saat itu juga.


"Aku tahu kau sengaja melakukan itu, sebenarnya kau ada masalah apa sih sama Hana?" Ucap Raya dengan sombong, ia masih melihat Anna memegang pipinya yang di tampar oleh Raya dan tamparan itu cukup keras membuat pipinya merah.


"APA MAKSUDMU MENAMPARKU!?" Raya hanya tersenyum tipis dan menendang kaki Anna, gadis itu terjatuh cukup keras di atas lantai.


Siapa yang menduga jika ada gerombolan anak laki-laki di dekat mereka dan di sana ada Satya yang tengah mengobrol dengan teman-temannya, tapi karena keributan itu menyita perhatiannya. Ia melihat Anna terjadi di lantai dengan Raya yang berdiri di depan gadis itu dengan angkuh.


Tentu saja Satya berlari ke arah Anna, bersama dengan yang lain sedangkan Theo berjalan dengan santai di belakang tanpa ada rasa panik. Satya menolong Anna berdiri.

__ADS_1


"Kamu tidak apa kan?" Satya benar-benar menolong Anna, sedangkan Anna mengangguk dengan air mata yang terjatuh.


Raya merotasi bola matanya, baginya Anna itu lebay sekali seperti cirambay. Hanya jatuh seperti itu saja sudah menangis apa lagi jika di banting, apa tidak mati orang itu?


"Apa yang kau lakukan kepadanya?" Pertanyaan Satya yang dilayangkan kepada Raya yang berdiri di depannya, tidak sengaja Satya melihat ke arah Hana yang menunduk. Tangannya menggenggam tangan Ayu dengan erat, ia tidak mau terjadi lagi.


"Aku? Hanya menamparnya saja sebagai kejadian yang impas, tidak adil jika yang disakiti hanya satu jadi aku menambah dua orang." Ucap Raya tanpa merasa bersalah dan dia bahkan masih sempat tersenyum ke arah Satya seperti tidak melakukan apa pun.


"Kau menamparnya?" Raya mengangguk, dan melihat Anna menangis di pelukan Satya. Sedangkan Hana tidak mau melihat semua itu meskipun ia harus terbiasa dengan pemandangan itu.


Ketika Satya maju dan tangannya hendak melayang ke arah Raya, gadis itu tidak gentar sama sekali dan tamparan itu hendak mendarat ke arah Raya seseorang mencengkram tangan Satya terlebih dahulu membuat terhenti pergerakan tersebut.


Satya melihat Theo berdiri di sampingnya dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan lagi, pria itu hanya menatap dengan tatapan datar tanpa ekspresi apa pun yang menunjukan emosional yang ada.


"Kau mau menamparnya, kau harus menghadapi aku dulu." Ucapan Theo yang baru saja keluar membuat semua orang terdiam.


Pria itu melirik ke arah Hana yang masih dalam posisinya tanpa mengubah apa pun, ia tahu apa yang terjadi dan ia melihat ke arah Anna yang terus menangis.


"Bertingkah seperti korban, ekting mu cukup bagus tapi begitu menunjukan jika kau itu busuk."


"Apa kata mu-"


"Aku malas mengulangi kata-kataku, kau bisa memotong telinga mu agar lebih jelas mendengar." Theo pergi begitu saja dan meninggalkan kawasan tersebut meninggalkan kata-kata menusuk untuk gadis itu.


Sedangkan Hana mendongak, ia menatap punggung Theo yang mulai menjauh itu dan kemudian hilang. Raya tersenyum puas, tidak salah memang dia berbagi rahim dengan Theo karena pada akhirnya pria itu juga akan selalu melindunginya, walaupun Raya juga bisa jaga diri. Jadi terpikir di benaknya, apa saat di dalam perut Theo selalu mengacuhkannya atau tidak ya?

__ADS_1


"Ayo aku obati lukamu." Satya mengajak Anna untuk pergi ke ruang kesehatan dan meninggalkan empat gadis itu berada di sana.


'Kamu bahkan tidak melirik ku."


__ADS_2