Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 61


__ADS_3

Berjalan 3 hari lamanya hubungan mereka sudah mulai membaik seperti banyak pasangan lainnya. Seperti biasa juga, Hana akan terus bersih keras untuk memasak sarapan untuk pagi ini dengan menu yang berbeda.


Ia juga menunggu Satya selesai mandi, dan mereka akan berangkat ke kampus bersama tentu saja. Bukan karena kemauan Hana, tapi Satya yang mau melakukan semua itu. Ia hanya mau memperbaiki hubungan sekaligus mempublikasikan hubungan mereka tapi Hana masih tidak berani mengatakan langsung jika dirinya dan Satya sudah menikah.


Mungkin Satya akan memaklumi itu, pria itu akan menurut melakukan apa permintaan istrinya itu. Jika tidak mau di publikasikan sebagai suami istri, mungkin jadi kekasih masih lumayan bukan? Atau tunangan saja, sepertinya itu akan di pikirkan oleh Satya nanti.


Makanan sudah siap, dan Hana duduk di salah satu kursi seperti biasa. Bahkan seperti sebelumnya gadis itu masih bersikap sama saja, tidak ada yang berubah sama sekali. Sampai di mana ia melihat Satya menuruni tangga dengan pakaian yang rapih, dan menghampiri Hana.


"Tolong pakaikan dasinya, aku tidak bisa." Ucapnya dengan permohonan, Hana tidak keberatan atas permintaan Satya itu.


Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Satya, ia mengambil alih dasi tersebut dan memakaikannya ke Satya, pria itu sangat tampan jika dari dekat dan Hana tidak pernah merasa sedekat ini.


Satya juga menunduk, melihat bagaimana Hana memasangkan dasi kepadanya. Istrinya memang begitu cantik, memang benar apa kata Juan jika dirinya benar-benar menyia-nyiakan istri seperti Hana yang begitu sempurna.


"Jangan melihatku seperti itu." Hana mencoba agar tidak menatap Satya, wajahnya susah memerah sekarang dan semoga saja Satya tidak melihat itu. Tapi mustahil karena jarak mereka berdua dekat sekarang, mustahil Satya tidak bisa melihat wajah merah yang begitu lucu itu.


"Kenapa? Tidak boleh ya, padahal wajah cantik seperti ini tidak bisa di abaikan." Ucapnya dan merangkul pinggang Hana dengan posesif, jaraknya memang tidak lagi di hitung atau bahkan di prediksi seberapa dekat.


Begitu dekat sampai sekarang Hana bisa merasakan detak jantung Satya, yang membuat wajahnya semakin merah. Pria itu justru malah terkekeh pelan melihat wajah merah istrinya, memang pertama kalinya ia melakukan semua ini dan ternyata menyenangkan.


Kenapa ia tidak melakukan ini sejak awal? Maka hidupnya tidak akan penuh dengan masalah dan justru beralih dengan sejuta cahaya di dalam kehidupannya. Ia menyesal melakukan semua kesalahan bodoh itu.


"Jangan melihat ku, aku bilang-"


"Kenapa kau cantik sekali hari ini? Kau sengaja ya?" Hana seketika menoleh dan menatap Satya dengan tatapan kebingungan.


"Sengaja apa?"


"Sengaja dandan agar pria-pria itu memperhatikan mu dan jatuh cinta kepadamu. Kau mau menduakan aku ya?" Entah sikap Satya yang mendadak menjadi seperti ini membuat Hana merasa aneh sekaligus geli. Ia mendorong dada suaminya itu agar menjaga jarak setidaknya sedikit saja tapi seolah menolak, pria itu justru semakin merapatkan jarak mereka berdua, bertambah dekat sampai seolah Satya mencium gadis itu di posisi ini.

__ADS_1


"Kau saja bisa, kenapa aku tidak boleh?"


"AAAA!! TIDAK MAU! JANGAN LAKUKAN ITU!! HUWAAA HANA!" Hana tertawa, ia mendorong Satya lagi dan berhasil melepaskan diri.


Tapi Satya menarik tangan istrinya itu, memeluk istrinya dari belakang membuat Hana terdiam. Kenapa suasananya mendadak menjadi aneh? Atau memang Hana sendiri yang tidak terbiasa?


Tapi ada sebuah perasaan aneh, seolah ada kupu-kupu di dalam perutnya yang menggelitik sekarang. Hana tidak bisa menahan malunya sendiri, wajahnya merah tidak bisa menahan senyuman bahagianya dan Satya seolah juga malu melakukan semua itu.


Menyembunyikan wajahnya di antara tekung leher istrinya itu, menghirup aroma istrinya itu dalam-dalam. Kenapa menjadi candu dari sebelumnya? Aroma yang tidak menyengat tapi nyaman.


"Satya, lepaskan dulu. Nanti terlambat bagaimana?"


"Aku akan bernegosiasi dengan dosen nanti, tenang saja."


"Kau ini, apa maksudnya?" Satya tidak menjawab apa pun dan juga tidak melepaskan pelukannya sama sekali.


Saat sampai di kampus, semua terlihat berbeda. Beberapa mahasiswa satu kelas dengan Hana bertanya akan keadaan gadis itu sekarang bahkan berita di mana Hana terkena musibah tidak tersebar. Mungkin karena privasi dan tidak mau jika di bahas lagi, Hana mengingat dan kembali drop.


Anggota Elang dan Vesselsoft tidak membalas lagi, mereka seolah mengabaikan kejadian tersebut bahkan termasuk semua tragedi yang sempat terjadi.


Hana kembali ke kampus dengan keadaan baik, mungkin ada beberapa luka yang masih terlihat tapi samar-samar saja. Mungkin yang memperhatikan akan bisa melihat luka-luka itu, tapi Hana seolah mengabaikan semua itu. Ketika berada di lorong bersama dengan Satya, satu kampus sempat gempar.


Karena kebenaran jika Satya adalah kekasih Anna, bukan Hana. Tapi sekarang, mungkin ada urusan pribadi yang tidak bisa mereka ketahui dan mereka hanya melihat saja. Mendukung pasangan itu lebih dari pasangan sebelumnya, lagi pula Hana nampak cocok dengan Satya. Pria itu juga tidak ada salahnya, sama-sama populer.


"Hana?" Aca berhenti di tepat di depan Hana dan Satya, sepertinya dia kebingungan dengan situasi sekarang.


"Aca, aku bisa jelaskan-"


"Jelaskan apa? Tidak apa santai saja, lagi pula perasaan tidak bisa di paksa. Salah ku juga tidak bertindak cepat." Hana hanya terdiam, dengan Satya juga yang diam sejak tadi. Ia memilih untuk segera pergi saja, urusan perempuan itu rumit. Ia tidak mau menambah pikirannya.

__ADS_1


Aca menoleh ke belakang di mana Satya pergi begitu saja, ia menatap Hana dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan tapi senyuman itu seolah menutupi sesuatu.


"Maafkan aku..."


"Maaf? Ayolah Hana, tidak apa-apa. Lebih baik kita sarapan, karena Raya juga menunggu di kantin." Hana ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Aca justru menariknya ke kantin membuatnya bingung harus berbicara dari mana.


Ia tidak bermaksud dan itu sungguh tidak masuk ke dalam apa yang Hana bayangkan, perjodohan itu. Hana belum cerita kepada Aca, seharusnya ia jujur sejak awal dan tidak akan membuat situasi menjadi rumit seperti sekarang.


Mereka berdua sampai di kantin, dengan Raya dan Ayu yang berada di tempat duduk mereka. Raya melambaikan tangannya heboh, ia bahkan berlari ke arah Hana dan memeluk gadis itu dengan girang.


"Kemana saja kamu? Kau tahu? Aku khawatir dengan mu." Ucapnya membuat Hana tersenyum, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini.


"Maafkan aku."


"Kau ini minta maaf terus, ayo makan." Aca mengatakan itu dan menarik Hana ke kursi, di ikuti oleh Raya yang berjalan di belakang kedua sahabat itu.


Berakhir mereka berempat makan bersama, dengan mengobrol banyak hal bersama. Setelah beberapa hari Hana tidak berangkat memang banyak yang berubah sekarang, terutama Aca yang sepertinya dia masih terkejut dengan kejadian tadi. Hana merasa bersalah dengan sahabatnya itu, bagaimana ia harus menjelaskan semuanya? Ia tidak mau semakin menambah rumit situasi.


Di tengah mereka mengobrol, tidak sengaja Hana bertukar pandangan dengan seseorang yang juga menghilang. Dia sudah kembali, pria itu menatap ke arah Hana dengan tatapan aneh. Hana tidak paham, tapi beberapa detik kemudian pria itu mengalihkan pandangannya dan kemudian menatap temannya.


Hana merasa sekarang ada yang berbeda, setelah dirinya bangun dari kritis dan bahkan keluar dari rumah sakit. Kenapa terasa berbeda? Atau Hana saja yang berprasangka buruk?


"Hey, kalian membicarakan apa? Sepertinya seru sekali ya."


"Tidak ada, kami hanya bicara sesuatu yang pria tidak boleh tahu. Benar bukan teman-teman?"


"Benar sekali, kak Wildan jangan ikut-ikut." Ucap Aca dan ia seolah mengusir Wildan sekarang. Tidak merasa tersinggung atau semacamnya, itu sudah biasa bukan? Itu hanya guyonan mahasiswa.


"Kalian ini, Mengghibah terus. Kelas akan di mulai, cepat makan kalian nanti telat." Ucapnya dan kemudian ia sekilas menatap ke arah Hana, tersenyum singkat dan kemudian melangkah pergi dari sana meninggalkan ke empat perempuan itu kembali mengurus urusan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2