
"Hana, ayo makan dulu. Sekalian ada yang mau kakak bicarakan sama kamu." Ucap Dimas, ia mengetuk pintu kamar Hana dengan pelan agar tidak mengejutkan adiknya.
Sampai pintu kamar terbuka membuatnya tersenyum, melihat Hana yang sekarang. Tidak ada luka atau pun tangisan yang biasa ia dengar, membuatnya merasa lega walaupun terkadang Dimas merasa semua itu masih kurang.
"Ayo makan dulu, nanti asam lambung mu naik." Hana hanya mengangguk dan membereskan buku-bukunya yang berada di atas meja, dan kemudian berlari ke arah meja makan.
Seperti apa yang Dimas inginkan, lelaki itu memasak untuk makan malam. Yang membuat Hana penasaran adalah, apa yang Dimas bicarakan dengannya nanti? Entah lah, mungkin akan dia katakan ketika makan malam selesai.
Hana dan Dimas makan dengan tenang, tanpa suara sekaligus nampaknya Dimas tengah memikirkan banyak hal sampai ia hanya menatap kosong ke arah piring makanannya. Hana merasa aneh dengan Dimas yang sekarang, tidak seperti biasanya di mana Dimas akan banyak bicara dan bercerita apa yang dia lakukan selama satu hari.
Tapi makan malam ini hanya dipenuhi rasa sepi dan sunyi, walaupun tenang tidak ada yang membuat mereka berdua merasa terganggu. Tapi tetap saja, Hana merasa berbeda dengan suasana hari ini.
Tidak terasa makan malam sudah berlangsung dan sudah selesai. Dimas tidak beranjak dari tempat duduknya, dan Hana juga biasa mengikuti Dimas. Tapi karena lelaki itu hanya diam, Hana juga ikut terdiam juga.
"Kakak mau bicara sebentar boleh?"
"Kenapa kakak malah bertanya, bicara saja. Hana akan dengarkan." Jawaban itu, Dimas sudah menduga jika gadis itu akan mengatakan jawaban seperti itu.
Walaupun Dimas ingin bicara dan berkeluh kesah, tapi pembicaraan malam ini berbeda dengan yang biasanya. Mengenai kedepannya, bukan sebuah masa depan yang Dimas susun sejak lama. Melainkan sebuah perubahan yang secara terpaksa.
"Maafkan kakak, sepertinya ayah memblokir sistem kerja kakak membuat kakak tidak bisa bekerja lagi, dan ayah mau kita kembali ke rumah." Hana hanya diam, walaupun di dalam hatinya ada sebuah keterkejutan yang amat.
Hana tidak merasa jika itu adalah permintaan yang baik, di tambah lagi mereka bilang tidak akan menganggap Hana sampai kapan pun membuat Hana ragu harus kembali ke rumah itu. Tapi di sisi lain, melihat keadaan Dimas yang tampak kacau karena pekerjaannya kacau karena ulah ayah mereka.
Tentu saja mau tidak mau, tapi ingat jika Dimas tidak akan diam saja jika kejadian dahulu terulang lagi. Ia akan bertindak dan masa bodoh jika ia harus menyerahkan nyawanya sekali pun, ia akan menyerahkan segalanya demi kehidupan Hana yang jauh lebih baik.
"Tidak apa, jika itu membuat kakak baik-baik saja. Hana akan ikut kakak." Dimas menunduk, ia menangis di sana bersamaan dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
__ADS_1
"Maafkan kakak, kakak tidak becus menjadi seorang kakak yang kamu inginkan. Kakak memang tidak pantas hiks hiks."
Hana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Dimas. Memeluk kakaknya itu yang begitu banyak tekanan yang ada, sedangkan Hana sendiri tidak bisa membayangkan akan apa yang terjadi nanti. Hana akan pasrah nantinya, memang ia bisa apa?
Mau melawan rasanya percuma, Hana tidak bisa melakukan apa-apa dan juga tidak punya apa pun yang membuat mereka menghargai keberadaan Hana. Sulit menerima keadaan yang ada, tapi Hana berusaha. Ia akan melakukan apa saja, apa saja.
'Tuhan, lindungi kami. Aku tahu kalau ada sebuah jalan yang baik dan menjanjikan kebahagiaan kepadaku.'
•••
Keesokan harinya, Hana tidak langsung ke rumah karena Dimas masih mengurus urusannya sebentar. Tapi ia tidak masalah, lagi pula Hana juga ragu untuk kembali ke rumah itu lagi.
Di tengah lamunannya, seseorang merangkulnya. Siapa lagi kalau bukan Aca, teman satu-satunya yang Hana miliki. Senyuman dan tawanya membuat Hana melupakan segala masalah yang ada, cukup bersyukur memiliki teman sebaik Aca seperti sekarang.
"Hey, kenapa kamu melamun? Ada masalah?" Hana menggelengkan kepalanya dan tersenyum, ia mencoba membuat suasana seolah tidak akan ada yang terjadi.
"Tentu saja belum, ayo kita sarapan dulu sebelum kelas di mulai." Hana mengangguk dan mengikuti kemana arah Aca akan membawanya.
Lebih tepatnya mereka berada di kantin kampus mereka. Suasananya yang begitu ramai, tidak seramai jam kelas siang karena akan banyak mahasiswa yang akan datang. Entah hanya sekedar makan, menunggu jam kelas mulai atau bahkan hanya mampir saja.
Aca seperti biasa akan memesan makanan dan Hana akan mencari tempat duduk untuk mereka sarapan bersama. Hana duduk di kursi dan siapa sangka jika kursi yang hendak Hana duduki di tarik seseorang membuat Hana terjatuh di atas lantai.
Semua mahasiswa melihat kejadian itu, termasuk Theo yang duduk di kursi pojok kantin. Ia langsung mengalihkan pandangannya, menatap ke arah depan. Melihat ada seorang gadis yang tidak tahu siapa, Theo tidak pernah merasa melihat manusia satu itu.
"Ups, maafkan aku. Kamu tidak apa?" Hana mendongak dan membeku di saat itu juga, bagaimana bisa dia ada di sini?
Seseorang datang dan menolong Hana. Teman satu kelas Hana, walaupun tidak pernah berbincang dan hanya saling sapa. Orang itu lantas menatap ke arah gadis asing itu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku yakin kau tidak bodoh, kau sengaja menarik kursi Hana kan?"
"Aku tidak sengaja, lagi pula aku sudah minta maaf. Iya kan, Hana?" Hana hanya diam dan tidak menjawab apa pun. Itu membuat gadis berdarah Solo itu menjadi marah, ia tidak marah kepada Hana hanya karena gadis itu tidak bisa menjawab. Tapi ia marah dengan orang asing di depannya.
"Aku tidak pernah melihatmu, kau mahasiswa baru ya? Baru masuk saja sombong sekali kau, punya nyali sebesar apa kau?" Apa yang dikatakan oleh Raya membuat Anna merasa diremehkan.
"Aku sudah bilang, aku sudah minta maaf."
"Apakah maaf mu itu akan mengembalikan keadaan? Tidak bukan, tampang mu seperti tukang bully di sekolah."
Kalimat yang seketika membuat Anna merasa kesal, tapi ia mencoba menahan rasa kesalnya dan mencoba tetap tersenyum. Ia melihat ke arah Hana yang hanya diam tidak mengatakan apa pun.
Raya tampak tidak bisa dikalahkan dengan apa pun, bahkan nyali Raya yang jauh dari dugaan Anna sepertinya Raya bukan target yang bagus. Lagi pula targetnya sejak awal adalah Hana, tapi ia tidak akan menyangka jika di kampus Hana memiliki banyak teman.
"Baiklah, aku minta maaf."
"Hana, apa kau mau memaafkan gadis bodoh ini?" Hana hanya mengangguk, dan itu membuat Anna semakin tidak punya harga diri sama sekali.
"Di maafkan. Lain kali, kalau mau membully orang lihat sekitar. Kau bukan tandingan ku, jika aku melihat ini sekali lagi. Jangan salahkan aku, harga dirimu akan turun menjadi pelacur di sini." Ucap Raya, sebelum dia pergi ia menepuk bahu Hana dan menarik Aca untuk duduk bersama Hana.
Aca baru saja datang dan sudah melihat keributan, di tambah gadis di depannya yang tampak asing di matanya. Melihat ke arah Anna dengan tatapan aneh, Raya pasti punya alasan sampai mengeluarkan kata-kata tajamnya.
Lagi pula Raya anak psikologi, tidak mungkin ia membuat mental orang jatuh dalam sekejap tanpa alasan. Ia akan membela yang benar meskipun semua yang dia lakukan salah di mata semua orang.
"Kamu tidak apa, Hana?"
"Aku baik-baik saja." Melihat merasa situasi tidak seperti harapan, Anna pergi dari kantin dengan gunjingan banyak mahasiswa di sana. Tentu saja ejekan akan melayang kepadanya.
__ADS_1
Sedangkan Theo masih berada di pojok kantin, ia menatap ke arah Raya yang tengah meminum kopi yang dia beli bersama Ayu. Gadis itu melirik ke arah Theo dan mengangguk seperti memberikan kode, dan kemudian Raya pun pergi bersama temannya untuk pergi ke kelas. Sedangkan Theo melanjutkan acara membacanya.