Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 117


__ADS_3

Tengah malamnya, keadaan rumah sudah sepi walaupun memang tidak terlalu gelap. Karena sebuah suara membuatnya terkejut, kemudian terbangun. Hana menoleh ke segala arah, kenapa suasananya sepi seperti ini? Perempuan itu membuka matanya, dia bahkan tidak bisa berpikir karena terlalu takut. Dia mencoba menyalakan lampu tidur tapi tidak sampai, dia pun menarik selimutnya itu dan menutupi badannya sendiri.


Berusaha untuk tidur lagi, tapi tidak bisa. Sampai di mana hanya satu orang yang dia ingat sekarang, perempuan itu langsung beranjak dan berjalan cepat keluar dari kamarnya. Melihat suasana rumah yang hanya mendapatkan cahaya yang minim membuatnya semakin ketakutan.


Perempuan itu berjalan ke arah kamar yang dia tahu itu adalah kamarnya Johan, dia mengetuk pintu kamar tapi tidak ada yang menjawab sama sekali. Keringat dingin keluar, pikirannya semakin memburuk ketika ia melihat suasananya yang gelap.


"Johan..." Sedangkan yang dia dalam tertidur terlalu pulas setelah mengerjakan banyak pekerjaan kantor yang tiada akhirnya.


Hana mengetuk pintu Johan terus menerus tapi tidak ada jawaban, karena terlalu takut perempuan itu masuk ke dalam kamar Johan tanpa berpikir panjang. Menutup pintu dengan kencang, kemudian tidur di samping Johan. Pria itu tidak bergeming, sampai saat di mana dia merasa ada seseorang di sampingnya.


Pria itu menatap ke depan, dia tidur menyamping ke kanan dan sekarang dia melihat seseorang tidur di sampingnya. Perawakannya tidak asing baginya, dia pun memeriksa keadaan dengan menyalakan lampu tidurnya.


"Hana? Bagaimana bisa kamu di sini?" Hana langsung mendongak keluar dari tempat persembunyiannya, yang lebih tepatnya dia menenggelamkan dirinya di selimut tebal milik pria itu.


Hana tidak bisa menjawab, antara dia takut keluar dan dia juga takut jika Johan mengusir dirinya. Tapi kenyataannya pria itu tidak melakukan apa pun, dia berusaha beranjak dari tempat tidurnya.


"Ada apa?" Ucapnya dengan nada pelan agar Hana tidak takut kepadanya sekarang, tahu keadaan Johan sekarang.


Dia telanjang dada, jadi tentu saja Hana bisa melihat semuanya dengan jelas tapi tidak menghiraukan pemandangan itu dan lebih memilih bersembunyi, dia ketakutan.


"Ada sesuatu di kamar mu?"


"Iya! Tadi ada suara, jadi aku ke sini."


"Jadi kau takut dengan suara itu?" Hana mengangguk, dia terus bersembunyi di selimut tidak mau keluar dari sana.

__ADS_1


Entah apa yang sudah membuat perempuan itu menjadi seperti ini? Hanya suara bukan? Apa yang harus di takutkan dari sebuah suara yang mungkin jika Hana yang mendengar akan menyeramkan, mungkin saja kucing yang bermain di taman belakang membuat suara keras di malam hari yang sunyi ini.


Mungkin saja memang seperti itu, tapi Hana tidak mau menghiraukan karena dia terlanjur ketakutan sekarang. Sekarang harus apa? Ketakutan semakin menguasai Hana ketika suara barang jatuh terdengar keras di bawah sana.


Johan yang awalnya memperhatikan tingkah lucu yang perempuan itu lakukan, karena suara yang tiba-tiba saja muncul membuatnya terkejut. Dia menatap ke arah pintu yang di mana tidak terlalu rapat tertutupnya. Ia tahu siapa yang melakukan semua itu? Siapa lagi bukan Hana yang masuk tiba-tiba seperti tadi.


Pria itu hendak beranjak dari ranjang dan memeriksa keadaan di lantai bawah, tapi Hana justru menahannya dan dia masih tetap berada di tempatnya dan enggan harus keluar.


"Kamu mau kemana? Jangan pergi dulu, di luar ada hantu."


"Hana, di sini tidak ada hantu." Ucapnya dengan penuh keyakinan, sepanjang hidupnya Johan mana takut dengan hantu.


Menurutnya mahkluk seperti itu memang ada, tapi mereka tidak terlihat dan punya dunia sendiri. Jika mereka punya dunianya sendiri, kenapa harus mengangguk mahkluk dari luar dunia mereka? Lumayan aneh, sebagai penghuni dunia ini Johan juga merasa terganggu, terlebih lagi malam seperti ini. Seharusnya ia tertidur sekarang, begitu juga Hana. Tapi karena suara aneh itu membuat mereka berdua berjaga.


"Tapi-"


Dia bersembunyi di belakang punggung Johan, pria itu hanya menggelengkan kepalanya heran. Dia melangkah keluar dari kamarnya, dia pun mulai menyalakan lampu yang bisa di jangkau saklarnya. Beberapa lampu saja yang hidup, karena rumahnya memang lumayan besar. Satu lampu tidak akan cukup membuat rumah itu terang.


Suara semakin menjadi sekarang, Johan melirik ke arah jam dinding yang menunjukan ke angka 2. Tepat hampir subuh, istirahatnya tertunda sekarang. Pria itu semakin menuruni anak tangga, tentu saja dengan Hana di belakangnya dan Johan tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Hana.


Mereka berdua menuruni anak tangga, Johan membawa ponselnya untuk dijadikan senter, dia akan mencari saklar lampu dan kemudian menghidupkan lampu rumahnya untuk memastikan jika tidak ada penyusup di rumahnya sekarang.


"Johan, kamu yakin mau menghampiri suara itu?" Johan sebenarnya tidak yakin, apa lagi dia membawa Hana sekarang. Masih bagus jika hantu, bagaimana jika bukan hantu melainkan penyusup? Tapi mustahil, banyak bodyguard di rumahnya bahkan di luar sana juga masih beberapa yang berjaga.


Kenapa Johan tidak meminta bantuan bodyguard itu saja? Dia malas teriak. Jadi lebih bagus di tangani sendirian, majikan mandiri.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Tetap berada di belakang ku jangan lepaskan tanganku." Hana mengangguk patuh seperti anak kecil, dia menuruti apa yang Johan katakan kepadanya.


Johan melangkah ke arah dapur di mana suara tadi berasal tadi, tapi suaranya mendadak pindah ke perpustakaan rumahnya. Bayangkan saja bagaimana gelapnya perpustakaan rumahnya jika malam jari, Hana akan ketakutan nantinya.


Suara yang muncul di perpustakaan pindah lagi ke ruang tamu, mereka berada di ruang tamu sekarang atau lebih tepatnya tidak jauh dari sana. Hana yang terkejut reflek memeluk Johan dari belakang.


"Hantu, hantu Johan!"


"Hana, tenang." Johan menyorot senter ponselnya ke arah suara, salah satu guci kecil jatuh. Ketika ia mengarahkan cahaya senternya ke arah kaca, ia melihat jelas jika ada dua cahaya merah seperti mata di celah bagian bawah pintu yang tidak tertutup rapat.


"Siapa itu?"


"Apa maksudmu? Johan, kembali saja ke kamar."


"Tidak, sebentar." Hana memegangi erat tangan Johan, bagaimana Hana juga bisa melihat cahaya merah itu sekarang membuatnya semakin ketakutan.


Sampai di mana kucing secara tiba-tiba keluar dari ruangan dengan suaranya yang keras, Hana berteriak lagi karena dia juga terkejut dengan suara kucing yang begitu tiba-tiba sekaligus sekelibat benda hitam berlari, itu kucing.


"Hanya kucing, tidak ada hantu di sini aku sudah bilang."


"Tapi-"


"Ayo kembali ke kamar, tidur."


"Johan-"

__ADS_1


"Lupakan soal tadi, sudah terlalu larut. Ibu hamil tidak boleh begadang, ayo ke kamar."


__ADS_2