Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 92


__ADS_3

Menyakitkan jika terus di ingat-ingat kejadian saat itu, percaya atau tidak. Pada dasarnya semua itu tidak pernah terjadi jika tidak ada perselisihan, tidak ada yang memulai hanya saja sebuah perasaan iri datang membuat sebuah perasaan buruk itu muncul. Jangan terlalu banyak dijelaskan, karena semua kerasaan ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata apa pun.


Bima beranjak dari tempat duduknya, karena ia berpikir jika Hana butuh waktu untuk sendirian. Berpikir tentang mengakhiri semua ini juga bukan sebuah hal yang mudah, apa lagi posisi sekarang Hana mengandung seorang anak yang baru saja beberapa minggu, belum menginjak 1 bulan. Masih terlalu rawan, apa lagi Hana terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Itu tidak baik untuk kesehatan janinnya.


"Aku harus bagaimana?"


...•••...


Satya di seret ke rumah besar itu, tentu saja ia tahu jika itu adalah tempat tinggalnya yang sebelumnya. Ia tidak paham dengan apa yang terjadi sekarang, tapi melihat seseorang berada di depannya sekarang membuatnya seperti.


"Ayah hanya memastikan, langsung ke intinya saja sekarang. Apa kau menghamili Anna?" Ucapnya dengan tegas tanpa bantahan sama sekali, semua pertanyaan yang penuh dengan tuntutan yang.


"Apa maksud ayah-"


"Katakan dengan jujur, apa kamu menghamili Anna? Jawab saja Satya." Sekarang bundanya sendiri yang bertanya membuat Satya seperti di sudut sekarang.


Keberadaan Anna beserta keluarganya membuat Satya kebingungan, tapi seketika ia mulai ingat kejadian beberapa bulan yang lalu di mana mereka terakhir kali bertemu, ingat? Anna sendiri yang memberi tahukan kepadanya jika dia tengah hamil, dan itu adalah anak dari Satya sendiri.


Pria itu hanya menunduk, tidak bisa menjawab apa pun selain anggukan dan sebuah kata mengiyakan seolah memang membenarkan segalanya. Seketika kedua pasangan itu langsung lemas, bagaimana bisa?


"Mertuamu mau kau bertanggung jawab, kau harus siap bertanggung jawab setelah melakukan kesalahan itu. Ayah tahu, kamu pasti sadar saat itu." Satya hanya diam, memang saat itu jelas ia sadar.


Sangat sadar, tidak dalam keadaan mabuk atau semacamnya. Satya benar-benar sadar saat itu, itu adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan sejak awal. Dia tahu akan menikah, dan dia justru malah mempunyai kekasih yang tidak lain adalah saudara istrinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan Hana-"


"Dia pasti mau dipoligami, lagi pula dia mana mau kembarannya menderita." Satya hanya diam, tapi diam-diam tangannya mengepal kuat ketika Stella mengatakan perkataan yang setidaknya tidak dia katakan.


Sedangkan Viona hanya diam, ia ingin marah ketika wanita itu mengatakan semua kalimat tanpa berpikir panjang. Apa dia tidak memikirkan perasaan anaknya sendiri? Sekejam apa dia sampai seperti itu?


Satya hanya diam dan menerima segala kesalahannya, memang seharusnya Satya bertanggung jawab atas itu semua. Masalah Hana, ia tidak tahu harus melakukan apa karena di sisi lain ia tidak mau berpisah dengan Hana. Tapi jika seperti ini, sama saja Satya melukai perempuan itu semakin dalam.


Anna hanya diam, dia menunduk. Ingin rasanya dirinya menangis, berteriak menolak untuk berkata tidak tapi dia tidak mau sesuatu terjadi kepada Hana. Tebak apa yang kedua orang tuanya lakukan, itu sebuah dugaan yang tidak pasti.


"Pernikahan akan di laksanakan secepatnya, secara tersembunyi. Aku tidak mau menanggung malu."


"Tapi, itu namanya sama saja dengan menyembunyikan Anna."


"Pada dasarnya dia istri kedua dan anak itu adalah hasil di luar nikah, jika kau menolak keputusan yang aku buat. Maka pernikahan akan di batalkan, secara resmi kita putus hubungan dengan kalian tanpa menarik status Hana." Ucap Viona dengan tegas, membuat mereka semua terdiam.


'Maafkan bunda nak, tapi bunda yakin kamu pasti kuat menjalani semua ini.'


...•••...


Hana yang hanya terdiam di ruangannya, mendapatkan ponselnya berdering. Ia mendapati telpon, dari mamanya. Tentu saja ia tidak pernah seperti ini, perempuan itu sudah terlanjur senang karena setelah sekian lamannya mereka perduli dengan Hana.


"Halo ma-"

__ADS_1


"Aku tidak mau basa-basi, Hana. Anna hamil anak dari Satya, jadi kau harus menerima jika Anna adalah istri kedua suami mu itu. Kau harus menerimanya, sesekali kau mengalah dengan saudaramu itu. Lagi pula dia jauh lebih berharga dari pada diri mu, maka sadar diri lah."


Bukan sebuah kata-kata manis yang seperti yang Hana harapkan, semua kata-kata kasar sekaligus berita tidak terduga Hana dapatkan dalam waktu singkat. Seketika tangannya melemas begitu saja, ponselnya jatuh begitu saja karena masih dalam keadaan terkejut.


Sedangkan yang berada di luar ruangan masuk ke dalam, melihat keadaan Hana yang hanya menetap ke depan dengan tatapan kosong itu. Johan, Bima, beserta dua yang lainnya masuk ke dalam.


"Hana?! Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Johan memeriksa keadaan perempuan itu, tidak ada yang terluka selain air mata itu yang secara mendadak menetes begitu saja.


"Hana?! Hey! Kenapa kau hanya diam saja anak sialan! Oh, kau pasti tidak menerima semua ini bukan. Kau harus menerima itu karena itu sudah menjadi nasib mu, kau harus mengalah sebagai balas budi mu kepada kami yang sudah secara suka rela membesarkan mu."


Kalimat itu tentu saja terdengar, cukup keras dan bahkan Johan sendiri mendengar semua itu. Dia menoleh ke arah ponsel yang Bima ambil, terjatuh di lantai dengan layar yang sudah retak.


Johan mengambil ponsel itu dan mematikan sambungannya, jika dia kemari biarkan Johan yang berhadapan dengannya. Ia tidak akan pernah merasa gentar akan itu, Bima tidak bisa berkata-kata. Ia pikir semua akan membaik, tapi berita tadi benar-benar membuatnya shock.


"Apa itu tadi Hana? Apa maksudnya dengan mengalah?" Johan memegangi kedua sisi walah perempuan itu yang sudah dibanjiri dengan air mata itu.


Sampai di mana Hana benar-benar tidak sanggup, dia menangis kencang membuat pria-pria itu merasa sangat menyesal. Keadaan ini, kenapa terlalu kejam? Johan hanya bisa berdiri di sana, menarik perempuan itu masuk ke dalam pelukannya dan menenangkannya.


Johan melirik ke arah Bima, seolah memberikan sebuah sesuatu dan kemudian ketiga pria itu pun keluar dari ruangan. Tersisa hanyalah Hana dan Johan, suara tangisan perempuan itu memenuhi seisi ruangan. Membuktikan betapa menyedihkan kehidupan ini.


"Menangis lah sepuas mu, dan setelah semua ini selesai. Kamu harus berjanji untuk bahagia bersama ku, mengerti?" Tidak ada jawaban dari Hana, dia hanya menangis meluapkan semua kepedihannya yang dia pendam sendiri.


Diam-diam tangannya mengepal kuat, ia akan menghabisi semua orang yang sudah menyakiti perempuan itu. Ia tidak akan menerima semua itu secara suka rela begitu saja, jangan bermimpi akan itu.

__ADS_1


Bagaimana pun kehidupan akan penuh dengan karma. Karma akan tetap ada, kita hanya perlu menunggu tanggal lainnya saja dan menyaksikan pembalasannya.


'Aku memang tidak bisa melakukan hal lebih, tapi aku berusaha Hana. Membuatmu bahagia, itu sudah menjadi sebuah sumpah mati untuk ku.'


__ADS_2