
Jihan selama pelajaran ia tidak bisa fokus, walaupun tangannya bekerja untuk membuat tugas yang akan langsung di tunjukan kepada dosen. Tapi isi kepalanya bukan ke tempat di mana yang di tuju, justru ke yang lain. Gadis itu berusaha untuk fokus, sampai seseorang secara tiba-tiba memberikannya sebuah permen.
Ia lantas menoleh ke arah orang di sampingnya yang nampak sibuk dengan tugas menggambarnya, tapi dia sambil makan permen. Menyadari jika ada yang menatapnya, dia juga menoleh ke arah samping di mana tatapan mereka bertemu.
Dia memberikan kode kepada Jihan agar segera memakan permen tersebut sebelum ketahuan, Jihan yang merasa memang butuh makanan manis itu menerima. Tidak lupa berterimakasih dengan nada pelan terkesan berbisik. Pria itu mengangguk saja dan melanjutkan acara menggambarnya lagi.
Jihan memakan permen yang Reyhan berikan kepadanya, sepertinya Reyhan tahu sesuatu maka dari itu dia memberikan permen itu kepadanya Jihan. Sebenarnya ia tidak tahu apa masalahnya, tapi hanya saja dia melihat Jihan semenjak masuk kelas memang sudah melamun terus.
Ia hanya berpikir saja, menjernihkan pikiran gadis itu menggunakan akan permen. Sekaligus pengalihan pikiran, karena otak akan berpikir rasa apa permen itu ketimbang berpikir masalahnya. Idenya bagus bukan?
Melanjutkan acara menggambar seperti apa yang diperintahkan, pada akhirnya waktu selesai dan semuanya sudah mengumpulkan tugas secara langsung kepada dosen mereka, termasuk Jihan.
Setelah tugas selesai semua mahasiswa bubar keluar, mereka juga ada urusan masing-masing. Ketika Reyhan tengah membersihkan mejanya dari penghapus yang dia gunakan tadi.
Dia menoleh ke arah Jihan, gadis itu hanya diam seraya memasukan buku gambarnya. Sepertinya memang ada pikiran banyak, tapi ia tidak mau ikut campur. Tapi mendadak ada sebuah pikiran di mana ia ada sebuah ide bagus. Pria itu beranjak dari tempat duduknya tapi dia berbalik arah ke Jihan.
"Jihan, kau mau ke cafe bersama ku?" Jihan mendongak, awalnya dia ingin menjawab tidak tapi di sisi lain dia juga butuh hiburan. Lagi pula Reyhan teman satu kelasnya, untuk apa menolak? Setidaknya bisa membuat pikirannya jauh lebih terang itu bukan masalah.
"Boleh, ke cafe mana?"
"Cafe depan kampus saja, jangan terlalu jauh. Aku tahu kau tengah sibuk."
"Tidak juga." Jihan menjawab dengan ucapan yang penuh semangat seperti biasa dia lakukan, Reyhan hanya tersenyum tipis. Walaupun ia tahu sesuatu jika, senyuman itu palsu.
Mereka berdua berakhir keluar dari kelas secara bersamaan karena tujuan mereka juga sama, keduanya saling mengobrol sedikit walaupun sebenarnya Reyhan bukan tipikal banyak topik, justru dia mati topik.
Tapi karena suasananya sedikit tidak mengenakan, jadi dia bicara hal apa saja. Tapi kenyataan Jihan nyambung dengan percakapannya itu, bagaimana bisa? Jihan paham? Dan di tengah perjalanan mereka keluar dari kampus, berpapasan dengan seseorang.
Jihan berusaha menutup dirinya sendiri, bahkan dia kembali memakai maskernya dan itu membuat Reyhan bingung. Lino berada di depan mereka berdua, dengan tatapan yang aneh jika menurut Reyhan sekarang. Pria itu berdiri di depan antara Reyhan dan juga Jihan.
"Apa kau bisa menyingkir? Kau menghalangi jalan kami." Jihan berusaha tetap tenang meskipun ingin rasanya ia berteriak di depan wajah sahabatnya itu. Entah apakah bisa dia di sebut sahabat atau tidak, ia tidak perduli.
__ADS_1
Sikap Jihan membuat Lino semakin kebingungan, Jihan tidak pernah seperti ini kepadanya sebelumnya. Dia menatap ke arah Reyhan yang hanya berdiri santai di samping Jihan sekarang, tentu saja raut wajahnya tidak luput dari kebingungan juga.
"Aku hanya ingin bicara dengan mu, Jihan."
"Tapi aku sibuk, sudah berapa kali aku bilang? Aku sibuk, ayo Rey." Jihan menarik tangan pria itu secara tiba-tiba membuat Reyhan terkesiap.
Pria itu tidak paham apa yang terjadi sekarang, tapi di mana ia juga tidak tahu siapa Lino sekarang. Sepertinya dia baru saja melihat pria itu hari ini. Menatap ke arah Jihan yang menariknya begitu saja, sepertinya ia mulai paham.
Di mana Jihan mulai melepaskan pegangannya, mendadak gadis itu gugup. Bagaimana bisa dirinya memegang tangan pria sembarangan seperti ini? Walaupun Reyhan memang bukan sembarang orang, dia juga tidak pernah mendapatkan masalah selama satu semester ini.
Dia hanyalah mahasiswa, yang sudah menjabat menjadi CEO muda. Dia menempuh kuliah jurusan sastra lukis karena dia hobi melukis, sebatas itu saja. Tapi tiba-tiba saja Jihan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud-"
"Aku paham, tenang saja." Reyhan tersenyum ke arahnya seolah menunjukan jika semua akan baik-baik saja. Masalah tadi, itu bukan sebuah masalah besar dan lagi pula mungkin Jihan tidak ada pilihan lain.
"Aku terlalu lancang menarik mu, aku tidak tahu maafkan aku."
"Tapi-"
"Sudah, aku tidak akan menjadikan masalah tadi menjadi masalah besar. Aku paham, sangat paham." Jihan hanya menunduk, ia merasa malu karena sudah melakukan sesuatu hal yang konyol.
Tapi dari semua itu, mereka berdua masih menuju ke tempat tujuan seperti di awalan tadi. Mereka sampai di sebuah cafe yang di mama dekat dengan kampus mereka, hanya berjarak beberapa langkah saja tidak jauh sama sekali.
Tempatnya tidak terlalu ramai karena tidak jam makan siang atau bahkan weekend. Jihan memilih tempat duduk dan sedangkan Reyhan yang memesan makannya, sebenarnya tadi kebalik hanya saja pria itu yang mau jadi terserah dia saja.
Setelah memesan makanan ringan dan teman obrol mereka berdua nanti, Jihan menyiapkan laptopnya dan akan mengetik. Dia juga harus meneruskan novel yang dia buat sekarang, setidaknya menyicil beberapa halaman saja tidak ada masalahnya.
Sampai di mana Reyhan datang dan duduk di depan kursi itu, dia menatap ke arah Jihan yang sudah mulai fokus sekarang dengan laptopnya. Ia tahu sebuah hal, Jihan seorang penulis.
"Kau membuat cerita apa kali ini?" Jihan mendadak terdiam, dia mendongak ke arah Reyhan berada sekarang.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa-"
"Aku membaca salah satu buku yang kau tulis, bagus sekali. Aku bahkan membacanya hampir tiga kali." Reyhan mengeluarkan novel itu dari dalam tasnya membuat Jihan menutup mulutnya karena reflek, dia terkejut.
"Kau membaca buku ku?"
"Iya, kenapa tidak? Ini bagus." Jihan tersenyum senang, ia tidak menyangka jika Reyhan akan membaca buku yang dirinya tulis.
Sangat tidak bisa di duga, Reyhan memang sulit di tebak. Pria itu bahkan tanpa ragu mengeluarkan buku dari dalam tasnya, menunjukan kepada Jihan jika dia membaca buku gadis itu dan bukan hanya omong kosong saja, dia benar-benar membaca buku itu hampir 3 kali baca secara berulang. Walaupun ia tahu jika endingnya akan sama saja.
"Terimakasih..."
"Untuk apa? Kau penulis yang hebat, kembangkan bakatmu itu dengan baik. Aku harap kamu bisa sukses dengan buku-buku yang kamu tulis."
"Aku berharap akan itu, terimakasih..."
"Kau terlalu banyak mengatakan itu." Jihan hanya tersenyum konyol, dia hanya senang jika ada yang menyukai bukunya sekarang.
Sedangkan Reyhan tersenyum tipis, dia hanya menghibur setidaknya itu membuat Jihan tersenyum. Terlalu banyak melamun juga tidak baik menurutnya, Jihan biasanya ceria dengan berbagai keadaan.
Reyhan juga tahu bagaimana Jihan walaupun tidak dekat dengan gadis itu secara langsung, pertama kalinya ia bersama gadis itu sekarang. Senyuman mungkin bisa menipu banyak orang, tapi tatapan mata seseorang tidak akan berbohong.
"Kamu sering melamun, apakah ada masalah? Jika mau cerita silahkan, jika tidak. Aku tidak masalah-"
"Penghianatan..."
Satu kata yang Jihan ucapkan sukses membuat Reyhan langsung menatap dengan tatapan serius, ia yakin ada hubungannya. Bahkan sekarang, bagaimana raut wajah gadis itu sudah bisa ia baca sekarang.
"Jangan terlalu di paksa..."
__ADS_1