Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 88


__ADS_3

"Kamu yakin tidak mau sama kakak saja?" Dimas hanya khawatir dengan Hana saja, ia khawatir jika ada sesuatu yang terjadi dan dirinya tidak tahu apa pun.


Tapi Hana terlalu keras kepala, ia tahu itu dan tidak seharusnya Dimas terlalu memaksa kehendaknya kepada Hana hanya karena dia adalah kakak kandungnya. Dimas membuang nafas panjang, ia mengangguk menuruti permintaan Hana. Mungkin ini untuk sekian kalinya.


"Kalau ada sesuatu langsung hubungi kakak, mengerti?" Hana mengangguk, kemudian mobil Dimas pergi berlalu begitu saja.


Hana hanya diam di sana, ia memikirkan banyak hal jujur saja. Ia tidak bisa mengelak akan apa yang ia pikirkan, takut terjadi saja karena Hana belum sepenuhnya siap menghadapi semua itu.


Gadis itu pun masuk ke dalam rumah dan ia menemukan mobil Satya sudah berada di rumah, ia melangkah masuk ke dalam rumah dan mendapati Satya berada di sofa, duduk di sana dan hanya berdiam diri saja di sana.


"Kamu sudah pulang? Kamu sudah makan? Aku bawakan makanan dari luar-"


"Dari mana saja?" Hana seketika terdiam, entah kenapa suasananya mendadak menjadi seperti ini. Gadis itu hanya diam saja di tempatnya, tangannya tanpa sadar meremat bungkus makanan yang dia bawa.


Satya masih menunggu jawaban dari istrinya itu, dia mulai beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri Hana dengan tatapan datarnya. Tentu saja gadis itu merasa akan ada sesuatu yang terjadi, dan benar saja pria itu menjambak rambut Hana membuat gadis itu teriak tapi tertahan.


"Kau pasti bersenang-senang dengan pria itu bukan? Katakan padaku, kau ada hubungan apa dengan mereka? Tidak puas dengan kehadiran ku kau?"


"Tidak, tadi kak-"


"JANGAN BOHONG! KAU SELINGKUH DI BELAKANG KU BUKAN!"


Hana menggelengkan kepalanya, bahkan makanan yang dia bawa terjatuh di lantai begitu saja. Gadis itu mencoba menahan tangan Satya agar tidak semakin menarik rambutnya, tapi percuma saja karena tenaga yang Satya miliki tentu saja penuh besar.

__ADS_1


Satya menarik Hana dan mendorong gadis itu, tindakan kasarnya terlihat oleh penjaga di rumah. Pria paruh baya itu tidak tega harus membiarkan Hana diperlakukan seperti itu, ia sudah menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri. Bagaimana bisa dia diam saja? Tidak bisa, dia harus bertindak sekarang.


"Apa kau menghasut Johan untuk memojokkan ku?"


"Tidak, aku tidak melakukan semua itu-" Belum kalimatnya selesai dia ucapkan, Satya sudah memukul wajah Hana dengan kasarnya. Membuat gadis itu terkapar tidak berdaya di lantai, dia berusaha meringkuk melindungi wajah dan perutnya sendiri.


Satya masih terlalu terbawa emosi, dia berteriak keras dan kemudian melempar barang-barang yang berada di sekitarnya. Kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Hana yang tersungkur di lantai, menang mukanya tidak seberapa tapi luka di hatinya. Siapa yang akan menyembuhkan luka itu?


Hana menangis memeluk perutnya sendiri, dia tidak sanggup harus menatap pria itu pergi lagi. Ia merasa jika hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi, Hana meraih ponselnya yang terlempar lumayan jauh dari sana.


Penjaga itu berlari ke arah Hana, dia mencoba menolong Hana setelah Satya pergi lagi dari rumah itu. Membantu Hana meraih ponsel itu, jadi dia harus menelpon ambulan sekaligus harus menghubungi pria yang tadi pagi datang. Yang tidak lain adalah Dimas, pria itu memang baru saja pergi tidak terlalu lama sebelum kejadian ini.


"Bertahanlah sebentar lagi, ambulan akan datang." Ucapnya dengan penuh khawatir, tentu saja. Keadaan Hana kembali kacau setelah itu, entah apa yang gadis itu lakukan sampai Satya semarah itu.


"Kertas apa ini Anna? Katakan!" Anna hanya menatap di atas meja, di sana adalah kertas hasil USGnya beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa berada di tangan ayahnya?


"Katakan, apa itu semua? Kau hamil?!" Anna tidak bisa berkata apa pun, ia tidak mengelak jika sudah ada semua bukti itu sekarang. Lalu Anna harus bagaimana? Semua sudah terlanjur terjadi membuat Anna tidak bisa lagi menjawab dengan kata apa pun.


Ia hanya diam menunduk, dia hanya bisa bersembunyi di belakang mamanya yang berdiri di depannya sekarang melindungi anaknya sekarang yang tersisa di rumah. Memang Stella akui jika dirinya juga terkejut, tapi semua sudah terjadi dan mau bagaimana pun juga, mereka sebagai orang tua harus tetap tenang dalam menghadapi masalah ini.


Stella membalikan badannya menatap ke arah Anna yang menangis di belakangnya, mungkin dia takut dengan ayahnya yang sudah marah besar kepadanya. Sebelumnya memang tidak pernah semarah ini kepadanya, dia masih terkejut.


"Katakan, siapa ayah dari anak itu? Katakan dengan jujur, mama tidak akan marah." Pria itu menoleh ke arah kedua perempuan itu, ia juga ingin tahu apa jawaban yang akan dikatakan anak gadisnya itu.

__ADS_1


Anna masih ketakutan harus menjawab sesuatu, ia takut jika kedua orang tuanya kecewa dengan dirinya. Entah bagaimana ia harus menangani semua ini sendirian, jujur saja Anna belum siap atas semua ini. Tapi memang cepat atau lambat akan terjadi bukan? Semua akan terbongkar juga, Anna tidak bisa menyembunyikan rahasianya itu terus menerus seperti ini.


"Anak siapa itu Anna? Katakan."


"Satya." Mereka berdua seketika terdiam, apa yang dikatakan Anna benar atau tidak? Tapi Anna tidak pernah berbohong kepada mereka, tapi di sisi lain mereka berdua juga tidak percaya dengan apa yang Anna ucapkan.


"Apa maksudmu? Dia suami saudaramu-"


"TAPI MEMANG DIA AYAHNYA! LALU AKU HARUS APA?!" Jujur saja mereka tidak habis pikir dengan jalan pikiran Anna sekarang. Hana sudah setuju dengan perjodohan itu karena perusahaan mereka yang hampir saja bangkrut, sekaligus pengobatan Anna yang memang membutuhkan biaya yang besar.


Tapi sekarang apa yang anak itu lakukan sekarang? Dia justru bermain di belakang sana tanpa siapa pun yang tahu, sejujurnya Ryan tidak bisa berpikir lagi. Ia tidak habis pikir, antara ia harus kecewa dan sedih dengan semua ini.


Pria itu terduduk di kursi, kepalanya sudah terasa pusing dengan segala masalah dan sekarang anaknya harus menambah beban pikirannya. Memang baru kali ini ia merasakan semua ini, anak-anaknya yang lain tidak pernah sampai seperti ini.


"Bagaimana sekarang? Tidak mungkin mereka menikah dengan pria yang sama." Tapi entah lah harus bagaimana lagi, mereka juga bingung harus berbuat apa lagi.


"Kita harus membicarakan ini dengan keluarganya, mana ada yang mau menerima anak kita dalam keadaan sudah hamil seperti ini."


"Tapi ayah-"


"Terima resiko Anna, itu juga perbuatanmu sendiri. Ayah sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, ayah sudah pasrah." Ucapnya dan kemudian dia pergi begitu saja, dia sudah terlalu lelah menghadapi semua ini.


Di sisi lain anak yang selalu dia singkirkan menyelamatkan segalanya, sedangkan yang selalu dia bela justru semakin mempersulit. Ia harus melakukan semua ini, demi kebahagiaan putri kesayangannya. Dia bahkan tidak memikirkan jasa anaknya yang lain.

__ADS_1


'Aku terpaksa melakukan ini, aku tidak mau Anna menderita.'


__ADS_2