Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 93


__ADS_3

Mau bagaimana pun, semua sudah hancur dan semua kehancuran itu juga sudah di amban batas. Walaupun bersabar itu memang harus, tapi manusia juga punya perasaan dan juga batas kesabarannya masing-masing.


Memang benar, jika Hana adalah seorang perempuan yang terlalu pendiam, dia terlalu membiarkan orang-orang menindasnya berkeliaran begitu saja tanpa ada niat membalaskan dendam sama sekali.


Kenapa? Kenapa Hana tidak membalas semua perlakuan mereka-mereka yang sudah menyakitinya? Padahal Hana juga punya Dimas, Johan yang selalu membelanya, Theo yang akan menjadi tameng dan maju paling depan. Tapi kenapa? Alasannya begitu mudah, tapi tidak dapat di pikirkan semua orang meskipun itu adalah alasan yang simpel.


Alasannya adalah, di mana jika kita memang diperlakukan buruk oleh seseorang dan tentu saja kita akan merasa sakit hati, entah seberapa besar perasaan sakit hati itu dan akan sampai kapan bertahan lamanya. Tapi jika kita membalas mereka dengan sebuah keburukan juga, maka apa bedanya kita dengan mereka? Sama-sama jahat, dan ingat kepada tuhan.


Manusia berlaku buruk, apakah tuhan mengecam? Sepertinya tidak, jika mereka berniat kembali pasti tuhan juga akan menerima manusia jahannam itu kapan saja. Walaupun hanya seorang manusia biasa dan bukan tuhan atau bahkan dewa dewi sekalipun.


Kita juga punya sebuah prinsip sendiri, bagaimana kita memiliki prinsip untuk bertahan hidup juga dan juga untuk menghadapi masyarakat ini. Begitu juga Hana, dia di latih bersabar sejak kecil. Jika bukan karena didikan neneknya dahulu, mungkin perempuan itu akan melakukan banyak keburukan kepada keluarganya sendiri.


Seperti sekarang, Hana memang hanya diam tapi bukan berarti Hana benar-benar hanya diam jika terus diperlakukan dengan buruk. Ia akan bertindak jika sudah waktunya dan tentu saja menunggu momen yang tepat.


Banyak yang mendukung keputusannya, Hana tidak berpikir panjang untuk melakukan sesuatu. Sejujurnya saja pemikiran Hana dan Dimas nyaris sama, hanya saja kesabaran mereka yang berbeda.


"Kamu sudah tidur?" Dimas datang, membuka pintu kamar inap itu dengan perlahan agar tidak mengejutkan adiknya.


Ia pikir Hana tidur karena memang sudah malam, tepat pukul 11 malam. Ada tiga orang berjaga di luar dengan suka rela, mereka tidak mau jika ada sesuatu yang terjadi maka tentu saja kelompok yang di pimpin oleh Dimas itu bergerak. Tanpa di suruh sama sekali, tidak ada perintah dari ketua sama sekali.


"Aku tidak bisa tidur..." Ucapnya dengan kata-kata yang pelan terkesan lirik, tapi Dimas masih bisa mendengarkan suara adiknya itu dengan jelas.


Walaupun sejujurnya Dimas tidak bisa memaksakan kehendak Hana, tapi ia juga tidak mau membuat kehidupan Hana semakin kacau. Sudah cukup masa kecil yang begitu suram itu, dan sekarang jangan terulang lagi. Apa lagi sampai menimpa anak Hana kelak, jangan sampai.


Dimas melangkah menghampiri, ia duduk di kursi yang berada di dekat bangsal. Ia hanya bisa membuang nafas panjang, banyak yang terjadi sampai Dimas sendiri sudah cukup merasa lelah. Dimas saja yang tidak mengalami saja lelah, apa lagi Hana yang menjalani semua itu.


"Kakak tidak akan memaksamu, itu keputusan mu. Tapi ingat, kakak tidak akan diam saja ketika adik kakak diperlakukan tidak pantas seperti itu." Ucapnya, tangannya menggenggam telapak tangan mungil itu. Terasa dingin, dan halus.


"Kamu tahu, Hana. Kakak sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik, maaf jika-"


"Kakak tidak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang mengatakan itu..." Dimas hanya diam, ia menatap ke arah tepat di mana perempuan itu berada.


"Seharusnya aku mendengarkan apa kata kakak, kakak benar. Satya tidak baik buat aku, seharusnya aku tahu itu sejak awal. Maafkan aku..." Dimas hanya tersenyum, dia mengangguk pelan dan kemudian memeluk adiknya itu dengan erat.


Penuh dengan kasih sayang yang sangat berlimpah, mungkin terdengar berlebihan, tapi Dimas benar-benar akan melakukan apa saja agar bisa membuat Hana bahagia. Itu adalah caranya hidup, justru sebuah tujuan yang memang wajib untuk di capai dari pada yang lain.

__ADS_1


Hana yang mendapatkan pelukan itu membalas pelukan pria itu dengan tidak kalah erat, ingin menangis dan mengucapkan banyak rasa terimakasih kepada Dimas. Pria itu memang selalu ada untuknya melebihi siapa pun, ia bahkan merelakan kekasihnya sendiri demi adiknya. Kurang apa Dimas ini?


"Aku sayang kakak..."


"Kakak juga sayang sama Hana."


...•••...


Satya berdiam diri di rumah, ia sudah mencari kemana-mana tapi tetap saja tidak menemukan apa yang dirinya cari. Satya memilih mengunci diri di dalam kamar, ia mendadak tidak bisa berpikir karena kejadian tadi siang sukses membuatnya nyaris gila.


Pria itu hanya diam, sampai di mana angin yang lewat masuk menerobos lewat pintu balkonnya berhembus kencang, membuat foto berbingkai itu seketika jatuh dan pecah dalam sekejap.


Tentu saja suara itu membuatnya menoleh, ia melihat foto itu sudah tergeletak di atas lantai. Karena dia masih posisi dalam keadaan tidak baik, dia menghampiri bingkai foto tersebut dan membereskan kekacauan kecil itu. Namun, karena pecahan kaca tipis itu menusuk jarinya membuat darah keluar dari sana tanpa hambatan sama sekali.


Satya hanya menatap jarinya yang berdarah ketimbang mengobati luka itu. Rasanya percuma saja, rasa sakit di hatinya tidak akan hilang ketika luka itu di balut dengan obat sekali pun. Pria itu memilih mengambil foto itu, foto di mana menjadi saksi pernikahan mereka yang sudah di resmikan. Tapi entah ia mengingat senyuman palsunya itu, membuat Satya terdiam.


"Apakah aku sudah membuatnya sakit? Tapi kenapa dia tetap berada di sini ketimbang menuruti perkataan ku dahulu."


Mengingat semua kata-katanya yang dahulu sering Satya katakan, masih teringat jelas di dalam kepalanya. Di mana sebuah kalimat menyakitkan itu lolos begitu saja keluar dari mulutnya tanpa harus berpikir panjang, apakah menyakitkan atau tidak?


Pria itu hanya menatap foto itu dengan tatapan pedih, ia sadar jika dirinya nyata salah dan memang sudah benar-benar salah sejak awal. Dan kini ia menyesali semua itu, Hana tidak pernah menyakiti dirinya tapi kenapa justru Satya yang terus menyakiti perempuan itu.


"Apakah kamu akan memaafkan aku untuk sekian kalinya? Jujur saja, aku tidak bisa berpisah dengan mu walaupun hanya sebentar saja."


Meminta maaf untuk sekian kalinya, tapi entah kenapa Satya tidak yakin dengan pemikirannya sendiri. Hana mana mau memaafkan dirinya yang begitu bejat ini? Tentu saja tidak, dan Satya pantas mendapatkan semua itu tanpa harus meminta ampunan atau kesempatan lagi. Sudah habis, Satya merasa jika kesempatan itu sudah habis dia sia-siakan selama ini.


Sampai di mana suara pintu membuat Satya seketika menoleh ke arah pintu, pria itu langsung berlari tanpa memikirkan apa pun lagi dan saat dia keluar dari kamar. Ia melihat Hana berada di sana, perempuan itu berjalan masuk ke dalam rumah.


Itu membuat senyuman pria itu mengembang, dia berlari ke arah Hana dan memeluk Hana tanpa meminta ijin sama sekali. Perempuan itu yang mendapatkan pelukan tanpa aba-aba terdiam tidak dapat berkomentar apa pun.


Ia hanya diam ketika Satya memeluk dirinya, jujur memang sudah lama Satya tidak memeluknya seperti ini. Sudah cukup lama, semenjak kejadian itu ketika pria itu berubah secara drastis tanpa sebuah penjelasan yang jelas. Hana tidak membalas pelukan itu, sedangkan Satya memeluk erat dan dia menangis tanpa dirinya sadari. Memeluk istrinya, menangis berharap jika ada kesempatan lagi.


"Maafkan aku, Hana..."


Tidak ada jawaban selain pelukan itu dilepas oleh Hana, perempuan itu mendorong dada Satya dengan pelan membuat Satya kebingungan. Apakah ini akhir dari semuanya? Firasatnya sudah buruk sejak awal.

__ADS_1


Sampai di mana Hana menyerahkan sebuah kertas, itu membuat Satya bertanya-tanya. Kertas apa itu? Satya lantas menerima kertas itu, melihat isi kertas itu dan seketika ia melemas karena isi kertas itu ternyata adalah surat gugatan cerai.


"Kamu harus menandatangi ini, dan bertanggung jawab atas kehamilan Anna."


"Tapi-"


"Lepaskan aku, menikah lah dengan Anna."


"Jangan bercanda, Hana..." Satya menatap ke arah Hana dengan tatapan yang mungkin tidak pernah Hana lihat sebelumnya. Pertama kalinya ia melihat Satya menatapnya dengan tatapan seperti itu. Tapi Hana tidak mau luluh lagi, ia juga bisa merasa lelah sekarang. Ia cukup tahu dengan segala ini.


"Kamu harus bertanggung jawab, Satya."


"Kau benar-benar ingin aku menikahi Anna?"



Tidak dapat dijelaskan keadaan yang sekarang, di mana mereka berdua dahulunya sangat dekat bahkan mereka juga sudah membuat rencana akan membangun keluarga sendiri dengan sederhana. Impian mereka berdua, harus hancur hanya karena kesalahan fatal seperti ini.


"Tapi aku mencintai mu, bagaimana aku bisa melepaskan mu? Aku tidak bisa, Hana. Aku tidak bisa-"


"Kamu harus melakukannya. Jangan lari dari tanggung jawabmu hanya karena cinta mu kepada ku, kau sudah pernah mengatakan itu dan, apa yang kau lakukan? Kau terus mengulangi kesalahan mu, dan bahkan kau tidak percaya kepada ku saat itu."


Kurang jelas apa perkataan Hana sekarang? Sepertinya semua yang ingin Hana katakan sejak dahulu sudah bisa ia katakan, perempuan berusaha mampu mengatakan itu walaupun sejujurnya Hana tidak yakin, ia harus melakukan ini. Ia tidak mau memperpanjang masalah ini.


"Aku akan bertanggung jawab, tapi aku juga tidak mau melepaskan mu. Aku mohon, kita bisa mengulangi semuanya dari awal seperti dahulu-"


"Cukup! Kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali Satya, dan sekarang aku sudah lelah. Tanda tangani surat itu dan kita berpisah." Hana melewati Satya begitu saja setelah itu, pria itu hanya terdiam dengan tangannya yang memegang surat gugatan tersebut.


Ia menunduk, banyak pertanyaan akan semua ini. Tapi mau bagaimana pun, semua ini memang berawal dari kesalahannya dahulu. Jika saja Satya tidak melakukan hal itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Jangankan kata seandainya, Satya sangat ingin mengulang lagi masa di mana Hana masih mencintainya dahulu.


Pria itu menoleh ke arah di mana Hana masuk ke dalam kamarnya, hanya kamarnya bukan kamar mereka berdua. Di sisi lain, Hana menutup pintu kamarnya dan bersandar di pintu. Menangis dalam diam di dalam sana menahan semua perasaan sakit yang ia rasakan, sebenarnya Hana masih memiliki rasa kepada Satya.


Tapi karena perkataan Dimas masuk ke dalam pikirannya, membuatnya ingin membuang jauh-jauh perasaan itu. Tapi apakah bisa? Hana tidak yakin dengan semua itu. Hana menangis di sana, di sisi lain Satya juga masih berdiri di sana tanpa beranjak sama sekali. Air matanya menetes, menyesali semua perbuatannya yang sebelumnya.


"Maafkan aku, Hana... Maafkan aku..."

__ADS_1


__ADS_2