Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 27


__ADS_3

Apa yang dipikirkan oleh Hana sudah diluar batasannya. Tidak ada jalan keluar, di sisi lain ia tidak mau membuat Dimas membenci dirinya. Hana harus mempertimbangkan apa yang baik untuknya.


Sebuah kabar baik, Dimas mempunyai seorang kekasih dan itu membuat Hana bahagia karena akhirnya kakaknya mempunyai pasangan yang menerima apa adanya. Hana hanya berharap yang terbaik di masa yang akan datang, ia juga berharap jika Dimas harus jauh kebun bahagia dari pada dirinya.


Apakah sebuah keputusan salah? Hana tidak tahu, tapi ia hanya bisa mempertimbangkan semua keputusannya yang akan baik kepada siapa. Hana hanya mau orang lain bahagia dari pada dirinya sendiri, pada dasarnya Hana memang lebih perduli kepada kebahagiaan orang lain dari pada dirinya sendiri.


Anggap saja jika Hana orang yang aneh karena ia mempunyai prinsip yang aneh, siapa yang tidak mau bahagia? Semua orang juga mau akan itu, termasuk juga Hana. Tapi gadis itu selalu dimanfaatkan oleh semesta karena kebaikannya yang melebihi batas. Tidak ada yang tahu bagaimana menderitanya Hana sejak dia masih masuk usia dini.


Tidak di anggap oleh keluarga sejak kecil adalah mimpi buruk yang panjang, Hana harap semua itu akan selesai ketika ia memutuskan sesuatu. Ia ingin di anggap oleh keluarganya saja, tidak lebih dari itu Hana akan bersyukur.


"Kakak kenapa belum pulang?" Ia tidak tahu kemana Dimas, Hana juga tidak mau menganggu Dimas sekarang karena dia tahu jika Dimas tengah sibuk dengan dunianya sendiri.


Biarkan saja, Hana tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Dimas juga berhak bahagia, ia tidak berharap akan apa pun dari Dimas. Apa pun, karena Hana selalu berpikir seolah semua orang akan meninggalkan dirinya seiring berjalannya waktu. Apakah pemikirannya salah? Anggap saja itu hanya pikiran Hana yang selalu overthinking kepada semua orang.


Tapi kenyataannya pikiran buruknya itu terjadi kepadanya langsung, terbukti Jeffran meninggalkannya dan meninggalkan dirinya begitu saja. Kemudian meminta maaf ketika semua sudah terlambat untuk diperbaiki.


Hana berakhir membuka layar ponselnya dan menghubungi Dimas. Karena pria itu sudah semalaman tidak pulang ke rumah, ia tahu jika ini adalah hari minggu di mana Dimas bisa melakukan apa yang dia suka di hari libur itu. Biasanya pria itu akan mengajak Hana jalan-jalan untuk melepaskan penat selama mereka berdua bekerja keras.


Tapi berbeda, Hana merasa ada yang janggal membuatnya menghubungi pria itu sekarang. Hana hanya khawatir ada yang terjadi kepada Dimas dan Hana tidak mau apa pun terjadi kepada Dimas.


Tapi diluar dugaan, di balik lamanya Dimas merespon chat dari adiknya sendiri. Sebuah kalimat yang tidak pernah Hana duga selama ini, tidak pernah Hana pikirkan dan tidak pernah ia membayangkan semua ini akan terjadi kepadanya.


__ADS_1


Hana hanya diam ketika melihat chat dari Dimas. Ketikannya yang tidak pernah Hana lihat, kenapa semua nampak berbeda? Hana hanya bisa membuang nafas panjang dan membalas singkat dari pesan yang Dimas kirimkan kepadanya.


Gadis itu kembali terdiam, apakah semua akan seperti ini? Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya tapi semua sudah jelas di depan matanya, semua orang menjauh satu persatu. Memang tidak semuanya dan posisi Hana hanya mempunyai segelintir orang yang perhatian dengan dirinya.


Kenapa semua terasa tidak adil? Anggap saja Hana lebay sekarang, tapi pada dasarnya Hana hafal bagaimana Dimas. Tapi secara mengejutkan Dimas seperti itu kepadanya, Hana menyeka air matanya dan berusaha berpikir positif.


Mungkin Hana mengganggunya dan membuat pria itu kerasa terganggu, wajar saja jika Dimas marah kepadanya dan menuliskan kata-kata seperti itu.


"Seharusnya aku tidak mengganggunya." Hana meletakan ponselnya dan duduk diam di atas sofa, dengan tatapan kosong. Tapi bukan berarti isi kepalanya kosong, gadis itu justru memikirkan banyak hal.


"Ayah akan menunggu kamu membuat keputusan, ayah harap kamu tidak akan mengecewakan ayah. Maafkan ayah jika ayah selama ini bersikap tidak pantas kepadamu."


Memang apa yang Hana harapkan datang kepadanya dan justru tidak pernah Hana harapkan. Ayahnya yang menjadi baik kepadanya, entah itu karena sebuah kemauannya sendiri atau pun itu dengan kalimat yang tulus.


Hana tidak memperdulikan itu, ia cukup senang di dalam hati jika apa yang seharusnya tidak bisa ia dapatkan sebelumnya bisa ia dapatkan sekarang. Walaupun tidak tahu apakah itu benar-benar tulus atau hanya mau bermain-main saja.


"Apa kamu mau sarapan dulu? Hey! Aku membuat bekal sendiri loh, coba deh masakan ku." Aca begitu antusias untuk mengambil kotak bekal yang dia bawa dan kemudian memberikan itu kepada Hana.


Hana hanya merespon dengan senyuman seperti biasanya dan tidak lebih dari itu, kemarin Aca tidak berangkat karena ada urusan penting yang harus dia selesaikan. Masalah keluarga tentu saja.


Dan sekarang gadis itu kembali hadir dengan suasana cerah yang selalu dia bawa, tidak pernah pudar senyuman itu yang begitu ceria. Hana harap senyuman itu tidak akan pernah hilang.


"Masak apa kamu?" Hana membuka kotak bekal itu dengan perlahan dan melihat apa isi dari kotak bekal itu.

__ADS_1


"Wow..."


"Terlihat enak bukan? Ayo coba, dan berikan pendapat juga. Yang jujur ya, aku tidak suka kamu bohong nanti aku tidak ada perkembangan."


Hana mengangguk, ia mengambil sendok dan mulai menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Mengunyah pelan-pelan agar ia bisa tahu bagaimana rasanya, Hana hanya diam dan sesekali melirik ke arah Aca yang tengah menunggu.


"Bagaimana?" Hana mengunyah makanan tersebut dan menelannya perlahan. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa makanan itu, ia takut menyakiti hati Aca.


"Hana? Jujur saja, aku tidak ada masalah. Lagi pula aku juga sadar aku baru saja belajar memasak."


"Hm, sebenarnya lumayan. Penampilannya bagus, hanya saja telur gulung mu terlalu asin." Aca menunduk dan mengangguk, ia ikut memakan bekal buatannya sendiri walaupun itu tidak lah bagus.


Apa yang dikatakan Hana benar, telur guling buatannya memang asin dan bentuknya tidak rapih. Lumayan berantakan tapi masih bagus untuk pemula, mungkin itu yang Hana katakan.


"Jangan bersedih, kalau kamu mau. Aku bisa mengajarkan beberapa menu masakan kepadamu."


"Wah! Benarkah! Terima kasih!" Aca memeluk Hana dengan erat saking senangnya, ia begitu beruntung mempunyai teman seperti Hana. Gadis yang baik dan juga lemah lembut, walaupun berbanding balik dengan Aca sendiri.


"Memangnya kamu pengen banget masak itu buat apa kalau boleh tahu?" Aca berpikir, ia melepaskan pelukan itu dan tersenyum. Ia hanya begitu senang dan memulai semuanya dengan hal yang baru.


"Untuk membuatkan bekal untuk, kak Satya." Hana hanya diam, ia terdiam dan benar-benar tidak bisa berkata apa pun lagi.


"Hana, bukan kah dia sangat tampan? Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya, entah kenapa orang dingin itu selalu menarik." Hana hanya tersenyum dan mengangguk, meskipun ada sebuah perasaan aneh di dalam dirinya.

__ADS_1


"Iya, kamu benar."


"Kamu juga suka sama, Theo kan? Dia juga tampan, katanya juga dia teman Theo sejak kecil. Mereka pasti sangat dekat, bantu aku untuk dekat dengan Kak Satya ya. Boleh kan Hana?"


__ADS_2