
Dia turun dari kendaraan mewah itu, mobil yang tentu saja memiliki harga fantastis itu. Menurunkannya di sebuah tempat berkumpul, sudah lama ia tidak merasakan suasana yang seperti ini. Bagaimana cara menjelaskannya sekarang? Jihan suka yang seperti ini, jika bukan karena sahabatnya melarang dirinya maka ia tidak akan melakukan semua ini.
"Kau tidak masuk?" Jihan kurang yakin, ia sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya itu.
Sepertinya Kaisal tahu apa alasan mengapa Jihan bisa berpikir untuk datang ke tempat itu, biasanya dia tidak akan datang dan alam selalu menolak jika di tawarkan untuk datang. Tapi sekarang secara mendadak dia tidak menolak ajakan sama sekali.
"Why? Kau gugup?"
"Untuk apa, mereka bukan orang asing bagiku."
"Masuk saja kalau begitu, aku akan ada di belakang mu." Jihan masuk ke dalam bersamaan dengan Kaisal yang berjalan mengawali dirinya.
Semua berjalan dengan lancar, bahkan mereka yang sudah lama tidak melihat Jihan ikut senang karena gadis itu setelah sekian lama mau kembali lagi ke tempat mereka itu.
Bukan sebuah tempat yang buruk, biasanya mereka akan bersenang-senang di sana. Entah itu bernyanyi, bermain alat musik atau sekedar mengobrol saja. Tidak buruk bukan? Itu cukup menghibur suasana hati Jihan yang saat ini memang sedang tidak baik.
Suasananya memang ramai, banyak orang di tempat itu. Bukan hanya laki-laki saja, ada beberapanya perempuan di sana walaupun tidak banyak. Ada yang kekasihnya atau saudara yang ingin ikut berkumpul mencari suasana baru.
Terlihat sangat buruk jika orang lain tidak tahu apa yang mereka semua lakukan sekarang. Terkadang mereka akan melakukan hal buruk, itu pun hanya bertengkar masalah kecil. Kejadian yang sudah biasa terjadi di kaum pria bukan?
Terkadang jika memang ada yang mau, menerima taruhan dengan orang lain. Menggunakan acara balapan, motor atau mobil akan di terima. Asalkan memang ada uangnya, mereka akan melakukan itu jika terdesak saja. Jika tidak, mereka tidak akan melakukannya.
Apakah Jihan pernah ikut? Omong kosong jika Jihan adalah anak yang polos, gadis itu hampir 4 kali balapan dan tidak pernah kalah. Dia mengalahkan semua musuhnya dalam waktu singkat, mendapatkan banyak uang. Bukannya dia buat bersenang-senang, dia memberikan uangnya itu kepada orang lain yang sekiranya lebih butuh. Sebuah hal yang tidak bisa di duga bukan?
"Sudah lama kau tidak datang kemari, aku yakin kau tengah ada problem sekarang." Jihan hanya tertawa pelan mendengar pendapat dari salah satu temannya itu. Sepertinya tebakannya tepat sasaran.
"Menurutmu? Why not? Aku hanya ingin mencari suasana baru."
"Benar, tidak ada yang salah. Kau bisa datang kemari kapan saja yang kau mau, itu bukan sebuah masalah." Jihan hanya tersenyum ketika mendapatkan tawaran tersebut. Mereka memang baik, beberapa dari mereka mengenal Johan juga.
__ADS_1
Johan pemimpin grup yang berada di Indonesia, di sini juga punya sebuah kelompok tapi jangan berpikir buruk. Mereka hanya mencari suasana baru yang tenang, jauh dari kerusuhan.
Tidak ada salahnya datang ketempat itu hanya sekedar menenangkan pikiran. Sampai di mana tanpa di duga ponsel Jihan berbunyi, mereka menoleh ke arah Jihan. Mereka pikir itu panggilan telpon dari sepupunya, tapi bukan dia.
"Siapa? Kau di suruh pulang Johan?"
"Tidak, ini bukan Johan. Aku keluar sebentar mencari sinyal." Jihan berakhir keluar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru, mereka tidak tahu siapa yang menelpon Jihan.
Tapi sepertinya ada seseorang yang tahu siapa itu, pria itu beranjak dari tempat duduknya dan dia mengawasi keberadaan Jihan. Lagi pula ia sudah berjanji akan menjaga Jihan apa pun yang terjadi kepada Johan sendiri.
Pria itu berdiri di amban pintu, menatap ke arah punggung itu yang tengah mengangkat telpon dari orang lain. Tapi siapa sangka jika ada seseorang yang datang ke markas mereka, bagaimana bisa dia tahu tentang markas ini? Kaisal hanya berdiri di sana tanpa memperdulikan apa pun, baginya ia hanya cukup mengawasi saja sudah cukup.
Jihan berbicara di dalam ponsel, sampai di mana ia menatap ke depan dan mendapati seseorang berdiri tepat di depan gerbang mansion yang tidak lain adalah markas utama kelompoknya. Gadis itu terdiam beberapa saat, sampai di mana ia menghampiri pria itu yang berdiri di sana.
"Untuk apa kau datang ke sini?" Tatapan Jihan memang sudah tidak bisa dikatakan ramah, bahkan tatapan itu lebih mendominasi emosi ketimbang ramah seperti biasanya.
"Kau melanggar janjimu, Jihan." Gadis itu hanya tersenyum, kemudian tertawa seolah menertawakan apa yang pria itu katakan.
"Kau berubah."
"Itu bukan urusanmu, sialan. Lebih baik kau pergi sebelum aku membuat wajahnya itu tidak utuh." Perkataan yang mengandung ancaman itu melayang ke arahnya. Lino hanya terdiam ketika ia melihat bagaimana Jihan menyumpahi dirinya.
"Ada apa dengan mu-"
"Aku sudah bilang, itu bukan urusanmu!"
"Jika aku salah marahi saja aku! Jangan kau buat Risa menangis! Kau terlalu kekanakan sekali, kenapa kau memarahi Risa?"
"Jadi dia mengadu kepadamu?" Jihan menatap ke arah Lino dengan tatapan aneh, entah apa yang Lino rasakan ia harap semua itu salah.
__ADS_1
"Apa karena aku tidak bilang jika aku berhubungan dengan Risa makanya kau marah? Apa hanya karena itu?" Jihan tidak bisa menjawab apa pun, gadis itu benar-benar hanya diam.
Ia tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang, perasaanya mendadak mengendalikannya lagi. Jihan tidak bisa bernafas, seolah udara tengah mencekik lehernya sekarang membuatnya tidak bisa bernafas dengan baik. Tapi tatapannya masih ke arah Lino yang berdiri di depannya.
"Kau terlalu kekanakan, Jihan..."
"Kau tidak tahu apa pun tentang diriku, sialan. Kau hanya orang lama yang tidak tahu apa-apa." Ucapan itu, Lino menggeram marah. Apa maksudnya? Orang lama yang tidak tahu apa-apa?
"Ingat, kita bersahabat-"
"Memang sahabat mana yang tega membuang sahabat masa kecilnya hanya karena sudah mendapatkan seorang kekasih baru? Apakah itu ada? Kau bagian tidak tahu bagaimana keadaan ku sekarang, mementingkan Risa ketimbang aku-"
"Karena dia kekasihku!"
"Dan aku sahabatmu!!" Teriakan Jihan membuat teman-temannya keluar dari ruangan, melihat bagaimana Jihan menghadapi seseorang yang mereka tidak kenal.
"Apa kau lupa? Karena kau aku kehilangan cita-cita ku? Kau lupa? Di mana janjimu bajingan?!!!" Jihan menarik jaket Lino dengan kasar, meneriaki wajah pria itu dengan emosi yang sudah terlalu besar. Sudah tidak bisa di tahan lagi.
Kaisal berlari ke arah Jihan, menarik gadis itu membuatnya berdiri di belakangnya. Kaisal menatap ke arah Lino yang berdiri di depannya, dia pasti sudah melupakan segalanya.
"Jika kau kemari hanya untuk membuatnya menangis, lebih baik kau tidak perlu muncul lagi."
"Kau tidak usah ikut campur."
"Itu perlu, kau membuangnya setelah kau mendapatkan apa yang kau cari. Jadi sudah selesai bukan? Kau bisa pergi, urus saja kekasih kesayanganmu itu sekarang sebelum dia merengek seperti bayi di rumah dan mengadu kepada kedua orang tuanya." Kaisal menyuruh bodyguard yang berjaga membawa Lino pergi, kemudian menutup gerbangnya.
Pria itu membawa Jihan kembali masuk ke dalam mansion, gadis itu menunduk. Tangannya meremas pakaiannya sendiri, perasaan sakit hati yang jelas dia rasakan sekarang. Tangisannya sekarang, memang tidak di dengar tapi air mata penuh kepedihan itu.
__ADS_1
"Jangan pikirkan apa pun, kau akan aman selama aku di sini."