
Kemungkinan memang akan ada lagi, tahun-tahun berlalu dengan penuh kebahagiaan yang di impikan banyak orang. Tidak ada yang menyangka jika semua ini akan terjadi, di tambah pertumbuhan anak-anak. Entah kenapa semua berjalan dengan cepatnya membuat Hana tidak merelakan anak-anaknya tumbuh besar begitu saja.
Sekarang kedua anak laki-lakinya sudah tumbuh besar, tepat di umur mereka yang 10 tahun. Wajah tampan dan juga pintar, mungkin itu di turunkan dari ibu mereka. Tidak ada yang tahu jika semua ini bukan sepenuhnya kehidupan yang sebenarnya, walaupun beberapa rahasia masih belum mereka ketahui, masih terlalu kecil untuk tahu semuanya.
Hana mencoba menyembunyikan semua yang sudah terjadi, Johan juga lumayan mendukung keputusan itu. Di antara ia harus menerima atau tidak, tapi jangan khawatir akan Johan yang menganggap kedua anak itu sebagai anaknya atau tidak?
Tentu saja dirinya akan menganggap kedua anak itu sebagai anak kandungnya, melupakan masa lalu memang tidak semudah itu, terutama untuk Hana. Siapa yang menyangka jika kedua anaknya sangat mirip dengan masa lalunya. Jujur saja, antara sanggup dan tidak.
"Bunda..."
"Iya sayang, kenapa?" Jack dan juga Jeano, nama kedua anak kembarnya yang sekarang tumbuh besar dengan segala yang mereka butuhkan, Hana berusaha memenuhi kebutuhan kedua anak-anaknya.
Ketika Hana menoleh ke belakang dan melihat kedua anaknya tengah memegang tas, sepertinya mereka baru saja pulang sekolah. Sebenarnya tadi Johan memang mengantar mereka pulang ke rumah, tapi Johan langsung kembali ke kantor karena urusan mendadak membuatnya terburu-buru.
Jack dan Jeano hanya diam, memberikan masing-masing kertas yang entah apa itu. Hana berdiri, beranjak dari dapur dan kemudian menuntun kedua anaknya untuk duduk di kursi meja makan, Jeano melirik ke arah semua makanan itu dengan penuh perasaan yang lapar, tadinya Jack juga sama tidak ada bedanya.
Tapi dia menahan diri, ia takut bundanya marah kepadanya meskipun ia tidak pernah di marahi oleh bundanya selama ini, bundanya terlalu baik kepadanya dan juga kakaknya itu.
"Jadi? What's with this?" Kedua anak itu hanya diam dan menunduk, takut sekali jika bundanya marah. Mungkin efek di goda oleh ayah mereka yang akhlaknya minus itu.
"Nilai Jack jelek, nilainya turun..."
__ADS_1
"Jeano juga turun..." Keduanya sama-sama menunduk, sangat enggan untuk mendongak melihat keadaan karena terlalu takut.
Hana hanya tersenyum, melihat kedua anaknya begitu takut seperti ini. Apa yang di takutkan oleh mereka berdua ini? Tidak ada yang perlu di takutnya, hanyalah sebuah nilai ulangan yang tidak begitu penting.
"Bunda pasti kecewa sama kita ya..."
"No, bunda tidak kecewa sama kalian. Kalian sudah berusaha, banggalah dengan hasil pekerjaan kalian sendiri. Nilainya bagus kok, turun cuma beberapa saja tidak masalah. Jangan sedih anak-anak bunda yang tampan." Hana memeluk kedua anaknya dengan hangat, memberikan semangat yang seharusnya memang anaknya butuhkan sekarang.
Jack dan Jeano, memeluk bunda mereka dengan pelukan erat. Antara mereka berdua lega dan juga masih merasa bersalah, tidak ada tuntutan sebenarnya dari pihak Hana maupun Johan. Tidak ada, anak-anak mereka diberikan sebuah ruangan sendiri untuk prestasi apa yang mereka mau dan melakukan apa saja asalkan tidak berlebihan.
Kebebasan dalam belajar, bukankah semua itu di inginkan banyak anak-anak? Kebebasan dalam belajar itu tidak akan memberikan sebuah tekanan kepada anak, mereka bisa berbuat apa saja dan memilih jalan sendiri. Termasuk nilai tadi, itu bukan bagiannya.
Tapi jika mereka berdua mau berusaha maka hasilnya akan bagus, nilai bagus menyenangkan diri sendiri, jika anak-anak senang maka orang tua seharusnya juga senang. Hanya itu, hidup ini sebenarnya mudah hanya saja manusia merumit sendiri.
"No problem. Ayo makan kuenya, bunda udah masak kue kesukaan kalian berdua loh." Hana mengambil salah satu cookie yang dia buat dan memberikannya kepada kedua anaknya secara bergantian.
Tentang keadaan yang begitu baik ini, Hana memang tidak hanya di rumah saja dan menjadi ibu rumah tangga. Hana mendirikan toko roti di pinggir kota, atas persetujuan Johan tentunya. Itu ia lakukan hanya untuk membantu Johan saja, jika saja tiba-tiba keuangan mendadak menjadi krisis di keluarga mereka maka Hana ada tabungannya.
Walaupun itu mustahil terjadi, tapi tidak ada yang tahu dengan masa depan yang akan datang. Di tambah mereka memiliki dua anak kembar, meskipun tidak menuntut apa pun harus di turuti. Tapi Hana berusaha memenuhi apa yang anaknya mau.
"Bunda, tadi ayah langsung pergi ke kantor mendadak. Ada apa sih?" Hana awalnya hanya diam saja, tapi karena kedua anaknya memang penasaran.
__ADS_1
"Ayah bekerja sayang, tentu saja dia terburu-buru."
"Tapi tadi ayah jemput kita di sekolah, kalau sibuk dengan kita di jemput? Kan ada pak supir di rumah."Jack sekali anak terakhir memang lebih penasaran dari pada Jeano, ia terkesan perduli yang penting pulang ke rumah saja sudah sujud syukur dia.
"Memangnya ayah bilang apa sama kalian?"
"Ayah hanya bertanya, bagaimana sekolah mu? Bagaimana belajarnya ada yang susah? Apakah kami makan siang atau tidak? Sudah mengerjakan PR atau tidak? Sampai rumah harus istirahat menjaga bunda. Hanya itu saja, itu pun berulang kali setiap hari."
"Benarkah?" Jack mengangguk, sepertinya Johan memang melakukan apa yang sudah dia katakan.
Hana tersenyum ketika mendengar penjelasan dari anaknya sendiri, perempuan itu melirik ke arah Jeano yang sibuk makan cookie bagiannya seraya menggambar di kertas gambarnya itu. Entah apa yang dia gambar sekarang.
Ia lumayan penasaran dengan segala gambar yang Jeano ciptakan itu, penuh dengan teori. Coretan yang sebenarnya bukan hanya coretan saja, tapi ada makna di sana.
"Jeani gambar apa? Sibuk sekali sampai tidak sempat cerita sama bunda."
"Tidak apa, sedang bosan saja." Hana melihat bagaimana ekspresi anaknya tidak seperti biasanya, biasanya dia yang paling heboh dari pada Jack.
Tapi sekarang mendadak dia pendiam seperti ini membuat Hana kebingungan, di tambah Jack juga sudah menyadari dari awal. Karena mereka berdua memang selalu bersama, tapi semenjak sampai di sekolah tadi Jeano hanya diam dan ketika di ajak ke kantin dia juga diam saja, biasanya dia akan cerita tentang makanan atau semacamnya. Ada apa dengannya itu?
Jack melihat ke arah Jeano, ada sebuah tanda di sana. Ketika saudaranya itu hanya diam saja dan lebih sibuk dengan dunia menggambarnya itu ketimbang urusan yang lain, yakin saja ada sesuatu yang terjadi tanpa Jack sadari.
__ADS_1
"Yasudah, aku mau ke kamar dulu. Ayo Jeano!" Jeano juga tidak menjawab, dia hanya bereaksi lain. Membersihkan alat menggambarnya dari atas meja makan dan kemudian dia pergi bersama Jack.
Hana tidak menegur sama sekali, mungkin memang ada masalah bagi anak itu. Hana akan memberikan waktu untuk sendirian, waktu sendirian adalah waktu yang bagus untuk berpikir. Jika saja benar ada masalah, Hana berharap jika anaknya bisa menyelesaikan masalah dengan baik tanpa harus memberikan masalah yang lain.