
"Kau sedang apa? Sibuk sekali. Sekolah masih dua hari lagi baru masuk kembali." Ucapan yang Jack katakan memang benar, tidak ada yang salah di sana. Tapi apakah dia masih tidak paham kebiasaan saudaranya itu?
"Menyibukkan diri, apa kau buta?"
"Ya aku tahu, tapi apa yang kau lakukan itu hanya akan membuatmu lelah nanti." Jeano hanya bersikap acuh sekarang tanpa menjawab apa yang dikatakan saudaranya itu.
Jack membuang nafas panjang untuk bersabar, walaupun ia sudah lelah berbicara memberi tahu jika melakukan hal yang berlebihan tidak baik. Tapi Jaeno terlalu keras kepala sampai-sampai dia lupa dunia jika dibiarkan begitu saja, entah bagaimana bisa Jack punya saudara seperti itu? Tapi yang pasti Jack berusaha menjaga saudaranya.
Beberapa kali juga Jeano jatuh sakit karena kelelahan, terlalu banyak berpikir dan tidak istirahat ketika melakukan sesuatu yang secaranya memang berlebihan.
Tapi kenyataannya Jeano tidak mendengarkan dirinya, jadi mau bagaimana lagi jika sudah seperti ini? Menghalanginya juga rasanya mustahil karena Jeano tidak akan mendengarkan dirinya.
Jack keluar dari kamar meninggalkan Jeano sendirian melakukan apa yang dia mau, ketika dia keluar dari kamar. Suara pintu tertutup membuat Jeano berhenti, dia menoleh ke arah pintu dan menatap ke arah sana. Apakah ia salah? Tidak tahu, Jeano hanya melakukan apa yang dia mau lakukan saja dan tidak lebih dari itu.
Memang siapa yang akan perduli akan itu? Tidak akan ada, Jeano melanjutkan lukisannya yang sebelumnya dia buat. Membuka kain yang menutupi lukisannya dan melihat hasil karyanya yang belum sepenuhnya jadi itu.
"Akan aku jadikan sebuah kejutan yang indah, aku hanya membuat sesuatu untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini. Hanya itu saja, apakah aku salah?"
...•••...
Di sisi lain, Jack menuruni anak tangga dan ia melihat beberapa pekerja rumah tangga tengah membersihkan rumah. Mereka belum lama pindah ke rumah tersebut, jadi sebuah kebisingan adalah hal yang wajar di sana untuk sementara waktu. Jack berjalan ke arah satu tempat, ia menebak jika bundanya berada di sana saat ini.
Dan tepat saja, Hana berada di sana dan sedang menyiram tanaman di sana. Jack menghampiri bundanya, dan secara tiba-tiba saja Jack memeluk Hana. Wanita anak dua itu terkejut akan kehadiran Jack yang tidak ia sadari sama sekali.
"Jack, mengagetkan saja."
"Maaf, tapi bunda nampak sibuk sekali dengan tanaman itu. Kenapa semua orang sibuk sekali? Padahal hari ini kan libur."
Hana mematikan air krannya dan membalas pelukan anaknya itu, hari ini memang hari libur dan seharusnya semua orang punya banyak waktu untuk melakukan apa saja yang mereka semua mau. Tapi bagaimana dengan keadaan yang tidak mendukung?
"Mungkin ada banyak hal yang harus di kerjakan?"
"Seperti apa?"
"Seperti..." Hana melirik ke arah Jack, dan kemudian menggelitiki anaknya itu.
Jack terkejut sekali geli dengan apa yang dilakukan bundanya tersebut, mendadak moodnya naik dengan sangat drastis dan perasaan yang sangat teramat senang membuatnya tertawa lepas seperti sekarang ini.
__ADS_1
Hana memang suka sekali menjaili kedua anaknya, tapi jarang untuk Jeano karena anaknya yang satu itu sangat sibuk dan tidak terlalu bisa di ajak bercanda, mungkin karena bawaan dari Johan jadi dia seperti itu. Tapi berbeda dengan Jack, dia ceria dan mudah di ajak bercanda. Hana memang lebih suka bercanda dengan Jack, tapi dia sayang dengan semua anaknya tanpa harus memilih.
Tapi, di saat semua berlalu dengan cepat. Mereka berdua tidak sadar jika Jeano melihat semuanya, antara ia hanya menatap saja karena ia tidak tahu harus melakukan apa dan juga ia harus melihat semua itu.
Percuma saja, ia semakin cemburu. Melihat kenyataan di mana bundanya lebih senang ketika bersama Jack ketimbang dirinya, bahkan kejadian yang kemarin di mana Hana lebih sering mengajak Jack mengobrol ketimbang dirinya. Itu masih membuatnya sakit hati, tapi Jeano berusaha lebih bersikap dewasa.
Wajar jika dia cemburu, dia hanyalah anak berumur 10 tahun yang masih ingin di sayang kedua orang tuanya dan juga diperhatikan. Kerja kerasnya untuk mendapatkan semua hasil itu, tapi kenyataan yang lain membuatnya putus asa.
Jeano masih terdiam di sana sampai di mana, Hana dan Jack melihat ke arah Jeano yang menatap dengan tatapan yang tidak bisa di baca, Hana tidak tahu jika Jeano berada di sana. Ketika ia hendak menghampiri anaknya itu, Jeano sudah pergi terlebih dahulu.
Jack yang melihat situasi, semakin membuatnya merasa bersalah untuk sekian kalinya. Melihat bagaimana ekspresi Hana yang sepertinya menyadari segalanya.
"Bunda di sini saja, biar Jack yang bicara dengan Jeano. Bunda jangan bersedih, semua akan baik-baik saja." Hana hanya diam tidak tahu harus berbuat apa.
Jack yang berlari mencoba menghampiri saudaranya itu kenyataan sudah kalah. Ruangan di mana di sana adalah ruangan khusus melukis milik Jeano, Johan yang menyediakan ruangan tersebut untuk anaknya.
Tapi itu masalahnya, Jeano terkadang tidak mau pergi ke kamarnya dan lebih memilih tetap berada di dalam ruangan itu. Memang di sana ada sofa panjang yang di mana bisa saja di buat tiduran, tapi tidak baik juga jika terus berada di sana.
Jack tidak bisa masuk ke dalam sana karena tidak punya akses masuk. Pintunya bukan pintu manual seperti biasanya, melainkan pintu otomatis, harus di buka dengan pin atau sidik jari.
Jeano yang berada di dalam ruangan itu juga hanya diam, dia tidak bergerak. Bersamaan dengan air matanya yang menetes tanpa halangan sama sekali, dia menangis. Menangis nasibnya sendiri, tapi ia harus apa jika sudah begini? Bersaing dengan saudaranya sendiri? Tidak akan bisa.
Antara Jeano dan Jack, mereka berdua berbeda meskipun kembar. Kemampuan mereka juga berbeda, mau di paksakan untuk sama tidak akan bisa. Dan satu lagi, Jeano tidak akan bisa bersaing dengan Jack. Karena pada saatnya ia sadar, ia akan tetap kalah.
•••
Jack terus menunggu meskipun ia sudah tahu sejak awal jika Jeano tidak akan keluar dari ruangan tersebut, sampai seseorang datang membuatnya mau tidak mau harus melihat.
"Ayah..."
Johan hanya diam, dan kemudian dia pun tersenyum. Dia berusaha mengendalikan situasi yang seperti ini, Hana sudah bercerita kepadanya semuanya. Johan tidak menyalahkan siapa pun di sini, tidak ada yang salah di sini.
"Berdirilah, kembali ke kamar dan istirahat. Jangan buat dirimu terlalu lelah."
"Tapi..." Jack menoleh ke arah pintu itu, membuat Johan seketika paham apa yang Jack rasakan.
"Ayah akan mencoba, Jack. Percayalah kepada ayah, kamu percaya kan?" Jack awalnya tidak menjawab, sampai di mana anak itu mengangguk.
__ADS_1
"Bagus, sekarang kamu tidur dulu. Biarkan ayah yang mengurus ini." Johan mengusap rambut anaknya itu, dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Jack..." Johan terdiam, ia hanya melihat anaknya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Johan membuang nafas panjang, ia melihat ke arah pintu tersebut dan menempelkan kartu akses untuk masuk. Secara otomatis pintu tersebut terbuka, suasana gelap dan sunyi mampu ia rasakan. Ini sama persis dengan suasana kamarnya yang dahulu.
Pria itu masuk ke dalam, melihat putranya tengah terdiam di luar balkon. Johan menutup pintu ruangan tersebut, melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam. Ia melihat ke segala arah, ada banyak lukisan dan tiga lukisan yang sengaja di tutup. Tapi bukan itu tujuannya datang, Johan membuka pintu kaca balkon. Kehadirannya di sadari oleh putranya.
"Hai, putra ayah sedang apa?" Johan mendekat ke arah Jeano, dan tiba-tiba saja tangisan Jeano keras terdengar.
Johan memeluk putranya itu, pelukan hangat yang amat jelas bisa Jeano rasakan. Ia hanya mau seperti ini, apakah sulit di dapatkan? Johan mengusap rambut anaknya itu, menenangkannya.
"Sudah sudah, putra ayah yang sangat kuat ini boleh menangis. Menangis sepuasnya, tapi untuk nanti jangan menangis lagi ya." Johan menggendong Jeano, ia masih kuat jika hanya menggendong anak kecil atau bahkan Hana sekali pun ia masih mampu.
Tidak terlalu berat, karena anaknya memang terlalu kecil untuk anak seusianya. Johan membawa putranya itu masuk ke dalam kamar, karena udara di luar sudah mulai dingin sekarang. Tidak mau melihat putranya jatuh sakit hanya karena kecerobohannya ia harus ekstra menjaga kedua anaknya itu.
Jeano tidak mau melepaskan Johan, bahkan sampai di mana ayahnya itu membawanya ke kamarnya kembali dan membaringkannya di atas ranjang. Johan melihat jika Jack sudah tertidur, dengan keadaan mata bengkak. Mungkin terlalu banyak menangis sampai membuatnya begitu.
Pria itu pun membaringkan putra kecilnya di atas ranjang, setelah itu dia melepaskan jas kantornya dan ikut berbaring di ranjang anaknya itu. Memeluknya dengan erat, Johan pikir seperti ini lah yang anaknya inginkan.
"Good night my son."
...•••...
Johan kembali dari kamar kedua putranya, melelahkan? Itu pasti, ia memang lelah setelah pulang dari kantor dan harus menangani masalah keluarga yang sangat sepele itu. Walaupun terdengar sepele, semua itu berpengaruh akan semua hubungan yang ada. Untuk keluarganya, Johan tidak akan pernah merasa lelah sama sekali.
Ia bisa melihat bagaimana istrinya masih dalam keadaan khawatir, merasa bersalah. Itu pasti akan ada dan dia rasakan, Johan berjalan menghampiri Hana dan memeluk wanita itu yang masih menangis.
Kesalahan yang sama sekali tidak di sadari, kemungkinan memang tidak sama sekali. Wajar saja, putra mereka yang satu itu memang lebih pendiam dan sangat suka memendam semuanya sendiri ketimbang harus di ungkapkan.
"Semua sudah baik-baik saja, jangan lakukan lagi. Perlakukan mereka berdua sama rata, aku tidak mau ada lagi pertengkaran di antara mereka berdua. Hana, aku menyayangi kalian semua. Aku tidak mau kehilangan kalian, kalian keluarga ku."
"Maafkan aku, Johan. Aku tidak bermaksud begitu..."
"Iya, aku mengerti."
__ADS_1