
Johan menuntun Hana masuk ke dalam rumah, sebenarnya tidak perlu dia lakukan tapi tetap saja pria itu memaksakan diri untuk membantu Hana berjalan. Padahal sebenarnya Hana masih kuat jika berjalan sendiri sampai kamarnya.
Mereka di sambut oleh Jihan di depan ruang tamu, bagaimana gadis itu melihat bagaimana sweetnya pasangan itu. Padahal belum suami istri, tapi berharap saja agar mereka berdua bisa bahagia seperti ini terus selamanya. Membiarkan keduanya bahagia bukan sebuah hal yang buruk bukan? Mereka pantas mendapatkan kebahagiaan itu.
"Aku kira kamu tidak sungguhan datang ke sana, Hana. Kamu terlalu nekat, kau pasti kena omel olehnya." Ucapnya dan melirik ke arah Johan yang sudah memasang ekspresi datar.
"Harusnya kamu tidak bilang soal itu."
"Tapi dia memaksaku untuk mengatakan semua tentang dirimu, karena aku gadis yang sangat baik hati dan tidak sombong jadi aku katakan saja semuanya." Jihan memang menyebalkan jika dia di tengah-tengah orang seperti Johan dan Hana sekarang.
Tujuannya cukup baik sebenarnya, menyatukan mereka berdua adalah jalan ninjanya. Apakah Jihan salah? Dia hanya mendukung sepupunya saja untuk dekat dengan pujaan hatinya saja, Jihan memang baik.
"Jangan katakan apa pun lagi kepadanya." Hana menoleh ke arah Johan, tatapannya sudah penuh dengan pertanyaan membuat Johan tidak dapat menatap balik.
Sebenarnya bertatapan dengan Hana bukanlah sebuah hal yang buruk, tapi tidak baik untuk kesehatan jantung pria itu sekarang. Jihan tersenyum jail ketika dia menyadari sesuatu akan yang Johan rasakan. Mereka saudara bukan? Walaupun hanya sepupu saja, tapi mereka berdua sering bermain bersama. Bahkan bercerita banyak hal itu adalah hobi di antara kedua saudara jauh itu.
Johan membawa Hana ke kamarnya, mereka berdua sudah makan di luar tapi. Karena tadi Hana menginginkan sebuah makanan yang mustahil di temukan di negeri orang seperti sekarang, Hana ngidam nasi padang.
Bayangkan saja betapa sulitnya Johan mencari restoran Indonesia menjual nasi padang di Australia sekarang. Perjuangannya memang patut di contoh, pria itu bahkan tidak menyerah setelah dia berkeliling kotak selama 3 jam.
Sebenarnya Hana tidak terlalu memaksa, dia tidak apa jika tidak makan nasi padang. Tapi namanya juga bucin, Johan melakukan apa yang dia inginkan dan terkabulkan setelah hasil 3 jam mencari resto. Ia benar-benar senang ketika mendapatkan restoran itu, melihat Hana malam dengan lahap membuatnya lega.
"Apakah Jihan sudah makan malam?" Johan menunduk ketika Hana bertanya kepada dirinya.
"Mungkin dia sudah makan di rumah mamanya tadi. Jangan pikirkan dia, pikirkan diri mu." Ucapan Johan memang membuat Hana terdiam sekarang.
Johan menoleh ke arah lantai dasar, di mana Jihan sibuk dengan dunianya sendiri sambil makan ayam KFC. Anak itu memang tanpa dosa, di khawatirkan orang lain dia malah santai seperti itu. Tapi tidak masalah, Johan tidak akan memperpanjang masalah ini.
__ADS_1
Hana masuk ke dalam kamar dengan bantuan pria itu, melepaskan sepatu yang Hana kenakan dan Johan pergi ke arah kamar mandi. Dia juga mengambil handuk kecil di lemari kecil di kamar mandi, dia merendam handuk itu dengan air hangat.
Dia kembali lagi, dia handuk yang dia bawa sekarang. Hana tidak mengerti dengan apa yang Johan lakukan, tapi pria itu kembali jongkok di depannya dan membungkus kakinya yang bengkak dengan handuk hangat tersebut.
Hana hanya bisa diam tanpa protes sama sekali, keadaan sekarang di mana Hana duduk di atas ranjang dan Johan berasa di bawah mengurus kaki Hana yang bengkak karena terlalu banyak membawa beban berat.
"Jangan lakukan lagi, jika kamu butuh apa pun itu katakan saja kepadaku, jangan sungkan seperti tadi."
"Aku hanya merasa terlalu merepotkan dirimu." Johan menggelengkan kepalanya merasa heran.
Sifat perempuan itu memang tidak berubah, padahal sudah di katakan tidak ada yang merasa kerepotan jika saja dia merasa kesulitan seperti ini, justru Johan akan sangat senang di mintakan bantuan seperti itu. Ia hanya merasa jauh lebih berguna dan juga di anggap ada.
"Aku sudah katakan, aku tidak keberatan. Lain kali jangan membuat dirimu lelah kamu sedang hamil, Hana." Bagaimana nada lembut penuh khawatir itu terdengar, perempuan itu hanya menunduk.
Entah kenapa moodnya tiba-tiba saja turun, ingin rasanya menangis tapi malu jika menangis tanpa alasan di depan Johan sekarang. Wajahnya sudah merah karena menahan tangisnya sendiri, bahkan mata bulatnya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi.
Tapi ia memaklumi semua itu bisa terjadi kapan saja. Johan beranjak dari sana, dia menaruh handuknya di kakinya melilit handuk itu yang masih terasa hangat.
Johan memegang dua sisi wajah Hana, pipi tembam itu semakin besar ketika Hana menahan tangisannya. Bibirnya cemberut, kenapa menggemaskan sekali?
"Kenapa? Apakah kata-kata ku terlalu kasar kepadamu?" Hana memalingkan wajahnya, ia tidak mau di sentuh oleh pria itu. Jangan tanya bagaimana ekspresi Johan sekarang, dia mendadak panik.
"Jangan dekat-dekat."
Johan mendadak panik, apakah dirinya membuat kesalahan sekarang? Johan sudah panik ketika Hana menjauh darinya sekarang, melepaskan handuk itu dari kakinya dan melemparkan ke segala arah tanpa berpikir lagi.
__ADS_1
Tangannya di lipat di depan dadanya, tepat di atas perut besarnya sekarang. Entah mengapa perutnya sudah terlalu besar padahal bukan umurnya saatnya besar, belum juga menginjak 3 bulan tapi besar perutnya sudah seperti 3 bulan. Bayangkan saja jika sudah 3 bulan ke atas nanti, sebesar apa perutnya nanti.
"Hana-"
"Jangan panggil aku." Johan bertambah bingung sekarang, apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Johan tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sepanjang hidupnya.
Jangankan memperhatikan orang, dia mengurus orang saja tidak pernah karena pada dasarnya pria itu tidak perduli dengan siapa pun. Tapi sekarang berbeda, ia harus menjaga Hana. Bukan karena Dimas memberikannya sebuah kepercayaan, pada dasarnya memang Johan yang mau.
"Hana, jangan seperti ini. Apakah aku salah kepada mu? Aku minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud-"
"Hm." Hana hanya berdehem, membelakangi Johan dengan penuh amarah yang tidak tahu dari mana datangnya.
Perempuan itu menarik selimut menutupi badannya sendiri, tenggelam di dalam kain selimut tebal itu membuatnya seperti buntalan selimut sekarang. Johan tidak bisa menahan gemas sebenarnya, tapi ia tidak mau membuat perempuan itu semakin marah kepadanya nanti.
Sampai di mana Johan tidak bisa melakukan apa pun, dia memilih mengambil handuk itu dan menaruhnya di tempat pakaian kotor berada. Dia menaiki ranjang itu, ikut masuk ke dalam selimut membuat Hana terkejut. Tapi belum diberikan waktu untuk bernafas, pria itu sudah memeluknya.
Mereka berdua jatuh di atas ranjang dengan selimut menutupi keduanya. Merasa jika Hana nanti tidak bisa bernafas nanti, Johan menyingkirkan selimutnya tapi masih dalam keadaan memeluk perempuan itu.
"Ih! Johan lepaskan!"
"Tidak mau, jangan marah seperti ini maafkan aku ya." Ucapnya dengan wajah memelas yang baru saja dia pasang, bagaimana bisa Hana melihat ekspresi itu? Biasanya hanya tatapan datar dan senyuman tipis yang itu pun jarang dia perlihatkan.
Lihatlah pria dingin itu sekarang, dia memasang wajah memelas agar Hana tidak marah dengannya dalam waktu yang lama. Hana memalingkan wajahnya ke arah lain tapi dagunya di pegang olehnya membuat Hana tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Lihat aku, maafkan aku ya..." Hana tidak bisa menahan emosionalnya sendiri berakhir menangis, perempuan itu menangis dan bersembunyi di dada bidang itu.
"Aku merepotkan hiks hiks hiks."
__ADS_1
"Tidak, kata siapa? Kamu tidak merepotkan, sudah-sudah jangan menangis dan maafkan aku."