Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 76


__ADS_3

Sekarang harus melakukan apa? Seolah tidak ada jalan lain, Anna hanya diam saja sejak tadi membuat Wildan merasa cemas. Apa yang perempuan itu pikirkan sekarang?


"Ada masalah?" Anna seketika sadar dari lamunannya, dia menoleh ke arah Wildan di mana pria itu tengah menyetir sekarang. Mereka berdua berada di satu mobil yang sama, tengah ke sebuah tempat tujuan yaitu tempat yang Anna mau.


"Tidak ada."


"Kamu serius? Kamu melamun sejak tadi, apanya yang baik-baik saja?"


"Aku tidak apa, kak. Aku baik-baik saja." Wildan mencoba untuk percaya dengan apa yang Anna katakan itu, walaupun ia tidak yakin dengan ucapan perempuan itu karena ia merasa memang ada yang tidak beres sebelumnya. Tapi ia mencoba tetap diam, itu adalah privasi Anna dan ia mencoba menghargai privasi seseorang.


...•••...


Tepat di pukul 11 siang, Hana masuk ke dalam kelasnya. Dia tidak melihat siapa pun kecuali Aca di dalam kelas, gadis itu hanya diam saja bahkan semenjak Hana datang ke kelas. Gadis itu mencari tempat duduk yang berdekatan dengan Aca, tentu saja dengan niat baik memperbaiki hubungan mereka berdua sekarang yang kacau.


Tapi beberapa saat kemudian, Aca menoleh ke arah Hana. Membuat Hana juga menatap ke arah gadis itu, entah apa yang akan dia katakan sekarang tapi ada sebuah kalimat yang membuat Hana senang sekaligus penasaran.


"Ikut aku ke rooftop gedung c." Aca beranjak dari tempat duduknya begitu saja, sedangkan Hana hanya mengikuti dari belakang. Mungkin beberapa mahasiswa yang tahu tragedi beberapa minggu lalu merasa heran saja tapi mereka mencoba positif thinking. Mungkin Aca mau memperbaiki masalahnya.


Sedangkan Hana terus berjalan mengikuti. Gedung C adalah gedung fakultas bisnis di mana tidak banyak lantai di sana, hanya satu lantai saja karena memang di sana khusus praktek presentasi saja, karena jumlah mahasiswa banyak tidak mungkin ruang praktek hanya satu saja.


Di sana mereka berada, berdua saja di sana dalam keamanan sunyi tidak ada siapa pun di sana. Hana merasa bingung kenapa Aca mengajaknya pergi ke sana, memangnya ada yang di bicarakan?


"Kenapa?" Aca berdiri di paling ujung gedung, membuat Hana lumayan waspada.


"Aca, jangan terlalu ke sana. Nanti kamu jatuh-"


"Memang itu tujuan ku." Ucapan Aca membuat Hana terdiam, apa maksudnya?


"Apa-"

__ADS_1


"Aku mau kau hancur, aku mau Satya membenci mu, aku mau semua orang membencimu dan menginginkan kau mati. Walaupun memang sudah ada, tapi aku ingin lebih banyak orang membenci mu. Bukan mendukung mu." Hana seketika terdiam, apakah yang Aca katakan itu bukan membual semata atau Hana yang salah mendengar.


Aca tidak seperti ini Hana yakin, ini bukan sahabatnya yang pernah dia kenal selama 1 tahun belakangan ini. Hana mencoba mendekat ke arah Aca, tapi gadis itu semakin melangkah mundur.


"Jangan ke belakang Aca-"


"Aku yang menyuruh orang untuk membunuhmu."


"Jadi kau-" Aca tertawa lepas, akhirnya dia bisa mengatakan semua ini tanpa harus terus bersandiwara yang membuatnya muak sendiri.


Tapi sekarang dia tidak perlu melakukan itu, apakah setelah ini ia tamat atau tidak itu bukan urusan. Yang paling dia mau adalah semua orang membenci Hana, sama seperti dirinya membenci gadis itu bahkan sampai sekarang ini.


Hana tidak habis pikir, apakah dirinya bermimpi buruk semalam sampai kejadian ini terjadi kepadanya? Hana bahkan tidak pernah menduga jika semua ini.


"Padahal aku percaya dengan mu, aku menganggap mu lebih dari sahabat ku."


"AKU TIDAK PERDULI! AKU HANYA MAU KAU MATI SAJA HANA!" Hana tidak bisa berpikir jernih, kepalanya terasa akan pecah sekarang juga karena terlalu lama menahan air matanya sendiri.


"TIDAK ACA!!" Aca benar-benar menerjunkan dirinya, membuat semua orang tentu saja terkejut. Bahkan ketika Aca terjatuh mendarat tepat di atas mobil seseorang dalam keadaan pendarahan di bagian kepalanya, Hana menangis di saat itu juga.


"Apa yang kau lakukan?" Suara seseorang membuat Hana seketika menoleh, pria itu berada di sana sekarang ini bahkan ketika itu dia menatap Hana dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Satya?"


"Jangan mendekat, kau membunuhnya?" Hana menggelengkan kepalanya, dia ingin berteriak jika itu tidak lah benar. Aca terjun sendiri, dia tidak mau mendengarkan Hana.


Ketika itu Satya hanya terdiam, dia melangkah ke arah Hana dan mendorong istrinya itu. Ia hanya mau semua ini tidak lah terjadi, di saat Satya akan membuka hatinya dan malah dia yang kecewa sekarang.


Hana terjatuh, dia menangis. Terus menggelengkan kepalanya, tidak benar. Semua ini bukan kesalahan Hana, sama sekali bukan kesalahan gadis itu.

__ADS_1


"Kau pembunuh!"


"Satya dengarkan aku! Satya!" Hana menangis, dia memukul kepalanya sendiri. Berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi saja dan Hana mau dia segera bangun jika benar hanya mimpi, mimpi ini buruk.


...•••...


Ambulan datang, bersama semua mahasiswa yang juga penasaran dengan apa yang terjadi. Bahkan saat itu, Hana di tahan oleh pihak kepolisian karena mendapat tuduhan pembunuhan berencana, masih dalam tahap menyelidikan bukan penahanan.


Semua mahasiswa tidak menyangka, bahkan tidak menduga jika pelakunya adalah Hana. Tapi bagaimana lagi, mereka juga melihat keberadaan Hana di rooftop gedung bisnis bersama Aca, bahkan semua saksi mengatakan itu.


Dan di saat peristiwa itu, Anna menatap ke arah Hana yang di tahan oleh pihak kepolisian tidak bisa berkata apa-apa. Semua mahasiswa sudah mengkritik bahkan menghujat Hana habis-habisan.


Ketika Anna mendapatkan tatapan balasan dari saudaranya, seketika dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau bertatapan dengan Hana, kenapa? Perempuan itu, diam-diam menahan tangisannya sendiri.


'Maafkan aku, Hana. Aku terpaksa melakukan itu...'


Hana masuk ke dalam mobil polisi, sedangkan Theo sendiri dia merasa bingung dengan keadaan. Ada apa ramai seperti ini? Theo baru saja sampai, tapi kenapa kampusnya di penuhi dengan mobil polisi?


"Raya?" Gadis yang dia panggil, tidak kunjung menyauti dirinya. Dia justru malah melamun, menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Ada apa ini?"


"Hana membunuh Aca." Satu kalimat saja membuat Theo terdiam seketika, ia masih tidak bisa menangkap percakapan dengan baik. Sampai di mana Raya menghadap ke arah Theo, dia menatap ke arah kembarannya itu.


"Apa maksudmu? Kau mengigau?"


"Hana mendorong Aca dari gedung C." Theo hanya diam, ia menatap ke segala arah. Di mana mobil polisi akan segera pergi, pria itu lantas mengejar ketika ia melihat gadis itu berada di dalam sana.


Kenapa? Theo tidak tahu apa yang terjadi tapi ia mencoba untuk tidak termakan berita, ia yakin ini tidak akan terjadi. Tidak benar, semua ini tidak benar bukan? Katakan kepada Theo jika semua ini tidak benar.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Hana tidak seperti itu. Aku tidak percaya semua ini..."


__ADS_2