
"Aku dengar kau akan melanjutkan kuliahmu di Jepang?" Ucap Dimas kepada lelaki di depannya yang memiliki usia jauh darinya, siapa lagi kalau bukan Johan.
Remaja itu sudah tumbuh terlalu besar untuk ukuran anak remaja, tidak remaja lagi. Lebih tepatnya remaja menginjak dewasa, bahkan perawakan Johan sudah seperti pria yang sudah memasuki usia 20 tahun ke atas. Mungkin karena hormonnya sekaligus tekanan keluarga membuatnya tumbuh terlalu cepat.
"Iya, ayah yang meminta ku. Jika aku menuruti dua permintaanya, aku bebas melakukan apa saja tanpa dia ikut campur." Dimas mengerti dan paham betul apa yang Johan rasakan.
Karena dirinya dulu pernah dituntut untuk menjadi apa yang orang tuanya inginkan. Tapi sekarang sudah tidak lagi, Dimas memutuskan keluar demi impiannya dan juga Hana. Hanya kedua alasannya itu yang membuat Dimas berani mengambil keputusan yang begitu berat untuknya.
"Lalu, mau berangkat kapan?" Pertanyaan yang dilayangkan oleh Mahen kepada Johan, pemuda itu tidak tahu harus menjawab apa.
Ia pun tidak terlalu mengetahui rencana ayahnya sendiri, tapi ia berusaha untuk tetap waspada. Meskipun pria tua itu adalah ayahnya, tetap saja Johan tidak mau tertipu untuk sekian kalinya.
"Entah lah, minggu depan mungkin?"
"Semoga kau sukses di sana, dan apa yang kau inginkan tercapai." Ucap Tio dengan menepuk bahu tegap milik Johan, dengan senyuman dan kata-kata mendukung.
Johan hanya tersenyum dan menunduk, bukan karena terharu akan kata-kata temannya melainkan memikirkan sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak jauh hari.
'Apa tidak apa jika aku pergi dari sini? Bagaimana dengan Hana nanti? Apa dia akan baik-baik saja tanpa diriku?'
...•••...
Perkiraan Johan salah, ia ternyata berangkat ke Jepang lebih cepat dari dugaannya. Tentu saja ia akan mengabari teman-temannya agar tidak ada yang khawatir kepadanya, di bandara ia berjalan dengan langkah pelan. Ia memikirkan Hana, tidak jauh itu selalu Hana yang dirinya pikirkan.
Entah itu sebuah pertanyaan yang membuatnya selalu berpikir bahkan sampai tidak bisa tidur, Johan melangkah dengan langkah lesu sampai suara seseorang membuat Johan menoleh.
"Johan!"
__ADS_1
Johan menoleh ke arah suara, mencari sumber suara itu ternyata ia melihat gerombolan anak laki-laki dan tidak lain adalah teman-temannya sendiri. Tentu saja Johan akan menghampiri mereka semua, dan siapa sangka jika ada.
"Hai." Senyuman itu berubah menjadi wajah kebingungan, ia menamati wajah manis yang selama ini dirinya rindukan akhirnya tepat di depannya.
"Kau akan berangkat? Kenapa cepat sekali kawan, untung sana Mahen segera memberi tahu ku tadi. Jika tidak, entah apa yang terjadi." Johan mengalihkan pandangannya, tidak baik terus menatap seseorang karena akan membuat jantungnya meledak nanti. Anggap saja Johan sedang lebay untuk terakhir kalinya.
"Maafkan aku, aku tidak tahu akan secepat ini." Johan tidak enak hati dengan semua temannya yang kenyataanya lebih tua dari dirinya.
"Tidak apa, hati-hati di jalan."
"Jaga dirimu baik-baik."
"Jangan banyak berkelahi."
"Belajar yang rajin."
"Jangan merokok atau minum alkohol juga, tidak baik untuk kesehatan." Johan mengangguk seraya terkekeh dengan semua perkataan yang lain, ia berjabat tangan dengan Dimas dan memeluk pria itu. Pria yang ia anggap seperti saudara laki-lakinya sendiri, lebih dari itu dan lebih berharga dari keluarganya.
Sampai pelukan itu selesai dan Dimas memberikan ruang untuk Johan kepada adiknya. Hana tidak tahu harus bilang apa atau mengatakan sesuatu, ia tidak pernah berbincang dengan Johan sejauh ini atau bahkan ketika kelulusan kemarin adalah momen terakhir mereka bertemu dan sekarang.
"Sampai jumpa, jaga dirimu."
Johan tersenyum tipis, ia mengusap rambut Hana untuk pertama kalinya membuat gadis itu terdiam beberapa saat. Sampai Johan tersenyum ke arahnya, senyuman yang tidak pernah Johan tunjukan ke siapa pun kecuali teman-temannya sendiri.
"Jaga dirimu, jangan tunduk dengan orang dan jangan mengalah. Egois lah setidaknya sekali, itu akan lebih baik." Ucapan Johan membuat Hana berpikir. Tapi dengan segera Hana mengangguk, sampai tanpa di duga jika momen itu akan terjadi.
__ADS_1
Di mana Johan mendekat dan menarik Hana secara tiba-tiba, dan kemudian mengecup puncak kepala Hana dengan waktu lumayan lama. Membuat Hana mematung seketika, ingat di sana bukan hanya mereka berdua saja melainkan ada Dimas beserta anggota geng Elang yang lain.
Sampai Johan menjauh dan kembali mengusap rambut Hana. Melangkah berjalan mulai menjauh, menarik kopernya dan menaruhnya ke mesin berjalan untuk menyimpan koper dan tas besar lainnya. Johan masuk ke dalam kawasan penumpang penerbangan.
Sebelum itu ia sempat menoleh ke arah belakang dan menatap yang lain, teman-temannya terutama Hana yang masih menatapnya.
'Aku akan mengingat momen ini, dan setelah aku kembali. Aku akan membuatmu bahagia sampai kau lupa akan masa lalu mu, aku berjanji akan itu, dan bersumpah dengan janjiku.'
Hana melambaikan tangan ke arah Johan dan lelaki itu tersenyum tipis, membalas lambaian tangan itu dan kemudian kembali berjalan ke dalam, menaiki pesawat yang sudah menunggu dirinya.
"Hah, momen menyedihkan." Haikal merangkul Mahen dan mengajak yang lain untuk melihat pesawat lepas landas di bagian bandara lain.
Seseorang menggenggam tangan Hana, tentu saja membuat Hana terkejut. Ia menoleh ke arah samping, ternyata Dimas yang menggandengnya.
"Mau melihat pesawat Johan lepas landas?" Hana mengangguk dan kemudian Dimas menuntut Hana untuk ke tempat yang dirinya maksud.
Sampai di sana Hana menyaksikan beberapa pesawat sudah lepas landas, bukan pesawat yang Johan naiki. Penerbangan terakhir ke Jepang baru saja akan lepas landas, Hana begitu antusias ketika melihat pesawat itu mulai bergerak dan mulai lepas landas.
Hana menatap pesawat itu, sedangkan yang berada di dalam pesawat terus menatap ke arah luar. Sekilas ia melihat tapi ia tahu jika Hana tengah menatap dirinya, Johan tersenyum tipis.
"Aku akan kembali setelah ini, kembali dan membuat dirimu bahagia selamanya. Tunggu aku kembali, oke."
Sedangkan di posisi Hana, pesawat sudah mulai jauh dari pandangan. Dimas sudah menariknya untuk kembali pulang, pandangan Hana masih ke atas langit. Dan kemudian ia tersenyum.
'Aku memang tidak tahu seperti apa kamu, tapi aku yakin kamu baik karena sudah selalu melindungi ku selama ini. Semoga kita bisa bertemu lagi.'
"Pulang sekarang?" Tanya Dimas, dan di jawab anggukan kecil dari Hana. Pria itu pun langsung berjalan dengan tangannya yang masih menggandeng tangan mungil adiknya itu. Menjaganya seolah tidak mau jika Hana pergi darinya meskipun sekejap.
__ADS_1
Hana berjalan dan terus melihat langit, merasa keberuntungan untuknya bisa mengenal Johan bisa sejauh ini padahal mereka berdua jarang berkomunikasi. Jangankan ngobrol, menatap saja jarang sekali. Tapi Hana bersyukur dengan itu, ia bisa tahu jika ada orang baik di sekitarnya selain Dimas.