
Theo menoleh ke arah samping, ia hanya berdiri bersandar di tiang gedung. Padahal sudah jamnya pulang tapi dia seolah memang malas harus pulang, lagi pula Raya pulang bersama calon suaminya. Dia tidak perlu banyak berpikir akan kembarannya itu.
Di tengah dia sibuk membaca komik naruto di tangannya, suara seseorang membuatnya menatap ke depan. Bukan orang yang hadir di depannya, melainkan suara dari jarak lumayan jauh. Karena keadaan di sana memang sepi, nyaris tidak ada yang lewat di sana. Theo berada di lorong yang berdekatan dengan taman.
Ia menoleh ke arah samping, ia melihat ada apa di sana. Ia melihat dua orang yang tidak asing di pandangannya, Theo hanya diam di sana tanpa ada suara sama sekali. Dua perempuan itu berbicara entah apa yang mereka katakan, tapi tidak begitu jelas Theo mendengar apa yang mereka lakukan. Hanya samar-samar saja.
Sampai dia melepaskan satu headset yang dia pakai, dan mendengarkan percakapan mereka sampai selesai tanpa ketahuan. Tidak ada niat apa pun, ia hanya ingin tahu karena mereka menyebut nama seseorang yang Theo mencoba melupakannya. Sampai di mana salah satunya memutuskan pergi dari sana, tentu saja dia pergi berlawanan arah dengan di mana Theo berdiri. Mereka tidak akan menyangka jika ada saksi mata yang melihat semua itu.
Theo menoleh ke arah kemana gadis itu pergi, tentu saja dengan tatapan tajam seolah akan membunuh sekarang juga. Tapi dia mencoba bersabar sekarang, meskipun kesabaran seseorang memang ada batasannya. Theo bukan Tuhan selalu yang terus bersabar, ia manusia biasa yang punya emosi tinggi di mana jika sudah batasannya.
...•••...
Hana duduk di bangkunya sendirian, entah kenapa ia merasa jika Aca semakin menjauhi dirinya. Mungkin karena banyak beberapa mahasiswa yang tidak memperdulikan gadis itu sama sekali.
Mereka bahkan tanpa berpikir panjang melempar sampah mereka ke arah Aca tanpa harus berpikir. Di jalan juga Aca sering di ganggu, entah dengan segala kejahilan yang ada. Hana hendak menolong tapi Raya selalu menahannya seolah gadis itu tidak mau jika Hana semakin masuk ke dalam dunia gelap Aca.
Tapi Hana tidak bisa terus seperti itu, ia tidak akan tega melakukan itu. Hana berusaha berpikir untuk memperbaiki hubungannya dengan Aca sekarang, ia tidak suka suasana seperti ini. Raya dan Ayu juga hanya diam di bangkunya, biasanya Raya akan membela tapi entah kenapa dia hanya diam saja sekarang.
Aca hanya duduk diam, dengan headset dia pakai di kedua telinganya untuk membuat telinganya berisik tanpa mendengarkan omongan orang lain. Dua siswi, tentu saja mereka berjalan dengan sengaja dan menuangkan air ke atas kepala Aca. Membuat Hana seketika menoleh ke arah Aca dan melihat gadis itu basah, masih dalam keadaan diam saja.
"Makanya, udah di baikin malah ngelunjak. Manusia bukan sih?"
__ADS_1
"Kasihan banget, di jauhin banyak orang ya? Makanya jangan muka dua, rasain sendiri akibatnya." Ucapnya, dia pun pergi begitu saja.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Hana, membuat kedua siswi itu menoleh ke arah Hana. Mereka malah mengangkat kedua bahu mereka seolah tidak pernah melakukan apa pun.
"Hanya melakukan sebuah kebenaran, lagi pula aku tidak mau jadi korbannya nanti."
"Korban?"
"Kau korban pertamanya. Hana! Kau harus sadar, membelanya terus tidak akan membuat sadar. Dia akan semakin membunuhmu, kau tahu?" Raya mulai melirik karena merasa suasana kelas menjadi ramai.
Ia melirik ke arah Hana, dia mulai berdiri dan menghampiri kedua siswi beda jurusan itu untuk keluar. Membuat mereka keluar dari kelas karena suasananya sedang enak di buat tidur, malah keributan yang dia dapatkan.
Hana menghampiri Aca, gadis itu meminjamkan sapu tangan kepada Aca. Dengan niat baik tentu saja, Hana hanya tidak. mau jika Aca merasa sendirian akan semua kejadian itu. Mau bukti apa pun, dirinya tidak akan pernah percaya dengan semua itu. Aca adalah teman baiknya, tidak mungkin melakukan semua itu kepadanya atau bahkan sampai membunuh dirinya.
"Apa perduli mu? Senang kau aku diperlakukan seperti ini? Senang kau!"
"CUKUP ACA!" Teriak Raya dari pintu kelas, dia baru saja kembali setelah menangani dua siswi tadi. Tapi dia malah melihat pemandangan seperti ini.
"Kenapa? Kau keberatan?"
"Seharusnya kau sadar jika kau salah di sini, kenapa kau malah menyalahkan Hana yang tidak salah sama sekali. Teman macam apa kau?" Aca menatap ke arah semua orang, dia justru malah tersenyum meremehkan. Dia berdiri membawa tasnya, mendorong Hana dengan kasar membuat Raya hendak melangkah maju tapi Ayu seolah menahan dirinya.
__ADS_1
Aca pergi dari kelas dengan keadaan kacau, dia bahkan mendorong Raya yang berada di pintu. Raya hanya bisa menggeram menahan amarahnya, jujur ia tidak akan bisa dengan yang namanya menahan amarah tapi dia menghadapi seseorang yang pernah dekat dengan dirinya.
Raya menjambak rambutnya sendiri, sedangkan Ayu membuang nafas panjang, ia tidak mengerti dengan situasi semacam ini dan Ayu juga sudah menduga akan sekacau ini. Ia menoleh ke arah Hana yang hanya diam saja, gadis itu hanya menatap ke arah sapu tangannya yang terjatuh bahkan di injak oleh Aca.
Padahal sapu tangan itu adalah kenangan di antara mereka berdua, di mana pertama kali mereka berdua kenal sampai memiliki hubungan persahabatan yang seolah tidak akan pernah pudar. Namun, kenyataannya tidak sesuai dengan rencana. Sapu tangan itu terbuang, di injak seperti tidak ada nilainya sama sekali.
Hana membungkuk dan mengambil kain itu, dengan gambar dua gadis di sana. Hana hanya menatap, kenapa semua menjadi kacau semenjak dirinya sudah baik-baik saja dalam hubungan suami istri? Dia justru kacau dalam urusan ikatan pertemanan seperti ini? Hana tidak bisa memilih salah satu, karena Hana butuh mereka semua untuk mengisi kehidupan Hana.
"Jangan di pikirkan, aku ada di sini." Hana menoleh ke arah Ayu yang mencoba menenangkan dirinya. Hana menangis di saat itu juga, Ayu memeluk Hana dengan erat membuat gadis itu tegar. Setidaknya melupakan masalah dalam jangka pendek.
Sedangkan di sisi lain, gadis itu berdiam diri di taman melihat taman air buatan di halaman belakang kampus. Tidak begitu banyak mahasiswa tapi masih di bilang cukup ramai di sana.
Ia hanya diam di sana, memikirkan banyak hal. Di satu sisi ia kenal dengan dirinya sendiri, nyaris saja ia menggagalkan rencananya sejak awal dan memilih menuruti hatinya. Berusaha ia tetap berpegang teguh kepada pendiriannya sendiri selama ini, tidak akan tergoda dengan apa pun selain tujuan utamanya nanti tercapai.
Mengambil sesuatu di jantung jaketnya, ia memandangi kain tersebut. Berwarna biru dengan gambar dua gadis di sana bersamaan dengan inisial di sana, entah kenapa di sisi lain ia merasa heran.
'Dia masih menyimpan pemberiannya.'
Tidak akan ia menduga akan itu, padahal dirinya sudah berbuat di luar dugaan semua orang. Menatap ke depan, ia mencoba menepis segala pikiran yang secaranya tidak perlu dia pikirkan.
Dia pun meremat kain tersebut sampai tidak berbentuk, mengambil batu agar kain itu tenggelam sekaligus terbuang jauh. Setelah itu, dia melemparnya ke kolam. Dengan segala amarah sekaligus dendam yang ada di dalam hatinya, jangan sampai perasaan lain membuatnya tidak lagi berpegang kepada tujuan utamanya.
__ADS_1
"Harus tenggelam, seperti jiwa ini. Yang sudah tidak menampakkan diri."