Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 80


__ADS_3

Mungkin yang dirasakan orang lain tidak akan ada yang tahu bagaimana rasanya, mereka hanya bisa menghakimi tanpa tahu awal mula yang terjadi, bayangkan saja bagaimana kehidupan mereka yang sunyi itu bersamaan dengan banyaknya orang-orang yang selalu saja mengucilkan.


Kehidupan masyarakat itu keras, bagaimana bisa bertahan? Tidak ada cara lain, setiap orang mempunyai cara hidup mereka sendiri entah itu baik buruknya itu adalah masalah belakangnya. Dunia luar tidak seindah yang dibicarakan, semuanya hanyalah sebuah omong kosong.


Tidak ada kata setia di sini, hanya ada sebab penghianatan yang itu terlihat atau tidak. Manusia kejam? Itu sudah biasa, jangan terlalu terkejut dengan banyaknya orang-orang yang sangat tidak perduli dengan orang lain. Bahkan ada orang yang terlalu baik, tapi sayangnya dia tidak pernah di anggap bagaimana keberadaannya sekarang.


Di lingkungan masyarakat yang sekarang, tidak ada yang perlu di harapkan karena memang tidak ada orang yang bisa dipercaya. Semua penghianat saja, mereka hanya memanfaatkan seseorang dengan cara mereka sendiri. Anggap saja dunia tidak pernah adil.


...•••...


"Apa yang sudah terjadi?"


"Kau tidak akan pernah menyangka dengan semua ini, yang terjadi sekarang." Pria itu melirik dengan tajam ke arah orang itu, entah ia merasa memang ada yang tidak beres dengan hari ini. Bukan hari ini, sudah beberapa hari ini memang ia harus berhadapan dengan manusia tidak tahu diri.


Memangnya siapa yang akan bertahan di situasi ini? Kecuali perasaan penuh keterpaksaan yang memang menekan segalanya, Johan menatap ke depan dengan tatapan tajam.


Ia akui, jika dirinya memang bisa dikatakan terlalu melanggar privasi seseorang. Tapi ia juga terpaksa melakukan semua ini karena ini adalah kehidupan, tidak ada yang namanya privasi. Setiap privasi adalah aib di mata orang lain, siapa yang akan perduli dengan itu?


"Periksa semua kamera yang ada, temukan semua bukti aku tidak mau tahu ada kegagalan di sana." Ia tidak akan menerima berita buruk, Johan harap semua akan baik-baik saja.


Tapi bagaimana ia harus bertindak di depan nanti? Ia tidak bisa melakukan semua itu, di sisi lain keluarganya juga mengengkang dirinya agar tetap diam dan tidak mengurusi orang lain.


Johan membuang nafas panjang, ia mendapatkan banyak laporan yang membuatnya harus merasakan sakit kepala. Ia tahu semuanya, tentu saja karena koneksinya begitu meluas.


Apa yang dirinya katakan maka mereka akan melakukannya, apa yang dia mau juga pasti akan di kabulkan cepat atau lambat. Siapa yang akan menentangnya? Kekuasaan ini sedikit menguntungkan meskipun dominan merepotkan.


"Kami sudah berusaha, tuan. Tapi sepertinya kamera CCTV sudah di sabotase sebelumnya, tidak ada rekamannya."

__ADS_1


"Lalu? Apakah aku akan perduli? Lakukan apa yang bisa dilakukan. Jangan banyak bicara, kerjakan saja." Mungkin sekarang bukan kesempatan bagus, ia harus menyelidiki semua ini sendirian.


Ia menatap ke arah ponselnya yang berdering, tertera nama seseorang di sana yang membuatnya merasa agak lain. Ada apa lagi sekarang? Johan memutuskan untuk menyambungkan sambungan telponnya, mendengar kabar. Semoga saja semua baik.


Tapi kenyataan tidak berpihak kepadanya, bagaimana bisa separah ini? Memang dunia tidak ada yang tahu seberapa besar rahasia itu, ia tidak akan sanggup menuntaskan sendirian. Bagaimana sekarang?


"Aku akan datang ke lokasi, tetap awasi dia." Ucapnya dengan tegas, sebenarnya ia sudah lelah tapi untuk seseorang yang masih ia perjuangkan sekarang tidak akan ada kata lelah sama sekali.


Johan beranjak dari tempat duduknya, dia keluar dari ruangannya di ikuti satu sekertarisnya, pria itu adalah teman Johan dari kuliah di Australia. Jadi mereka memang cukup dekat, tapi jika berada di lingkungan kerja mereka berdua akan bersikap profesional tentu saja walaupun mereka berteman lama.


Dua pria tampan itu keluar dari ruangan dan kemudian mereka menuju ke lift, tentu saja tujuannya berada di lantai dasar gedung tersebut. Johan menatap ke depan dengan tatapan kosong, dia banyak pikiran sekarang. Entah kenapa begitu berat memperjuangkan seseorang, sebenarnya ia sudah lelah. Lelah sekali, anggap saja Johan hampir saja menyerah.


Tapi bagaimana ia bisa diam saja sekarang? Tidak akan pernah ia membiarkan seseorang yang dirinya cintai menderita begitu saja. Tidak akan pernah membiarkan, ia akan berusaha sekeras mungkin untuk membuatnya bahagia. Walaupun Johan bisa dikatakan kalah.


Keluar dari lift mereka di sambut pegawai yang membungkuk memberikan salam secara serentak dan di balas dengan anggukan singkat dari petinggi mereka. Setelah pria itu keluar dari pintu utama gedung, menaiki mobil pribadi masing-masing tentu saja. Keduanya pun meluncur ke lokasi.


Berjalan dengan gayanya yang begitu penuh kesombongan mereka masuk ke dalam toilet, kemudian menutup toilet tersebut. Mereka hanya sekedar nongkrong di sana, merokok atau membicarakan hal yang random. Sampai seseorang datang membuka pintu toilet dan berjalan ke arah wastafel.


Gadis itu hanya mau membersihkan pakaiannya yang terkena saus, karena tidak kesengajaannya tentu saja. Mereka menatap ke arah gadis itu yang tidak lain adalah Hana.


"Bukankah perempuan itu yang mendorong temannya sampai koma?"


"Aku rasa."


"Bagaimana jika kita kerjain dia saja? Pasti sangat seru." Mungkin itu yang mereka katakan, Hana bahkan hanya diam saja karena urusannya hanya membersihkan pakaian. Jika urusannya selesai ia akan keluar dari toilet, se simple itu men.


Salah satu dari mereka menghampiri Hana dan tentu saja dengan niatnya yang sejak awal sudah dia katakan. Tapi secara tiba-tiba pintu toilet terbuka membuatnya menabrak pintu karena terkejut sekaligus tidak ada persiapan untuk menghindar.

__ADS_1


Suaranya cukup keras, membuat Hana menoleh ke arah samping. Sedangkan sang pelaku yang membuka pintu toilet secara tiba-tiba keluar, dia berdiri di sisi pintu dan melihat seorang gadis yang terjatuh di lantai. Untungnya dia di tolong oleh temannya, karena dirinya malas menolong orang.


"Kau! Tidak punya mata ya?!" Dia berkata dengan keras tepat di depan Raya, tapi gadis itu bersikap seolah tidak ada yang terjadi.


"Mata? Kau tidak lihat aku baru saja keluar? Harusnya aku yang bertanya, kau punya mata atau otak? Atau tidak ada dari salah satu itu? Baiklah aku maklumi, kalian lumayan bodoh." Ucapnya secara terang-terangan begitu saja.


Mereka menggeram marah, tapi mereka juga melirik ke arah belakang di mana Hana sudah keluar dari toilet. Sedangkan Raya melirik sekilas ke arah belakang, ia pun membalikkan badan walaupun jujur saja dia kasihan dengan para gadis itu.


"Lain kali hati-hati, di dunia ini tidak menerima orang ceroboh. Have fun guys!" Ucapnya seraya mengangkat tangan melambaikan tangan dan segera meninggalkan toilet tersebut.


Raya tersenyum sinis, ia malas sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Benar bukan, ia hanya berjalan berjalan 1-2 meter dari tempat Hana berjalan. Dia terus menatap ke arah punggung gadis itu, entah kenapa keadaannya semakin buruk. Raya memalingkan pandangan agar tidak ada yang menyadari akan arah pandangannya.


Sampai di mana seseorang berteriak membuat Raya seketika menoleh ke arah depan lagi, dengan tatapan datar. Sebenarnya dia terkejut, hanya saja ia tidak boleh merasa gegabah.


"HEY PEMBUNUH LIHAT KEMARI!" Tidak ada yang baik dengan semua kata-kata itu. Raya melihat sendiri beberapa mahasiswa melempari Hana dengan sampah-sampah mereka.


Sangat kekanakan bukan? Padahal umur mereka sudah 20-25 tahun, masih saja bersikap seperti itu dengan orang lain yang jelas tidak ada penjelasan di mana letak kesalahannya. Raya tidak membela seperti biasanya, dia hanya diam saja di belakang dan menatap.


Tangannya mengepal kuat karena ia juga kesal melihat pemandangan tersebut, tapi secara tiba-tiba seseorang merangkulnya dan dia menoleh dengan senyuman senang.


"Bukankah dia pantas mendapatkan itu? Aku senang melihatnya menderita sekarang." Raya hanya melirik tajam, tidak ada minat menjawab sama sekali. Benar-benar Raya malas berbicara dengan manusia tidak punya otak seperti mereka.


"Kenapa kau diam saja? Seharusnya kau senang karena dia mendapatkan akibat perbuatannya." Ucapnya lagi, Raya malas menanggapi dan dia memilih menyingkirkan tangan lelaki itu dari bahunya.


"Kau pikir aku perduli?" Ucap Raya dan kemudian pergi begitu saja setelah dia mengirimkan pesan kepada Theo.


'Dia akan datang cepat, tentu saja. Dia kan cinta mati dengan gadis pembunuh itu.'

__ADS_1


__ADS_2