Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 29


__ADS_3

Hana sudah membereskan semua pekerjaannya, dari membersihkan lantai sampai kaca dan sekarang ia harus menutup tokonya juga. Tutup lebih awal karena beberapa barang sudah habis, rasanya percuma saja jika di buka kalau barangnya saja tidak ada. Makanya dari itu atasan Hana meminta agar di tutup saja dan menunggu barangnya sampai besok harinya.


Gadis itu tidak sendirian, bersama dua teman kerjanya. Dina dan Baim. Mereka bersaudara tapi tidak kandung, maksudnya orang tua mereka bersaudara yang paling tua sebenarnya adalah Dina.


"Sudah malam, mau aku antar pulang? Sekalian kita kan satu arah." Tawar Baim kepada Hana, tapi Hana menolak ajakan Baim karena ia tidak mau merepotkan orang lain.


Lagi pula jarak tempat kerja dan apartemen juga lumayan dekat, hanya butuh waktu 20 menit sampai rumah tidak ada masalahnya dan Hana juga sudah terbiasa.


Di tengah-tengah mereka berpisah, pulang ke rumah masing-masing. Hana berjalan seperti biasanya, tanpa membawa kendaraan apa pun dan bus di jam seperti ini tidak ada.


Gadis itu hanya sendirian, sampai sebuah mobil berhenti membuat gadis itu juga berhenti. Kaca mobil turun, memperlihatkan seorang pria yang Hana kenal.


"Mau ayah antar?"


"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawaran anda." Hana melanjutkan langkahnya, dia hanya akan datang jika ada maunya saja. Jika tidak ada, mana sudi dia menemui Hana sampai seperti ini.


Dahulu, begitu sangat lama. Di mana Hana masih duduk di bangku sekolah datar tidak pernah dia bersuka rela mengantarkan Hana ke sekolah atau bahkan pulang sekolah. Yang dia jemput hanya Anna saja dan, Hana? Mau tidak mau dia harus jalan sendirian sampai ke rumah yang jaraknya jauh dari sekolah.


Dan sekarang apa, kenapa dia begitu ingin menawarkan Hana? Berubah? Omong kosong, semua orang sama saja. Jika butuh dia akan datang dan jika tidak, tidak akan mereka membuang waktu mereka hanya untuk Hana.


Bahkan gadis itu ingat betul akan banyak kejadian yang dia alami dari kecil, bahkan sampai ia dewasa sekalipun. Mana ada yang perduli dengannya, di rasa Dimas juga sudah tidak lagi seperti dulu. Membuat Hana benar-benar merasa dirinya hanya seorang diri di dunia ini.


"Hana! Tunggu dulu." Hana berhenti sejenak dan melihat ayahnya berdiri di depannya, mengatur nafas sekaligus menatap anak gadisnya.


"Jangan harap saya akan menerima perjodohan itu, kalian sama saja. Egois, kemana saja dahulu? Jika saja bukan masalah perusahaan memang anda mau melakukan semua ini? Tidak, anda tidak akan sudi."


Ucapan Hana sukses membuat pria itu terdiam seketika, bahkan jangan mengeluarkan suara saja ia mulai merasa enggan. Ekspresi kecewa itu baru ia lihat, padahal Hana dulu tidak pernah menatapnya seperti ini.


"Bahkan demi Anna-"

__ADS_1


"Memangnya apa yang Anna berikan kepada saya? Penyiksaan? Penghinaan? Dipermalukan? Itu maksud anda. Lupakan saja, sampai kiamat pun tidak akan bisa menyadarkan anda. Saya sudah muak, dan jangan hubungi atau bahkan menemui saya lagi. Kenapa tidak kau jodohkan saja Anna dengan pria pilihan mu itu? Kenapa harus saya? Memangnya apa yang anda berikan kepada saya? Tidak ada, Even including a sliver of love you never gave me. Never, ever."


"Dengarkan ayah dulu, Hana-"


"KAU TIDAK PERNAH MENDENGARKAN AKU DAN UNTUK APA AKU HARUS MENDENGARKAN MU!"


Hana sudah muak dengan semua ini, dia akan mengeluarkan segala emosinya sekarang dan meluapkan segala apa yang dia pendam sejak lama. Pria itu juga hanya diam, antara entah merasa bersalah atau gagal dalam menjalankan rencananya.


"Anna sekarat, dan kamu tega melakukan ini." Hanya satu kalimat saja membuat Hana bungkam, apa maksudnya? Jangan bilang ini adalah tipu muslihatnya.


"Kau berbohong."


"Berbohong, kau mau bukti? Ayo akan aku tunjukkan jika ucapan ku tidak lah bohong."


•••


Sekarang ia bisa melihat dengan jelas jika gadis itu terbaring dengan bantuan tabung oksigen di sampingnya. Hana harus apa? Ia sudah melihat semua ini sendiri.


"Hana, tolong sekali. Kamu mau menerima perjodohan ini, untuk membiayai pengobatan Anna. Mama tidak mau jika dia meninggalkan kami-"


"Jika saja aku di posisi itu, mungkin kalian tidak akan pernah perduli bukan. Mungkin kalian akan membiarkan aku mati." Kedua pasangan itu diam, mereka tidak tahu harus menjawab apa dan harus bagaimana.


"Apakah kau seegois itu? Kamu bukan Hana yang saya kenal."


"Memang bukan, untuk apa? Kalian boleh egois, kenapa aku tidak boleh?"


"Jaga ucapanmu!"


"Aku tidak akan sudi sopan denganmu, kau sama saja seperti orang lain itu. Senang menyiksaku tapi jika ada kesulitan datang kepada ku jika aku menolak kalian akan bertingkah seolah aku yang paling jahat di sini. Kenapa?"

__ADS_1


"Kau anak tidak tahu di untung."


"Untung? Bagian mana aku untung ketika bersama kalian? Untung mendapatkan luka ini? Itu maksud kalian?"


"Hana, demi Anna. Dia kembaran mu."


"Apa iya jika aku menerima perjodohan ini kalian akan baik kepadaku? Tidak, tidak akan. Kalian sama saja, lupakan saja."


Hana melangkah pergi dari sana meninggalkan kedua orang tuanya berdiri di sana dengan perasaan campur aduk. Mengapa?


"Baiklah! Seperti permintaanmu, tapi kau harus menerima perjodohan itu." Hana hanya diam, ia berhenti melangkah di saat itu juga. Tanpa sadar ia meneteskan air mata, bukan karena bahagia melainkan ia akan menantikan cobaan berikutnya.


Apakah Hana kuat? Kuat bertahan sampai akhir atau malah dia sendiri yang mengakhiri segalanya?


"Kau harus datang ke rumah dan ikut kami ke pertemuan itu." Ucap ayahnya itu dengan tegas, dan Hana mulai menoleh sekilas ke arah mereka, menunjukan senyuman palsunya yang sebenarnya bukan itu yang dia inginkan.


"Baiklah, aku akan datang besok." Ucapnya dan kemudian ia melanjutkan langkahnya tanpa memikirkan apa pun.


Hana kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari gedung rumah sakit tersebut, ia akan jalan kaki ke apartemen. Keadaan hujan lebat, dan ia tidak perduli akan itu. Melangkah tanpa memperdulikan jutaan air jatuh di atas tubuhnya sekarang, hawa dingin menusuk. Mengingat apa yang ia lakukan memang bukan atas keinginannya.


Pada dasarnya Hana memang tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya, tapi bagaimana? Menyangkut Anna ia tidak bisa melakukan apa pun.


•••


Sampai rumah dengan keadaan basah kuyup, gadis itu menatap sekeliling tidak ada siapa pun bahkan sepatu Dimas juga tidak ada di rak. Sepertinya dia pergi lagi.


Langkahnya menuju ke meja makan tanpa sadar, ia membuka tutup saji dan melihat masakannya masih utuh tanpa tersentuh sama sekali. Hana tersenyum miris, ia menutup lagi makanan itu dan melangkah ke arah kamarnya.


Melempar tasnya dan masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya yang sudah kelewat dingin dengan air juga. Sampai tangisannya tidak dapat di tahan lagi. Menangisi dunia yang begitu tidak adil kepadanya.

__ADS_1


"AAAA!!!"


__ADS_2