Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 37


__ADS_3

Selama di kampus Hana merasa ada yang aneh, ia sempat merasakan jika beberapa orang mencoba menghindari dirinya walaupun Hana tidak begitu kenal. Theo yang biasanya selalu muncul di mana saja mendadak menghilang bagaikan di telan muka bumi.


Entah kemana dia sekarang? Hana tidak tahu pasti, tapi ia tidak begitu perduli dengan semua itu. Hana juga sedang bersama Aca seperti biasanya mereka berdua akan makan sebelum kelas di mulai.


"Aku mau ambil buku di loker dulu kayaknya, buku aku di sana."


"Yaudah, kita ke sana saja bersama." Hana menyetujui ajakan Aca dan lalu ia pun segera pergi ke loker bersama temannya itu.


Di perjalanan mereka berjalan ke arah loker dan sampai di tempat di mana di sana banyak sekali loker, tapi Hana tentu saja hanya punya satu. Memang siapa yang menyediakan dua?


Hana membuka lokernya dengan kunci, sebelum itu ia menoleh ke arah Aca karena gadis itu terus mengajaknya berbicara, tapi saat pintu terbuka hal mengejutkan terjadi. Di mana loker Hana terdapat banyak kertas dan bahkan kertas tempel berada di seluruh loker milik Hana.


Semua kata-kata kasar sampai sumpah yang tertulis di sana, Hana terdiam di saat itu juga dan tidak berbuat apa pun. Aca yang melihat itu langsung maju dan merobek salah satu kertas.


"Mati saja pelacur..." Aca melirik ke arah Hana yang hanya diam tidak merespon apa pun.


Sudah ia menduga jika akan terjadi lagi, semua orang juga melihat berapa kacaunya loker Hana bahkan begitu sangat mengerikan. Sedangkan seseorang yang merupakan pelaku hanya tertawa bersama teman-temannya karena rencana mereka berhasil.


Hana menoleh karena ia mendengar suara tertawa, dan ia menemukan Anna beserta teman-temannya berada di sana. Tepat di ujung lorong, menatapnya dengan tatapan penuh meremehkan. Gadis itu hanya diam, ia mengambil buku yang ia butuhkan dan kemudian menutup loker itu lagi.


"Sialan, siapa yang melakukan ini? Apa kalian lihat siapa?! Dakjal sekali." Aca bertanya kepada siswa lain yang kenyataanya mereka juga tidak tahu siapa pelakunya. Hana pergi begitu saja, Aca yang merasa kehadiran Hana sudah tidak ada di sekitarnya berlari mengejar Hana.


"Siapa memang yang melakukan itu? Kasihan sekali Hana."


"Tega banget, padahal Hana anaknya baik banget."


"Iya sih, tega banget sumpah."


Sedangkan di tempat lain, ia melihat kejadian itu dan bahkan ia juga mengetahui siapa pelakunya. Menatap ke arah Hana yang pergi begitu saja membuatnya tahu bagaimana perasaan gadis itu sekarang.


...•••...


"Hana, kamu tidak apa-apa?" Wildan datang menghampiri Hana karena kebetulan memang tengah memasang tenda untuk bazar besok.

__ADS_1


"Aku tidak apa. Memangnya kenapa?" Hana menjawab saja apa adanya, tapi melihat Wildan menghampirinya merasa memang ada yang tidak beres.


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memeriksa pekerjaan siswa yang lain, ia mengawasi tapi juga bekerja. Ia sudah mendirikan tenda sedangkan sisanya mendekor tenda agar jauh lebih menarik.


Tidak berlangsung begitu lama karena tenda juga lumayan mudah di pasang, setelah semua selesai tinggal membawa barang-barang yang akan dibutuhkan di bazar nanti. Wildan tersenyum ketika semua pekerjaan hampir saja selesai.


Ia melihat ke arah Hana yang hanya diam saja, ternyata Hana tengah melihat seseorang. Wildan menghampiri Hana, ia mengikuti kemana arah pandangan Hana berada sampai gadis itu begitu betah menatap. Dan ternyata Satya. Wildan menunduk melihat bagaimana ekspresi Hana sekarang yang begitu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Hana?" Hana langsung menoleh ke samping, ia juga terkejut karena keberadaan Wildan yang langsung di sampingnya.


"Ada apa kak?"


"Jangan di lihat jika tidak sanggup, lebih baik kita makan-makan. Kamu pasti lelah bukan?" Hana sebenarnya akan menolak ajakan Wildan. Namun, pria itu terlebih dahulu menariknya agar ikut dengannya.


Berakhir mereka benar-benar mengadakan acara makan-makan di sebuah cafe dan semua di traktir oleh Wildan. Senior yang baik bukan? Wildan mencoba membuat Hana melupakan kejadian tadi meskipun ia tahu jika itu tidak ada mudah. Karena ia melihat Hana kembali melamun.


Ia tidak tahu lagi, tapi setidaknya dirinya sudah berusaha bukan?


...•••...


Ia tahu siapa gadis itu, ia hendak memutar balik untuk memastikan sesuatu tapi gadis di sampingnya terus bertanya kepada Dimas, apa yang dia lakukan?


"Kenapa? Antar aku pulang cepat, nanti ayah ku marah." Dimas langsung saja mengalihkan pandangannya dan kemudian tetap lurus ke depan tanpa memperdulikan apa pun.


Sedangkan tempat di mana Dimas lihat, firasat pria itu tidak salah. Dia benar-benar mengenal siapa gadis itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah, Hana. Gadis itu berdiam diri setelah acara tadi, ia menolak di antara oleh siapa pun bahkan termasuk Wildan. Dengan alasan ia tidak mau merepotkan siapa pun.


Ia benar-benar berdiam diri di sana di tengah hujan lebat, berbeda dengan saat di mana ia bersama Satya. Ia berada di halte, sejak tadi, sudah satu jam lewat ia masih berada di sana entah memikirkan apa. Sampai gadis itu memutuskan untuk kembali ke apartemen, karena tidak mau membuat Dimas khawatir, entah khawatir atau tidak Hana harus pulang.


Baru saja beranjak dari tempat duduk, ia sudah melihat sepasang kaki di depannya. Hana mendongak dan mendapati Theo sudah berada di depannya, pria itu berada di depannya dengan tatapan datarnya. Hana tentu saja terkejut.


"Theo?"


"Kenapa masih di sini? Aku pikir kau sudah pulang sejak tadi." Theo sebenarnya tidak mau bersikap seperti ini, ia sebenarnya tidak setempramen seperti ini. Hanya saja ketika melihat Hana, ia selalu mengingat jika gadis di depannya adalah milik sahabatnya.

__ADS_1


Untuk apa berharap? Theo kalah dengan Satya yang bahkan tidak melakukan apa pun. Pria itu hanya menatap ke arah Hana, tinggi Hana hanya sedada Theo saja dan itu membuat dia mendongak ketika melihat ke arah Theo, begitu juga dengan Theo yang harus sedikit menunduk.


"Aku-"


"Kau sakit?"


"Tidak, aku tidak apa-" Belum menyelesaikan kalimatnya, Hana sudah ambruk begitu saja membuat Theo terkejut, bahkan orang-orang yang berada di sekitar halte ikut terkejut.


Mereka ikut menolong Theo, pria itu menggendong Hana dan ia sudah melihat aliran darah yang membuatnya semakin merasakan bersalah. Ia langsung saja berjalan, dengan seorang wanita yang memberikan kayungnya agar Hana tidak kehujanan. Sedangkan pria tua yang ia tahu adalah pegawai cafe, membantu membukakan pintu mobil Theo.


"Astaga, dia kenapa nak?" Theo hanya menggelengkan kepalanya, dan kemudian tersenyum kepada orang-orang yang sudah membantunya tadi.


"Tenang saja, aku akan membawanya ke rumah sakit. Terima kasih atas bantuannya, saya permisi."


"Hati-hati bawa mobilnya nak!" Theo masuk ke dalam mobil, dan ia langsung melaju ke tempat tujuannya yang tidak lain adalah rumah sakit.


Pria itu nampak khawatir, sekaligus panik bukan main. Ia tidak pernah menduga akan seperti ini, sudah dua kali ia melihat Hana ambruk seperti ini dan bahkan ini jauh lebih parah dari dugaan Theo sendiri.


Ia terus fokus menyetir apa lagi hujan seperti ini membuatnya semakin waspada, karena ia membawa nyawa seseorang yang ia cintai tanpa sadar. Sampai tidak beberapa lama Theo sampai ke rumah sakit, ia membawa mobilnya tepat di depan lobby rumah sakit agar tidak kehujanan saat membawa Hana.


Pria itu membuka pintu mobil, berlari memutar arah ke pintu bagian samping dan membawa Hana dengan pelan-pelan. Sampai pria itu masuk ke dalam rumah sakit dengan paniknya, memanggilnya perawat yang berada di sekitar sana.


"Tolong! Aku mohon cepat!" Para perawat juga cepat menyiapkan bangsal dan Theo membaringkan Hana di sana, ia juga mengikuti perawat itu membawa Hana ke suatu tempat.


Tangannya tidak lepas menggenggam tangan dingin dan mungil itu, tidak pernah ia sampai seperti ini. Theo tidak menyangka jika ia akan jatuh kepada seseorang yang seharusnya tidak boleh ia cintai.


"Bertahan sebentar Hana, aku mohon-"


"Maaf tuan tidak boleh masuk ke dalam, harap di tunggu di sini sampai dokter selesai memeriksa pasien." Ucap perawat itu menghalangi Theo untuk ikut masuk ke dalam.


Mau tidak mau Theo harus berdiri di depan ruangan itu, ia menatap pintu itu mulai tertutup rapat. Pria itu menunduk, menatap kemejanya terkena darah.


"Aku harap kamu bisa bertahan sebentar saja, Aku tahu kau tidak selemah itu."

__ADS_1


__ADS_2