Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 130


__ADS_3

Tidak sesuai dengan harapkan sama sekali. Anna berharap lebih dengan anaknya yang akan lahir nantinya, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.


Ketika anaknya sudah lahir dan ia pikir semua akan baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak sama sekali di saat dokter mengatakan sesuatu yang membuat Anna merasa jika dunia akan benar-benar runtuh di saat itu juga. Fungsi jantung dari anaknya tidak stabil, detakan jantungnya yang terbilang saat dilahirkan, beruntung dokter dan beberapa suster berusaha membuatnya tetap bernafas, berakhir tangisannya mulai bersuara membuat mereka semua lega.


Tidak sampai di sana, karena Anna memang terlahir mempunyai satu ginjal, ia berharap anaknya tidak akan menuruni kekurangannya itu. Kenyataannya anaknya adalah murni keturunannya, secara otomatis akan menuruni semuanya. Anaknya hanya memiliki satu ginjal saja, kesehatannya tidak stabil sekarang.


Jadi memang di butuhkan perhatian khusus dari pihak rumah sakit, jangan ditanyakan bagaimana perasaan Anna sekarang karena ia sudah benar-benar hancur untuk saat ini. Anaknya sakit, ia tidak tahu harus melakukan apa jika terus seperti ini.


Satya sudah tahu semuanya, ia mencoba menerima kenyataan meskipun semua itu sangatlah sulit ia terima sekarang. Ia hanya bisa bersabar, menenangkan istrinya yang terus menangisi keadaan anaknya sekarang.


Keadaan Anna juga tidak stabil setelah melahirkan, dia sempat melewati masa kritis selama 3 hari lamanya dan kini dia sudah sadar, tapi bukan kabar baik yang dia harapkan. Kelahiran anaknya memang bukan kabar buruk, hanya saja keadaan memang memperburuk.


"Jangan di pikirkan, jika kita merawatnya dengan baik dia pasti bisa bertahan. Jangan putus asa seperti ini..." Satya juga tidak bisa terus melihat Anna dalam kondisi seperti ini, dia dalam keadaan drop sekarang.


"Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku gagal..."


"Tidak, itu tidak benar. Kamu sudah berusaha mempertahankannya di saat yang sulit, jangan katakan itu aku mohon, kita pasti bisa merawatnya dengan baik. Membuatnya menjadi anak yang kuat seperti anak-anak normal lainnya." Anna menoleh ke arah suaminya itu, dia begitu mendukung Anna saat ini


Satya memang sebaik itu, dia bahkan tidak merasa jika semua ini adalah sebuah keburukan. Justru anaknya lahir adalah sebuah anugrah, jangan salahkan bayi tidak bersalah itu. Tidak ada yang ingin dia sakit, termasuk bayi itu sendiri juga tidak mau sakit. Dia pasti juga mau sehat seperti yang lain, tapi memang sudah jalannya mau bagaimana lagi.


Anna berusaha bertahan di dalam keadaan yang sekarang. Perempuan itu sudah 3 hari tidak melihat anaknya, terakhir ia melihat anaknya ketika anaknya tengah diberikan bantuan agar dia segera menangis karena dia lahir tidak di iringi dengan suara tangisan, berlumuran dengan darah dan hanya diam saja.


Bayangkan saja bagaimana sakit hatinya seolah ibu ketika melihat anak yang ia lahirkan tidak menangis sama sekali, dia juga harus mendapatkan dorongan agar jantungnya bisa berdetak normal lagi dan membuatnya menangis, tetap bernafas.


Anna memilih beranjak dari bangsalnya, ia memaksakan diri sekarang. Ingin melihat keadaan anaknya sekarang, ia ingin melihat bayinya sekarang juga. Tentu saja, Satya tidak akan menolak permintaan istrinya yang ingin melihat anak mereka.


Satya meminta kursi roda kepada perawat, tidak lama kursi roda itu datang dan Satya memindahkan Anna di sana. Dia akan duduk di sana saja, sedangkan Satya akan mendorong kursi itu ke ruangan bayi.


Mungkin keadaan sekarang tengah tidak baik, tidak bisa di duga akan menjadi seperti ini. Anna hanya diam, melamun memikirkan keadaan anaknya saat ini. Ia berharap banyak, semua akan baik-baik saja kedepannya.

__ADS_1


Sampai di mana mereka berdua sampai di depan ruangan bayi, di sana lumayan banyak bayi tapi yang terlihat paling mencolok adalah bayi di tabung itu.


Satya meminta ijin kepada suster yang berjaga dan mendapatkan ijin untuk masuk ke dalam, tentu saja dengan pengawasan dari suster itu. Anna melihat dengan jelas keadaan bayinya sekarang, Satya juga sudah menggendong bayinya saat pertama kali anak itu dilahirkan, jadi dia sudah tahu.


Anna melihat bayi mungil itu hanya diam, mungkin saja dia tertidur karena terlalu lelah berjuang untuk keluar. Kulitnya yang memerah pucat itu, pipinya yang berisi membuat Anna tersenyum.


Ia tidak pernah merasa sebahagia ini, ia mendekat ke arah tabung itu. Melihat anaknya itu, dia sangat mirip dengan dirinya dan mendominasi wajah ibunya ketimbang ayahnya sendiri.


"Dia cantik sekali..." Satya mengangguk membenarkan apa yang istrinya katakan. Anaknya memang sangat cantik, dia memang mirip dengan ibunya ketimbang dirinya.


Tapi Satya tidak merasa semua itu adalah masalah, tidak apa. Asalkan anaknya baik-baik saja ia cukup bersyukur atas semua itu, entah apa yang ia pikirkan ketika melihat bayi kecil itu tertidur.


Tiba-tiba saja pikirannya menuju ke seseorang yang seharusnya sudah dia lupakan sejak lama, mungkin dia masih merasa bersalah atas apa yang dirinya lakukan dahulu. Seorang suami yang buruk, tidak mengetahui akan kehamilan istrinya sendiri, berbuat kasar atau bahkan bermain di belakang istrinya saat itu.


Bagaimana keadaannya? Satya tahu semua ini salah, tapi jujur saja Satya belum bisa melupakan mantan istrinya sepenuhnya. Ia masih memiliki secuil perasaan yang jelas bisa dirinya rasakan.


'Aku berharap kamu baik-baik saja, Hana. Aku berharap sekali semoga aku bisa bertemu dengan diri mu, dalam keadaan kamu sudah bahagia...'


Di sisi lain, di sebuah rumah itu. Ketiga orang yang sibuk tertawa, bercanda ria. Lebih tepatnya memang Jihan yang terlalu banyak melakukan hal yang tidak bisa di duga, gadis itu tidak merasa malu ketika harus melakukan semua itu. Bertingkah konyol, adalah caranya bahagia.


Di sana juga ada Reyhan, sebenarnya pria itu meninggalkan pekerjaan kantornya hanya untuk mengerjakan tugas kuliahnya dan Jihan menawarkan untuk datang ke rumahnya, lebih tepatnya rumah sepupunya. Jihan tidak memberikan apa alasannya, bagaimana bisa dia tinggal di rumah sepupunya itu? Jihan tidak cerita apa pun.


Di sana ketika Reyhan bertemu dengan Hana, dia sangat kagum dengan perempuan itu. Tapi mungkin Jihan sudah menduga akan itu juga, dia memberikan peringatan agar Reyhan jangan terlalu dekat dengan Hana karena perempuan hamil itu sudah ada yang punya.


Karena memang Reyhan tidak tahu, jadi ia memilih mengikuti apa yang Jihan katakan. Terlalu menurut bukan? Reyhan bahkan selalu bilang jika dia akan melakukan sesuatu.


Dan sekarang, pria yang terkenal berwibawa itu tertawa lepas ketika dia melihat Jihan yang melakukan aksi konyolnya. Jangan di tanya apa yang gadis itu lakukan sampai membuat Reyhan tertawa sampai seperti itu. Jihan awalnya hanya mau uji coba karpet saja, tapi berujung terlalu bersemangat kepalanya terkena meja.


Bukannya di tolong, Reyhan malah tertawa lepas tanpa henti, bahkan ketika ia mencoba menenangkan Jihan yang nyaris menangis karena kepalanya benjol, dia masih tertawa semakin membuat gadis itu menangis keras.

__ADS_1


"Sudah, ini akan baik-baik saja-" Jihan awalnya sudah akan diam tapi karena melihat Reyhan yang menahan tawanya membuat gadis itu menangis lagi. Kepalanya sakit, itu salahnya yang banyak tingkah.


"Aku akan ambilkan minum, obati dulu kepalanya ya."


"Aku akan melakukannya tenang saja." Reyhan mengompres kepala Jihan dengan air dingin, dia berusaha menahan tawanya. Jihan menatapnya dengan tatapan kesal dengan air mata yang tertahan, bahkan pipinya merah semua.


'Kenapa menggemaskan sekali? Boleh aku gigit?'


Tentu saja tidak akan bisa, karena seseorang datang dari pintu utama membuat Hana terdiam. Perempuan itu berjalan menghampiri Jihan, memberikan air minum kepada Jihan dan menghampiri pria yang menggunakan pakaian rapi tersebut.


Hana melepaskan jas yang Johan kenakan, membantu membawakan tas padahal Johan sudah melarang. Pria itu hanya pasrah setelah itu, bekal yang Hana buatkan untuknya juga sudah habis tanpa sisa.


"Kamu menghabiskan bekalnya?"


"Tentu saja, masakan mu yang terbaik." Hana hanya tersenyum dan kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan masak, padahal sudah ada maid di rumah.


Johan melihat kehadiran seseorang yang tidak dia kenal sama sekali, tapi familiar di matanya. Ketika dia mengobati sepupunya dengan kain dingin itu, bahkan dia melihat Jihan menangis.


"Ada apa ini? Jihan? Kau kenapa menangis?" Jihan menunjuk ke arah meja, Johan menoleh ke arah di mana gadis itu menunjuk ke satu arah dan kembali menangis lagi. Johan mengerutkan keningnya tidak paham apa yang Jihan maksud itu.


"Dia terlalu bersemangat dengan karpet barunya, dia terjungkal dan kepalanya kena meja. Jadi begitu."


"Maksudnya terpentok meja?" Jihan mengangguk dengan matanya yang sudah berlinang air mata.


"Astaga, ada-ada saja. Ide dari mana kau sampai membuat karnaval dadakan di rumah astaga..."


"Mejanya yang salah! Jangan salahkan aku huwaaaa!!"


"Sepertinya aku harus bersabar..." Hana hanya tersenyum dan mengusap bahu lebar pria itu dengan pelan, sepertinya kesabarannya di uji sekarang.

__ADS_1


__ADS_2